Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Musuh Lama


__ADS_3

"Ceu Pitaloka,


Biar abdi saja yang kasih pelajaran sama si manusia gelo", pinta Naganingrum pada Ratna Pitaloka saat mereka berkerumun melihat ulah si pembuat onar.


"Haish..


Kalau kamu tidak bisa menghajar orang itu dalam 5 jurus, jatah waktu mu dengan Kakang Watugunung aku kurangi Naganingrum", ancam Ratna Pitaloka yang sudah geram dari tadi.


"Beres Ceu,


Karena Ceu Pitaloka sedang datang bulan, jatah bersama Akang Kasep akan Eneng ambil", jawab Naganingrum sambil tersenyum simpul.


"Cihhhhh..


Aku setuju. Kalau kau gagal dalam 5 jurus merobohkan begundal itu, jatah mu aku berikan pada Srimpi", ujar Ratna Pitaloka sambil melirik Dewi Srimpi yang dari tadi diam saja.


"Ehhh aku tidak ikut ikut dalam pertaruhan kalian ya. Jangan seenaknya sendiri membuat keputusan Kangmbok", sergah Dewi Srimpi sambil menggoyangkan kedua tangannya di depan mereka.


"Masa bodoh!


Kau bagian dari kami, jadi kau harus ikut", jawab Ratna Pitaloka sambil melotot ke arah Dewi Srimpi.


Ketiga istri Panji Watugunung itu terus memperhatikan jalannya pertarungan sampai terdengar suara tantangan dari si pembuat onar.


Dengan cepat, Naganingrum segera menjawab 'aku' dan maju ke depan arena pertarungan.


Melihat yang maju seorang wanita cantik, si pembuat onar menyeringai lebar.


"Rupanya ada perempuan cantik yang mau dipukuli.


Mundur saja kau perempuan cantik, sebelum wajah cantik mu aku buat lebam", ejek si pembuat onar.


"Eleuh eleuh sombongnya...


Hai jawara gelo, sok atuh maju. Jangan cuma jago bicara saja. Tong kosong nyaring bunyinya, yang banyak omong biasanya tidak bisa apa-apa", Naganingrum mencibir ke arah si pembuat onar.


Mendengar hinaan itu, si pembuat onar langsung naik pitam.


"Kurang ajar!


Garulangit pantang di hina perempuan. Jangan minta ampun kalau aku bertindak kejam", ujar si pembuat onar yang bernama Garulangit itu sambil memasang muka bengisnya.


Setelah memutar pedangnya, Garulangit melesat cepat sambil mengayunkan pedangnya ke leher Naganingrum.


Sreeetttttt


Dewi Naganingrum yang sudah bersiap, mundur selangkah menghindari sabetan pedang Garulangit kemudian melayangkan tendangan keras ke arah pinggang pria muda bertubuh besar itu.


Melihat itu, Garulangit berputar sambil berkelit menghindari tendangan Naganingrum. Tangan kanan nya yang memegang pedang langsung disabetkan ke arah kaki Naganingrum segera.


Dengan satu kaki kiri, Naganingrum menjejak tanah dengan keras dan melenting tinggi ke udara menghindari sabetan pedang Garulangit kemudian mendarat di belakang pria berbadan besar itu.


"Satu jurus!", teriak Ratna Pitaloka sambil tersenyum tipis.


Mendengar suara Ratna Pitaloka, Naganingrum segera menyikut pinggang Garulangit dengan tangan kiri nya. Namun si pembuat onar itu menahan dengan pukulan tangan kiri nya. Kemudian memutar gagang pedang nya untuk menusuk pinggang Dewi Naganingrum yang ada di belakang nya.


Naganingrum melihat tusukan itu, langsung memutar tubuhnya dan mengarahkan cakar tangan nya ke bahu Garulangit sambil melompat mundur.


Srrraaakkkk..


Aarrgghhh


Bahu kiri Garulangit terluka saat jurus Cakar Rajawali Galunggung dari merobek baju nya. Pria bertubuh besar itu menjerit sambil melompat menjauh.


"Dua jurus!", kembali teriakan keras Ratna Pitaloka membuat semua orang menoleh kearah nya. Panji Watugunung hanya geleng-geleng kepala melihat ulah kedua istrinya itu.


"Tinggal 3 jurus Naganingrum, ingat yang kita sepakati tadi", senyum licik Ratna Pitaloka membuat Naganingrum segera melesat cepat menuju Garulangit. Dengan tenaga penuh, Naganingrum mengayunkan cakar tangan nya yang sekeras cakar burung rajawali.


Garulangit yang masih meringis menahan sakit akibat cakaran Naganingrum, kelimpungan melihat gerakan kilat Naganingrum.


Dengan memutar pedangnya, dia berusaha menebas leher Dewi Naganingrum. Tapi perempuan itu segera menekuk lututnya dan mencakar perut Garulangit dengan cepat.


Creeppp


Aughhhhh


Kembali raungan keras dari mulut Garulangit terdengar saat cakar Naganingrum mengoyak kulit perut nya. Dengan satu tangan menepak tanah, Naganingrum merubah gerakan tubuhnya lalu melayangkan tendangan keras kaki kiri ke pinggang Garulangit.


Deshhhhh


Garulangit merasakan sakit luar biasa pada pinggang nya yang seperti patah. Pria itu terhuyung huyung ke depan.


"Empat jurus Naganingrum!", Ratna Pitaloka tersenyum lebar.


Mendengar suara itu, Naganingrum segera melesat cepat menuju Garulangit yang masih terhuyung huyung ke depan. Dengan dengkul kanan nya, dia menghajar punggung Garulangit sekeras-kerasnya.


Bruakkk

__ADS_1


Punggung Garulangit seperti ketiban batu kali besar. Pria muda itu muntah darah segar akibat kerasnya tendangan Naganingrum dan terjungkal ke tanah dengan keras. Dia pingsan seketika.


Naganingrum menepuk-nepuk telapak tangannya yang kotor karena di pakai untuk merubah gerakan tubuhnya tadi. Sambil tersenyum penuh kemenangan, Naganingrum berjalan menuju Ratna Pitaloka yang ada di pinggir arena pertarungan.


"Lima jurus Ceu..", ujar Naganingrum sambil merentangkan lima jari tangan nya ke arah Ratna Pitaloka.


"Cihhhhh


Tapi masih terlalu lama. Karena itu, 1 kali jatah ku saja yang kuberikan kepada mu. 1 kali tetap kuberikan kepada Srimpi", ujar Ratna Pitaloka sambil berlalu mengikuti langkah Panji Watugunung yang menuntun kudanya menuju sebuah kapal besar yang hendak menyeberang sungai Brantas.


"Tidak bisa begitu Ceu,


Yang namanya kesepakatan harus di tepati", protes Dewi Naganingrum yang segera menjajari Ratna Pitaloka.


"Salah mu sendiri terlalu lama", jawab Ratna Pitaloka acuh tak acuh terhadap protes Dewi Naganingrum. Dewi Srimpi hanya mengulum senyumnya sambil menuju ke tempat mengikat kuda di belakang kapal penyeberangan.


Akhirnya Naganingrum hanya bisa pasrah menerima pembagian dari Ratna Pitaloka.


Seorang jagabaya Wanua Bakung, dibantu 2 orang segera menyeret tubuh Garulangit yang pingsan ke rumah Lurah Wanua Bakung. Sedangkan para penonton yang ada membubarkan diri usai melihat Garulangit dibawa jagabaya.


Kapal besar itu perlahan meninggalkan dermaga Wanua Bakung menuju ke seberang sungai Brantas yang sedang keruh airnya.


Seorang lelaki paruh baya berkeliling menarik biaya jasa menyeberang sungai diatas kapal. Naganingrum segera mengeluarkan kantong kain nya dan memberikan 3 kepeng perak kepada lelaki paruh baya itu sebagai bayaran mereka menyeberang.


Begitu sampai di seberang sungai, Panji Watugunung dan ketiga istrinya segera melompat ke atas kuda mereka mengikuti jalan menuju kota Pakuwon Tamwelang.


Sepanjang perjalanan, angin semilir berhembus dari selatan.


Sesampainya di kota Pakuwon Tamwelang, matahari tepat di atas kepala. Karena kepanasan dan kehausan, mereka berhenti di sebuah warung makan yang ada di tepi kota Pakuwon Tamwelang. Usai menambatkan kuda, mereka masuk ke dalam warung makan itu.


"Selamat datang kisanak.


Silahkan mau pesan apa?", tanya seorang pelayan wanita pada Panji Watugunung segera.


"Berikan kami makanan apa saja yang penting enak", jawab Watugunung seraya menatap ke sebuah meja kosong yang ada di salah satu sudut ruangan. Ada sebuah kendi air minum disana.


"Akan ku siapkan secepatnya. Silahkan duduk di tempat yang kau inginkan", ujar si pelayan itu dengan sopan. Dia segera bergegas menuju dapur warung makan itu.


Gluk Gluk Gluk..


Air kendi langsung masuk ke tenggorokan Panji Watugunung dan terasa sangat menyegarkan.


5 pasang mata menatap rombongan Panji Watugunung dan istrinya. Mereka tidak mengenali Panji Watugunung yang wajahnya tertutup oleh caping, tapi mereka hafal betul dengan dua wanita yang pernah menghajar mereka hingga babak belur tempo hari.


Pria paruh baya itu terus mencoba menerka-nerka wajah di balik caping pada pemuda yang ada tak jauh dari tempat duduknya.


"Kakang,


"Benar itu mereka,


Tapi siapa pemuda bercaping itu? Dari tadi aku mencoba melihat ke wajahnya tapi selalu terhalang caping nya itu", Si pria paruh baya itu mengelus jenggotnya yang mulai ditumbuhi uban.


"Ahh peduli setan..


Kakang kita harus membalas kematian kawan kawan kita yang tewas tempo hari. Aku tidak terima dengan kematian mereka. Hutang nyawa harus dibayar dengan nyawa", ujar lelaki berbaju putih dengan berapi-api.


"Benar kakang,


Pokoknya kita harus balas dendam", timpal seorang lelaki berbaju hitam sambil mengepalkan tangannya.


"Baik,


Aku setuju dengan pendapat kalian. Tapi kita tidak bisa melakukan nya disini. Ingat, kita adalah buronan Kadipaten Matahun. Jika sampai tertangkap, habis sudah rencana besar kita mengembalikan kejayaan Lwaram", ujar pria paruh baya itu segera.


"Melihat dari arah datangnya, seperti nya mereka menuju ke Watugaluh Kakang.


Kita cegat saja mereka di timur sungai kecil di tapal batas wilayah Jenggala.


Bagaimana?", si lelaki berbaju putih terlihat sangat bersemangat.


Keempat kawannya mengangguk dan segera bergegas keluar dari warung makan itu setelah membayar biaya makan nya.


Panji Watugunung dan ketiga istrinya begitu menikmati makanan mereka. Setelah merasa cukup kenyang, mereka membayar makanan nya dan bergegas menuju ke arah Watugaluh melewati jalan besar.


Di sebelah sungai kecil yang menjadi batas wilayah Jenggala, 5 orang pria memakai bertopeng menghadang perjalanan mereka.


"Berhenti kalian!", teriak si lelaki berbaju putih yang menggunakan topeng serigala.


Phuihhh


"Siang bolong mau merampok orang. Apa kalian sudah bosan hidup?", teriak Ratna Pitaloka sambil menatap ke arah mereka.


Hahahaha


"Kami bukan perampok, tapi kami adalah malaikat pencabut nyawa kalian", ujar si lelaki berbaju hitam dengan topeng kera sambil tertawa terbahak-bahak.


"Tempo hari, kalian sudah membunuh kawan kami. Saatnya kalian membayar hutang nyawa pada kami", teriak seorang lelaki paruh baya yang merupakan pemimpin mereka.

__ADS_1


Ya, dia adalah Mpu Wurawirya yang pernah mencoba membunuh Ayu Galuh dengan menyirep istana Pakuwon Watugaluh dengan Ajian Sirep Megananda nya. Setelah peristiwa itu, mereka kabur ke wilayah Tamwelang yang merupakan wilayah Kadipaten Matahun. Selama beberapa waktu, mereka menyatroni rumah para pejabat Kadipaten Matahun untuk merampok harta benda demi biaya persiapan mereka untuk memberontak terhadap Jenggala.


Empat orang bertopeng segera melesat cepat ke arah Panji Watugunung dan ketiga istrinya. Dengan cepat, seorang lelaki bertopeng anjing menyabetkan pedang nya kearah Panji Watugunung.


Sreeetttttt


Panji Watugunung segera menepak punggung kuda nya dan melompat tinggi ke udara menghindari sabetan pedang si topeng anjing.


Kemudian mendarat turun dengan jarak dua tombak di belakang si topeng anjing.


Mpu Wurawirya yang memakai topeng macan terus memperhatikan jalannya pertarungan.


Si topeng anjing kembali menyabetkan pedang nya kearah leher Panji Watugunung. Pangeran Daha itu berhasil menghindar tapi sabetan pedang si topeng anjing menyambar caping nya.


Crakkkk


Caping itu rusak dan memperlihatkan wajah Panji Watugunung. Dengan cepat, pangeran Daha itu memutar tubuhnya dan melayangkan pukulan keras ke arah dada si topeng anjing.


Deshhhhh


Si topeng anjing langsung terpental jauh ke belakang, dia roboh setelah muntah darah segar. Panji Watugunung melepas caping nya yang sudah rusak, dan melemparkannya ke tanah.


"Celaka....!!!", ucap Mpu Wurawirya segera.


Mata Mpu Wurawirya melotot melihat wajah Panji Watugunung. Itu adalah orang yang tempo hari nyaris membunuhnya.


Melihat lawan nya itu, nyali Mpu Wurawirya langsung ciut seketika.


Dia segera mengambil ancang-ancang untuk melarikan diri. Tepat saat dia hendak melompat, sebuah tendangan kilat nan keras menghajar perut pria paruh baya itu.


Bukkkkk


Oughhh


Dewi Srimpi yang baru membunuh si topeng serigala dengan jarum beracun nya, melihat gelagat aneh si topeng macan yang hendak kabur. Dia langsung menyerangnya.


Mpu Wurawirya terhuyung huyung ke belakang. Perutnya sakit seperti dihantam balok kayu besar.


Musuh lama Panji Watugunung itu menoleh ke arah kawan-kawannya yang sudah roboh satu persatu di tangan para istri Panji Watugunung. Menyadari bahwa sudah tidak ada jalan untuk melarikan diri, pria paruh baya itu segera menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Dia berniat mati bersama dengan salah satu dari lawannya.


Sinar merah bercampur biru berputar cepat di sekeliling tangan pria paruh baya itu. Ajian andalan nya, Tapak Neraka menggulung dengan angin panas. Dengan cepat Mpu Wurawirya langsung menghantamkan kedua tangannya ke arah Panji Watugunung.


Ratna Pitaloka segera menghadang nya dengan Ajian Tapak Dewa Api tingkat tinggi nya.


Siuuuttttt


Blammmm!!!


Ratna Pitaloka terpental ke belakang akibat kerasnya ledakan namun Panji Watugunung segera menyambar tubuh selir pertama nya itu.


Ratna Pitaloka merasakan dadanya sedikit sesak, namun dia tidak apa-apa.


Sementara itu Mpu Wurawirya terpelanting ke belakang dan menghantam tanah dengan keras. Keturunan terakhir Aji Wurawari itu muntah darah segar dan meregang nyawa. Sesaat kemudian dia diam dan tak bergerak lagi untuk seterusnya.


Melihat lawan mereka tidak tersisa, Panji Watugunung segera melompat ke atas kuda nya diikuti oleh ketiga istrinya.


Mereka menuju ke Pakuwon Watugaluh.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁

__ADS_1


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit ❤️ dan komentar 🗣️ nya agar author terus semangat menulis yah 😁


Selamat membaca 🙏🙏🙏


__ADS_2