Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Tiga Biksu dari Negeri Tiongkok


__ADS_3

Tiga biksu dari negeri Tiongkok itu segera mengepalkan kedua tangannya kearah Mpu Wasista sebagai tanda salam hormat adat negeri mereka, kemudian bergegas meninggalkan Padepokan Pedang Awan di lereng Gunung Pamrihan menuju ke timur.


Mpu Wasista menatap kepergian mereka sambil tersenyum penuh arti.


"Mereka akan bertemu dengan keras nya batu dan tingginya gunung di Kayuwarajan Kadiri", ujar Mpu Wasista seraya mengelus jenggotnya yang memutih.


Biksu Hong Ki terus memacu kudanya diikuti oleh Biksu Hong Jian dan Biksu Hong Yi. Mereka terus bergerak ke timur. Memasuki wilayah Lasem selatan, tepatnya di Pakuwon Cempaka mereka berhenti.


Kehadiran mereka menarik perhatian para penduduk sekitar Pakuwon Cempaka karena penampilan mereka yang berbeda, baik tubuh maupun dandanan nya.


Mereka segera bergegas turun dari kudanya, saat berhenti di depan sebuah rumah makan. Mereka segera mengikat tali kekang kudanya di geladakan yang ada di halaman rumah makan.


Seorang pelayan segera bergegas mendekati mereka.


"Permisi biksu,


Ada hal apa yang membuat para biksu datang kemari?", tanya si pelayan dengan sopan.


"Amithaba..


Kami ingin makan saudara ku. Berikan kami sayur dan makanan yang tidak mengandung daging", ujar Biksu Hong Ki sambil tersenyum dan menaruh satu tangan menangkup di depan dada.


"Silahkan biksu silahkan..", ujar si pelayan yang segera mempersilakan mereka duduk di meja kosong pada salah satu sudut ruangan.


Ketiga biksu itu segera duduk di kursi yang disediakan. Tak berapa lama kemudian, si pelayan datang ke tempat mereka dengan membawa pesanan mereka.


"Permisi saudara ku..


Apakah kota Kadiri masih jauh dari sini?", tanya Biksu Hong Ki saat si pelayan selesai menghidangkan makanan.


"Wah masih jauh Biksu. Paling cepat kalian kalau mau kesana butuh waktu setengah purnama kalau lewat Utara.


Kalau ingin lebih cepat, kalian bisa melewati daerah Lewa, Kurawan, Anjuk Ladang dan kota Daha. Nah kota Kadiri ada di timur kota Daha", jawab si pelayan dengan ramah.


"Terimakasih banyak saudaraku..


Semoga Budha selalu memberkati mu", ujar Biksu Hong Ki sambil tersenyum tipis.


Mereka segera menikmati makanan mereka. Setelah mendapat petunjuk arah dari si pelayan rumah makan, tiga biksu asal negeri Tiongkok itu menyusuri jalan besar di barat gunung Lawu menuju ke arah Kadipaten Lewa yang ada di sebelah selatan gunung itu.


Sepanjang perjalanan, kedatangan mereka selalu menjadi pusat perhatian para penduduk di jalan yang mereka lewati.


Setelah sehari semalam melakukan perjalanan, mereka tiba di kota Kadipaten Lewa.


Kota yang berada di selatan Gunung Lawu itu begitu ramai oleh para pedagang yang datang untuk mencari keuntungan juga para pencari kerja yang mengadu nasib ke kota besar.


Biksu Hong Jian yang gemar menulis, membuat catatan perjalanan mereka di wilayah Panjalu yang mereka lewati.


Di timur kota Kadipaten Lewa, mereka berhenti di sebuah warung makan. Mereka hendak bertanya karena kebingungan melihat persimpangan jalan di depan warung makan itu.


Usai mengikat tali kekang kudanya pada geladakan di samping rumah makan itu, mereka bertiga segera melangkah masuk ke rumah makan. Seorang lelaki paruh baya yang menjadi pemilik warung makan segera mendekati mereka bertiga.


"Permisi Biksu,


Ada perlu apa kalian kemari? Apa kalian ingin sedekah dari kami?", tanya si pemilik warung makan dengan nada dingin.


"Tidak saudara ku,


Kami hanya ingin bertanya arah ke Kota Kadiri. Kami datang dari jauh, ingin ke sana", jawab Biksu Hong Ki dengan membungkuk hormat.


"Mau apa kau kesana biksu botak?


Ingin mencari sedekah kesana? Hahahaha", sahut seorang seorang lelaki muda yang berpakaian merah dengan kumis tipis yang duduk di salah satu kursi di dalam warung makan itu.


"Amithaba..


Kami hanya ingin bertanya bertemu dengan seorang lelaki yang bernama Watugunung. Kata orang orang Kalingga, dia adalah pendekar terhebat di tanah Jawa.


Kami ingin mengadu ilmu beladiri dengan dia", jawab Biksu Hong Ki dengan jujur.


Chuihhhh


"Tidak perlu repot-repot datang ke Kadiri. Kalau kau ingin menjajal ilmu, Lewa pun juga gudang para pendekar hebat", seorang lelaki paruh baya dengan jenggot lebat meludah ke lantai.


"Benar ucapan Kakang Bhirawa biksu botak,


Murid Padepokan Alas Larangan juga sanggup untuk membuat mu babak belur sampai kau pulang ke negeri mu dengan ditandu hahahaha", teriak seorang lelaki muda bertubuh gempal sambil tertawa terbahak-bahak.


"Sancai sancai..


Kalau benar begitu, bisa kah kita buktikan saudara ku?", ujar Biksu Hong Jian yang sudah tidak tahan mendengar kesombongan mereka. Tiga biksu Negeri Tiongkok itu segera keluar menuju halaman warung makan.


"Darugeni,


Kasih mereka pelajaran. Cepat!", teriak lelaki paruh baya yang bernama Bhirawa itu sambil melotot ke arah Biksu Hong Jian.


Darugeni langsung melesat menuju Biksu Hong Jian sambil menghantamkan tangan kanan nya.


Whuuuutt


Biksu Hong Jian langsung menyiapkan kuda-kuda jurus Cakar Naga nya. Dengan cepat, murid Biksu Hong Ki itu memutar tubuhnya menghindari hantaman Darugeni yang mengincar dadanya.


Tangan Biksu Hong Jian yang sudah berbentuk cakar langsung terayun ke arah pundak kanan Darugeni.


Creeppp


Lelaki muda berkumis tipis itu segera menangkap tangan kanan Biksu Hong Jian dengan tangan kiri nya.


Biksu Hong Jian melihat tangan nya di cekal, melompat sedikit dan melayangkan tendangan keras sambil menarik tangan kanan nya.


Deshhhhh


Sreeetttttt

__ADS_1


Aughhhhh


Dua gerakan cepat sekaligus itu membuat Darugeni luka robek pada pundak akibat cakaran tangan juga perutnya sakit akibat tendangan Biksu Hong Jian yang membuat nya terpental 2 tombak ke belakang.


Darugeni segera bangkit, dia marah besar melihat Biksu Hong Jian merusak baju sekaligus merobek pundaknya.


Seketika dia mencabut pedang nya dan melesat ke arah Biksu Hong Jian dengan menyabetkan pedang kearah leher sang biksu.


Sreeetttttt


Biksu Hong Jian mundur selangkah menghindari sabetan pedang. Melihat itu, Darugeni menjejak tanah dengan kaki kanan, memutar tubuhnya sembari melayangkan tendangan ke arah biksu muda itu.


Dengan tenang, Biksu Hong Jian melompat ke samping lalu menarik kaki Darugeni seraya menyikut rusuk Darugeni dengan keras.


Deshhhhh


Oughhh


Darugeni meraung keras saat sikutan Biksu Hong Jian mematahkan tulang rusuk nya dan membuat lelaki muda itu tengkurap menyusruk tanah. Dari mulut Darugeni, darah segar mengalir keluar.


Melihat Darugeni tak berdaya, Bhirawa segera melompat ke udara sambil mengayunkan cambuk yang berujung sebuah besi tajam.


Ctarrrr!!


Biksu asal negeri Tiongkok itu menekuk lututnya menghindari sabetan cambuk.


Melihat lawan nya bisa menghindar, Bhirawa yang baru menjejak tanah langsung memutar cambuk menyerang ke arah kaki.


Whussss


Dengan kedua tangan menyangga tubuhnya, biksu Hong Jian melentingkan tubuh nya ke udara menghindari serangan Bhirawa.


Pria paruh baya itu semakin bernafsu untuk menyerang biksu Hong Jian yang sudah dua kali bisa menghindari serangan nya.


Dengan terus menyabetkan cambuk nya, Bhirawa terus memburu Biksu Hong Jian namun biksu muda itu terlihat mampu menghindari sabetan cambuk Bhirawa dengan mudah.


Dengan penuh amarah, Bhirawa menyalurkan tenaga dalam nya pada cambuk nya. Dengan cepat Bhirawa kembali menyabetkan cambuk nya ke arah leher Biksu Hong Jian.


Ctarrrr!!


Namun, biksu muda itu melenting tinggi ke udara sehingga sabetan cambuk menghantam dinding warung makan.


Blammmm!!


Dinding warung makan yang terbuat dari kayu hancur berantakan terkena sabetan cambuk Bhirawa.


Biksu Hong Jian yang baru menjejak tanah, merasakan hawa dingin dari cambuk Bhirawa yang kembali di lecutkan kearah nya. Dengan sigap, Biksu Hong Jian menangkap ujung cambuk Bhirawa.


Shhheppp!


Bhirawa mencoba menarik cambuk nya, tapi Biksu Hong Jian tidak mau melepaskannya.


Tarik menarik cambuk dengan tenaga dalam itu berlangsung beberapa saat. Kemudian..


Cambuk putus menjadi dua. Laki laki muda bertubuh gempal melesat cepat menuju ke arah Biksu Hong Jian, berusaha membokong lawan.


Belum sempat mendekat, sebuah bayangan berkelebat cepat dan menghantam dada si lelaki muda bertubuh besar itu dengan keras.


Dheshhhh


Aarrgghhh


Si lelaki bertubuh gempal itu terpental jauh dan menghantam dinding warung makan. Dia langsung muntah darah segar. Sementara si bayangan hitam yang tak lain adalah Biksu Hong Yi kembali berdiri di samping gurunya, Biksu Hong Jian.


Melihat dua kawannya babak belur, Bhirawa segera melempar cambuk nya yang sudah putus kearah Biksu Hong Jian kemudian ia melesat cepat menuju Biksu Hong Jian dengan menghantamkan tangan kanan nya yang sudah berubah warna menjadi biru langit tanda dia mengerahkan seluruh tenaga dalam nya pada Ajian Tapak Beku nya.


Melihat itu, Biksu Hong Jian segera mengeluarkan jurus andalan Kuil tempat nya menimba ilmu, Tapak Budha untuk menghadapi serangan Bhirawa.


Dhuarrrr!!


Saat dua ajian andalan mereka beradu, ledakan dahsyat terjadi.


Bhirawa terpental jauh ke belakang dan menghantam tanah dengan keras. Pria paruh baya itu langsung pingsan setelah muntah darah segar.


Sementara itu Biksu Hong Jian mengatur nafas panjang setelah melihat lawan terkapar.


Pemilik warung yang ketakutan, menjadi pucat melihat ketiga jagoan Alas Larangan itu tak berdaya menghadapi tiga biksu Negeri Tiongkok.


"Amithaba..


Bisakah sekarang kau tunjukkan jalan ke kota Kadiri saudara ku?", tanya Biksu Hong Ki sambil tersenyum tipis memandang ke pemilik warung makan yang pucat.


"Ka-kalian belok kiri dan ikuti jalan itu. I-itu sudah menuju ke arah Kurawan", jawab si pemilik warung makan dengan terbata-bata.


"Amithaba..


Kami berterima kasih atas bantuannya saudara ku. Kami mohon pamit", tiga biksu itu segera membungkuk hormat kepada pemilik warung makan lalu melompat ke atas kuda mereka dan meninggalkan tempat itu segera.


Seorang lelaki muda berlari menuju ke sebuah rumah besar yang ada di tengah sebuah pemukiman di tengah hutan lebat di timur lereng Gunung Lawu.


Pemukiman itu adalah Padepokan Alas Larangan, salah satu perguruan silat aliran hitam yang terbesar saat ini di wilayah Panjalu.


Meski sempat kehilangan dua jagoan sakti nya di tangan Panji Watugunung dan Warigalit tempo hari, mereka masih memiliki 3 jagoan yang tak kalah hebat di banding Dewa Langit dan Dewa Angin yang sudah terbunuh.


Mereka adalah Dewi Api dan Dewa Tanah serta pemimpin tertinggi Padepokan Alas Larangan yang berjuluk Pangeran Alas Larangan.


Si lelaki muda itu yang tidak lain adalah orang yang di hajar Biksu Hong Yi, segera bergegas menuju ke arah serambi kediaman Pangeran Alas Larangan.


"Simbarmayura,


Ada apa dengan mu? Kenapa kau babak belur begitu?", tanya Pangeran Alas Larangan pada lelaki muda yang bertubuh gempal itu.


Simbarmayura menghormat pada Pangeran Alas Larangan dan segera menceritakan tentang biksu asal negeri Tiongkok yang menghajar mereka. Tentu saja dengan di tambah dengan kata kata yang membakar amarah mereka.

__ADS_1


"Kurang ajar!


Berani sekali mereka meremehkan kemampuan beladiri pendekar tanah Jawa. Sekarang dimana mereka?", tanya Pangeran Alas Larangan dengan mata berapi-api.


"Ampun Pangeran,


Mereka menuju ke arah Kurawan. Tujuan mereka adalah ke Kadiri. Mencari pendekar yang bernama Watugunung yang menurut mereka adalah pendekar terhebat di tanah Jawa ini", ujar Simbarmayura sambil menghormat.


"Bangsat!


Tidak bisa di biarkan. Dewi Api, Dewa Tanah..


Kejar mereka. Bawa kepala mereka kemari", perintah Pangeran Alas Larangan dengan cepat.


Dua jagoan Alas Larangan itu segera menghormat pada Pangeran Alas Larangan, kemudian bergegas meninggalkan tempat itu di temani Simbarmayura dan sepuluh anak murid yang jago ilmu kanuragan. Mereka memburu tiga biksu Negeri Tiongkok itu.


**


Nun jauh di timur, tepat nya di wanua Padelegan.


Rombongan Panji Watugunung bersiap untuk meninggalkan tempat itu usai berpamitan kepada Ki Lurah Wanua Padelegan, Mpu Guritno.


3 pekan sudah mereka tinggal di tempat itu setelah menata kehidupan masyarakat yang sempat porak poranda akibat pagebluk yang melanda wilayah Padelegan.


Nini Sumbi pun sudah kembali ke Padelegan dengan diantar Lumadi, si pemuda baik hati yang menolong nya tempo hari.


Setelah semua kembali pulih, kini sudah waktunya mereka kembali ke Kota Kayuwarajan Kadiri.


"Romo,


Mayang mohon pamit pulang ke Kadiri. Jaga diri Romo baik-baik ya?", pamit Sekar Mayang dengan mata berkaca-kaca.


"Hati hati anak ku, patutkanlah dirimu sebagai Selir Gusti Pangeran Panji Jayengrana..


Kau adalah kebanggaan masyarakat Padelegan", ujar Mpu Guritno sambil berusaha keras untuk tidak menangis.


Sekar Mayang segera melompat ke atas kuda nya mengikuti langkah Panji Watugunung dan dua istri nya yang lain. Perempuan cantik itu segera menjajarkan kuda nya disamping sang suami.


Seluruh penduduk Wanua Padelegan mengantar kepergian mereka sampai di ujung wanua.


Rombongan Panji Watugunung terus bergerak menuju ke arah Kota Kadiri.


Setelah seharian melakukan perjalanan, akhirnya mereka memasuki wilayah kota Kadiri.


Para prajurit penjaga gerbang istana segera menghormat pada Panji Watugunung, Dewi Naganingrum, Dewi Srimpi, Sekar Mayang, Warigalit dan Gumbreg serta para prajurit pengawal yang mengikuti mereka.


Dengan cekatan mereka membuka pintu gerbang istana Katang-katang.


4 istri Panji Watugunung menyambut kedatangan suami mereka dengan penuh sukacita.


"Selamat datang kembali Kangmas Panji Watugunung,


Aku senang Kangmas baik baik saja", ujar Dewi Anggarawati sambil tersenyum penuh arti.


"Aku juga senang Kangmas Panji Watugunung baik baik saja Kangmbok Anggarawati", Ayu Galuh ikut menimpali omongan Anggarawati.


Panji Watugunung tersenyum bahagia mendengar ucapan dari istri istri nya itu.


"Malam ini jangan ada yang menggangu Kangmas Panji Watugunung", titah Dewi Anggarawati sambil tersenyum simpul.


Keenam istri Panji Watugunung yang lain segera saling berpandangan sejenak. Mereka kebingungan mendengar ucapan Dewi Anggarawati.


"Apa maksud mu berkata demikian Anggarawati?", tanya Ratna Pitaloka memecah keheningan.


Sambil tersenyum lebar, Anggarawati menjawab dengan tegas.


"Malam ini Kangmas Panji Watugunung adalah milik ku".


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit ❤️ dan komentar 🗣️ nya agar author terus semangat menulis yah 😁


Selamat membaca 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2