
Bayangan abu-abu terus melesat cepat meninggalkan istana Pakuwon Watugaluh menuju Utara, selepas melintas sungai kecil perbatasan Panjalu dan Jenggala, mereka terus melesat ke timur. Di tepi sungai Brantas, bayangan itu berhenti sebuah gubuk kayu di tepi sungai.
Pedang Iblis yang masih meringis menahan sakit, segera menotok urat nadi nya.
"Terimakasih bantuan mu saudara Iblis Abu-abu. Aku berhutang nyawa kepada mu", ujar si Pedang Iblis sambil menatap wajah kakek tua bertangan satu itu.
"Tak perlu sungkan saudara Janamerta. Kesalahan terbesar kalian adalah mengikuti perintah Mapanji Garasakan. Aku sudah pernah merasakan pahitnya bertarung melawan mereka. Pendekar muda itu mungkin sekarang adalah yang terkuat di dunia persilatan.
Tapi dengan modal Pedang Tulang Iblis itu, kau masih ada kemungkinan untuk membalas dendam kematian guru mu", Iblis Abu-abu melirik ke arah pedang di tangan Janamerta.
"Bagaimana kalau kau bergabung dengan Padepokan Bukit Jerangkong? Kita bangun lagi kejayaan bersama", ajak si Pedang Iblis sambil menatap wajah tua Iblis Abu-abu.
"Tidak masalah, lagi pula Gunung Kematian sudah musnah. Jika nanti ada kesempatan untuk membalas dendam kematian guru ku Si Dewa Maut, aku tidak akan melewatkan nya", balas si Iblis Abu-abu alias Julungpujud.
"Sebaiknya kau pulihkan dulu luka luka mu Saudara Janamerta. Kalau sudah pulih, baru kita kembali ke Bukit Jerangkong".
"Benar saudaraku, aku yakin Karmaludra si Setan Picak itu masih bertahan di Padepokan Bukit Jerangkong", jawab si Pedang Iblis sambil mengikat lukanya dengan robekan bajunya.
"Selama beberapa hari, sebaiknya kita tidak keluar dulu. Biar anak buah ku yang keluar mencari kebutuhan kita", ucap Iblis Abu-abu yang di sambut anggukan kepala oleh Janamerta.
Julungpujud segera keluar dari pondok kayu itu dan menemui anak buah nya.
Di sisi lain kota Pakuwon Tamwelang, Tumenggung Srenggapati sedang duduk bersila di serambi rumah kediaman gundiknya.
Dua orang mata mata yang dia kirim untuk mengawasi gerak-gerik Iblis Bukit Jerangkong sedang duduk di hadapannya.
"Begitulah ceritanya Gusti Tumenggung. Iblis tua itu tewas beserta anggota Bukit Jerangkong dan Bukit Hitam. Tumenggung Raka dan pasukannya dipastikan terbunuh dalam perang ini", ujar si mata mata berbadan kurus itu sambil menghormat.
Hemmmm
"Ternyata benar dugaan ku. Kekuatan Panjalu tidak bisa di remehkan. Aku akan melaporkan kejadian ini pada Gusti Senopati Mpu Tandi.
Kalian kembali lah ke Watugaluh. Kalau ada kejadian penting, segera laporkan ke Nyi Pu Karmi selaku penghubung antara kita", ujar Tumenggung Srenggapati.
"Sendiko dawuh Gusti Tumenggung".
Usai menghormat, dua orang mata mata itu segera mundur dari serambi kediaman Nyi Pu Karmi.
**
Malam semakin larut. Suara burung malam bersahutan dengan suara nyaring jangkrik dan belalang. Bulan sabit menggantung di langit malam yang gelap.
Di balai peristirahatan Pakuwon Watugaluh, Panji Watugunung sedang duduk bersila. Di belakang nya, Ratna Pitaloka sedang menyalurkan tenaga dalam nya.
Keringat bercucuran dari kening sang Selir.
Panji Watugunung yang baru meminum obat dari Dewi Srimpi terlihat semakin merah.
Ratna Pitaloka segera menghentikan tenaga dalam nya.
Ayu Galuh buru buru mengulurkan cawan minum kepada Panji Watugunung.
"Bagaimana keadaan mu Kangmas? Sudah lebih baik?", tanya istri kedua Panji Watugunung itu segera.
"Sudah lebih baik Putri Liar. Kau tenang saja. Kakang Watugunung bukan orang lemah", sahut Sekar Mayang yang duduk di sebelah nya.
"Lagi pula Denmas sudah minum dua pil pengobat luka dalam ku. Aku berani memastikan, Denmas Panji sudah tidak apa-apa", timpal Dewi Srimpi, si selir termuda.
Ayu Galuh menarik nafas lega mendengar perkataan selir selir suami nya itu.
Panji Watugunung tersenyum tipis melihat mereka berempat bisa rukun.
"Kalian semua keluar lah. Malam ini Kangmas Panji Watugunung butuh beristirahat. Biar aku yang menemani nya", ucap Ayu Galuh yang segera mendapat tatapan geram dari 3 selir Panji Watugunung.
"Enak saja mau mengusir ku, kau ingin ku hajar ya?", Sekar Mayang mendelik sewot kearah Ayu Galuh.
"Malam ini giliran ku. Harusnya kau yang keluar dari sini. Dasar perempuan manja", Ratna Pitaloka mendengus dingin.
"Aku masih harus memastikan Denmas Panji baik baik sampai besok pagi. Jadi aku tetap di kamar ini" , Dewi Srimpi yang biasanya tidak banyak bicara kali ini meradang.
Panji Watugunung langsung pusing mendengar keributan itu.
'Baru sebentar dipuji rukun, sekarang sudah ribut lagi'
"Malam ini, kalian semua boleh tidur disini", ucap Panji Watugunung segera.
__ADS_1
"Tapi...", ucap mereka berempat kompak.
"Yang tidak terima, silahkan keluar! Aku capek", bentak Panji Watugunung yang membuat keempat istrinya langsung diam seketika. Mereka yang takut kena marah suami mereka lagi, memilih untuk tetap tinggal.
Teriakan keras Panji Watugunung terdengar sampai luar kamar peristirahatan.
Gumbreg yang sedang duduk di depan serambi peristirahatan Pakuwon Watugaluh sambil membakar kayu kecil untuk berdiang, mendengarnya.
"Pasti ribut lagi", gumam Gumbreg.
"Ya resiko punya istri banyak Mbreg. Semakin banyak kepala semakin banyak perbedaan pikiran nya", ujar Ludaka sambil melempar kayu kering ke perapian.
"Makanya aku cuma setia sama Dhek Jum. Dia itu beruntung mendapatkan cinta ku", Gumbreg langsung kumat sombongnya.
"Kog beruntung Mbreg? Pikiran dari mana itu?", tanya Landung ikut nimbrung percakapan.
"Ya iyalah, aku itu lelaki setia, wanita ku cuma Dhek Jum seorang. Isi otak ku tidak pernah memikirkan wanita", Gumbreg membusungkan dadanya.
"Eleh tai kebo. Menurut ku dia wanita paling apes sedunia", Ludaka mulai sinis.
"Lha kog bisa Lu?", Landung penasaran sekali.
"Ya jelas to Ndung, isi otak si Gumbreg itu memang tidak memikirkan wanita tapi hanya makan, makan dan makanan.
Gak percaya?
Tuh lihat perutnya sudah seperti kantong beras hahahaha", Ludaka tertawa terbahak-bahak di sambut Landung yang ikut tertawa.
Gumbreg langsung diam seketika. Matanya sewot kearah Ludaka.
"Kampret kau Lu"
Malam semakin larut, semua orang di istana sudah terlelap dalam tidurnya kecuali para prajurit yang bertugas jaga malam ini.
Pagi menjelang tiba. Suara kokok ayam jantan bersahutan pertanda pagi telah datang. Burung malam kembali ke sarang nya. Pagi itu langit nampak cerah.
Dewi Srimpi yang letaknya paling dekat dengan Panji Watugunung membuka matanya. Dia segera bangun dan memeriksa tubuh Panji Watugunung dengan menempelkan punggung tangan nya ke dahi sang suami.
Wajah selir termuda itu terlihat lega.
Tangan Panji Watugunung segera menangkap tangan selir termuda nya itu.
Dewi Srimpi yang kaget, tersenyum tipis sambil melirik ke arah Panji Watugunung.
Perlahan Panji Watugunung segera mendekatkan wajahnya ke wajah Dewi Srimpi.
Dan..
Cuppp
Bibir Panji Watugunung mengecup bibir mungil Dewi Srimpi.
"Hadiah untuk istri ku yang sudah menyelamatkan nyawa ku", ujar Panji Watugunung sambil tersenyum penuh arti memandang kearah Dewi Srimpi yang memerah wajahnya mendengar ucapan sang suami.
"Kakang, kami juga menolong mu. Bukan Srimpi saja. Mana hadiah buat kami??".
Suara Ratna Pitaloka mengagetkan Panji Watugunung dan Dewi Srimpi.
Tiga pasang mata istri Panji Watugunung menatap kearah suami mereka. Panji Watugunung garuk-garuk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal, sementara Dewi Srimpi mengulum senyum.
Pagi itu di dalam kamar Panji Watugunung ribut lagi.
Matahari sepenggal naik. Panji Watugunung duduk di balai pisowanan Pakuwon Watugaluh di dampingi Ayu Galuh dan ketiga selir nya.
Dihadapan mereka, seluruh perwira tinggi prajurit yang kemarin bertempur hadir disana.
"Paman Saketi,
Bagaimana keadaan kota Pakuwon Watugaluh sekarang?", tanya Panji Watugunung menatap ke arah wakilnya itu.
"Ampun Gusti Pangeran, beberapa pedagang mulai membuka kembali lapak dagangan mereka. Meski tidak seramai dulu, tapi hamba yakin keadaan perekonomian disini segera pulih", Ki Saketi memberi hormat.
"Baguslah kalau begitu,
Perang selalu menimbulkan kerugian untuk rakyat. Kalau boleh jujur, aku tidak ingin berperang. Tapi kalau berperang adalah jalan satu satunya menuju perdamaian, maka aku akan siap di baris paling depan.
__ADS_1
Ludaka,
Bagaimana keadaan keamanan perbatasan? Apa ada pergerakan baru?", pandangan Watugunung beralih pada bekel prajurit telik sandi nya itu.
"Ampun Gusti Pangeran Panji,
Sejauh ini keadaan perbatasan masih belum ada gerakan sama sekali. Mungkin mereka masih bersiap. Hamba menunggu laporan telik sandi yang hamba kirim ke perbatasan Seloageng", laporan Ludaka.
Hemmmm
Panji Watugunung mengusap bibirnya sambil menatap jauh ke langit. Ada sesuatu yang mengganjal pikiran nya.
"Tumenggung Adiguna, apa sudah mengirim utusan ke Daha?", Panji Watugunung menatap ke arah tumenggung sepuh itu.
"Mohon ampun Gusti Pangeran,
Hamba menunggu perintah dari Gusti Pangeran", Tumenggung Adiguna menghaturkan sembah.
"Baiklah, utus beberapa orang yang mampu berkuda cepat ke Daha. Bekel Majaya, kau pimpin mereka.
Sampaikan keadaan kita disini pada Mapatih Jayakerti. Tempat ini butuh pemimpin baru untuk menata pemerintahan yang kosong.
Dan sampaikan surat yang ku tulis ini pada Gusti Prabu Samarawijaya", Panji Watugunung menoleh ke arah Ayu Galuh. Istri kedua Panji Watugunung itu segera menyerahkan surat yang di pegang nya pada suami nya.
Bekel Majaya segera memberi hormat kepada Panji Watugunung dan mundur dari balai paseban Pakuwon Watugaluh.
**
Di wilayah Jenggala, di Pakuwon Tumapel.
Ribuan prajurit Jenggala bersiap untuk berangkat ke Daha. Seorang lelaki tua berpakaian perwira nampak berdiri di depan para prajurit yang bersenjata lengkap.
"Gusti Senopati Socawarma, pasukan sudah siap di berangkatkan", lapor seorang tumenggung sepuh berkumis tebal, Tumenggung Larantapa.
"Apa persiapan nya sudah matang? Bagaimana dengan perbekalan makanan untuk para prajurit, Larantapa?", tanya sang Senopati Socawarma.
"Semua nya sudah sesuai dengan perintah Gusti Senopati", Tumenggung Larantapa memberi hormat.
Senopati Socawarma segera berdiri dan dengan lantang berkata,
"Kalau begitu, berangkat sekarang!
Kita gempur Daha".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Wah tanda perang kolosal tahap pertama sudah di mulai nih😁😁
Author mengucapkan terima kasih atas dukungannya kakak reader tersayang yang sudah memberikan like vote dan komentar nya pada cerita perjalanan Kang Panji ini ❤️❤️
Yang minta crazy up, mohon maaf author hanya mampu up 2 chapter saja sehari, karena author juga punya novel lain yang ongoing 🙏🙏
Selamat membaca guys 😁😁
__ADS_1