Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Teman Lama Ayah


__ADS_3

Panji Watugunung dan Warigalit segera melompat ke atas dahan pohon besar di hutan itu, diikuti Dewi Srimpi dan Ratna Pitaloka.


Mereka berempat bergerak cepat menuju kediaman Nyi Kembang Jenar yang ada di pinggir kota Tanah Perdikan Lodaya.


Mereka sampai tepat tengah hari itu. Nyi Kembang Jenar segera menerimanya darah harimau dalam kendil tanah liat kemudian mencampurnya dengan tumbukan kembang dewandaru. Usai mencampurnya, Nyi Kembang Jenar segera membalurkan obat ke luka luka kakek tua itu.


Secara ajaib, luka bekas cakaran harimau itu tiba-tiba menutup dan tidak meninggalkan bekas sama sekali. Namun karena kehilangan darah terlalu banyak, kakek tua itu masih tergeletak dengan wajah pucat.


Panji Watugunung dan kawan kawan nya terkejut bukan main. Ternyata darah harimau adalah kunci Ajian Macan Siluman.


Nyi Kembang Jenar tersenyum lega.


"Kalian hebat. Bisa dengan cepat mendapatkan darah harimau ini".


"Kami hanya beruntung saja Nyi", Panji Watugunung merendah.


"Jangan bohong. Melawan harimau jelas membutuhkan kemampuan beladiri tangguh.


Siapa sebenarnya kalian??", Nyi Kembang Jenar menyelidik.


"Kemarin kita sudah berkenalan kan Nyi. Aku Watugunung, pengelana dari jauh yang kebetulan lewat di daerah ini", jawab Panji Watugunung sambil tersenyum tipis.


"Masih mencoba berbohong pada ku?


Kau pikir aku bodoh anak muda. Melihat kuda kalian yang mahal, dan pedang bersarung merah itu, kalian jelas bukan pengelana biasa.


Jujur saja, aku tidak akan membuka mulut ku sembarangan", Nyi Kembang Jenar menatap ke arah Panji Watugunung.


Mendengar ucapan tulus dari Nyi Kembang Jenar, Panji Watugunung sejenak menghela nafasnya dalam-dalam. Setelah melihat Warigalit yang mengangguk tanda setuju, Panji Watugunung merogoh bajunya dan mengeluarkan lencana Chandrakapala.


Mata Nyi Kembang Jenar melotot sesaat sebelum memandang kearah Panji Watugunung lagi.


"Apa hubungan mu dengan istana Daha anak muda?".


"Kami adalah utusan khusus Prabu Samarawijaya Nyi. Kami baru saja dari Karang Anom, ingin melanjutkan perjalanan ke Seloageng", jawab Watugunung jujur.


Hemmmm


"Benar dugaan ku. Melihat wajah mu kemarin, mengingatkan pada seseorang.


Apa kau punya hubungan dengan Panji Gunungsari?", tanya Nyi Kembang Jenar menatap wajah Panji Watugunung.


"Tentu saja ada, dia adalah putra Panji Gunungsari, Bupati Gelang-gelang", Sekar Mayang yang sedari tadi hanya diam tiba tiba memotong pembicaraan mereka.


Panji Watugunung segera menoleh ke arah Sekar Mayang dan mendelik tajam kearah nya.


Sadar dirinya keceplosan bicara, Sekar Mayang langsung terdiam dan menunduk.


Nyi Kembang Jenar terkejut mendengar ucapan Sekar Mayang. Seketika dia menatap wajah Panji Watugunung. Benar, dia mirip Panji Gunungsari hanya lebih tinggi dan kulit nya sedikit lebih putih dari Panji Gunungsari.


Mata Nyi Kembang Jenar segera berkaca-kaca. Takdir memang tidak bisa di tolak. Puluhan tahun meninggalkan Kahuripan, agar bisa melupakan laki laki itu, ternyata justru sekarang bertemu putra mantan pria pujaan hatinya itu.


"Nyi Kembang Jenar kenal ayahku?", Panji Watugunung penasaran.


Nyi Kembang Jenar menatap langit siang yang terik. Kenangan masa lalu melintas di kepala nya.


"Aku, ayahmu dan Sekar Pembayun adalah murid dari Begawan Dharmajati dari Gunung Wilis. Kami tumbuh seiring berjalannya waktu. Sebagai putra bangsawan Medang, kami di latih agar mampu melindungi diri dari bahaya.


Saat kami beranjak dewasa, aku jatuh hati pada ayahmu. Ternyata di saat yang sama, ibumu Sekar Pembayun juga menyukai Kakang Gunungsari. Lalu saat Mahapralaya Medang, kami bertiga bisa lolos hingga ke Dahanapura, tempat asal ibumu.


Disana, ayahmu di nikahkan dengan ibu mu. Aku yang patah hati, memilih meninggalkan Kahuripan dan menyepi di tempat ini.


Begitulah ceritanya anak muda. Sekarang bagaimana keadaan ibumu? Dulu dia sering sekali sakit", Nyi Kembang Jenar menyeka air matanya. Dia seperti melihat masa lalu saat berhadapan dengan Panji Watugunung.

__ADS_1


"Ibuku sudah tiada Nyi, dia meninggal dunia saat baru melahirkan ku. Bibi ku Dewi Pancawati yang merawat ku. Setelah aku berusia 4 tahun, demi membalas kebaikan bibi ayah ku menikahi nya", ujar Panji Watugunung dengan tersenyum tipis.


Kembali Nyi Kembang Jenar terkejut mendengar penuturan Panji Watugunung. Tak disangka sekian tahun berpisah, banyak hal yang telah terjadi.


Selepas itu mereka berbincang hangat sampai sore.


"Bermalamlah kalian disini. Anggap saja sebagai jamuan dari teman lama ayahmu, anak muda. Besok pagi kalian bisa berangkat dengan lega setelah beristirahat di sini", ujar Nyi Kembang Jenar.


Panji Watugunung dan rombongannya yang tidak enak hati, memilih untuk menuruti permintaan Nyi Kembang Jenar.


Pagi menjelang tiba.


Panji Watugunung dan rombongannya segera melompat ke atas kuda mereka usai berpamitan pada Nyi Kembang Jenar. Kemudian mereka menggebrak kuda mereka menuju ke utara.


Nyi Kembang Jenar menatap rombongan Panji Watugunung yang perlahan mulai menghilang dari pandangannya. Ada beribu pikiran berkecamuk di dalam kepala perempuan paruh baya itu.


Mereka tidak mampir ke istana Tanah Perdikan Lodaya, karena tidak ada perintah kesana. Saat matahari sepenggal naik, mereka sudah di tepi sungai Brantas.


Seorang lelaki tambun dengan perut buncit, nampak menunggu kedatangan para penumpang yang hendak menyeberang ke wilayah Seloageng.


Melihat rombongan Panji Watugunung, si pria tambun itu segera mendekati.


"Kisanak hendak menyeberang??", tanya si pria tambun itu sambil tersenyum ramah.


"Iya kisanak, kami memang hendak ke Seloageng. Berapa biayanya?", Panji Watugunung melompat turun dari kudanya di ikuti oleh Warigalit, Ratri, dan ketiga selir nya.


"Masing masing orang 4 kepeng perunggu kisanak. Kalau kuda 1 kepeng perunggu", jawab si pria tambun itu segera.


Panji Watugunung segera menyerahkan 3 kepeng perak kepada si pria tambun, karena 3 kepeng perak sama dengan 30 kepeng perunggu.


Si pria tambun segera mempersilakan Panji Watugunung dan rombongannya naik ke atas perahu.


Perahu kemudian bergerak menyeberang sungai Brantas yang mulai surut air nya karena musim kemarau.


Begitu sampai ke seberang sungai, perahu segera merapat ke dermaga. Rombongan Panji Watugunung segera bergegas turun dari perahu.


Selepas makan, mereka segera memacu kuda mereka menuju ke arah kota Kadipaten Seloageng.


Matahari mulai tergelincir ke barat saat mereka memasuki wilayah kota kadipaten Seloageng. Rombongan Panji Watugunung segera bergegas menuju ke istana Kadipaten Seloageng.


Penjaga gerbang istana segera memberi jalan kepada mereka.


Di depan bangsal paseban Kadipaten Seloageng, mereka melompat turun dari kudanya. Seorang penjaga bangsal paseban Kadipaten, segera bergegas mendekati mereka.


"Katakan pada Romo Adipati, Panji Watugunung ingin menghadap", ujar Panji Watugunung segera.


Sang penjaga segera menghormat dan mundur ke bangsal paseban. Tak berapa lama kemudian dia sudah kembali ke tempat Panji Watugunung dan rombongannya menunggu.


"Gusti Adipati sudah menunggu kedatangan Gusti Pangeran di dalam. Silahkan Gusti", Penjaga itu segera menghormat pada Panji Watugunung.


Di dalam paseban Kadipaten Seloageng, Adipati Tejo Sumirat sedang duduk di dampar kencana. Di hadapannya semua pembesar istana kadipaten sedang duduk bersila. Ada juga Jarasanda, Ludaka dan Gumbreg yang turut menghadap.


Adipati Tejo Sumirat tersenyum saat Panji Watugunung memasuki balai paseban.


"Selamat datang di Seloageng, Anak Mantu ku", ujar Adipati Seloageng.


"Sembah bakti ku untuk Gusti Adipati Seloageng", Panji Watugunung segera menyembah pada Adipati Tejo Sumirat di ikuti oleh semua pengiringnya.


"Ada apa Cah Bagus? Apa kau menyusul bawahan mu itu?", Adipati Tejo Sumirat menunjuk kepada Jarasanda, Ludaka dan Gumbreg.


"Bukan Gusti Adipati, sudah 1 purnama lebih ini saya menjalankan tugas dari Gusti Prabu Samarawijaya. Berkeliling wilayah selatan Panjalu, menjadi utusan khusus menyampaikan surat kepada penguasa daerah.


Kedatangan saya untuk menyampaikan surat kepada Gusti Adipati", Panji Watugunung lalu menyerahkan sepucuk surat dari Prabu Samarawijaya.

__ADS_1


Adipati Seloageng itu segera berdiri dan melangkah mendekati Panji Watugunung. Kemudian mengambil surat dari Panji Watugunung.


Tejo Sumirat tertawa setelah membaca surat itu.


"Aku sudah punya jawaban nya. Kau beristirahat dulu di keputran. Nanti malam aku kesana.


Pasukan Garuda Panjalu, ikuti pimpinan kalian ke keputran. Besok pagi apa yang aku janjikan kepada kalian, sudah ada".


Panji Watugunung dan rombongannya segera menyembah dan mundur dari bangsal paseban menuju ke Keputran Seloageng di ikuti Jarasanda, Ludaka dan Gumbreg.


"Gusti Panji, kemarin baru darimana saja? Kog baru kelihatan", tanya Gumbreg mendekati Panji Watugunung.


"Dari tugas berbahaya Mbreg, keliling wilayah selatan Panjalu", jawab Watugunung seraya berjalan.


"Lha kenapa saya tidak diajak Gusti? Saya kan jago beladiri. Kalau saya ikut, kan bisa jadi pengawal Gusti Panji", Gumbreg mulai kumat sombongnya.


"Tugasnya berat Mbreg, kalau kau ikut, aku khawatir kau tidak sanggup, soalnya sering menghadapi bahaya. Terakhir kami berhadapan dengan harimau", jawab Watugunung terus melangkah.


"Lah kalau cuma harimau itu kecil Gusti", ujar Gumbreg sok berani.


"Omongmu saja yang besar Mbreg, sok sok an mau lawan harimau. Kemarin di kejar anjing saja kau sudah ngompol gitu kog", celetuk Ludaka yang di belakang Panji Watugunung.


Semua orang tertawa kecil mendengar ucapan Ludaka. Gumbreg langsung merengut kesal mendelik sewot ke arah Ludaka.


"Dasar ember bocor"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Wkwkwkwk alamak Gumbreg


Ikuti terus kisah selanjutnya guys 😁😁

__ADS_1


Jangan lupa dukung author terus semangat menulis dengan like vote dan komentar nya 👍👍👍


Selamat membaca 😁😁


__ADS_2