Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Macan Kumbang dan Sima Lodra


__ADS_3

"Jangan terburu ***** Kakang. Ingatlah, kita punya tujuan yang lebih besar.


Menumbangkan kekuasaan Arya Prabu", ujar Retnaningsih berusaha untuk meredam emosi Mpu Wijaya yang nampak murka.


"Nanti, selepas Arya Prabu kita jatuhkan maka mudah bagi kita untuk menuntut balas kematian Kakang Lumahjati", timpal Retnaningsih kemudian.


Adik seperguruan Mpu Wijaya itu terus berusaha mendinginkan hati sang kakak seperguruan. Dia memang memiliki kebencian yang mendalam terhadap Arya Prabu. Dulu dia adalah kembang desa dari Wanua Ranti yang tersohor. Saat Arya Prabu menjadi penguasa Tanah Perdikan Lodaya, Retnaningsih jatuh cinta pada Arya Prabu yang saat itu sudah menikah dengan Dewi Rayung Wulan, putri seorang Resi dari wilayah Jaladri di pesisir selatan Lodaya. Meski menggunakan segala cara untuk memikat hati Arya Prabu, tapi Arya Prabu tetap tak bergeming dengan bujuk rayu Retnaningsih.


Mulai saat itu, Retnaningsih menaruh dendam kepada Arya Prabu, sang penguasa Lodaya. Di berguru pada beberapa tokoh persilatan hingga ke Wengker dan Tumapel, sebelum akhirnya bergabung dengan kelompok Macan Kumbang.


Dewi Racun Selatan adalah julukan Retnaningsih. Dia pintar meracik racun dan obat karena sempat berguru pada Dewa Racun dari Gunung Semeru yang tersohor di seantero dunia persilatan Panjalu dan Jenggala.


Perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik itu pula yang memancing bibit bibit permusuhan pada Arya Prabu. Bergabungnya Kelompok Sima Lodra juga tak lepas dari campur tangan Retnaningsih.


Kematian putra Mpu Wijaya yang tewas di keroyok prajurit Lodaya karena membuat onar di depan istana Lodaya menjadi bara api dendam yang terus Retnaningsih tiup untuk membuat Mpu Wijaya merasa marah terhadap segala tindak tanduk Arya Prabu.


Retnaningsih terus menatap wajah Mpu Wijaya yang terdiam beberapa saat setelah mendengar ucapannya.


Wajah tua Mpu Wijaya menatap ke arah mayat Lumahjati yang tergeletak di hadapannya.


"Adhi Lumahjati,


Bersabarlah sejenak. Selesai aku merobohkan kekuasaan Arya Prabu, akan ku kejar orang yang membunuh mu", ucap Mpu Wijaya alias Si Macan Kumbang dengan penuh penyesalan.


Retnaningsih menghela nafas lega.


"Kakang Wijaya,


Sebaiknya kita segera mempersiapkan diri sebaik mungkin. Pasukan yang sudah di tata Sima Lodra dan Randu Laweyan bersiapdan menunggu perintah mu", ujar Retnaningsih sembari tersenyum tipis.


"Besok pagi kita makamkan dulu Adhi Lumahjati, Retnaningsih.


Usai pemakaman, kita adakan pertemuan dengan Sima Lodra dan Randu Laweyan untuk persiapan penyerbuan ke kota Lodaya", jawab Mpu Wijaya sambil menatap ke arah Retnaningsih.


"Baik Kakang", ucap Retnaningsih yang segera melangkah keluar untuk mempersiapkan upacara pemakaman.


Malam segera berganti pagi.


Mentari pagi mulai menampakkan diri di langit timur Tanah Perdikan Lodaya. Meski mendung kelabu bergelayut mesra di langit, tapi kehangatan sinar sang Surya masih mampu menghangatkan seisi bumi.


Panji Watugunung yang baru selesai membersihkan diri, sibuk berganti pakaian. Ketiga istri nya juga selesai berdandan. Meski dengan pakaian biasa, mereka tetap terlihat anggun dan cantik.


Nyi Kembang Jenar sedang duduk di serambi kediaman nya, saat mereka berempat keluar dari kamar tidur.


Di hadapan perempuan paruh baya itu, sudah tersaji aneka macam hidangan yang di masak oleh cantrik cantriknya.


"Bocah Bagus,


Ayo sarapan dulu sebelum kau berangkat ke istana Lodaya", ajak Nyi Kembang Jenar pada Panji Watugunung sambil tersenyum simpul.


Mereka berlima segera menyantap hidangan yang disajikan. Untuk para prajurit Kayuwarajan Panjalu, sudah di sediakan di tempat terpisah.


"Kami berterima kasih kepada mu Nyi.


Maaf jika sudah merepotkan mu selama kami ada disini", ujar Panji Watugunung segera setelah mereka usai bersantap pagi.


"Kau ini sudah ku anggap seperti putra ku sendiri, Watugunung.


Jangan lupa aku adalah teman ayah mu", ucap Nyi Kembang Jenar yang mengusap bibirnya yang baru meneguk secangkir air minum dari kendi tanah liat.


"Hehehe iya Nyi..


Oh iya Nyi, kalau nanti Nyi Kembang Jenar ingin jalan-jalan ke Kadiri, silahkan mampir ke istana Katang-katang. Ini bisa Nyi tunjukkan pada prajurit penjaga. Mereka akan mengantar Nyi menemui ku" ujar Panji Watugunung yang segera menyerahkan sebuah lencana burung Garuda yang terbuat dari perak.


"Apa ini Cah Bagus?


Bukankah ini lencana dari seorang Yuwaraja?", tanya Nyi Kembang Jenar sambil melihat ke arah lencana burung Garuda yang ada di tangan nya.


"Tentu saja itu adalah lencana Yuwaraja Panjalu , Nyi.


Kakang Watugunung kan memang Yuwaraja Panjalu saat ini", sahut Rara Sunti dengan senyum manisnya.


HAAAAHHHHHHH!!!


Nyi Kembang Jenar kaget mendengar ucapan Rara Sunti. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu segera menatap wajah Panji Watugunung.


Panji Watugunung hanya tersenyum tipis. Kediaman Panji Watugunung semakin membuat Nyi Kembang Jenar tersenyum penuh arti. Dia tidak menyangka bahwa tamu yang datang ke rumah nya adalah calon raja Panjalu selanjutnya.


"Dasar bocah gemblung..


Sedari kemarin kau sengaja merahasiakan jati diri mu rupanya. Mulanya aku sempat kebingungan dengan banyaknya orang yang mengikuti mu. Jadi ternyata ini rahasia yang kau sembunyikan dari ku", ucap Nyi Kembang Jenar sambil tersenyum simpul.


"Aku hanya takut sikap Nyi akan berubah jika tau tentang diriku yang sekarang.


Makanya aku memilih untuk tidak menceritakan tentang keadaan ku Nyi", ucap Panji Watugunung segera.


"Dasar ndableg..

__ADS_1


Kau itu tetap ku anggap seperti putra ku, walau pun kau sudah menjadi Raja Panjalu sekalipun", ujar Nyi Kembang Jenar sambil tersenyum tipis.


Usai berbincang beberapa waktu, Panji Watugunung segera mohon undur diri. Segera rombongan Panji Watugunung meninggalkan tempat kediaman Nyi Kembang Jenar untuk menuju ke istana Lodaya.


Perempuan paruh baya itu menatap ke arah Panji Watugunung dan rombongannya yang segera menghilang di balik keramaian kota Lodaya.


Saat matahari lewat sepenggal naik, rombongan Panji Watugunung sudah sampai di depan pintu gerbang istana Lodaya.


Demung Rakai Sanga segera melompat turun dari kudanya dan memperlihatkan lencana burung Garuda pada sang prajurit penjaga.


"Kami utusan dari Gelang-gelang. Ingin bertemu dengan Penguasa Lodaya, Pangeran Arya Prabu.


Mohon diberi ijin untuk menghadap", ujar Rakai Sanga segera.


Sang prajurit segera mengangguk mengerti dan berlari menuju ke arah istana pribadi Pangeran Arya Prabu.


Seorang lelaki paruh baya bertubuh tegap dengan kumis tebal melintang di pipi, berjenggot tipis sedang duduk di kursi serambi istana pribadi Penguasa Lodaya. Gurat ketampanan orang itu masih terlihat jelas meski rambutnya mulai di tumbuhi uban. Dialah Arya Prabu, Sang Pangeran Lodaya. Lelaki itu tampak tengah berpikir keras, saat sang prajurit penjaga gerbang istana berlari ke arahnya dan segera berjongkok lalu menyembah.


"Mohon ampun Gusti Pangeran,


Serombongan orang datang ingin menghadap kepada Gusti Pangeran. Mereka mengaku sebagai utusan dari Gelang-gelang, dengan menunjukkan lencana bergambar burung Garuda", ucap sang prajurit dengan sopan.


Hemmmm


"Utusan dari Gelang-gelang ya?


Biarkan mereka masuk", ujar Pangeran Arya Prabu segera.


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", Sang prajurit segera menyembah pada Arya Prabu dan segera mundur dari hadapan sang penguasa Lodaya.


Tak berapa lama kemudian, sang prajurit kembali dengan di sertai Panji Watugunung, ketiga istrinya, dan Demung Rakai Sanga. Para prajurit pengawal mereka, tidak di perbolehkan masuk dan menunggu di luar tembok istana.


"Salam hormat kami kepada Yang Mulia Penguasa Lodaya, Pangeran Arya Prabu", ujar Panji Watugunung yang segera menghaturkan sembah diikuti oleh keempat pengiringnya.


"Terimakasih atas penghormatan terhadap ku, dan selamat datang di istana Lodaya.


Silahkan duduk", ujar Pangeran Arya Prabu sambil tersenyum.


Panji Watugunung dan ketiga istrinya juga Rakai Sanga segera duduk bersila di lantai istana pribadi Penguasa Lodaya.


"Apa yang membawa kalian dari Gelang-gelang kemari?", tanya Pangeran Arya Prabu dengan ramah.


"Mohon maaf Gusti Pangeran,


Saya diutus oleh Bupati Gelang-gelang, Panji Gunungsari untuk menanyakan perihal lamaran yang di ajukan Pangeran Arya Tanggung untuk Dewi Anggraeni tempo hari.


Hemmmm


Pangeran Arya Prabu menghela nafas pelan sebelum mulai berbicara.


"Sebenarnya aku masih ingin berbesan dengan Bupati Gelang-gelang, wahai utusan.


Tapi saat kami ingin memperjelas maksud ku untuk menjadikan Dewi Anggraeni sebagai menantu, terjadi masalah besar di Lodaya.


Segerombolan orang mulai menebar kekacauan di wilayah kami. Saat ini kami masih dalam keadaan tidak tenang, wahai utusan.


Sewaktu waktu bisa terjadi kekacauan di Lodaya, maka dari itu kami masih memperketat penjagaan di sekitar istana Lodaya.


Karena itu, bukan mengulur waktu untuk melanjutkan lamaran yang sudah di ajukan, tetapi kami tidak mungkin melakukan pernikahan dalam waktu dekat ini mengingat situasi yang ada saat ini", terang Pangeran Arya Prabu sambil menatap ke arah Panji Watugunung.


"Apakah ini ada kaitannya dengan Kelompok Macan Kumbang dan Sima Lodra, Gusti Pangeran?", tanya Panji Watugunung segera.


Mendengar pertanyaan itu, wajah Pangeran Arya Prabu langsung berubah muram.


"Benar yang kau katakan, wahai utusan dari Gelang-gelang.


Mereka memang biang kerok dari semua masalah yang kami hadapi. Kami tidak tahu apa yang sebenarnya yang sedang mereka rencanakan, tapi ulah mereka menimbulkan keresahan di masyarakat wilayah Lodaya.


Oh, darimana kamu tahu permasalahan ini, utusan dari Gelang-gelang?", Pangeran Arya Prabu segera menatap ke arah Panji Watugunung.


"Sebenarnya kami sudah sampai di Lodaya dari kemarin sore, Gusti Pangeran. Tapi semalam kami bermalam di rumah Nyi Kembang Jenar, di barat kota Lodaya.


Semalam ada peristiwa yang membuat Nyi Kembang Jenar menceritakan tentang permasalahan yang tengah dihadapi oleh Lodaya. Jadi kami sedikit banyak tahu tentang masalah ini", jawab Panji Watugunung segera.


Hemmmm


"Begitu rupanya. Maaf sebelumnya, utusan dari Gelang-gelang. Ku lihat dari cara bicara mu, kau bukan orang biasa.


Bisa aku tahu siapa namamu?", Pangeran Arya Prabu menatap wajah Panji Watugunung. Dia sangat pandai membaca wajah seseorang.


"Saya Panji Watugunung, putra sulung Bupati Gelang-gelang.


Ini Naganingrum, itu Dewi Srimpi dan dia adalah Rara Sunti. Sedangkan yang itu adalah Rakai Sanga, pengawal saya", ujar Panji Watugunung sambil tersenyum tipis.


"Tunggu dulu.


Kau bilang nama mu adalah Panji Watugunung? Bukankah itu nama lahir Yuwaraja Panjalu, Pangeran Jayengrana?", Pangeran Arya Prabu terkaget mendengar penuturan Panji Watugunung tentang nama nya.

__ADS_1


"Mohon ampun Gusti Pangeran Arya Prabu jika hamba lancang,


Beliau ini memang Pangeran Panji Watugunung yang mendapat gelar Pangeran Jayengrana", sahut Rakai Sanga sambil menghormat pada Pangeran Arya Prabu.


"Jagat Dewa Batara


Rupanya ini adalah tamu agung dari Kayuwarajan Panjalu. Mohon maaf jika aku tidak sopan, Pangeran Jayengrana", ujar Pangeran Arya Prabu yang segera berdiri dari tempat duduknya dan ikut duduk di lantai serambi istana pribadi nya.


"Sudahlah Gusti Pangeran,


Aku hanya seorang utusan ayah ku. Jangan terlalu berlebihan dalam menyambut ku", ucap Panji Watugunung segera.


"Tidak bisa begitu Pangeran Jayengrana..


Bagaimanapun, kau adalah raja Panjalu selanjutnya. Bisa menjamu tamu agung seperti mu, adalah kehormatan besar untuk Tanah Perdikan Lodaya.


Malam ini, menginaplah di istana Lodaya. Biarkan aku menunjukkan keramahtamahan dari Lodaya.


Nanti malam kita bicarakan lagi masalah besanan antara Lodaya dan Gelang-gelang.


Untuk saat ini, aku temani kau melihat lihat sekeliling istana Lodaya", ujar Pangeran Arya Prabu sambil tersenyum simpul.


Jadilah siang itu Panji Watugunung dan Pangeran Arya Prabu berkeliling di istana Lodaya. Putra Arya Prabu yang akan di jodohkan dengan Dewi Anggraeni, Arya Tanggung ikut menemani mereka.


Sementara itu di tepi hutan kecil di timur kota Lodaya, sekitar seribu orang berpakaian hitam dengan ikat kepala merah tengah berdiri di sebuah tempat lapang yang terlindung dari pandangan.


Di hadapan mereka, seorang lelaki paruh baya berkumis jarang dengan rambut gondrong seperti singa tengah berdiri di depan orang orang berbaju hitam itu. Disampingnya, berdiri seorang lelaki bertubuh tinggi dengan wajah tirus menyeramkan. Mereka adalah Sima Lodra dan Randu Laweyan, pemimpin kelompok perusuh Sima Lodra.


Sima Lodra menatap tajam ke arah orang-orangnya.


"Dengarkan aku,


Lepas senja nanti, kita akan menyerbu ke istana Lodaya. Persiapkan diri kalian sebaik-baiknya.


Ingatlah, jika kita berhasil kali ini, maka kekayaan dan pangkat tinggi menanti kalian semua, dan nama Sima Lodra akan harum di dunia persilatan", ujar Sima Lodra sambil mengelus kumisnya yang jarang-jarang itu.


Dari arah selatan, 500 orang Kelompok Macan Kumbang yang dipimpin oleh Mpu Wijaya, Darpita, dan Retnaningsih mendekati mereka.


"Selamat bergabung, Kakang Wijaya.


Dengar kalian semua, ini adalah Mpu Wijaya, pemimpin Perguruan Macan Kumbang yang sebentar lagi akan menjadi Raja Lodaya.


Berikan hormat kalian padanya", teriak Sima Lodra yang segera membuat seribu orang berpakaian hitam yang merupakan anak buah nya segera berjongkok dan menyembah pada Mpu Wijaya.


"Simpan hormat kalian untuk nanti saat aku menjadi Raja Lodaya", ucap Mpu Wijaya sambil tersenyum tipis.


Siang itu mereka menyiapkan segala sesuatunya untuk menyerang istana Lodaya.


Setelah senja mulai berganti malam, Mpu Wijaya berdiri tegak di depan para prajuritnya. Dengan lantang, pria paruh baya itu berkata,


"Malam ini,


Kita serang istana Lodaya!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya 😁


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah agar author terus semangat menulis 😁


Selamat membaca 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2