
Phuihhhh..
"Sombong sekali kau Jayengrana. Kau hanya bocah kemarin sore merebut tahta dari keponakan ku Suryanata.
Buat apa aku lari untuk menghadapi bocah seperti mu??", ujar Adipati Mpu Pamadi sembari meludah ke tanah. Lelaki paruh baya itu memelintir kumis tebal nya sambil menatap tajam ke arah Panji Watugunung.
"Merebut tahta katamu?
Siapa yang berebut tahta kerajaan Panjalu dengan Suryanata? Dia sendiri yang berambisi untuk menjadi Raja Panjalu padahal semua keputusan ada di Dewan Mahkota Kerajaan Panjalu.
Percobaan pembunuhan terhadap ku dan Mapatih Jayakerti yang di lakukan oleh anak mu Banjarsari adalah tindakan makar terhadap pemerintahan. Kau yang lebih tua mestinya lebih mengenal Kitab Kutara Manawa Dharma sebagai tolok ukur tindakan pemerintahan, Mpu Pamadi", ucap Panji Watugunung seraya menatap heran kearah Mpu Pamadi.
"Tutup mulut mu!
Kau bocah bau kencur berani menceramahi aku tentang hukum pemerintahan? Kau hanya mencari dalih untuk membenarkan tindakan mu yang sewenang-wenang terhadap hak Suryanata maupun Banjarsari putra ku", Adipati Mpu Pamadi mendelik tajam ke arah Panji Watugunung.
"Siapa yang mencari dalih?
Kita urutkan saja hak tahta kerajaan Panjalu berdasarkan Kitab Kutara Manawa Dharma. Disebutkan bahwa jika Raja tidak memiliki keturunan laki-laki maka tahta akan jatuh ke putri sulungnya. Namun jika masih ada saudara dekat laki-laki yang masih keturunan langsung dari raja terdahulu, maka dia lebih berhak atas tahta di bandingkan dengan anak perempuan.
Sekarang aku tanya atas dasar apa Suryanata lebih berhak atas tahta kerajaan Panjalu daripada aku? Sedangkan aku adalah keturunan langsung dari Wangsa Isyana melalui ayahku", tanya Panji Watugunung segera.
Mpu Pamadi langsung terdiam seketika mendengar perkataan Panji Watugunung. Dia tahu bahwa Suryanata anak Adipati Rajapura Warasambu , cucu Satyaji yang merupakan bekas perwira prajurit Kerajaan Medang yang diangkat Prabu Airlangga menjadi penguasa Rajapura, daerah paling barat sebelah Utara kerajaan Panjalu selepas pemecahan kerajaan.
Mereka sama sekali bukan keturunan wangsa Isyana.
"Alah itu hanya alasan mu saja.
Pokoknya kau sudah merebut tahta dari keponakan ku, maka sebagai paman nya juga sebagai ayah Banjarsari yang kau gantung di alun alun Kotaraja Daha, aku akan membalas dendam", ujar Mpu Pamadi segera.
"Sebagai salah satu golongan tua, seharusnya kau lebih bijak dalam bersikap Mpu Pamadi.
Hari ini aku meminta baik baik kepada mu untuk menyudahi perang ini. Maaf jika aku memaksa mu. Jika kau menolak untuk berhenti, jangan harap kau dan keturunan mu akan hidup tenang di Panjalu", ucap Panji Watugunung sambil menatap tajam ke arah Mpu Pamadi.
"Mentang mentang kau terkenal dengan pendekar dunia persilatan kau pikir aku takut dengan mu Jayengrana?
Phuihhhh...
Akan ku hancurkan kepala mu, bocah bau kencur!", teriak Adipati Mpu Pamadi seraya melangkah maju. Tumenggung Gentiri langsung menghadang langkah Adipati Mpu Pamadi.
"Mohon bersabar Gusti Adipati..
Biarkan hamba yang maju menghadapi Prabu Jayengrana", ujar Tumenggung Gentiri dengan menyembah pada Adipati Mpu Pamadi.
"Minggir kau Gentiri..
Akan ku habisi Jayengrana dengan tangan ku sendiri", ujar Adipati Mpu Pamadi tanpa mengindahkan omongan Tumenggung Gentiri.
Laki laki paruh baya itu melesat cepat kearah Panji Watugunung. Kedua tangan nya bersiap untuk menyerang.
Segera tangan kanan nya menghantam ke arah dada Panji Watugunung. Angin dingin tenaga dalam tingkat tinggi menyertai gerakan Mpu Pamadi.
Panji Watugunung segera berkelit ke samping kanan, lalu Raja Panjalu itu melayangkan pukulan kearah perut Mpu Pamadi.
Whuuuuuttt..
Penguasa Kadipaten Kembang Kuning melompat mundur menghindari serangan sambil hantamkan tangan kirinya kearah Panji Watugunung dengan tenaga dalam tingkat tinggi nya.
Whuuussshh..
Panji Watugunung segera memapak serangan itu memakai tangan kiri nya.
Blaaarrrhhh!!!
Ledakan keras terdengar dan dua orang itu terdorong mundur beberapa langkah. Mereka saling menjajaki seberapa besar tenaga dalam lawan. Panji Watugunung menggunakan sepertiga bagian tenaga dalam nya sedangkan Mpu Pamadi memakai separuh lebih.
Merasa lebih unggul, Mpu Pamadi segera menyeringai lebar. Dia yakin bisa mengalahkan Panji Watugunung.
Phuihhhh..
"Rupanya hanya omong kosong belaka berita yang mereka ucapkan. Kau tidak lebih dari bocah kemarin sore yang sok jago Jayengrana.
Ayo majulah, biar cepat ku cabut nyawamu", ujar Mpu Pamadi dengan jumawa.
Panji Watugunung tak menjawab namun Raja Panjalu itu segera meramal Ajian Tapak Dewa Api. Tangan kanan nya berubah warna menjadi merah menyala seperti api.
Melihat itu, Mpu Pamadi bersiap untuk menghadapi serangan Panji Watugunung dengan Ajian Wastra Mahesa dari Nyi Suhita. Mulut penguasa Kadipaten Kembang Kuning itu komat kamit membaca mantra. Seketika asap merah melingkupi seluruh tubuh Mpu Pamadi. Lalu sinar merah kehitaman menutupi seluruh tubuh pria paruh baya itu segera.
Panji Watugunung segera melesat cepat kearah Mpu Pamadi sembari menghantamkan tangan kanannya kearah dada Mpu Pamadi.
Kecepatan yang luar biasa karena Ajian Sepi Angin membuatnya tiba-tiba muncul di depan Mpu Pamadi membuat Mpu Pamadi hanya bisa bertahan saat tangan kanan Panji Watugunung menghantam dada nya.
Blllaaammmmmmmm!!!
Usai menghantam, Panji Watugunung terdorong mundur beberapa langkah. Tubuh Mpu Pamadi diliputi oleh asap tebal. Baik Tumenggung Gentiri maupun para prajurit Kadipaten Kembang Kuning langsung pucat wajah nya melihat kejadian itu.
Saat asap tebal menghilang, Mpu Pamadi tersenyum pongah kearah Panji Watugunung. Para prajurit Kembang Kuning pun turut menarik napas lega.
"Ayo, pilih bagian tubuh mana yang akan kau serang Jayengrana hahahaha..
Aku akan menerima semua serangan mu!", teriak Mpu Pamadi dengan pongah kearah Panji Watugunung.
Raja Panjalu itu sedikit terkejut dengan kemampuan kanuragan dari Mpu Pamadi.
__ADS_1
'Hemmmmmmm...
Pantas dia sombong. Rupanya dia punya ilmu kedigdayaan seperti Ajian Tameng Waja. Akan ku coba untuk membongkar ilmu itu', batin Panji Watugunung segera.
Segera dia merentangkan kedua tangan lalu menangkup di atas kepalanya. Kedua telapak tangan bersatu di depan dada. Panji Watugunung merapal mantra Ajian Guntur Saketi ajaran Mpu Narasima. Dari kedua telapak tangan muncul cahaya biru keputihan yang menyilaukan mata.
Mpu Pamadi kaget melihat perubahan warna pada tangan Panji Watugunung. Sambil menggunakan Ajian Wastra Mahesa, diam diam dia merapal mantra Ajian Asta Geni yang selama ini menjadi andalannya.
Panji Watugunung kembali melesat cepat kearah Adipati Kembang Kuning itu. Tangan kanannya yang berwarna biru keputihan menghantam ke arah Mpu Pamadi.
Whhhuuuuuttttthhhh...
Bllaaaaaaaarrrrrr!!!
Mpu Pamadi segera mengayunkan tangan kanannya ke arah Panji Watugunung. Namun tangan kiri Panji Watugunung mengibas hingga Ajian Asta Geni dari Mpu Pamadi melenceng dari sasaran. Sinar kuning kemerahan melesat cepat kearah Cempluk Rara Sunti yang terkejut setengah mati melihat serangan nyasar dari Mpu Pamadi. Buru buru selir bungsu Panji Watugunung itu menyilangkan kedua tangan nya di depan dada dengan mengerahkan tenaga dalam nya.
Blllaaammmmmmmm!!!
Cempluk Rara Sunti terpelanting ke belakang. Sebelum tubuh nya menghantam tanah, Dewi Srimpi yang melihatnya langsung melesat cepat menangkap tubuh Cempluk Rara Sunti.
Huooooggghhhh!!
Cempluk Rara Sunti muntah darah kehitaman. Rupanya dia luka dalam serius karena tak siap terkena hantaman Ajian Asta Geni. Dewi Srimpi segera menotok jalan darah madu nya itu dengan cepat.
Tukk thukk..
Kemudian dia membantu menyalurkan tenaga dalam nya untuk Cempluk Rara Sunti setelah selir bungsu Panji Watugunung itu duduk bersila.
Panji Watugunung segera melesat cepat kearah mereka berdua. Melihat wajah Cempluk Rara Sunti yang pucat, amarah Raja Panjalu itu memuncak.
"Dinda Srimpi,
Tolong bantu selamatkan nyawa Dinda Sunti", perintah Panji Watugunung yang segera mendapat anggukan kepala dari Dewi Srimpi.
Dengan penuh amarah, Panji Watugunung segera melesat cepat kearah Mpu Pamadi sembari menghantamkan kedua tangan nya kearah Mpu Pamadi bertubi-tubi.
Bllarrrrrrr..
Blllaaammmmmmmm!!!
Ledakan dahsyat beruntun terdengar dari tubuh Mpu Pamadi yang hanya bisa bertahan karena kecepatan Panji Watugunung yang di luar jangkauan penglihatannya.
Hebatnya, Ajian Wastra Mahesa mampu melindungi setiap bagian tubuh Mpu Pamadi dengan baik. Meski hantaman Ajian Guntur Saketi membuat lelaki paruh baya itu terdorong mundur.
Panji Watugunung melompat mundur beberapa langkah. Karena banyak mengeluarkan tenaga dalam, keringat menetes di dahi Sang Maharaja Panjalu.
Mpu Pamadi menyeringai lebar melihat itu.
Keluarkan semuanya! Aku tak akan tergores sedikitpun hahahaha", tawa ejekan terdengar dari mulut Adipati Kembang Kuning.
Panji Watugunung segera menangkupkan kedua tangan di depan dada. Kedua mata nya menutup, meminta petunjuk Sang Hyang Widhi Wasa. Tiba-tiba sebuah suara terdengar di telinga Panji Watugunung.
"Dia menggunakan Ajian Wastra Mahesa, ilmu sesat yang menggunakan darah perawan untuk menyempurnakan nya.
Kau memiliki aku di dalam tubuh mu, keluarkan aku maka akan ku ***** tubuh lelaki tua itu", demikian bunyi suara yang terdengar di telinga Panji Watugunung. Berikut nya sebuah bayangan raksasa merah melintas di pelupuk mata Sang Maharaja Panjalu.
Mulut Panji Watugunung segera komat kamit membaca mantra Ajian Triwikrama.
Saat Panji Watugunung membuka mata, warna mata Raja Panjalu itu berubah merah seperti darah.
Hooooaaaarrrrggghhh!!!
Teriakan keras terdengar dari mulut Panji Watugunung. Perlahan tubuh Panji Watugunung membesar dan terus membesar.
Warigalit yang melihat perubahan wujud Panji Watugunung segera memberi isyarat kepada para prajurit Panjalu untuk menjauh dari Panji Watugunung.
Mpu Pamadi yang tertawa terbahak bahak langsung diam melihat perubahan wujud Panji Watugunung yang mengerikan. Dia pernah melihat perubahan wujud seperti itu saat Prabu Airlangga mengobrak abrik istana Panuda Raja Lewa saat pertempuran para prajurit Medang melawan kerajaan Lewa yang bermaksud memerdekakan diri dari Medang usai Mahapralaya.
Diam diam dia ngeri melihat sosok raksasa merah yang merupakan wujud Panji Watugunung. Wajahnya menakutkan dengan gigi taring sebesar batang pohon pisang, kumisnya menebal dan sorot matanya penuh dengan nafsu membunuh.
Para prajurit Kembang Kuning yang tersisa langsung melempar senjata nya begitu melihat perubahan wujud Panji Watugunung. Mereka yang penganut agama Hindu aliran Waisnawa percaya bahwa saat Dewa Wisnu melihat adanya angkara murka maka dia akan datang dengan wujud Buto Agni. Mereka segera bersujud kepada Panji Watugunung.
Hhooooaaaarrrggghhh!!!!
"Kau sudah melewati batas mu, Mpu Pamadi!
Sudah saatnya hukuman kau terima", teriak Buto Agni sambil menatap tajam ke arah Mpu Pamadi.
Dengan sekali sentak, sebuah pohon sawo besar di samping istana Kembang Kuning di cabut oleh Buto Agni. Lalu raksasa merah itu langsung menyapukan pohon sawo itu kearah Mpu Pamadi.
Meskipun tubuhnya besar, gerakan Buto Agni begitu cepat hingga Mpu Pamadi hanya bisa bertahan saat pangkal pohon sawo menghantam tubuhnya.
Daaaaasssshhhhh...
Mpu Pamadi terlempar jauh dari tempat berdirinya dan menyusruk tanah dengan keras. Meski tidak ada luka namun dadanya sesak bukan main.
Dengan cepat Buto Agni mengayunkan telapak tangan kanannya untuk memegang tubuh Mpu Pamadi. Melihat itu, Mpu Pamadi harus melompat cepat menghindari ancaman telapak tangan Buto Agni.
Whuuussshh..
Melihat buruannya lolos, Buto Agni semakin murka. Dia terus memburu pergerakan Mpu Pamadi yang harus berjumpalitan kesana kemari menghindari gerakan tangan raksasa merah.
Dengan hembusan nafas api, Buto Agni membuat Mpu Pamadi harus melompat tinggi ke udara. Saat itu dengan cepat tangan Buto Agni menyambar tubuh Mpu Pamadi dan menggenggam nya dengan erat. Mpu Pamadi meronta-ronta berusaha melepaskan diri namun genggaman tangan Buto Agni semakin erat. Tulang tubuh Mpu Pamadi terasa sakit setengah mati.
__ADS_1
"Lepaskanlah aku Jayengrana!
Bangsat kau! Lepaskan aku!", maki Mpu Pamadi sembari terus berusaha melepaskan diri.
Buto Agni langsung membanting tubuh Mpu Pamadi ke tanah dengan keras.
Bhhuuuuummmmmmhh!
Terdengar suara benda jatuh ke tanah. Bantingan Buta Agni membuat beberapa tulang Mpu Pamadi patah dan retak. Jeritan keras terdengar dari mulut Mpu Pamadi.
AAAARRRGGGGGGHHHHH!!!
Buta Agni kembali meraih tubuh Mpu Pamadi kemudian membantingnya lagi. Berulang kali suara keras bantingan Buta Agni membuat semua orang bergidik ngeri.
Saat Mpu Pamadi sudah tidak berdaya, Buta Agni meraih tubuh lelaki tua itu dan memegangi nya dengan jari telunjuk dan jempol nya.
"Ampuni a-aku, Jayengrana.. Ampuni nyawaku", hiba Mpu Pamadi yang dalam keadaan mengenaskan. Dari mulut, hidung dan telinga kakek tua itu mengalir darah segar akibat remuknya organ dalam nya.
"Sudah terlambat, Mpu Pamadi!
Aku sudah memberikan kesempatan terakhir mu tadi. Sekarang bersiaplah untuk menghadap Dewa Yama", ujar Buta Agni yang segera memegang kedua kaki Mpu Pamadi. Kemudian Buta Agni menarik kedua kaki itu hingga tubuh Mpu Pamadi terbelah menjadi dua.
Shrraaaakkkkhhhh...
Buta Agni segera melemparkan dua bagian tubuh Mpu Pamadi ke tanah dengan keras. Lalu dia menggeram dengan keras. Lalu kakinya menendang tembok istana Kadipaten Kembang Kuning hingga jebol selebar 10 tombak.
Hooooaaaarrrrggghhh!!!!
Warigalit, Dewi Srimpi dan Cempluk Rara Sunti yang masih pucat segera berlutut dihadapan Buta Agni.
"Sudah cukup, Dhimas Prabu.
Tolong hentikan kemurkaan mu. Mpu Pamadi sudah mati. Perang ini sudah berakhir", ujar Senopati Warigalit dengan mengerahkan seluruh tenaga dalam nya agar suaranya yang oleh Buta Agni.
Buta Agni melihat sekeliling istana Kadipaten Kembang Kuning. Dan perang memang sudah selesai. Perlahan dia bersedekap tangan di depan dada. Mata raksasa merah itu perlahan menutup kemudian tubuh Buta Agni mengecil dan terus mengecil hingga kembali ke wujud Panji Watugunung.
"Berdirilah kalian", ujar Panji Watugunung usai menghela nafas panjang.
Senopati Warigalit, Dewi Srimpi dan Cempluk Rara Sunti segera bangkit dari sujud nya. Mereka menarik nafas lega usai melihat Panji Watugunung di dalam wujud biasanya.
Lalu mereka berjalan mendekati ke arah Tumenggung Gentiri yang masih bersujud di tanah.
"Apa kau masih ingin melanjutkan perang ini, wahai Wong Kembang Kuning?", tanya Panji Watugunung segera.
"Mohon ampun Gusti Prabu Jayengrana. Kami bersalah telah membela keinginan Gusti Adipati Mpu Pamadi. Seharusnya kami tidak membelanya untuk melawan titisan Dewa Wisnu yang merupakan sesembahan kami", jawab Tumenggung Gentiri yang masih juga tidak berani mengangkat kepalanya.
"Berdirilah!
Aku tahu kau hanya menjalankan tugas mu sebagai prajurit Kembang Kuning.
Kau sebagai pucuk pimpinan prajurit Kembang Kuning, aku perintahkan bersihkan istana ini dari mayat mayat para prajurit.
Jika itu selesai, berkumpul di alun alun istana Kembang Kuning", perintah Panji Watugunung segera yang membuat Tumenggung Gentiri mengangguk mengerti. Dengan 1500 prajurit Kembang Kuning yang tersisa, Tumenggung Gentiri memimpin mereka untuk membersihkan istana Kembang Kuning.
Galungwangi yang menyaksikan pertempuran antara Panji Watugunung dan Mpu Pamadi segera melompat turun dari pohon waru besar di luar tembok istana. Dia segera melepaskan ikatan tali kekang kudanya pada semak rumpun di bawahnya.
Dia segera melompat ke atas kuda nya dan menggebrak hewan pelari itu segera. Tujuan nya hanya sampai di Alas Roban secepatnya.
Untuk menemui Suryanata.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya 😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙, dan komentar 🗣️ nya yah 😁
Selamat membaca 😁🙏😁
__ADS_1