Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Sudah Ada Tiga


__ADS_3

"Ada apa Dinda Anggarawati?", tanya Panji Watugunung sambil terus bergerak.


"Aku capek kakang, kan kakang tau sendiri aku ilmu meringankan tubuh ku paling rendah", Anggarawati tersenyum dan mengelap keringat mengalir di kening nya. Dewi Anggarawati memang begerak paling belakang di rombongan.


Panji Watugunung segera mengerti. Dia menyambar pinggang Anggarawati, dan menggendong nya, terus melesat mengejar kawan kawan di depan.


Anggarawati tersenyum lebar mendapat perhatian calon suami nya. Dia malah menyenderkan kepalanya ke dada Watugunung.


Ratna Pitaloka melengos tanpa berkata apa-apa. Situasi belum aman sepenuhnya, sebisa mungkin berusaha untuk tenang.


Sekar Mayang berdecak kesal dalam hati.


'Putri manja itu benar-benar mengesalkan'


Rombongan terus bergerak sampai di ujung hutan kecil tempat menambatkan kuda mereka.


Mereka berhenti, memeriksa keadaan sekitar. Setelah merasa keadaan aman, mereka segera melompat ke atas kuda mereka masing-masing, lalu memacu kuda mereka meninggalkan hutan kecil. Dewi Tunjung Biru yang masih pingsan tetap di pengawasan Tapak Malaikat.


Malam itu bulan purnama, sangat membantu mereka bergerak dalam kegelapan malam.


Menjelang pagi mereka sudah sampai di perkemahan prajurit Pakuwon Watugaluh. 20 prajurit penjaga perkemahan segera membungkuk hormat saat mereka masuk.


Dewi Tunjung Biru langsung di bawa ke tenda besar Akuwu Watugaluh. Dewi Kipas Besi menjaga nya.


Sementara Tapak Malaikat dan Panji Watugunung berjaga-jaga. Ratna Pitaloka, Sekar Mayang dan Dewi Anggarawati setelah berganti baju memilih untuk beristirahat karena semalam suntuk mereka tidak tidur sama sekali.


Pagi menyapa hutan kecil itu..


Dari kejauhan nampak Akuwu Watugaluh dan pasukannya bergerak menuju perkemahan.


Begitu sampai di perkemahan, Akuwu Watugaluh segera berlari menuju tenda besar. Tabib Putih dan Bekel Setyaka mengikuti langkah Sang Akuwu.


"Cucu ku..


Bagaimana keadaannya?" , tanya Akuwu Hangga Amarta cemas setelah Tabib Putih memeriksa keadaan nya.


"Gusti Putri baik-baik saja Tuan Kuwu. Dia hanya luka luar, saya sudah memberikan obat.


Tuan Kuwu tenang saja", ujar Tabib Putih sambil merapikan kotak obatnya.


Wajah kakek tua itu lega.


"Ki Kuwu, sekedar saran. Banyak prajurit Pakuwon Watugaluh terluka. Kita hanya bisa bergerak lambat. Sebaiknya kita beristirahat dan berangkat setelah tengah hari", Tapak Malaikat angkat bicara.


"Benar Ki Kuwu. Aku setuju pendapat Tuan Tapak Malaikat. Setelah tengah hari kita harus segera pergi dari sini. Aku khawatir serangan balasan dari Kalajengking Biru jika kita berlama-lama di sini", timpal Panji Watugunung.


Akuwu Watugaluh setuju pendapat mereka. Segera memerintahkan prajuritnya untuk menyiapkan segala sesuatunya untuk kembali ke Pakuwon Watugaluh.


Panji Watugunung segera bergegas menuju tenda tempat peristirahatan nya.


Setelah tengah hari, pasukan Akuwu Watugaluh bergerak meninggalkan perkemahan. Dewi Tunjung Biru sudah sadar, tapi masih lemah. Dia di kereta kuda bersama Dewi Kipas Besi.


"Dewi Kipas Besi, siapa pemuda itu?", tanya Dewi Tunjung Biru melihat seorang pemuda berkuda yang sedang berbicara dengan dengan kakeknya.


"Dia Panji Watugunung, sang Pendekar Pedang Naga Api. Dia sungguh hebat. Tangan Kalajengking yang terkenal sakti tewas di tangan nya. Aku dengar dia dari Padepokan Padas Putih.


Apa Gusti Putri tidak mengenal nya?" tanya Dewi Kipas Besi.


'Watugunung?? Sepertinya tidak asing', batin Dewi Tunjung Biru mencoba mengingat-ingat sesuatu.


"Ahh iya, Dia murid Mpu Sakri. Adik seperguruan guru ku. Aku pernah bertemu beberapa kali dengan nya Dewi", jawab Dewi Tunjung Biru. Wajahnya langsung berbinar binar.


Dewi Kipas Besi mengernyitkan keningnya, merasa aneh dengan perubahan wajah cucu Akuwu Watugaluh.


Menjelang sore rombongan berhenti di wanua tepi sungai Brantas. Mereka menyeberang menggunakan perahu yang sudah di siapkan sebelumnya.

__ADS_1


Senja mulai turun saat rombongan Akuwu Watugaluh memutuskan untuk beristirahat di Pakuwon Tamwelang. Karna Akuwu Watugaluh bersahabat dengan Akuwu Tamwelang, mereka menuju istana Pakuwon.


Akuwu Watugaluh satu angkatan dengan Akuwu Tamwelang, Tunggul Seto. Mereka dulu adalah orang-orang pilihan Kahuripan saat berhasil menumpas pemberontak Ratu Hitam dari Selatan.


Bisa dikatakan mereka bersahabat baik meski kini di dua wilayah berbeda akibat pemecahan kerajaan Kahuripan.


Tunggu Seto sangat gembira ketika rombongan pasukan Watugaluh bermalam di istana Pakuwon Tamwelang. Lelaki sepuh itu begitu repot menyiapkan jamuan untuk sahabat lamanya.


Usai bersantap, beberapa orang sudah undur diri.


"Kakang Kuwu Hangga Amarta masih hebat rupanya. Mampu menyelamatkan nyawa cucu kesayangan dari Perguruan Kalajengking Biru", puji Tunggul Seto tulus.


"Adik Seto, aku sudah tua. Tak bisa berbuat banyak tanpa bantuan yang muda", Akuwu Watugaluh menjelaskan.


"Maksud kakang? Tolong jelaskan pada adikmu yang bodoh ini", sahut Tunggul Seto.


"Mari ku perkenalkan. Ini Pendekar Pedang Naga Api yang terkenal itu, di belakang nya adalah pengikut nya. Itu Tapak Malaikat, Dewi Kipas Besi dan Tabib Putih".


Semua orang yang di sebut berdiri dan membungkuk hormat.


"Kakang Hangga sungguh hebat. Mampu mengumpulkan tenaga hebat dan menarik pendekar bernama besar untuk membantu", puji Tunggul Seto.


Mereka lalu tertawa bersama, seperti mengenang masa lalu.


Setelah beberapa saat bercakap cakap, Panji Watugunung pamit untuk beristirahat. Usai membungkuk hormat, mereka bergegas menuju kamar yang sudah di siapkan.


"Kakang Watugunung..."


Langkah Panji Watugunung saat mau masuk kamar terhenti mendengar ada yang memanggil.


Pria tampan itu menoleh ke arah suara.


"Tunjung Biru, sedang apa kau disini?"


"Menunggu Kakang Watugunung", jawaban Tunjung Biru membuat Watugunung mengernyitkan keningnya. Wajah cantik Tunjung Biru masih terlihat pucat.


Dewi Tunjung Biru bermaksud mencium Panji Watugunung. Wanita cantik berjinjit.


"Eh eh eh .....


Mau apa kau?!"


Suara keras dari ujung lorong mengagetkan mereka.


Sekar Mayang mendelik tajam kearah Tunjung Biru. Dia sangat kesal ada perempuan yang mencoba mendekati Panji Watugunung.


"Kakang Watugunung dia....", Tunjung Biru mengerutkan keningnya.


"Sekar Mayang, sedang apa kau disitu?", ujar Watugunung melihat selir kedua nya berjalan mendekati nya.


"Sedang mengawasi calon suami ku dari gangguan lalat lalat gatal yang ingin mendekat", ketus Sekar Mayang sambil mendelik mata nya ke arah Tunjung Biru.


Dengan sengaja, dia segera memeluk tubuh Panji Watugunung di hadapan Tunjung Biru dan memandang dengan tatapan mengejek.


Tunjung Biru muram. Ingin sekali dia menghajar perempuan yang memeluk tubuh Panji Watugunung. Dari beberapa pertemuan nya dulu, Tunjung Biru memang menyukai murid Mpu Sakri itu. Di tambah lagi pria itu menyelamatkan nyawa nya. Tunjung Biru benar benar jatuh hati pada Panji Watugunung.


"Siapa dia Kakang Watugunung?", Tunjung Biru menahan emosi.


"Apa kau lupa murid bungsu Mpu Sakri?", Watugunung balik bertanya.


Tunjung Biru mencoba mengingat-ingat.


Lalu berseru,


"Oh si kucing liar itu ya..."

__ADS_1


"Apa katamu? Hey jaga mulutmu ya, kalau tidak...", geram Sekar Mayang.


"Apa? Kamu kira aku takut pada mu?", Tunjung Biru tak kalah galak. Dia geram melihat perempuan itu memeluk tubuh Panji Watugunung. Rasa cemburunya sudah mencapai puncak.


"Kakang, apa dia calon istri mu?", tanya Tunjung Biru.


"Memang iya, terus apa masalah nya dengan mu?", jawab Sekar Mayang sambil mengejek Tunjung Biru dengan semakin mengeratkan pelukannya.


"Aku tidak tanya kau kucing liar", Tunjung Biru semakin panas.


"Aku mewakili nya putri bodoh", Sekar Mayang tak mau kalah.


"Sudah diam kalian!", teriak keras Panji Watugunung seketika menghentikan adu mulut Dewi Tunjung Biru dan Sekar Mayang.


Dua gadis itu menundukkan wajahnya, tak berani menatap wajah Panji Watugunung.


"Sekarang kita tidur, jangan berisik lagi. Kalian berdua kembali ke tempat masing-masing", ujar Panji Watugunung tegas.


Sekar Mayang segera berjinjit mencium pipi lelaki tampan itu, dan mendorong nya masuk.


Dari luar Sekar Mayang menutup pintu kamar Panji Watugunung sambil berkata,


"Selamat beristirahat Kakang".


Tunjung Biru masih belum beranjak dari tempat nya berdiri. Sekar Mayang lalu mendekati nya.


"Jangan mimpi kau bisa mendekati nya"


Dewi Tunjung Biru menatap wajah Sekar Mayang,


"Kenapa?".


Sekar Mayang hanya tersenyum tipis dan berbalik menuju kamar nya sambil berkata,


"Sudah ada tiga"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


*Nah loh sudah ada tiga apa masih kurang?


Apa perlu author tambah lagi?

__ADS_1


Author tunggu di kolom komentar ya


😁😁😁😁🙏🙏🙏🙏*


__ADS_2