Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Pesanggrahan Siwa Keramat


__ADS_3

Panji Watugunung dan Warigalit memacu kuda mereka mengikuti Bekel Setyaka yang menjadi penunjuk jalan. Menjelang tengah hari, di tepi hutan kecil mereka berhenti.


Setelah menambatkan kuda mereka di pohon perdu, mereka segera melesat menyusuri jalan setapak di tepi hutan dan berhenti sebuah tebing batu.


Di lembah sungai Brantas di utara tebing nampak sebuah pemukiman dengan dermaga pelabuhan kecil. Sebuah perahu besar nampak bersandar dengan bendera merah bergambar pohon beringin. Lambang Alas Larangan.


Di ujung wanua ini, ada sebuah pesanggrahan Siwa dengan puluhan hiasan janur kuning.


Puluhan orang berbaju merah tampak berjaga jaga. Nampaknya mereka sudah bersiaga menghadapi serbuan pasukan Watugaluh.


"Jumlah yang terlihat sepertinya sekitar 25 orang Gusti Panji. Bagaimana tindakan kita selanjutnya?", ujar Bekel Setyaka sambil menunjuk seorang pandita yang sedang di pukuli di depan pesanggrahan.


"Itu kerabat Akuwu Watugaluh".


"Kurang ajar!


Mereka menyiksa pandita. Tak bisa di maafkan", ujar Warigalit yang segera melompat turun.


Panji Watugunung menghela nafas panjang melihat tindakan Warigalit. Dia tahu kakak seperguruannya sangat tidak sabaran, apalagi dia sangat menghormati seorang pandita.


Seketika, Panji Watugunung dan Bekel Setyaka menyusulnya ke arah Warigalit.


Warigalit melayang turun di dekat seorang lelaki berbaju merah yang tidak menyadari kehadiran nya. Dengan cepat Warigalit melesat dan memukul rahang si lelaki itu.


Bukk


Aughhhhh


Tubuh lelaki itu melayang dan jatuh di samping teman-teman nya.


Seketika mereka menoleh ke arah Warigalit. Panji Watugunung dan Bekel Setyaka mendarat turun di sebelah Warigalit.


"Keparat!


Berani sekali kau menyerang kawan ku.


Kawan kawan serang mereka!", teriak seorang lelaki bertubuh gempal. Sepuluh orang mencabut senjatanya masing-masing dan menerjang kearah Panji Watugunung, Warigalit dan Bekel Setyaka.


Dengan gerakan cepat, Panji Watugunung menghindari sabetan pedang dari seorang berbaju merah.


Whussss


Sambil menunduk, Panji Watugunung menghantam dada si lelaki berbaju merah dengan keras.


Deshhhhh


Lelaki itu meraung keras. Tulang dada nya remuk dan dia tewas seketika.


Bekel Setyaka menyabetkan pedang nya kearah orang berbaju merah di depan nya. Tangkisan pedang lelaki berbaju merah menyongsong pedang Bekel Setyaka.


Tranggg...


Percikan bunga api tercipta. Dan pertarungan mereka sangat sengit. Pada saat lawan nya lengah, Bekel Setyaka dengan cepat menyabetkan pedang nya kearah leher orang itu.


Crashhhh


Kepala orang itu putus dan menggelinding ke tanah. Dia tewas bersimbah darah.


Dalam sepuluh jurus, kesepuluh orang itu sudah tewas mengenaskan.


Panji Watugunung, Warigalit dan Bekel Setyaka melesat cepat ke arah Pesanggrahan Siwa. Seorang lelaki berpakaian pandita di ikat pada pohon randu di depan pesanggrahan. Sekujur tubuhnya penuh luka memar dan lebam.


Seorang lelaki bermuka bopeng tertawa terbahak-bahak sambil memukuli pandita itu. Belasan mayat nampak bertebaran dimana-mana. Bukan hanya mayat lelaki, tapi juga anak kecil yang tak berdosa. Namun tak satupun wanita terlihat disana.


"Binatang!


Kalian benar benar binatang liar", teriak Panji Watugunung geram melihat kekejaman mereka.


Setan Muka Bopeng seketika menoleh ke arah Panji Watugunung. Seringai kejam menghiasi wajahnya yang buruk rupa.


"Rupanya ada yang cari mati di sini. Siapa kau pemuda tengik? Apa kau sudah bosan hidup?", teriak Setan Muka Bopeng keras.


"Hari ini akan ku antar kalian semua ke neraka", Panji Watugunung segera melesat cepat kearah Setan Muka Bopeng. Warigalit dan Bekel Setyaka ikut menerjang kearah 15 orang berpakaian hitam.


Pertempuran kecil itu segera berlangsung sengit.


Dengan gerakan yang sukar di ikuti oleh mata biasa, Panji Watugunung menghantam dada Setan Muka Bopeng. Lelaki berwajah jelek itu terkejut melihat kecepatan Panji Watugunung.


Buru buru dia menjatuhkan diri ke tanah, sambil menyabetkan pedang pendek nya kearah pinggang Panji Watugunung.

__ADS_1


Whutttt


Panji Watugunung menghindar sambil tangan kanannya mencakar bahu Setan Muka Bopeng.


Arghhh


Teriakan kesakitan dari Setan Muka Bopeng terdengar. Darah segar merembes keluar dari bahu kirinya. Wajah jelek Setan Muka Bopeng menggeram menahan sakit dan marah.


"Bangsat!!


Ku cincang tubuh mu".


Pedang pendek di tangan Setan Muka Bopeng diliputi asap hitam tipis. Tampak nya dia akan menyerang Panji Watugunung dengan kekuatan penuh nya.


Panji Watugunung segera memusatkan tenaga dalam nya. Ajian Tameng Waja yang di padukan Guntur Saketi ajaran Mpu Narasima. Usai bersiap, Panji Watugunung melesat cepat kearah Setan Muka Bopeng. Pria berwajah bopeng itu menyabetkan pedang pendek nya mengincar dada Watugunung.


Blarrr!


Ledak keras terjadi saat tenaga dalam pedang pendek menghantam dada Panji Watugunung. Namun hanya pakaian Panji Watugunung yang sobek dan Panji Watugunung masih melesat cepat menuju ke arah Setan Muka Bopeng dengan tersenyum.


Setan Muka Bopeng hanya bisa pasrah saat pukulan Guntur Saketi menghajar dada kanan nya.


Dhuarrrr!!


Oughhh


Setan Muka Bopeng tewas dengan dada bolong besar tembus punggung.


Sementara itu,


Warigalit terus mengamuk bersama Bekel Setyaka. Setelah 20 puluh jurus, 13 orang orang berbaju merah itu sudah tewas meregang nyawa.


Seorang pria berbaju merah yang tersisa ketakutan. Kakinya sudah patah, dia tidak mungkin melawan 3 orang pendekar yang ada di hadapannya.


"Ampuni nyawaku Pendekar, aku mohon", hiba nya pada Bekel Setyaka yang mata nya merah menahan marah.


Warigalit segera melompat melepaskan tali pengikat pada tangan pandita tua itu dan membaringkan tubuhnya. Segera Warigalit memeriksa keadaan tubuh pandita itu dengan seksama.


Warigalit tersenyum tipis.


Rupanya masih hidup. Segera dia menotok beberapa urat nadi di dada pandita. Tak berapa lama kemudian, mata pandita itu terbuka.


"Terimakasih atas bantuannya pendekar", suara pandita itu dengan suara lemah.


"Tenangkan diri dulu pandita, atur nafas mu", ucap Warigalit yang lalu mendudukkan sang pandita. Panji Watugunung segera duduk bersila di belakang sang pandita dan menyalurkan tenaga dalam nya.


Rasa hangat menjalar ke seluruh tubuh sang pandita seketika. Panji Watugunung segera menghentikan tenaga dalam nya.


"Begawan Sulapaksi berterima kasih atas pertolongan Pendekar sekalian, pria tua ini


akan lupa budi", ujar sang pandita yang bernama Begawan Sulapaksi membungkuk hormat.


"Jangan begitu Begawan, sudah kewajiban kita untuk saling menolong", Panji Watugunung segera menahan tubuh sang begawan.


Pandita tua itu tersenyum. Sekilas dia langsung tahu siapa pemuda itu sebenarnya.


"Keturunan Lokapala yang mulia, menyelamatkan nyawa ku hari ini. Suatu keberuntungan untuk ku".


Panji Watugunung dan Warigalit terkejut mendengar ucapan Begawan Sulapaksi.


"Jangan terkejut Pendekar muda, aku adalah penerus penjaga Pesanggrahan Siwa yang di dirikan Eyang mu Lokapala. Semua penerus penjaga, akan mengetahui semua keturunan Lokapala hanya dengan sekali kedipan mata".


Saat mereka masih berbincang hangat, Bekel Setyaka mendekati mereka.


"Maaf menyela Begawan..


Gusti Panji, rupanya mereka dari Perguruan Alas Larangan. Sekitar sepekan dari sekarang, rombongan besar mereka akan sampai melewati jalur sungai Brantas. Bagaimana menurut Gusti Pangeran??", ujar Bekel Setyaka.


"Kita sergap saja mereka saat sampai disini Adi Watugunung", Warigalit memberi saran.


"Itu juga yang aku pikirkan Kakang, masalah nya kalau wanua ini menjadi sepi, bukankah mereka akan curiga?", Watugunung mengernyitkan keningnya.


"Bagaimana kalau aku dan Ratri serta istri istri mu tinggal di Wanua ini? Sekalian tempat kan prajurit Garuda Panjalu untuk menyamar sebagai warga wanua ini, bagaimana adik ku?", Warigalit tersenyum tipis.


"Usulan bagus Kakang, tapi sebelumnya kita urus dulu mayat mayat ini.


Paman Setyaka,


Tolong kau segera pulang ke Pakuwon. Seluruh anggota Pasukan Garuda Panjalu perintahkan kemari hari ini juga", ujar Panji Watugunung yang segera di terima oleh Bekel Setyaka. Usai menghormat, pimpinan pasukan Pakuwon Watugaluh itu segera melesat cepat meninggalkan Wanua Klakah.

__ADS_1


Bekel Setyaka menggebrak kuda nya dengan sekuat tenaga. Kudanya melesat cepat menuju istana Pakuwon Watugaluh.


Di istana, Bekel Setyaka segera menemui Ki Saketi, wakil pimpinan pasukan Garuda Panjalu dan menyampaikan pesan Panji Watugunung.


Dengan cepat, Pasukan Garuda Panjalu sudah bergerak meninggalkan Pakuwon Watugaluh menuju Wanua Klakah yang tak jauh dari kota Pakuwon Watugaluh. Sedangkan para istri Panji Watugunung sementara masih menjaga Dewi Anggarawati yang sedang tidak enak badan. Mereka takut, karna Dewi Anggarawati muntah muntah terus.


Hari hampir senja saat pasukan Garuda Panjalu yang dipimpin Ki Saketi masuk ke Wanua Klakah. Begitu turun dari kudanya, mereka bekerja cepat membakar mayat mayat anggota Alas Larangan. Sebagian menggali lubang untuk makam para penduduk Wanua Klakah yang tewas.


Malam itu mereka berkumpul di rumah bekas Lurah Wanua Klakah.


Begawan Sulapaksi sedang menceritakan kisah Pesanggrahan Siwa yang ada di wanua ini. Semua yang hadir mendengarkan dengan seksama.


"Maaf Begawan,


Jadi kesimpulannya Pesanggrahan Siwa itu adalah warisan dari Prabu Lokapala untuk anak turunnya?", tanya Gumbreg yang duduk di belakang Panji Watugunung sambil memasang wajah paham.


"Ya tentu saja bocah gendut. Semua anak keturunan nya akan mendapatkan sesuatu saat ada di dalamnya. Bisa berupa pusaka, wahyu atau benda bertuah", jelas Begawan Sulapaksi.


"Gusti Panji Watugunung sudah masuk ke dalam belum?", bisik Gumbreg pada Ludaka.


"Belum sepertinya Mbreg, ada apa memangnya?", jawab Ludaka.


"Berarti kebenaran cerita Begawan Sulapaksi masih di pertanyakan. Soalnya belum ada bukti", Gumbreg mencibir.


Plak..


Aduhhh..


"Kenapa kau menampar ku Lu?", Gumbreg memegangi pipinya yang memerah.


"Mewakili Gusti Panji Watugunung, kalau dia yang menampar mu bisa bisa gigi mu habis", jawab Ludaka sambil mundur dari rumah itu.


Gumbreg melirik ke arah Panji Watugunung, dan mata Panji Watugunung tampak mendelik tajam kearah nya.


Gumbreg langsung bergidik ngeri, dan buru buru keluar rumah.


"Lu, kau harus menampar pipi ku lagi".


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


*Ikuti terus kisah perjalanan Panji Watugunung dalam pengabdian untuk kerajaan Panjalu..


Jangan lupa untuk dukung author terus menulis dengan like vote dan komentar nya 👍


Btw, author juga punya karya lain. Mungkin bisa sebagai selingan saat menunggu chapter Panji Watugunung selanjutnya.


Judulnya* Mandor Proyek Dan Janda Muda.


Sudah ada 20 chapter lebih. Ditunggu mampir nya yah.


Selamat membaca 😁😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2