Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Untuk Rara Sunti


__ADS_3

Begitu memasuki wilayah Pakuwon Watugaluh, Panji Watugunung dan ketiga istrinya segera memacu kuda mereka menuju kota Pakuwon Watugaluh.


Menjelang sore, Panji Watugunung sudah sampai di depan gerbang istana Pakuwon Watugaluh.


Dua orang prajurit penjaga gerbang istana Pakuwon menghentikan langkah mereka yang baru turun dari kudanya.


"Berhenti!


Siapa kalian dan mau apa kemari?", ujar seorang prajurit sambil memperhatikan pakaian keempat orang itu.


"Lancang sekali kau menghentikan langkah kami.


Bilang pada Akuwu Setyaka bahwa Yuwaraja Panjalu datang ke tempat nya", Ratna Pitaloka menatap tajam ke arah dua prajurit yang melihat mereka dengan tatapan menghina.


Hahahaha


Dua prajurit itu malah tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Ratna Pitaloka.


"Yuwaraja Panjalu?


Kalau dia Yuwaraja maka aku adalah seorang Maharaja", ujar seorang prajurit penjaga yang memiliki kumis tebal.


"Dasar kurang ajar!


Perlu diberi pelajaran kau rupanya", teriak Ratna Pitaloka yang segera melesat cepat dan menendang perut sang prajurit penjaga gerbang istana Pakuwon itu dengan keras.


Bukkkkk


Oughhh


Sang prajurit penjaga gerbang istana langsung tersungkur. Tombak dan tameng nya mencelat kesamping gapura.


Melihat itu, seorang kawan nya langsung menusukkan tombak nya kearah Ratna Pitaloka.


Namun dengan cepat, Ratna Pitaloka berputar menghindar dan melayangkan tamparan keras ke pipi kiri sang prajurit.


Plakkkk


Si prajurit langsung terjungkal dengan pipi lebam dan gigi rontok dua buah. Dari mulut nya darah segar mengalir keluar.


Prajurit penjaga yang berkumis tebal segera berlari menuju ke dalam istana Pakuwon Watugaluh.


Akuwu Setyaka yang tengah menggendong putri kecilnya, tampak kaget saat seorang prajurit berlari masuk ke bangsal pisowanan Pakuwon Watugaluh.


"Ampun Gusti Akuwu,


Seorang lelaki dan tiga perempuan mengacau di depan pintu gerbang istana Pakuwon", lapor si prajurit dengan menahan sakit akibat tendangan keras dari Ratna Pitaloka.


"Huhhh


Ada ada saja yang menggangu ketenangan. Ayo kita kesana", ujar Akuwu Setyaka yang segera menyerahkan putri kecilnya kepada istrinya, Dewi Tunjung Biru.


Akuwu bertubuh tegap itu lantas bergegas menuju ke gerbang istana Pakuwon Watugaluh diiringi 15 prajurit Pakuwon Watugaluh.


Begitu sampai di depan pintu gerbang, Akuwu Watugaluh itu melihat orang orang berpakaian biasa seperti pendekar pengembara.


Yang lebih mengejutkan, dia mengenali Ratna Pitaloka dan Dewi Srimpi.


"Se-selamat datang di Pakuwon Watugaluh, Gusti Selir", ujar Akuwu Setyaka sambil membungkuk hormat. Para prajurit Pakuwon Watugaluh saling berpandangan seolah tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi.


"Begini cara penyambutan tamu Pakuwon Watugaluh, Paman Setyaka?", Panji Watugunung segera melepas caping nya dan tersenyum tipis.


Melihat Panji Watugunung, Akuwu Watugaluh segera bersujud kepada Panji Watugunung.


"Mohon ampun Gusti Pangeran,


Hamba tidak tahu jika Gusti Pangeran yang berkunjung ke tempat kami", ujar Akuwu Setyaka sambil bersujud.


Para prajurit Pakuwon Watugaluh segera bersujud mengikuti langkah sang pemimpin.


Dua orang prajurit penjaga gerbang istana langsung ngompol di celana mereka. Melihat Akuwu Watugaluh saja menyembah, sudah dipastikan bahwa pemuda itu benar-benar seorang pangeran. Dan tadi mereka sudah berani menghina pangeran, bisa dipastikan bahwa mereka akan mendapat hukuman berat.


Hemmmm


"Berdirilah Paman Setyaka..


Dan kalian semua cepat berdiri", ujar Panji Watugunung segera.


Semua orang seketika berdiri mematuhi perintah Panji Watugunung kecuali dua orang prajurit penjaga gerbang istana Pakuwon Watugaluh yang menghina Panji Watugunung tadi.


"Kalian berdua kenapa belum berdiri juga?", Panji Watugunung menatap ke arah dua orang prajurit penjaga gerbang istana itu.


"Mohon ampun beribu ampun Gusti Pangeran,


Kami berdua sudah melakukan kesalahan besar. Mohon ampun Gusti Pangeran", ujar si prajurit berkumis tebal itu sambil terus bersujud kepada Panji Watugunung.

__ADS_1


"Kalian sudah tau apa kesalahan kalian?", tanya Panji Watugunung sambil memandang mereka.


"Ka-ka kami sudah menghina Gusti Pangeran tadi", ujar si prajurit yang kena tampar Ratna Pitaloka tadi.


"Bukan itu saja,


Kalian sebagai prajurit seharusnya menghargai setiap orang tanpa melihat dari penampilan luarnya. Jangan pernah membedakan mana yang kaya dan mana yang miskin. Kalian itu pengayom masyarakat dan pelindung wilayah.


Seharusnya kalian menjadi contoh bagi masyarakat agar mereka bisa menilai bahwa seorang abdi dalem Kayuwarajan Kadiri bukan sosok yang hanya melihat orang dari penampilan luarnya saja.


Paham kalian?", Panji Watugunung terus mengamati dua orang prajurit itu.


"Kami paham maksud Gusti Pangeran. Kami kapok berbuat seperti itu, mohon ampuni kami Gusti Pangeran mohon ampuni kami", ujar si prajurit berkumis tebal dengan penuh ketakutan.


"Sekarang kalian berdiri. Cepat!", perintah Panji Watugunung segera.


Dua orang prajurit itu segera berdiri dan terus menundukkan kepalanya.


"Setiap kesalahan harus mendapatkan hukuman.


Paman Setyaka,


Kapan giliran jaga mereka berakhir?", tanya Panji Watugunung segera menoleh ke arah Akuwu Watugaluh.


"Sebentar lagi Gusti Pangeran", jawab Akuwu Setyaka sambil menghormat.


"Aku mau mereka tetap berjaga sampai besok pagi. Kalau sampai ketahuan tidur atau ada yang beranjak dari tempat ini, masukkan mereka ke dalam penjara.


Agar mereka merenungi kesalahan mereka, juga sebagai contoh untuk yang lain agar tidak seenaknya sendiri saat bertugas dan memandang rendah orang lain", ujar Panji Watugunung segera.


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", Akuwu Watugaluh mengangguk tanda mengerti.


Dua orang prajurit penjaga gerbang yang semula ketakutan akan dihukum mati, akhirnya bernafas lega. Hukuman yang diberikan oleh Panji Watugunung memang terdengar kejam, tapi itu lebih baik daripada harus mendapat hukuman mati atau di pecat dari istana Pakuwon Watugaluh.


Panji Watugunung segera bergegas menuju ke balai peristirahatan Pakuwon Watugaluh dengan di ikuti oleh Akuwu Setyaka dan ketiga istrinya.


Usai mengantar Panji Watugunung dan ketiga istrinya ke balai peristirahatan Pakuwon Watugaluh, Akuwu Setyaka segera bergegas menuju ke istana pribadi Akuwu.


Dewi Tunjung Biru segera menyambut kedatangan suaminya.


"Siapa yang berbuat masalah Kangmas?", tanya Dewi Tunjung Biru segera.


"Huhhh...


Ada dua orang prajurit penjaga yang bodoh Nyimas.. Mereka mengganggu Gusti Pangeran Panji Watugunung dan ketiga istrinya di depan pintu gerbang istana", jawab Setyaka sambil menyeka keringat dingin yang membasahi keningnya.


Jadi tamu yang datang ke sini itu Gusti Pangeran Panji Watugunung?", Dewi Tunjung Biru kaget bukan main.


"Benar Nyimas,


Kita harus menyiapkan hidangan terbaik untuk mereka sebagai tanda permintaan maaf kita pada Gusti Pangeran.


Cepat kau suruh juru masak istana untuk memasak makanan", pinta Akuwu Watugaluh itu pada istrinya. Dewi Tunjung Biru segera mengangguk tanda mengerti dan bergegas menuju ke arah dapur istana Pakuwon Watugaluh.


Malam itu, Panji Watugunung dan ketiga istrinya mendapat jamuan makan malam istimewa di sasana boga Pakuwon Watugaluh oleh pihak istana.


Dewi Tunjung Biru yang belum pernah melihat Naganingrum sebelumnya, sangat penasaran dengan putri bungsu Prabu Darmaraja itu.


"Gusti Selir,


Perempuan berbaju hijau itu siapa? Saya belum pernah melihat nya bersama Gusti Pangeran Panji Watugunung", tanya Dewi Tunjung Biru pada Dewi Srimpi yang kebetulan ada di dekat nya.


"Dia istri Denmas Panji Watugunung. Dari Galuh Pakuan", jawab Dewi Srimpi sambil meneguk minuman yang disajikan.


"Hahhhhh..


Bukankah setelah dua putri dan 3 selir Gusti Pangeran Panji Watugunung tidak mau menikah lagi?", Dewi Tunjung Biru kaget mendengar omongan Dewi Srimpi.


"Denmas Panji memang tidak niat menikah lagi, tapi keadaan yang memaksa nya.


Lagi pula dia seorang putri raja besar, sebagai penguat kedudukan politik jelas dia sangat berguna untuk Denmas Panji", jawab Dewi Srimpi segera.


Diam diam Dewi Tunjung Biru menyesal karena melepaskan Panji Watugunung dari incaran nya dan menikah dengan Setyaka.


Malam itu, usai jamuan makan malam di sasana boga Pakuwon Watugaluh, Panji Watugunung dan ketiga istrinya segera beristirahat di bilik kamar masing-masing kecuali Naganingrum yang menang taruhan dengan Ratna Pitaloka.


Pagi menjelang tiba di Pakuwon Watugaluh. Kokok ayam jantan bersahutan membangunkan semua orang di istana Pakuwon itu. Langit timur mulai memerah pertanda bahwa sang Surya sebentar lagi menyapa bumi dengan kehangatan sinar nya.


Panji Watugunung menggeliat perlahan dari tidurnya. Yuwaraja Panjalu itu melihat sang istri Naganingrum tengah tertidur pulas sambil memeluk tubuh nya. Mengingat semalam, Panji Watugunung tersenyum tipis.


Perlahan Panji Watugunung memindahkan tangan Naganingrum. Saat hendak bangun dari tempat tidur nya, Naganingrum ikut terbangun.


"Akang Kasep,


Mau kamana pagi buta begini?", tanya Naganingrum sambil menutupi tubuh nya yang polos tanpa sehelai benangpun menutupi.

__ADS_1


"Kita harus segera bersiap. Aku ingin cepat pulang ke Katang-katang Dinda", jawab Watugunung sambil tersenyum simpul. Putra Bupati Gelang-gelang itu segera memakai pakaian nya dan bergegas menuju ke arah tempat mandi .


Usai mandi dan bersiap-siap untuk berangkat, Akuwu Watugaluh sudah menunggu Panji Watugunung di depan pintu bilik kamar tidur Panji Watugunung.


"Ada apa Paman Setyaka?", tanya Panji Watugunung yang keheranan melihat Akuwu Watugaluh itu ada disitu.


"Mohon Gusti Pangeran bersedia untuk ikut makan pagi di sasana boga. Hidangan sudah di siapkan", ujar Akuwu Setyaka sambil menghormat.


"Berjalanlah dulu, aku masih menunggu istri istri ku berdandan", Panji Watugunung segera mengangkat tangan kanannya dan Akuwu Watugaluh itu menghormat lalu bergegas menuju ke sasana boga.


Pagi itu usai makan pagi, Panji Watugunung dan ketiga istrinya segera memacu kuda mereka meninggalkan istana Pakuwon Watugaluh menuju kediaman pribadi nya di Katang-katang.


Sepanjang perjalanan mereka, terlihat kemajuan pertanian di beberapa tempat yang mereka lewati. Selepas diangkat menjadi Yuwaraja, Panji Watugunung memang memerintahkan kepada semua rakyat di Kayuwarajan Kadiri untuk memperluas area persawahan di beberapa wanua yang memungkinkan untuk bercocok tanam.


Menjelang tengah hari, mereka sampai di kota Kayuwarajan Kadiri. Beberapa bangunan baru tampak berdiri megah di sepanjang jalan masuk menuju istana Katang-katang. Para pedagang mulai ramai berseliweran di jalanan kota. Para penduduk yang kebetulan berpapasan dengan Panji Watugunung segera membungkuk hormat kepada sang Pangeran Daha.


Di depan gerbang istana, dua orang prajurit penjaga segera menghormat pada Panji Watugunung dan membuka pintu gerbang istana.


Setelah turun dari kudanya, Panji Watugunung segera berjalan masuk ke dalam istana pribadi Yuwaraja.


Dewi Anggarawati yang melihat kedatangan suaminya, segera menyambut nya dengan penuh sukacita.


"Kau sudah pulang Kangmas", ujar Dewi Anggarawati sambil memeluk tubuh suaminya itu dengan erat.


"Aku sangat merindukanmu Dinda Anggarawati", jawab Watugunung sambil mencium kening sang istri. Dewi Anggarawati tersenyum bahagia mendengar ucapan Panji Watugunung.


Wandansari yang sedang menggendong bayi Panji Tejo Laksono segera mendekatkan putra sulung Panji Watugunung itu pada ayahnya.


Sepertinya Panji Tejo Laksono mengerti bahwa Panji Watugunung adalah ayahnya. Bocah berusia 6 purnama itu langsung tersenyum saat ada di gendongan sang ayah.


Ayu Galuh yang sedang hamil tua berjalan pelan-pelan menuju ke arah Panji Watugunung.


"Kau tidak merindukan ku Kangmas?", Ayu Galuh mengerucutkan bibirnya.


Panji Watugunung segera menoleh ke arah Ayu Galuh.


"Tentu saja aku juga merindukan mu Dinda Galuh", Panji Watugunung segera memeluk tubuh istrinya yang sedang berbadan dua itu. Perlahan dia mengecup kening putri Daha dengan mesra.


Dua istri Panji Watugunung yang lain, Sekar Mayang dan Cempluk Rara Sunti segera bergegas mendekati suami mereka. Dua perempuan cantik itu juga mendapat ciuman mesra dari sang suami.


"Anggarawati,


Malam ini biarkan Kakang Watugunung bersama ku ya", ujar Sekar Mayang sambil tersenyum kearah Dewi Anggarawati yang sedang menggendong Panji Tejo Laksono.


"Ckckckck...


Kau ini datang datang langsung minta duluan. Enak saja. Tidak bisa Mayang", Ratna Pitaloka mendelik sewot kearah Sekar Mayang.


"Lha kan aku sudah puasa lama, jadi kalau aku minta duluan kan wajar Kangmbok", Sekar Mayang tidak mau kalah.


Dewi Anggarawati tersenyum tipis melihat tingkah mereka berdua.


"Sudah, jangan bertengkar Kangmbok. Aku sudah memutuskan untuk siapa malam ini waktu menemani Kangmas Panji Watugunung", Dewi Anggarawati tersenyum penuh arti.


Semua istri Watugunung langsung menoleh ke arah Dewi Anggarawati. Putri bungsu Adipati Seloageng itu tersenyum sambil menunjuk.


"Malam ini adalah jatah untuk Rara Sunti"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit ❤️ dan komentar 🗣️ nya agar author terus semangat menulis yah 😁

__ADS_1


Selamat membaca 😁😁🙏😁🙏😁😁


__ADS_2