
Rombongan Panji Watugunung yang terdiri dari orang-orang Padepokan Padas Putih dan Padepokan Anggrek Bulan bergerak meninggalkan tempat itu. Lepas tengah hari mereka sudah sampai di pinggir Pakuwon Bandar.
Begitu sampai disana, mereka berbelok ke barat. Rombongan besar mereka bisa memancing perhatian para prajurit Jenggala dan itu sangat berbahaya. Selain bisa memicu timbulnya perang, mereka juga bisa di cap sebagai pembangkang oleh para penguasa Jenggala.
Begitu malam menjelang tiba, mereka beristirahat di tempat terbuka di tepi hutan kecil yang ada di perbatasan Pakuwon Bendo dan Bandar.
"Panji Watugunung,
Apa kau sudah siap menerima Padepokan Padas Putih di wilayah mu?", tanya Mpu Rungkat pada Panji Watugunung yang duduk tak jauh dari nya.
Mereka duduk berdiang pada api unggun untuk menghangatkan tubuh dari dingin malam yang datang.
"Saya sudah punya calon tempat yang pas untuk mendirikan Padepokan Padas Putih yang baru Paman Guru.
Saya rasa lebih baik dari pada tempat yang lama, karena tidak ada cap sebagai pencetak musuh bagi Padepokan Padas Putih dari penguasa daerah.
Selama ini, Padas Putih selalu mendapat cap sebagai perguruan aliran putih yang selalu mencetak prajurit tangguh. Tapi selepas pemecahan wilayah Kahuripan, penguasa Jenggala sama sekali tidak mengangkat anak murid Padepokan Padas Putih sebagai prajurit Jenggala.
Mereka lebih suka menarik lulusan perguruan aliran hitam yang ada di wilayah Jenggala.
Karena itu, memindah Padepokan Padas Putih ke Panjalu itu lebih baik untuk menghindari keributan dengan penguasa daerah Paman Guru", jawab Watugunung seraya melempar kayu kering ke perapian yang mulai menyurut apinya.
Hemmmm
"Kau memikirkannya sampai sejauh itu rupanya", sahut Mpu Sakri sambil tersenyum dan mengelus jenggotnya.
"Benar Guru,
Sekarang guru bisa melihat bahwa hampir semua anak didik Padepokan Padas Putih menjadi tulang punggung di beberapa wilayah bahkan di susunan pemerintahan Daha.
Saya yakin, bahwa Gusti Prabu Samarawijaya akan senang jika mendengar kita memindah Padepokan Padas Putih ke wilayah Daha.
Mertua ku, Adipati Tejo Sumirat dan Kanjeng Romo Bupati Gelang-gelang Panji Gunungsari pasti bersukacita mendengar ini", ujar Panji Watugunung sambil tersenyum simpul.
Tiga kakek tua itu manggut-manggut mendengar ucapan Panji Watugunung.
Malam segera berganti pagi.
Keesokan paginya, untuk menghindari kecurigaan prajurit Jenggala, rombongan itu memecah diri menjadi dua bagian.
Satu bagian kelompok yang terdiri dari orang-orang Padepokan Anggrek Bulan mengambil jalan besar menuju ke kota Pakuwon Lantir lewat Kota Pakuwon Bendo.
Sedangkan Panji Watugunung dan orang-orang Padepokan Padas Putih mengambil jalan setapak yang membelah hutan kecil di pesisir selatan Pakuwon Bendo.
Sebelum berangkat, Panji Watugunung berterima kasih kepada Dewi Anggrek Bulan atas bantuannya dalam menolong Padepokan Padas Putih.
"Eyang Putri hanya bisa berdoa Bocah Bagus,
Semoga kau kelak menjadi raja yang bijaksana dalam memerintah Panjalu", ucap Dewi Anggrek Bulan sambil mengelus kepala Panji Watugunung.
"Terimakasih atas dukungannya eyang..
Semoga di lain waktu kita masih bisa bersua kembali", ujar Panji Watugunung dengan sopan.
Dewi Anggrek Bulan tersenyum tipis.
"Dewi Anggrek Bulan,
Aku sangat berterima kasih atas bantuan mu. Lain waktu pasti akan aku balas kebaikan hati mu", ujar Mpu Sakri sambil tersenyum.
"Cihhhhh...
Dasar tua Bangka..
Ini untuk membalas pertolongan mu tempo hari kakek tua. Dan kalau bukan cucu ku yang meminta bantuan, aku juga tidak sudi datang ke Padas Putih", ujar Dewi Anggrek Bulan mendelik sewot kearah Mpu Sakri.
Mereka segera melompat ke atas kuda mereka masingmasing. Saat matahari sepenggal naik, mereka sudah sampai di jalan menikung di antara bukit kecil.
Dewi Anggrek Bulan segera menoleh ke arah Panji Watugunung.
"Bocah Bagus,
Di simpang jalan depan kita berpisah. Jaga dirimu baik-baik dan ingat semua pesan ku kepada mu", imbuh Dewi Anggrek Bulan sambil tersenyum kemudian menggebrak kuda nya menggambil arah ke kanan. Seluruh orang orang Padepokan Anggrek Bulan mengikuti langkah sang pemimpin tertinggi mereka.
Sedangkan Panji Watugunung dan rombongannya terus memacu kudanya menyusuri jalan setapak yang ada di dalam hutan kecil itu.
Dua hari kemudian, mereka telah tiba di Pakuwon Kunjang.
Pangeran Daha itu segera menuju ke istana Pakuwon Kunjang. Di depan pintu gerbang istana Pakuwon, dua orang prajurit penjaga gerbang segera membungkuk hormat kepada Sang Yuwaraja Panjalu.
Akuwu Kunjang yang baru, Rakeh Bango menghormat pada Panji Watugunung di balai pisowanan Pakuwon Kunjang. Para Rama (Lurah) Wanua di wilayah Pakuwon Kunjang juga memberikan hormat.
"Selamat datang di Pakuwon Kunjang, Gusti Pangeran Panji Jayengrana", ujar Akuwu Rakeh Bango sambil menyembah.
"Berdirilah Ki Kuwu,
Jangan terlalu banyak adat saat dengan ku", ujar Panji Watugunung segera. Pangeran Daha itu segera duduk bersila di lantai bangsal pisowanan Pakuwon. Semua orang segera mengikuti langkah nya.
"Ada hal penting apa yang membuat Gusti Pangeran Jayengrana datang ke tempat kami ini?", tanya Akuwu Rakeh Bango dengan sopan.
"Aku ingin bertanya pada mu, Ki Kuwu.
__ADS_1
Wilayah Bukit Tawang yang ada disebelah timur Kunjang, itu wilayah wanua mana?", tanya Panji Watugunung pada Akuwu Kunjang itu segera.
"Itu sudah masuk wilayah wanua Kruwak Gusti Pangeran.
Ki Mondoluku ini adalah Lurah Wanua Kruwak", ujar Akuwu Rakeh Bango sambil menunjuk ke arah seorang lelaki tua yang berbadan kurus dengan jenggot lebat nya. Si lelaki tua itu segera menghormat pada Panji Watugunung.
Hemmmm
"Dengar Ki Kuwu dan kau Lurah Kruwak..
Bukit Tawang akan ku berikan kepada guru ku, Mpu Sakri sebagai tempat tinggal sekaligus tempat membangun Padepokan Padas Putih yang baru. Mulai hari ini, seputar wilayah Bukit Tawang akan menjadi swatantra. Tidak boleh ada yang menarik pajak atau upeti dari wilayah Bukit Tawang.
Aku minta kalian membantu pendirian tempat itu sampai selesai", titah Panji Watugunung sambil tersenyum tipis.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", ujar Akuwu Rakeh Bango sambil menyembah kepada Panji Watugunung diikuti oleh seluruh lurah di wilayah Pakuwon Kunjang.
Mpu Sakri, Mpu Rungkat dan Mpu Narasima tersenyum simpul mendengar ucapan Panji Watugunung.
Dalam hati mereka begitu bangga pada muridnya itu.
Mulai hari itu, dibangunlah sebuah tempat menuntut ilmu kanuragan di lereng Bukit Tawang. Bukit besar yang memiliki 3 puncak besar itu seketika menjadi ramai oleh para pekerja dari beberapa wanua yang diperbantukan untuk mempercepat pembangunan nya.
Sepekan sekali Panji Watugunung mengunjungi tempat itu untuk melihat sejauh mana pembangunan yang di laksanakan.
Setelah satu purnama lebih sepekan, sebuah bangunan baru dengan kokoh berdiri di lereng Bukit Tawang. Di sekelilingnya di bangun tiga rumah untuk tiga guru.
Sebuah sanggar pamujan dibangun di sisi timur padepokan.
Kemudian para murid Padepokan Padas Putih juga membangun pondok pondok kayu di sekitar kediaman para guru yang mereka ikuti.
Panji Watugunung tersenyum puas melihat itu semua.
"Terimakasih banyak atas bantuannya Watugunung,
Dengan ini Padepokan Padas Putih akan terus berlanjut hingga nanti", ujar Mpu Sakri sambil tersenyum lebar.
"Ini hanya bantuan kecil, Guru. Tidak sebanding dengan pengetahuan yang sudah guru ajarkan padaku dan para murid yang lain", Panji Watugunung tersenyum tipis, Warigalit yang menemani nya juga turut bersukacita.
Usai berbincang sebentar, Panji Watugunung ditemani oleh Warigalit mohon pamit untuk kembali ke istana Katang-katang.
Mpu Sakri, Mpu Rungkat dan Mpu Narasima mengantar mereka berdua hingga ke pintu gerbang Padepokan.
Dua orang pembesar istana Kayuwarajan Kadiri itu memacu kudanya menuju jalan di lereng Bukit Tawang.
Di jalan menuju ke Istana Katang-katang, seorang wanita tua berambut putih dengan pakaian compang camping berjalan terseok-seok dengan tubuh penuh luka.
Anak anak kecil mengerubungi nya dan melempari wanita tua dengan tanah dan batu.
Seorang lelaki bertubuh gempal dengan kumis tebal mengusir anak anak kecil itu.
"Hai kalian,
Hentikan perbuatan kalian. Jangan suka mengganggu orang", teriak si lelaki itu yang membuat para bocah cilik itu langsung terbirit-birit ketakutan.
Si lelaki bertubuh gempal itu segera mendekati wanita tua itu. Si lelaki bertubuh gempal itu segera mendudukkan tubuh perempuan tua tadi di bawah pohon rindang ditepi jalan.
"Nisanak,
Kau tidak apa-apa?", tanya si lelaki bertubuh gempal itu sambil menatap wajah perempuan tua itu.
Wajah perempuan tua itu terlihat pucat pasi dengan beberapa luka di dahi dan pelipis nya.
"Air..
Aku mau air", teriak perempuan tua itu lirih.
Si lelaki bertubuh gempal yang bernama Lumadi itu segera berlari ke sebuah warung makan yang ada di dekat tempat itu dan kembali dengan kendi air minum.
Segera dia mengulurkan kendi air minum pada si wanita tua yang kehausan.
Gluk Gluk Gluk..
"Terimakasih orang baik,
Semoga Hyang Agung membalas kebaikan hati mu", ujar si wanita tua sambil tersenyum.
"Hanya air Ni,
Nini ini mau kemana? Kenapa sampai seperti ini?", tanya Lumadi dengan penuh perhatian.
"Aku mau ke kota Kadiri. Aku ingin bertemu dengan Gusti Pangeran Panji Jayengrana", ujar wanita tua itu sambil tersenyum.
"Maaf Nini,
Dengan pakaian mu seperti ini para prajurit Kadiri pasti tidak akan membiarkan mu masuk", Lumadi menatap ke arah wanita tua itu dengan raut wajah kasihan.
"Tapi.. tapi ini penting, anak muda..
Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi", ujar si wanita tua itu segera bangkit dari duduknya.
Namun karena kakinya yang sakit, tubuh tua itu terhuyung huyung hendak jatuh.
__ADS_1
Lumadi segera melompat menahan tubuh sang perempuan tua itu.
Saat yang bersamaan, dari arah timur Panji Watugunung dan Warigalit memacu kudanya.
Melihat itu, Panji Watugunung segera menarik tali kekang kudanya diikuti oleh Warigalit.
Kuda seketika berhenti.
Dua orang pembesar istana Katang-katang itu segera melompat turun dari kudanya dan mendekati Lumadi dan wanita tua itu.
"Ada apa ini?", suara Panji Watugunung segera membuat Lumadi menoleh kearah Panji Watugunung.
"Gus.. Gusti Pangeran Panji Jayengrana,
Hamba sedang menolong wanita ini Gusti", jawab Lumadi dengan terbata-bata. Dia gugup seketika.
Mendengar sebutan Panji Jayengrana, wanita tua seperti mendapat semangat baru. Segera dia menoleh ke arah Panji Watugunung.
"Apa benar kau adalah Pangeran Jayengrana?", ujar si wanita tua itu segera.
"Benar Nini,
Aku adalah Pangeran Jayengrana. Apa Nini mengenal ku?", tanya Panji Watugunung sambil tersenyum tipis.
"Oh Jagat Dewa Batara..
Akhirnya kau pertemukan aku dengan orang yang aku cari selama ini.
Namaku Nini Sumbi. Aku adalah pelayan Lurah Mpu Guritno dari Wanua Padelegan di wilayah perbatasan Kunjang dan Watugaluh.
Aku diutus oleh majikan ku untuk meminta bantuan kepada mu Gusti Pangeran. Ibu tiri selir Gusti Pangeran bersekutu dengan setan dan membuat seluruh warga wanua terserang wabah penyakit", ujar Nini Sumbi dengan nafas tersengal.
"Ibu tiri selir ku? Siapa yang kau maksud Nini?", Panji Watugunung terlihat keheranan. Dia segera menoleh ke arah Warigalit, namun Senopati Kadiri itu hanya mengangkat bahu nya.
"Sekar Mayang. Bukankah dia selir Pangeran Panji Jayengrana?", tanya Nini Sumbi dengan cepat.
"Oh kalau Sekar Mayang memang selir ku Nini", jawab Watugunung seraya menganggukkan kepalanya.
Nini Sumbi dengan tangan bergetar merogoh baju nya dan mengeluarkan sebuah cincin bermata batu biru kemudian mengulurkan tangannya ke Panji Watugunung.
"Berikan ini pada Sekar Mayang, Gusti Pangeran.
Dia a-akan mengenalinya", ujar Nini Sumbi dengan terbata-bata. Perempuan tua itu kemudian pingsan.
Panji Watugunung terkejut dan segera meraba nadi pada pergelangan tangan Nini Sumbi. Mengetahui bahwa Nini Sumbi pingsan, Panji Watugunung menarik nafas lega.
"Kau, siapa namamu?", Panji Watugunung segera menoleh ke arah Lumadi yang bengong disebelahnya.
"Hamba Lumadi, Gusti Pangeran", jawab Lumadi sedikit takut.
Hemmmm
"Rawat perempuan tua ini. Berikan wanita ini pakaian yang layak dan makanan yang cukup.
Besok pagi, cari Demung Gumbreg di istana Katang-katang. Katakan padanya, kau adalah utusan ku.
Dan ini, gunakan untuk merawat perempuan tua ini", ujar Panji Watugunung seraya menyerahkan sekantong kecil kepeng perak pada Lumadi.
Pria bertubuh gempal itu segera mengangguk tanda mengerti.
Panji Watugunung segera memasukkan cincin bermata biru itu ke kantong bajunya kemudian ia melompat ke atas kuda nya diikuti oleh Warigalit.
Dua ksatria Kadiri itu memacu kudanya menuju ke istana Katang-katang.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit ❤️ dan komentar 🗣️ nya agar author terus semangat menulis yah 😁
Selamat membaca 😁😁😁
__ADS_1