
Seluruh perwira Jenggala segera menghormat pada Maharaja Mapanji Garasakan. Mereka semua bersiap untuk melakukan perang besar melawan prajurit Panjalu.
Setelah Mapanji Garasakan menuju ke tempat peristirahatan nya, para perwira tinggi prajurit Jenggala bercakap-cakap tentang rencana mereka.
"Gusti Mapatih,
Apa Gusti punya rencana khusus yang harus kita jalankan? Laporan dari telik sandi mengatakan bahwa pasukan Panjalu berjumlah puluhan ribu", tanya Senopati Wirondaya sambil menatap ke arah Mapatih Bayunata.
Hemmmmmmm
Patih Kerajaan Jenggala itu menghela nafas panjang sebelum berbicara.
"Menimbang kekuatan yang kita miliki, kemampuan tempur para prajurit kita seimbang dengan mereka. Kita menang dalam mengenal medan tempur.
Tapi lawan kita dipimpin langsung oleh Pangeran Jayengrana. Dia sudah dikenal sebagai panglima perang yang ulung. Adipati Paguhan saja bertekuk lutut di hadapan nya. Matahun yang dipimpin oleh Adipati Danaraja yang kondang dengan kesaktiannya juga takluk di tangan Pangeran Jayengrana. Kita tidak bisa meremehkan kemampuan nya, Wirondaya.
Kita harus memikirkan siasat yang jitu untuk melawannya", ujar Mapatih Dyah Bayunata sambil mengerutkan keningnya seakan dia berfikir keras.
Semua orang ikut terdiam beberapa saat lamanya sampai Tumenggung Mandalika berdiri dari tempat duduknya.
"Bagaimana jika kita pecah pasukan untuk menyerang Pasukan Panjalu dari dua arah yang berlainan, Gusti Mapatih?", tanya Tumenggung Mandalika dengan cepat.
"Apa maksud mu Mandalika?
Bukankah itu berbahaya bagi kemampuan tempur yang awal menghadapi pasukan Panjalu?", Dyah Bayunata menatap ke arah Tumenggung Mandalika. Namun laki laki bertubuh tegap itu segera tersenyum tipis.
"Saya memahami pemikiran Gusti Mapatih Bayunata.
Maksud saya, kita bagi pasukan kita itu tidak kita bagi separuh sama besar tapi kita pilih para prajurit Jenggala yang memiliki kemampuan beladiri tinggi dalam satu kelompok kecil yang akan menjadi pasukan gerak cepat. Tugasnya sebagai pembokong pasukan Panjalu. Sedangkan pasukan yang menghadang akan berjumlah 15 ribu prajurit.
Hamba rasa itu akan membuat pertahanan pasukan Panjalu akan kacau jika kita menyerang mereka dari dua arah", ujar Tumenggung Mandalika dengan penuh keyakinan.
Para punggawa Prajurit Jenggala saling berpandangan sejenak kemudian mengangguk mengerti.
"Seperti nya itu usul yang bagus Gusti Mapatih.
Kejutan akan membuat lawan kita terpecah pemikiran nya. Jadi kita mudah mengalahkan mereka", ucap Senopati Wirondaya yang terlihat mendukung usulan Tumenggung Mandalika.
"Saya rasa itu usulan yang patut kita pertimbangkan, Gusti Mapatih.
Menghadapi pasukan Panjalu yang dipimpin langsung oleh panglima perang yang tangguh kita tidak boleh membuang kesempatan sekecil apapun agar kita menang dalam pertempuran ini", sahut Rakryan Samarotsaha dengan senyum simpul nya.
"Baiklah,
Karena kalian semua sudah setuju dengan usulan Tumenggung Mandalika, kita akan membagi pasukan menjadi 2 bagian.
Senopati Wirondaya, Aku, Gusti Prabu Mapanji Garasakan, Tumenggung Wahana, Demung Wastra dan Senopati Mpu Sadewa akan memimpin pasukan pejalan kaki yang akan menghadang laju pergerakan prajurit Panjalu.
Sedangkan Tumenggung Mandalika, Gusti Pangeran Samarotsaha dan Demung Rengku akan memimpin pasukan gerak cepat yang akan menjadi penyergap dari arah belakang.
Kepada Tumenggung Mandalika, silahkan pilih para prajurit Jenggala yang layak menjadi pasukan gerak cepat mu.
Apa yang lain sudah memahami tugas masing-masing?", titah Mapatih Bayunata yang membuat para punggawa Istana Kahuripan itu segera mengangguk penuh hormat.
"Kami mengerti Gusti Mapatih", ucap para punggawa Kahuripan bersamaan.
Setelah mendapat perintah dari Mapatih Jenggala, para perwira tinggi prajurit Jenggala itu segera membubarkan diri. Mereka bergerak sesuai dengan tugas yang di berikan oleh Dyah Bayunata.
Tumenggung Mandalika mulai menata para prajurit pilihan nya.
Dengan cepat ia menentukan pilihan pada para prajurit Jenggala yang berjajar rapi di hadapannya. Setelah terkumpul sekitar 5 ribu prajurit, Tumenggung Mandalika segera memisahkan mereka dari para prajurit Jenggala yang tersisa.
Mereka telah mempersiapkan diri sebaik baiknya.
Di sisi barat hutan Marsma, di tenda besar yang menjadi pusat pergerakan prajurit Panjalu. Panji Watugunung sedang mendengarkan laporan dari telik sandi Lowo Bengi.
"Ada kemungkinan mereka memecah pasukan Gusti Pangeran. Itu yang di laporkan pada hamba", ujar seorang anggota pasukan Lowo Bengi sambil menghormat pada Panji Watugunung.
"Hemmmmmmm begitu rupanya..
Kalau begitu kita tidak boleh meremehkan pasukan pecahan itu.
Jarasanda,
Apa kau dengar aku?", Panji Watugunung segera menoleh ke arah Jarasanda.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran,
Apa perintah untuk hamba?", ujar Jarasanda yang duduk di belakang Warigalit dan Senopati Narapraja.
"Berapa jumlah pasukan Garuda Panjalu yang ada?", tanya Panji Watugunung segera.
"Sampai saat ini, ada sekitar 3 ribu prajurit Gusti Pangeran. Jika di tambah para perwira maka jumlahnya sekitar 3200 prajurit", jawab Jarasanda dengan cepat.
"Kalau begitu tambahkan para prajurit dari Kurawan untuk membantu kalian. Mereka mampu bergerak cepat. Tugas kalian berjaga di barisan belakang untuk menghadapi kemungkinan serangan dari belakang.
Senopati Ringkasamba,
__ADS_1
Kau bantu Jarasanda dengan sisa prajurit Kurawan", titah Panji Watugunung yang segera membuat Senopati Ringkasamba menghormat pada Panji Watugunung.
"Hamba siap melaksanakan perintah Gusti Pangeran Jayengrana", ucap Senopati Ringkasamba dengan penuh hormat.
"Senopati Taradipa dari Paguhan, Senopati Sancaka dari Gelang-gelang, Senopati Gati dari Seloageng, Tumenggung Wiramaya dari Kembang Jenar akan mendampingi Senopati Narapraja.
Sedangkan sisa perwira yang lain seperti Demung Warok Nggotho dari Wengker, Senopati Koncar dari Anjuk Ladang, Kakang Warigalit, Tumenggung Ludaka, Tumenggung Landung, Demung Gumbreg dan Senopati Janadi dari Kalingga akan membentuk pasukan inti dari pasukan Panjalu yang akan bergerak membentuk wyuha Chakra Baswara. Aku sebagai pusat wyuha, Senopati Narapraja sebagai roda Baswara dan Pasukan Garuda Panjalu sebagai ekor Cakra.
Apa kalian mengerti?", tanya Panji Watugunung sambil menatap ke sekeliling nya.
"Kami mengerti Gusti Pangeran", ucap seluruh perwira tinggi prajurit Panjalu yang ada di tempat itu bersamaan.
Usai membahas mengenai rencana mereka esok hari, para perwira prajurit Panjalu segera berjongkok dan menyembah pada Panji Watugunung. Mereka membubarkan diri untuk menghadapi perang besar yang akan mereka hadapi esok hari.
Usai memimpin persiapan para pasukan Panjalu, Panji Watugunung segera kembali ke tenda besar tempat peristirahatan nya.
Di dalam tenda, keempat orang istri nya sudah duduk menunggu kepulangan suami mereka.
"Bagaimana persiapan nya Kakang?
Apa sudah tertata rapi?", tanya Ratna Pitaloka begitu Panji Watugunung memasuki tenda.
"Duh Kangmbok Pitaloka ini,
Biarkan Kakang Watugunung beristirahat dulu Kangmbok, jangan buru-buru ditanya seperti itu", sergah Sekar Mayang dengan bahasa khasnya.
"Betul atuh Teh Pitaloka,
Akang Kasep mah pasti capek na. Sok atuh minum caik na Akang, nu biar capek na hilang", imbuh Dewi Naganingrum sambil mengulurkan kendi air minum yang ada di dekat nya.
"Terimakasih atas perhatian kalian,
Aku sangat menghargai nya", ucap Panji Watugunung seraya menerima kendi air minum dari Dewi Naganingrum.
Gluk gluk glukkk..
Terdengar suara lega saat Panji Watugunung usai meneguk air dari kendi itu.
"Nah begitu,
Usai Kakang Watugunung merasa lega, silahkan Kangmbok Pitaloka bertanya", ucap Sekar Mayang sambil tersenyum tipis.
"Pembahasan tentang rencana besok sudah tertata, kalian tidak usah khawatir. Yang penting malam ini kita harus cukup beristirahat karena besok kita akan melakukan pertempuran melawan Jenggala", ujar Panji Watugunung sambil mendudukkan dirinya di antara Dewi Srimpi dan Dewi Naganingrum.
Malam itu mereka beristirahat dengan tenang. Saat pagi menjelang tiba dengan kokok ayam jantan bersahutan, para prajurit Panjalu mulai bergerak. Para prajurit perbekalan yang di pimpin oleh Demung Gumbreg bergerak cepat membongkar tenda yang mereka pakai untuk bermalam.
Saat matahari sepenggal naik di ufuk timur, persiapan pasukan Panjalu telah selesai.
Warigalit segera mendekat Panji Watugunung dan keempat istri nya yang sudah selesai berdandan layaknya seorang bangsawan dengan baju perang nya.
"Mohon maaf Dhimas Pangeran,
Semua persiapan telah selesai. Kita bisa berangkat sekarang", lapor Sang Senopati Kadiri dengan penuh hormat.
Panji Watugunung segera menoleh ke arah empat orang istri nya kemudian melompat ke atas kuda mereka masing-masing. Lalu mereka berempat segera mengikuti langkah sang suami.
Panji Watugunung menepuk punggung kudanya agar berjalan pelan ke barisan pasukan Panjalu yang sudah bersiap. Usai memeriksa pasukan Panjalu, Panji Watugunung segera kembali ke tempat nya di tengah pasukan.
Setelah Panji Watugunung mengangkat tangan kanannya, prajurit peniup terompet tanduk kerbau segera membunyikan terompet nya.
Thuuuuuuuuutttttthhhh...
Lengkingan suara terompet tanduk kerbau segera membuat para prajurit Panjalu bergerak. Dengan Senopati Narapraja di depan, mereka bergerak menuju ke arah hutan Marsma. Umbul umbul dan bendera berwarna warni yang menggambarkan asal para prajurit Panjalu turut membuat semangat para prajurit.
Mereka terus bergerak menuju ke arah timur.
1000 depa dari tempat mereka bermalam, umbul umbul Jenggala menghentikan langkah mereka. Tepat di tepi hutan Marsma, para prajurit Jenggala yang di pimpin oleh Prabu Mapanji Garasakan menghadang.
Panji Watugunung segera mengangkat tangan kanannya yang membuat si prajurit peniup terompet tanduk kerbau segera membunyikan terompet nya.
Para prajurit penabuh bende langsung memukul bende perang bertalu-talu. Para prajurit Panjalu segera membentuk wyuhayuha Chakra Baswara. Bundaran besar dengan para prajurit Panjalu yang bersiaga terbentuk di barat padang rumput itu.
Senopati Warigalit segera menyambar sebuah bendera putih yang di bawa salah satu prajurit Panjalu, lalu pria berbadan tegap itu mendekati Panji Watugunung.
"Apa kita perlu kesana Dhimas Pangeran?", tanya Warigalit dengan cepat.
"Tunggu mereka memberikan isyarat ingin bicara dulu Kakang,
Kita harus berhati-hati", jawab Panji Watugunung sambil tersenyum tipis.
Thuuuuuuuuutttttthhhh...
Terdengar suara bunyi nyaring terompet tanduk kerbau dari arah pasukan Jenggala dan sebuah bendera putih berkibar rendah.
Lalu Mapanji Garasakan, Maharaja Jenggala yang memimpin langsung pasukannya menyuruh kusir kereta perang nya maju ke tengah medan pertempuran. Dyah Bayunata segera menggebrak kudanya mengiringi perjalanan Prabu Garasakan.
Perlahan dua pucuk pimpinan prajurit Jenggala itu bergerak ke tengah.
__ADS_1
Melihat itu, Panji Watugunung segera menepak punggung kudanya diikuti oleh Warigalit yang membawa bendera putih. Para prajurit Panjalu segera membuka jalan bagi sang panglima perangnya.
Tepat di tengah Padang rumput Hutan Marsma, Mapanji Garasakan mengangkat tangan kanannya yang membuat kusir kereta perang nya menarik tali kekang kudanya. Begitu juga dengan Dyah Bayunata.
Panji Watugunung dan Senopati Warigalit perlahan mendekati mereka berdua.
"Ini rupanya jagoan dari Panjalu. Masih begitu muda dan berbakat.
Apa benar kau putra dari Paman Gunungsari, bocah bagus?", tanya Mapanji Garasakan sambil menatap ke arah Panji Watugunung.
"Benar Gusti Prabu,
Aku putra Romo Bupati Gelang-gelang, Panji Gunungsari. Terimakasih jika Gusti Prabu masih mengenali ku", ucap Panji Watugunung dengan sopan.
"Hemmmmmmm...
Jika di hitung tali persaudaraan, kau masih adik sepupu ku. Aku minta kau tidak menghalangi niat ku untuk mempersatukan kembali Medang di bawah pimpinan ku, Watugunung.
Bangsa kita seharusnya tidak boleh terpecah menjadi dua bagian seperti ini", ujar Mapanji Garasakan dengan cepat.
"Maaf Gusti Prabu,
Keputusan Gusti Prabu Airlangga untuk memecah kerajaan Kahuripan menjadi dua itu demi Gusti Prabu Samarawijaya dan Gusti Prabu Garasakan bisa hidup rukun berdampingan dalam membangun tanah Jawa.
Agar semua nya bisa berkuasanya di atas wilayah masing masing dan tidak ada peperangan antara Gusti Prabu Samarawijaya dan Gusti Prabu Garasakan. Itu yang seharusnya Gusti Prabu Garasakan pahami dari maksud Gusti Prabu Airlangga membelah Kahuripan menjadi dua bagian sama besar", ucap Panji Watugunung dengan berhati-hati.
"Samarawijaya itu lemah, Watugunung.
Dia tidak pantas menjadi Raja. Seorang raja harus seorang yang kuat dan sakti mandraguna. Aku adalah putra Romo Prabu Airlangga yang pantas memimpin Kahuripan, maka niat ku untuk mempersatukan kembali Kahuripan akan ku lakukan meski itu harus berperang melawan saudara ku sendiri", ujar Mapanji Garasakan dengan penuh percaya diri.
"Kalau begitu kita tidak sejalan pemikiran Gusti Prabu..
Panjalu tetap menghendaki agar apa yang sudah di putuskan oleh Gusti Prabu Airlangga tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Mohon maaf jika saya terpaksa harus melakukan dharma ksatria saya sebagai prajurit Panjalu", Panji Watugunung menatap ke arah Prabu Mapanji Garasakan dengan tajam.
"Baik,
Aku pun tak akan segan segan untuk melenyapkan semua penghalang yang mengganggu cita cita ku, Watugunung.
Bersiaplah,
Dan kita buktikan sendiri siapa yang lebih pantas disebut pemimpin Tanah Jawa", usai berkata demikian, Prabu Garasakan segera memberi isyarat pada kusir kereta perang nya agar berbalik arah menuju ke dalam pasukan Jenggala. Dyah Bayunata sejenak menatap tajam ke arah Panji Watugunung sebelum menarik tali kekang kudanya mengikuti langkah Prabu Mapanji Garasakan.
Panji Watugunung pun segera menarik tali kekang kudanya dan menggebrak hewan tunggangan itu menuju ke arah prajurit Panjalu diikuti oleh Senopati Warigalit.
Begitu sampai di tengah pasukan, Panji Watugunung segera menoleh ke arah penabuh bende dan memberikan isyarat dua tabuhan pada mereka.
Dhiiiieeeeerrrrrrrr...
Dhiiiieeeeerrrrrrrr!!!
Mendengar itu, para prajurit Panjalu yang berada pada lingkaran paling luar segera menata tameng mereka dengan rapat. Dengan bersiap siap, tombak mereka terarah dari balik celah celah tatanan tameng mereka.
Setelah itu, para prajurit pemanah yang di pimpin oleh Demung Rajegwesi segera bersiap di belakang mereka. Suasana semakin tegang.
Di sisi lain, Mapanji Garasakan segera mengangkat tangan kanannya. Seorang prajurit mengibarkan bendera kuning yang membuat Senopati Wirondaya segera mencabut pedangnya dan memimpin pasukan Jenggala yang ada di sisi kanan bergerak menuju ke arah pasukan Panjalu.
"Seerrrrrraaaaaaaaannggggggg!!!!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya 😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya
__ADS_1
Selamat membaca 🙏🙏