Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Mendung di Istana Daha


__ADS_3

Wulupaksi yang terpelanting ke belakang dan menghantam tanah dengan keras segera melihat ke arah sumber suara tadi.


Seorang wanita cantik dengan wajah bulat telur berkulit putih dan berpakaian seperti prajurit wanita dengan kemben hijau berdiri tegak di hadapan Wulupaksi.


Dengan menahan dadanya yang sesak akibat dari tendangan keras tadi, Wulupaksi segera mencoba untuk berdiri tegak sambil menunjuk ke arah perempuan cantik itu.


"Si-siapa kau??


Kenapa kau ikut campur urusan ku wanita tengik?", tanya Wulupaksi sambil meringis menahan sakit pada dadanya.


"Kenapa abdi teh ikut campur?


Ya jelaslah, Akang Kasep mah salaki abdi hai orang aneh", jawab perempuan cantik yang tak lain adalah Dewi Naganingrum.


Memang, saat Panji Watugunung berangkat mengejar para pembunuh itu, Dewi Naganingrum dan Ratna Pitaloka bergegas ikut mengejar, meninggalkan Sekar Mayang dan Dewi Srimpi untuk merawat luka Sang Maharaja Panjalu yang tengah terluka parah akibat tusukan pisau dari Dadung Awangga yang menyamar sebagai Surti, sang dayang istana.


Setelah mendengar perkataan para prajurit yang sempat mengejar Surti, mereka melesat cepat kearah timur kota Daha yang mereka perkirakan sebagai tempat pelarian untuk para pembunuh.


Saat mereka mendengar ledakan dahsyat tadi, mereka langsung menuju tempat pertarungan itu dan datang tepat pada waktunya.


Dewi Pedang Hitam yang sudah buntung tangan kanannya, melirik ke arah pedangnya yang jatuh ke tanah.


'Aku harus cepat mengambil pedang ku, lalu kabur dari tempat ini. Kalau tidak, nasib ku akan seperti Kakang Dadung Awangga', batin Rara Wiru alias Dewi Pedang Hitam sambil terus mencuri pandang ke arah pedangnya.


Panji Watugunung yang baru saja menghabisi nyawa Iblis Seribu Muka, bergegas menuju ke arah Ratna Pitaloka. Melihat kedatangan Panji Watugunung, perhatian Ratna Pitaloka teralihkan. Dengan cepat Rara Wiru berguling ke tanah dan menyambar pedang hitam nya.


Whhhuuuggghhhh..


Pendekar wanita dari lereng gunung Mahameru itu dengan cepat bergerak menjauh dari Ratna Pitaloka.


"Kau masih belum jera juga rupanya. Cepat katakan, siapa yang menyuruh kalian mencelakai Gusti Prabu Samarawijaya?


Kalau tidak, aku tidak akan sungkan lagi untuk mencabut nyawa mu", ancam Ratna Pitaloka sambil mengacungkan Pedang Bulan Kembar nya ke arah Rara Wiru alias Dewi Pedang Hitam.


Phuihhhh...


"Meski aku tengah terluka, apa kau pikir bisa dengan mudah memaksa ku, hai orang Daha?


Dengan ini tugas kami telah selesai. Dan Jenggala akan berdiri tegak kembali", ujar Dewi Pedang Hitam seraya menyeringai lebar.


"Ohhh jadi rupanya kalian orang orang dari Jenggala.


Aku tidak perlu menahan diri lagi untuk mencabut nyawa mu perempuan iblis", teriak Ratna Pitaloka yang segera melesat cepat kearah Dewi Pedang Hitam sambil mengayunkan Pedang Bulan Kembar di tangan kanannya. Dia mengincar leher Rara Wiru.


Shreeeeettttthhh...


Sabetan Pedang Bulan Kembar yang mengincar nyawa perempuan itu, membuat Dewi Pedang Hitam segera memutar Pedang Hitam di tangan kirinya. Dengan cepat dia berkelit ke samping, lalu dengan sigap menyabetkan pedang nya ke perut Ratna Pitaloka.


Ratna Pitaloka yang terkejut, langsung menangkis sabetan pedang itu memakai Pedang Bulan Kembar di tangan kirinya.


Thrrriiinnnggggg!!


Selir pertama Panji Watugunung itu segera bergerak cepat ke samping. Kaki perempuan cantik itu dengan cepat menyapu pijakan Rara Wiru, namun perempuan itu bergegas melompat tinggi menghindari sapuan kaki Ratna Pitaloka.


Whuuussshh..


Putri bekas Adipati Bojonegoro itu tak menyia-nyiakan kesempatan. Dengan gerakan secepat kilat, dia melompat menyusul pergerakan Dewi Pedang Hitam lantas melayangkan tendangan keras ke arah pinggang perempuan paruh baya itu segera.


Bhhhuuukkkkkhhh...


Ooouuugggghhhhh!!


Rara Wiru alias Dewi Pedang Hitam menjerit keras. Tubuhnya oleng dan menyusruk tanah dengan keras. Baju biru gelap nya penuh dengan tanah dan rumput. Dia berusaha untuk cepat berdiri namun belum sempat dia berdiri sempurna, sebuah tendangan keras kaki kanan Ratna Pitaloka yang menghajar lengan kiri nya, membuat Pedang Hitam terlepas dari tangannya. Pedang itu melayang cepat ke pohon waru dan menancap di sana.


Whhesssssttt..


Creppph!


Segera Pedang Bulan Kembar di tangan kanan Ratna Pitaloka menempel di leher Rara Wiru.


"Bergerak sedikit saja, putus leher mu perempuan tua!", ancam Ratna Pitaloka seraya melotot ke arah Rara Wiru yang tak berdaya.


"Sekarang katakan saja, siapa yang menyuruhmu untuk membantu iblis tua itu?


Cepat jawab!", hardik Ratna Pitaloka dengan menekan Pedang Bulan Kembar ke leher Rara Wiru.


Pasangan Iblis Seribu Muka itu mulai ketakutan. Dia melirik ke arah Wulupaksi yang tengah tak berdaya di bawah ancaman Dewi Naganingrum.


Saat hendak memutuskan untuk bicara, tiba tiba sebuah pisau kecil berwarna hitam melesat cepat kearah Rara Wiru.


Shrrriinnnggg


Crreepppphhh...


Aarrrggghhhhhhhhh!!


Rara Wiru alias Dewi Pedang Hitam menjerit keras saat pisau kecil berwarna hitam itu menembus jantung nya. Perempuan paruh baya itu roboh seketika. Dia tewas dengan mulut berbusa. Rupanya pisau kecil yang menancap di punggungnya merupakan pisau beracun.


Tak berapa lama kemudian, puluhan pisau kecil berwarna hitam melesat cepat kearah Ratna Pitaloka, Panji Watugunung dan Dewi Naganingrum.


Shrrriinnnggg shhhrriinggg!!


Dengan cepat, Panji Watugunung menyambar tubuh kedua istrinya dengan cepat. Dia menggunakan ilmu Ajian Halimun yang merupakan ajaran Ki Buyut Permana. Mereka melesat jauh dari tempat itu.


Pisau pisau kecil itu menancap di beberapa pohon yang ada di belakang tempat itu. Saat pohon pohon terkena, seketika pepohonan itu menjadi kering dan mengeluarkan asap tipis berwarna hitam dan berbau busuk.


"Bajingan!

__ADS_1


Siapa berani membokong kami?", teriak Ratna Pitaloka sambil mengedarkan pandangannya. Namun tak ada siapapun disana.


"Teh Pitaloka,


Eta urang yang satunya ngiles atuh", teriak Dewi Naganingrum yang membuat Panji Watugunung dan Ratna Pitaloka menyadari bahwa serangan tadi sepenuhnya hanya pengalih perhatian untuk menyelamatkan nyawa Wulupaksi.


"Kita kejar mereka Kakang Watugunung", Ratna Pitaloka menatap wajah Panji Watugunung segera.


"Tidak perlu, Dinda Pitaloka.


Kita suruh saja para prajurit untuk membawa mayat perempuan itu. Toh pelaku utama nya sudah terbunuh. Yang jelas mereka adalah orang-orang Jenggala.


Kita harus cepat kembali ke istana Daha. Aku khawatir jika terjadi sesuatu pada Gusti Prabu Samarawijaya", ujar Panji Watugunung yang segera mendapat anggukan kepala dari Ratna Pitaloka dan Dewi Naganingrum.


Mereka bertiga segera melesat cepat kembali kearah istana Daha.


Sementara itu, Wulupaksi yang tak berdaya hanya bisa pasrah saja saat tubuhnya di panggul oleh seorang pendekar yang memakai penutup wajah dari topeng kayu berbentuk monyet.


Gerakannya begitu ringan, seperti terbang diantara pepohonan yang tumbuh di hutan sebelah timur kota Daha. Sesekali pendekar itu menoleh ke belakang, memastikan bahwa Panji Watugunung dan dua orang istri nya tidak mengejar nya.


Setelah di rasa aman, pendekar itu berhenti di dekat sungai kecil yang membelah hutan itu. Segera dia meletakkan tubuh Wulupaksi ke bawah sebuah pohon besar disana.


"Terimakasih atas bantuannya, kisanak.


Kalau tidak ada kau, mungkin aku sudah mati di tangan perempuan tadi", ucap Wulupaksi sambil menahan sakit pada dadanya.


"Aku hanya menjalankan tugas yang di berikan oleh Gusti Pangeran Samarotsaha kepada ku, Wulupaksi..


Kau tidak perlu berterimakasih", ujar si pendekar bertopeng kayu dengan suara berat nya. Perlahan dia membuka topeng kayu berbentuk monyet nya perlahan. Melihat wajah orang di balik topeng kayu itu, Wulupaksi terkejut bukan main.


"Purbo Waseso,


Kau.. Kau masih hidup?", tanya Wulupaksi seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Tentu saja aku masih hidup. Kalau aku sudah mati, mana mungkin aku bisa menyelamatkan nyawa mu Wulupaksi?", jawab si pendekar bertopeng kayu yang ternyata adalah Purbo Waseso, adik seperguruan Wulupaksi dari Gunung Mahameru.


"Tapi bagaimana mungkin kau masih hidup?


Bukankah menurut berita dari Gusti Samarotsaha, kau terbunuh di Bojonegoro?", tanya Wulupaksi lagi yang masih keheranan melihat kedatangan saudara seperguruannya itu.


"Panjang ceritanya, lain kali jika ada waktu akan ku ceritakan kepada mu.


Sekarang yang penting kau selamat. Aku akan menyalurkan tenaga dalam ku untuk mengobati luka dalam mu itu", ujar Purbo Waseso yang segera duduk bersila di belakang tubuh Wulupaksi. Dengan menahan nafas sejenak, tangan kekarnya segera di arahkan ke punggung Wulupaksi. Hawa panas segera merasuk ke dalam tubuh Wulupaksi. Murid Begawan Mantyasa itu berusaha mengatur nafasnya lalu memejamkan matanya untuk menata hawa tenaga dalam nya.


Hhhuuuooooggghhhh


Wulupaksi muntah darah kehitaman. Setelah 2 kali muntah, air muka tangan kanan Rakryan Samarotsaha itu berangsur-angsur membaik.


Perlahan, Wulupaksi membuka mata nya. Kini nafasnya yang tadi sesak, sudah terasa lega.


Aku hanya heran, bagaimana kau bisa tahu kalau aku ada di tempat itu tadi?", ujar Wulupaksi sambil memutar tubuhnya menghadap Purbo Waseso yang menata nafasnya usai kehilangan banyak tenaga dalam.


"Gusti Pangeran Samarotsaha memerintahkan kepada ku untuk mengawasi pergerakan mu dari kejauhan.


Selama ini, aku mengawasi pergerakan kalian. Aku juga sudah membunuh dua utusan yang di kirim wanita penginapan itu ke Daha. Sehingga mereka tidak mencurigai siapa pun yang berlalu lalang di sekitar istana.


Sebaiknya kita segera pergi dari tempat ini. Di timur hutan ini, adalah kota Kadiri. Istana orang yang menghadapi mu tadi, Pangeran Jayengrana. Dia adalah orang yang mampu menghabisi nyawa Adipati Danapati dan Gusti Prabu Garasakan yang terkenal sakti mandraguna.


Kita tidak boleh membuat ulah di wilayah kota Kadiri. Aku dengar mereka orang-orang sakti dan berilmu tinggi", Purbo Waseso segera berdiri dari tempat duduknya diikuti oleh Wulupaksi. Mereka segera meninggalkan tempat itu menuju ke arah timur. Dengan menyamar sebagai rakyat biasa, mereka memasuki kota Kadiri tanpa disadari oleh para prajurit yang berjaga di sana. Dari sana, mereka terus bergerak menuju ke arah Utara, menuju ke wilayah Matahun.


Kita tinggalkan Wulupaksi dan Purbo Waseso dalam pelarian nya untuk kembali ke Jenggala.


Di istana Daha, Panji Watugunung yang baru saja sampai langsung menuju ke arah kediaman pribadi Raja. Di dalam kamar sang Prabu Samarawijaya, nampak Maharaja Panjalu itu tengah terbaring lemah di atas ranjang tidur nya.


Dua tabib istana Daha di bantu oleh Dewi Srimpi dan Sekar Mayang terus berupaya keras untuk menyelamatkan nyawa sang Maharaja Panjalu.


Dewi Srimpi yang baru selesai membersihkan tangan nya yang terkena darah Maharaja Panjalu, segera menuju ke arah Panji Watugunung yang berada di luar kamar pribadi Raja.


"Bagaimana keadaan Gusti Prabu Samarawijaya, Dinda Srimpi?", tanya Panji Watugunung dengan nada penuh kecemasan.


"Aku sudah berusaha keras untuk menolong nya, Denmas Pangeran..


Tapi Gusti Prabu Samarawijaya terlalu banyak mengeluarkan darah. Luka tusuk nya juga menggores lambung nya.


Selanjutnya kita hanya bisa berdoa kepada Sang Hyang Widhi Wasa agar Gusti Prabu Samarawijaya bisa sembuh seperti sedia kala", tutur Dewi Srimpi sambil menatap wajah tampan suaminya itu.


Hemmmm..


Panji Watugunung menghela nafas panjang. Seketika itu juga dia teringat pada Permaisuri keduanya, Ayu Galuh.


"Kemana Kakang Warigalit, Dinda Mayang?", Panji Watugunung mengalihkan perhatian nya pada Sekar Mayang yang baru saja selesai mencuci tangan nya.


"Kakang Warigalit ada di luar gapura tempat ini Kakang..


Sedari tadi aku melihatnya di sana bersama Jarasanda dan Tumenggung Adiguna", jawab Sekar Mayang yang membuat Panji Watugunung segera berdiri. Lalu Yuwaraja Panjalu itu segera melangkah keluar dari tempat pribadi raja diikuti oleh keempat istri nya. Mereka melewati Permaisuri Sang Maharaja Panjalu, Dyah Kirana dan Selir Larasati yang terus menangis sesenggukan karena memikirkan nasib suami mereka.


Di luar gapura tempat pribadi raja, keadaan begitu hening meski banyak nayaka praja Istana Daha berkumpul di sana.


Begitu Panji Watugunung muncul dari balik gapura, semua orang segera menghormat pada Panji Watugunung.


"Sembah bakti kami Gusti Pangeran Jayengrana", ujar mereka bersamaan.


Panji Watugunung segera mengangkat tangan kanannya yang membuat semua orang kembali ke tempat duduknya masing masing.


"Paman Mapatih Jayakerti,


Untuk sementara paman jalankan roda pemerintahan Kerajaan Panjalu. Perintahkan kepada seluruh para pandita dan Maharesi di sekitar istana Daha untuk melakukan upacara doa memohon kesembuhan Gusti Prabu Samarawijaya", titah Panji Watugunung segera.

__ADS_1


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", ujar Mapatih Jayakerti dengan cepat. Pria paruh baya berjenggot panjang itu segera menyembah pada Panji Watugunung dan mundur dari tempat duduknya.


"Kakang Warigalit,


Bawa Tumenggung Ludaka ke Kadiri. Jemput Dinda Galuh dan putra ku Jayawarsa. Aku ingin mereka besok sudah ada di sini. Berangkatlah sekarang", Panji Watugunung menatap ke arah Senopati Warigalit. Kakak seperguruan Panji Watugunung itu segera menyembah pada Panji Watugunung. Diikuti oleh Tumenggung Ludaka, Warigalit bergegas keluar dari istana Daha menuju ke Kadiri.


Hari segera berganti. Berita tentang adanya rajapati di istana Daha segera menyebar cepat di kalangan masyarakat Panjalu. Membuat banyak orang turut bersedih hati karena Samarawijaya adalah raja yang baik.


Ayu Galuh yang baru sampai di istana Daha, langsung bergegas menuju ruang pribadi Raja. Mapanji Jayawarsa yang baru berusia 2 tahun, di serahkan pengasuhan nya pada sang emban.


Di dalam kamar Sang Maharaja, semua kerabat istana Daha sudah berkumpul termasuk Mapatih Jayakerti dan Senopati Mandura.


"Romo.. Romo Prabu..


Bangun Romo.. Ini Galuh yang datang Romo", ucap Ayu Galuh yang terus mengeluarkan air mata melihat keadaan ayahnya yang terbujur lemah diatas pembaringan.


Prabu Samarawijaya perlahan membuka mata nya. Wajah pria itu terlihat pucat dengan bibir yang kaku.


"Ngger Putri ku,


Kesini Nduk.. Aku ingin kau menemaniku sebentar", ujar Sang Maharaja Panjalu dengan lemah.


Ayu Galuh segera mendekati ranjang tidur Sang Prabu Samarawijaya. Air matanya mengalir membasahi pipinya.


"Sudahlah, jangan menangis..


Kau ini calon Ratu Panjalu. Tidak baik bersikap cengeng seperti ini. Dengar baik baik ucapan Romo mu.


Kau harus menjadi seorang istri yang mampu mendukung suami mu. Kau mengerti?", ujar Prabu Samarawijaya dengan suara yang semakin lemah. Ayu Galuh hanya bisa mengangguk mendengar ucapan ayahandanya.


"Dhimas Pangeran Jayengrana, kemarilah", titah Sang Maharaja Panjalu perlahan.


Panji Watugunung segera mendekati ranjang tidur Prabu Samarawijaya.


"Dengar permintaan ku yang terakhir,


Jagalah Putri ku Ayu Galuh dan cucu ku. Jagalah Panjalu seperti kau menjaga keluarga mu. Aku titipkan negeri ini kepadamu, Dhimas", titah Sang Maharaja Panjalu yang meskipun lemah tapi di dengar oleh semua orang di dalam kamar sang Prabu.


"Sendiko dawuh Gusti Prabu, segala titah dari Gusti Prabu akan hamba jalankan", ujar Panji Watugunung segera.


Mendengar jawaban itu, Sang Maharaja Panjalu tersenyum tipis. Lalu dengan tenang Prabu Samarawijaya meninggal dunia pada hari itu.


Tangis Ayu Galuh langsung pecah. Semua orang di dalam istana Daha berdukacita atas meninggalnya Prabu Samarawijaya.


Hari itu langit mendung tebal, seakan turut bersedih hati. Hujan deras mengiringi kepergian sang Putra Airlangga menuju nirwana.


Mapatih Jayakerti dengan penuh hormat segera menghadap Panji Watugunung di keputran Daha.


"Mohon petunjuk Gusti Pangeran,


Apa langkah kita selanjutnya?".


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah 😁


Selamat membaca 😁🙏😁😁🙏

__ADS_1


__ADS_2