Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Dendam Sang Istri Muda


__ADS_3

Nyi Polok tertawa kecil saat melihat empat mahkluk mengerikan itu menghilang dari pandangannya.


Mereka adalah empat Kala yang menjaga alam kasat mata yaitu Kala Timur (Buto Jenar) yang berbentuk raksasa dengan 3 tanduk kecil dengan warna kuning, Kala Selatan (Buto Agni) yang berwujud raksasa kecil berwarna merah menyala dengan 4 tanduk, Kala Barat ( Buto Wungu) yang berwujud raksasa berwarna ungu dengan satu tanduk besar pada dahinya dan Kala Utara ( Buto Ijo) yang berwujud raksasa dengan 2 tanduk besar dan berwarna hijau.


Mereka tunduk pada Nyi Polok karena Nyi Polok memiliki Mustika Ratu Siluman yang berwujud batu merah delima.


Huuuhhhh..


Nyi Pundi menarik nafas lega setelah melihat empat mahkluk mengerikan itu menghilang. Kilatan dendam kepada warga Padelegan terlihat jelas di matanya.


Istri kedua Lurah Mpu Guritno itu memang punya dendam pribadi dengan warga Wanua Padelegan. Ayahnya yang pencuri, terbunuh dalam penangkapan yang dilakukan oleh warga wanua itu. Dia dan ibunya diusir dari pemukiman penduduk karena dianggap membawa pengaruh buruk. Mereka terlunta-lunta dan terpaksa harus pergi jauh hingga ke Watugaluh. Sang ibu akhirnya meninggal dunia dalam perjalanan, dan Nyi Pundi diangkat anak oleh Ki Rumboko, seorang pimpinan penghibur keliling asal Kunjang yang kebetulan menemukan Nyi Pundi sedang menangis di depan jasad ibunya saat menerima tanggapan dari Lurah Wanua Demuk di Watugaluh.


Nama nya yang semula Warinten kemudian diganti menjadi Nyi Pundi untuk menyembunyikan jati dirinya. Gadis kecil itu kemudian tumbuh dewasa dan menjelma menjadi wanita cantik yang pintar menari. Dia kemudian tersohor sebagai kembang tledek keliling dari wilayah Kunjang.


Saat tampil di Wanua Padelegan, Mpu Guritno yang seorang duda tua dengan anak Sekar Mayang, terpesona dengan kecantikan perempuan itu. Atas hasutan Nyi Pundi, Sekar Mayang di jauhkan dari Wanua Padelegan agar dia bisa mengatur sepenuhnya Mpu Guritno yang kemudian menikahi nya.


Selama lebih dari sewindu, Nyi Pundi terus mencari dukun sakti yang bisa membalaskan dendam kematian orang tuanya, sampai satu purnama yang lalu dia bertemu dengan Nyi Polok.


Perempuan misterius yang selalu mengenakan tudung merah darah itu mampu memberikan dukungan kepada Nyi Pundi dengan mengirimkan wabah penyakit aneh yang membuat tubuh warga Padelegan menghitam dan mati keesokan harinya. Sudah puluhan warga wanua Padelegan menjadi korban wabah aneh itu. Dalam satu purnama, 60 warga Padelegan meninggal dunia akibat wabah aneh yang merebak.


"Nyi Polok,


Aku permisi dulu. Besok pagi aku akan kembali kesini lagi untuk membawa persembahan yang kau inginkan", ujar Nyi Pundi sambil berdiri dan berjalan menuju pintu gubuk kayu yang ada ditengah hutan angker itu.


"Ingat Nyi Pundi,


Darah perawan yang aku minta harus kau dapatkan. Kalau tidak, aku tidak menjamin keselamatan mu dari Pangeran Jayengrana yang sebentar lagi tiba di Padelegan", ancam Nyi Polok sambil tersenyum menakutkan.


"Kau tenang saja Nyi Polok,


Aku sudah punya calon korban yang kau minta. Besok pagi aku akan membawanya kemari", ucap Nyi Pundi sambil melangkah keluar dari gubuk kayu.


Di luar gubuk, seorang lelaki muda berbadan tegap sudah menunggu Nyi Pundi.


"Sudah selesai Nyi?", tanya si lelaki muda berbadan tegap itu segera.


"Sudah, Kakang Surenggono tenang saja. Asal Kakang mau menuruti perintah ku, nanti kakang bisa menikahi ku setelah tua bangka Guritno itu mampus. Dan kita bisa menguasai Wanua Padelegan berdua.


Kakang Surenggono masih mencintai ku bukan?", Nyi Pundi menatap wajah Surenggono sambil tersenyum manja.


"Tentu saja masih Nyi.


Kalau tidak buat apa aku repot-repot mengikuti semua perintah mu?", ujar Surenggono sambil meraih pinggang ramping Nyi Pundi.


Dengan genit, Nyi Pundi mencium pipi Surenggono. Dua orang dimabuk asmara itu segera melangkah meninggalkan gubuk kayu Nyi Polok di tengah hutan angker.


Setelah pasangan selingkuh itu memadu kasih di balik bebatuan besar di tepi alas angker, Nyi Pundi celingukan melihat sekeliling. Setelah dirasa aman, perempuan cantik itu segera berjalan kaki menuju ke arah rumah Mpu Guritno. Sementara Surenggono dari kejauhan mengikuti langkah sang istri Lurah Wanua Padelegan itu.


Sementara itu rombongan Panji Watugunung yang meninggalkan istana Pakuwon Kunjang, sudah mendekati tapal batas wilayah wanua Padelegan.


Saat mereka hendak melewati tapal batas wanua, tiba-tiba angin kencang berhembus dari arah timur.


Whussss..


Kuda kuda mereka langsung meringkik keras dan menghentikan langkah.


"Ada apa ini Guru Resi?", tanya Panji Watugunung sambil berusaha keras mengendalikan kuda nya yang tidak mau memasuki wilayah Wanua Padelegan.


"Jagat Dewa Batara,


Rupanya ada yang tidak mau kita masuk ke wanua ini, Nakmas Pangeran.


Adi Sukrasana,


Lakukan tugas mu", ujar Mpu Soma sambil menoleh kearah Mpu Sukrasana yang sudah memutar tasbih biji genitri dengan cepat.


Tangan Mpu Sukrasana segera menangkup di depan dada diantara tasbih biji genitri nya. Mulut kakek tua berjenggot itu komat-kamit membaca mantra.


Tiba tiba...


"Hahahaha..


Hahahaha...", terdengar suara tawa keras yang membuat gendang telinga sakit mendengarnya.


Mpu Sukrasana segera melempar tasbih biji genitri nya kearah sumber suara itu dan..


Blammmm!!


Terdengar ledakan keras yang menciptakan asap pekat kehitaman. Dari asap itu muncul dua sosok mahluk mengerikan berwarna ungu dengan satu tanduk besar dan berwarna hijau bertanduk dua.


Hemmmm


"Buto Wungu, Buto Ijo..


Tempat mu bukan disini. Mengapa kau menghalangi jalan kami?", teriak Resi Mpu Soma sambil memutar tasbih kayu stigi nya dengan cepat.

__ADS_1


"Huahahaha..


Aku hanya menuruti perintah pemilik Mustika Ratu Siluman. Kalian tidak boleh memasuki wilayah ini", suara Buto Ijo sambil menyeringai lebar.


"Mahkluk kurang ajar!


Tidak sepantasnya kau mengganggu alam manusia. Pergilah, atau akan ku buat kau menderita", ujar Mpu Sukrasana sambil menggosok telapak tangannya yang mengeluarkan asap putih.


"Langkahi dulu mayat kami kalau kalian ingin masuk ke wilayah ini", seringai Buto Wungu sambil memutar gada di tangan kanan nya.


Mendengar jawaban itu, Mpu Sukrasana mendengus keras dan segera melesat cepat menuju Buto Wungu. Sedangkan Mpu Soma segera menerjang kearah Buto Ijo.


Pertarungan sengit melawan mahkluk gaib itu segera terjadi.


Panji Watugunung segera merapal sebuah mantra yang di ajarkan Mpu Soma. Rajah Kala Cakra Buana segera muncul di bahu kiri Panji Watugunung, menciptakan pelindung gaib berwarna kuning keemasan di sekeliling tubuhnya.


Mpu Sukrasana segera melompat sambil menghantamkan tapaknya yang sudah dilumuri kemenyan madu yang sudah di mantrai kearah dada Buto Wungu setelah menghindari gebukan gada lawannya.


Blarrrrr!!


"Hooooaaarrrggghhh", terdengar jerit kesakitan dari Buto Wungu saat tapak Mpu Sukrasana menghantam dada nya. Mahkluk mengerikan terhuyung huyung, lalu setelah itu mencoba untuk menyerang lagi dengan gebukan gada nya.


Namun Mpu Sukrasana adalah ahli dalam mengatasi makhluk halus seperti mereka. Dengan cepat kakek tua yang memiliki luka di pipi nya itu segera melenting tinggi ke udara, menghindari gebukan gada kemudian menerjang ke arah Buto Wungu yang baru saja hendak menyerang lagi.


Jlarrrrrr


Tamparan keras dari Mpu Sukrasana pada wajah Buto Wungu membuat mahkluk halus itu roboh.


Sementara itu di sisi lain, Mpu Soma juga berhasil menundukkan Buto Ijo dengan air suci pamujan nya. Buto Ijo meraung keras saat tubuhnya menerima cipratan air suci dari sanggar pamujan di Pertapaan Ranja.


Saat dua Resi Pertapaan Ranja itu baru bersantai sejenak setelah mengalahkan dua mahkluk halus itu, dari arah timur kembali muncul dua makhluk halus mengerikan yang masing-masing membawa api dan batu besar.


Dua makhluk halus itu adalah Buto Agni dan Buto Jenar.


Mereka menyerang Mpu Sukrasana dan Mpu Soma dengan membabi buta.


Satu lemparan api dari Buto Agni yang mampu melelehkan besi dan berhasil di hindari Mpu Soma, meluncur ke arah Naganingrum.


Panji Watugunung segera menghadang api itu dengan tubuhnya yang sudah di lindungi oleh Rajah Kala Cakra Buana.


Blammmm!!


Api langsung meledak seketika saat menyentuh pelindung gaib Rajah Kala Cakra Buana yang melindungi tubuh Panji Watugunung. Sang Pangeran Daha tetap tegak berdiri menatap semua pergerakan dua makhluk gaib itu.


Bersamaan dengan itu, Mpu Sukrasana dan Mpu Soma berhasil melumpuhkan kedua makhluk menyeramkan itu.


"Sekarang kembalilah ke orang yang mengirim mu!", teriak Mpu Sukrasana sambil memutar tasbih biji genitri nya.


Dari tasbih itu muncul angin kencang yang mampu menghempaskan 4 makhluk halus itu.


Nyi Polok yang sedang duduk bersila di depan kuali darah nya dikejutkan dengan munculnya 4 Kala utusannya.


Jleggg!!


"Kenapa kalian kembali ha?


Apa kalian sudah berani menentang perintah ku?", teriak Nyi Polok terdengar marah.


"Orang yang kami lawan terlalu tangguh Nyi, kami tidak sanggup", jawab Buto Ijo segera. Empat mahkluk halus itu kemudian berubah menjadi asap pekat kehitaman dan menghilang di terpa angin.


"Bedebah!


Siapa yang sanggup mengalahkan empat Kala ku? Akan ku buat dia menderita", teriak Nyi Polok yang segera komat-kamit membaca mantra.


Dari genangan darah segar di kuali, muncul wajah Mpu Soma dan Mpu Sukrasana. Nyi Polok seketika terkejut melihat wajah Mpu Sukrasana.


Hemmmm


"Kakang Sukrasana rupanya,


Baik aku tidak akan kalah dengan mudah. Tunggu pembalasanku Kakang Sukrasana", teriak Nyi Polok dengan penuh amarah.


Bicara tentang Nyi Polok, perempuan bertudung merah darah itu memang mengenal Mpu Sukrasana. Resi tua itu adalah bekas suaminya. Karena Nyi Polok mempelajari ilmu pangiwa alias ilmu kebatinan hitam, maka Mpu Sukrasana memutuskan untuk berpisah dengan Nyi Polok. Mpu Sukrasana kemudian bergabung dengan Pertapaan Ranja untuk memperdalam ilmu agama dan kebatinan nya.


Perempuan bertudung merah darah itu segera berkeliling di seluruh pondok kayu menyiapkan peralatan teluh nya.


Sementara itu Panji Watugunung dan rombongan nya segera meneruskan perjalanan ke rumah Lurah Wanua Padelegan, Mpu Guritno yang tak lain adalah ayah dari Sekar Mayang.


Seorang penjaga gapura segera berlari menuju ke arah rumah Mpu Guritno setelah melihat rombongan berkuda yang memakai pakaian bangsawan bergerak menuju ke arah Wanua Padelegan.


Dengan cepat, dia menggedor pintu rumah Mpu Guritno.


Dok dok dok..


"Ki Lurah... Ki Lurah..", teriak si penjaga gapura dengan nada terburu-buru.

__ADS_1


Seorang lelaki tua berpakaian bagus dengan kumis melintang di pipi nya segera membuka pintu rumah.


Kriettttt..


"Ada apa Rempon?


Apa ada yang meninggal lagi?", tanya lelaki tua yang tak lain adalah Mpu Guritno dengan nada cemas.


"Bukan Ki,


Ada rombongan berkuda menuju kemari. Sepertinya mereka adalah bangsawan dari Kadiri dilihat dari pakaian mereka", ujar penjaga gapura yang bernama Rempon itu segera.


Hahhhhh


"Antar aku kesana sekarang Rempon, cepat!", ajak Mpu Guritno yang segera bergegas menuju ke arah gapura Wanua Padelegan. Rempon segera mengekor di belakangnya.


Begitu Mpu Guritno sampai di gapura Wanua Padelegan, Sekar Mayang segera melompat turun dari kudanya dan berlari menuju ke arah Mpu Guritno.


"Romooo....", teriak Sekar Mayang yang segera memeluk tubuh tua Mpu Guritno.


Laki laki tua itu terkejut sekaligus terharu melihat kedatangan Sekar Mayang. Putri kecilnya yang di kirim ke Padepokan Padas Putih itu telah berubah menjadi wanita cantik yang berpakaian mewah layaknya seorang putri raja.


Panji Watugunung segera melompat turun dari kudanya di ikuti seluruh pengiringnya.


"Kau sudah kembali Ngger Anak ku. Romo kira kau sudah lupa dengan Wanua Padelegan", ujar Mpu Guritno sambil berurai air mata.


"Mayang lahir di sini Romo, masa kecil Mayang juga di Wanua ini. Mana mungkin Mayang melupakan semua nya Romo?


Meski Mayang sekarang sudah menikah, tapi dalam hati kecil Mayang, Romo dan Wanua Padelegan selalu ada", Sekar Mayang mulai meneteskan air mata nya.


"Anak bodoh.


Kau memang tidak pernah berubah", Mpu Guritno tersenyum tipis sambil menyeka air mata yang mengalir di pipi Sekar Mayang.


"Oh iya Romo,


Perkenalkan ini suami ku Romo. Kakang Panji Watugunung atau Pangeran Jayengrana", ujar Sekar Mayang setelah dia melepaskan pelukannya.


Mpu Guritno segera berlutut dan menyembah kepada Panji Watugunung.


"Sembah bakti hamba untuk Gusti Pangeran Panji Jayengrana", ujar Mpu Guritno yang segera di tahan oleh Panji Watugunung.


"Apa-apaan ini Mpu Guritno? Jangan berlutut kepada ku, karena aku adalah menantu mu. Tidak pantas seorang mertua berlutut di depan mantunya. Ayo berdiri", ujar Panji Watugunung sambil tersenyum tipis.


"Terimakasih banyak Gusti Pangeran. Hamba merasa terhormat menjadi mertua seorang calon raja Panjalu", Mpu Guritno tersenyum bangga.


"Sudahlah, jangan banyak adat. Apa kau tidak mempersilakan menantu mu ini mengunjungi tempat tinggal mu, Mpu Guritno?", Panji Watugunung menatap wajah tua Mpu Guritno.


"Eh bukan begitu, Gusti Pangeran. Mari mari ke tempat hamba", ujar Mpu Guritno yang segera bergegas melangkah menuju ke rumah nya.


Panji Watugunung, Sekar Mayang, Naganingrum, Dewi Srimpi, Warigalit, dua Resi Pertapaan Ranja dan keempat prajurit pengawal mengikuti langkah sang Lurah Wanua Padelegan.


Saat mereka memasuki serambi kediaman Lurah Wanua Padelegan, sepasang mata menatap tajam kearah mereka.


"Dasar pengacau!


Mereka pasti akan merusak rencana ku"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁

__ADS_1


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit ❤️ dan komentar 🗣️ nya agar author terus semangat menulis 😁


Selamat membaca 🙏🙏🙏


__ADS_2