Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Sepasang Pendekar Muda


__ADS_3

Dewi Anggarawati masih juga uring-uringan.


Hatinya gondok setengah mati.


"Dinda, kenapa marah marah terus?


Bisa hilang loh cantik nya",ujar Panji Watugunung sambil tersenyum


"Bodoh amat..


Kakang itu benar-benar mengesalkan ya.


Pengen tak cubit sampai hihhhhh"


Dewi Anggarawati menggeram keras.


"Ya sudah kalau Kakang bikin kesal, besok Kakang pulang saja ke Padepokan Padas Putih.


Biar tak ada lagi yang bikin kesal Dinda" ujar Panji Watugunung seraya hendak melangkah pergi.


Dewi Anggarawati terhenyak.


"Kakang kog gitu sih? Tega ya meninggalkan aku? Hikss hiks..."


Tangis Anggarawati pecah, saat Watugunung berkata seperti itu.


Mendengar tangisan Anggarawati, Watugunung segera berbalik mendekati Dewi Anggarawati lantas memeluk tubuh wanita cantik yang akan jadi istrinya itu.


Anggarawati tersedu sedu sambil balas memeluk erat pinggang Watugunung.


"Sudah jangan menangis lagi. Kakang gak akan meninggalkan Dinda kog" , hibur Watugunung sambil mengelus rambut hitam Anggarawati.


Tangis Anggarawati mereda dengan cepat


Melihat adegan itu, seluruh emban dayang dan pengawal di keputran segera menunduk sambil tersenyum simpul dan tertawa kecil.


'Ah ternyata obat kesurupan setan pasar adalah pelukan calon suami' batin mereka geli


Anggarawati melotot ke arah emban dayang dan pengawal di keputran.


"Kalian mau aku hukum ya?"


Serentak semua orang di keputran berlutut.


"Ampuni kami Gusti Putri", ucap semua orang di keputran kompak.


Belum sempat Anggarawati berkata, Panji Watugunung sudah mencium keningnya.


Plasssss


Rasa marah Anggarawati menghilang seketika.


Dari bibirnya yang mungil, senyum manis mengembang disana.


"Kali ini kalian aku ampuni, awas kalau lain kali berani menertawakan aku", ujar Anggarawati sambil memandang kearah mereka.


"Dinda..."


"Ya Kakang, ..."


"Besok Kakang akan ke Gelang-gelang" ucap Panji Watugunung sambil tersenyum memandang kearah Dewi Anggarawati.


Kembali mata Anggarawati berkaca-kaca.


"Dinda mau ikut tidak??", goda Panji Watugunung.


Seketika wajah cantik Anggarawati berbinar-binar.


"Ikut...", jawab Dewi Anggarawati manja dengan mengerucutkan bibirnya


"Kalau begitu, bersiap lah. Kali ini aku tak mau ada pengawal yang ikut,


Jadi jangan harap ada yang melayani dinda lagi" , ujar Panji Watugunung


"Kakang Watugunung lupa ya,


Bukankah selama di padepokan aku juga mengurus keperluan ku sendiri?", Dewi Anggarawati tersenyum


"Baguslah kalau Dinda Anggarawati sudah mengerti".


Sampai menjelang malam, Panji Watugunung dan Dewi Anggarawati masih berduaan di keputran.


Setelah itu, Dewi Anggarawati meninggalkan keputran menuju ke keputren Seloageng.


Malam itu mereka segera beristirahat sebelum berangkat ke Gelang-gelang.


Pagi menjelang di Kadipaten Seloageng


Suasana ribut sudah terdengar di keputren.


Nararya Candradewi sedang menangis tersedu-sedu. Tadi malam permaisuri Adipati Seloageng itu mendengar bahwa calon mantu dan anaknya akan ke Gelang-gelang membuat Nararya Candradewi tak bisa memejamkan mata.


"Ngger Cah Ayu, apa tidak bisa diundur berangkat ke Gelang-gelang??", tatapan mata Candradewi begitu sedih.


"Kanjeng Ibu, saya calon istri Kakang Panji Watugunung. Harus patuh dan setia pada suami. Kan itu yang Kanjeng Ibu ajarkan pada Anggarawati??", sahut Anggarawati tersenyum tipis


"Tapi Nduk,, Ibu masih kangen sama kamu Nak.."


"Iya Ibu, Anggarawati paham. Tapi Ibu juga harus ingat, Anggarawati itu mau ketemu calon besan Ibu. Calon mertua Anggarawati. Bukankah Ibu sendiri menyetujui perjodohan saya dengan Kakang Watugunung??", potong Anggarawati tersenyum simpul


Nararya Candradewi tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Dewi Anggarawati sudah selesai berdandan.


Dengan kemben hitam, ikat kepala tiga warna, celana hitam selutut, jarit penutup, dan sebilah pedang menggantung di pinggang. Tampilan Anggarawati benar benar seperti pendekar muda persilatan.


Usai berdandan, mereka menghadap ke istana Kadipaten Seloageng. Adipati Tejo Sumirat tertawa melihat dandanan dua orang di hadapannya.


"Hahahaha,


Penampilan kalian seperti sepasang pendekar saja"


"Gusti Adipati,


saya mohon ijin ke Gelang-gelang" ucap Panji Watugunung


"Iya iya, sebagai orang tua aku hanya bisa mendoakan agar perjalanan kalian selamat sampai tujuan.


Watugunung, ingat janji mu padaku", sahut Adipati Seloageng Tejo Sumirat.


"Akan saya ingat Gusti Adipati,

__ADS_1


Kami mohon pamit"


Setelah memberikan hormat, Panji Watugunung dan Dewi Anggarawati mundur dari kamar pribadi Adipati.


Nararya Candradewi yang mendampingi Tejo Sumirat hanya bisa meneteskan air mata.


"Sudah dinda, mereka melakukan kewajiban nya. Doakan semoga Sang Hyang Widhi melindungi mereka", ujar Tejo Sumirat bijaksana.


Panji Watugunung dan Dewi Anggarawati melompat ke atas kuda, mereka melewati pintu samping istana agar tak menarik perhatian.


Kemudian memacu kudanya melesat meninggalkan kadipaten Seloageng.


Menjelang sore, Panji Watugunung dan Dewi Anggarawati sudah mendekati perbatasan Kabupaten Gelang-gelang.


Panji Watugunung turun dari kudanya, lelah seharian berkuda membuat nya ingin melepaskan penat.


Dewi Anggarawati mengikuti langkah Panji Watugunung. Mereka beristirahat di tepi sungai Brantas.


Tiba tiba terdengar sesuatu..


Panji Watugunung berkonsentrasi, menajamkan pendengarannya.


"Ada apa Kakang?", tanya Anggarawati


Ssstttt...


Panji Watugunung memberi isyarat agar Dewi Anggarawati tidak bersuara.


Lalu Panji Watugunung menyambar pinggang Anggarawati melompat keatas pohon randu alas.


Dari kejauhan nampak seorang kakek tua dan 2 orang muda mudi di kepung puluhan orang berbaju hitam.


Pertarungan itu tidak seimbang.


"Kakang, bantu mereka" , bisik Anggarawati


"Kita tidak bisa ikut campur dengan gegabah Dinda",


Ayo kita mendekat"


Panji Watugunung dan Dewi Anggarawati melayang pelan lalu berhenti di sebuah pohon waru besar tak jauh dari tempat pertarungan.


"Hahahaha, hari ini akan ku bunuh kau kakek busuk", teriak seorang lelaki berbadan besar dengan satu mata di tutup kulit lembu.


"Langkahi dulu mayat ku sebelum kau menghadapi guru ku", pemuda berbaju putih geram..


"Dengan senang hati, setelah kau mampus gadis cantik itu jadi gundik ku hahahaha", jawab si mata satu


Phuihhh


"Tak sudi, lebih baik mati daripada melayani nafsu bejat iblis sepertimu", teriak gadis berbaju biru.


Hahahaha


Serang mereka!!!!


Mendengar suara itu, semua orang berbaju hitam bergerak maju.


Pertarungan tidak seimbang terjadi lagi.


Setelah beberapa jurus, baju pemuda itu nampak sobek di beberapa tempat. Luka luka akibat sayatan pedang, menghiasi tubuhnya.


Gadis berbaju biru pun sama.


Situasi kritis terjadi saat seorang berbaju hitam menyabetkan pedang kearah gadis berbaju biru yang sedang lengah.


Pemuda berbaju putih berusaha menolong namun keadaan nya juga terdesak.


Saat pedang orang berbaju hitam hendak menebas leher gadis berbaju biru, tiba tiba sebuah ranting pohon melesat menangkis nya.


Tranggg...


Lemparan ranting pohon bertenaga dalam tinggi, setelah menangkis pedang, berbelok ke arah orang berbaju hitam yang lain.


Creeepp..


Aarrgghhh..


Ranting pohon menancap pada jantung. Orang itu tewas seketika.


Semua orang terkejut, dan mundur dua langkah.


"Keparat,


siapa berani turut campur urusan ku?" teriak si mata satu


Hening


Tidak ada suara apa apa


Whuttt...


Creeepp Aarrgghhh..


Kembali sebuah ranting pohon membunuh seorang anggota rombongan baju hitam.


"Bajingan!!!


Keluar kau! Jangan jadi pengecut !" teriak si mata satu geram.


"Hahahaha,


ternyata begitu saja sudah takut.


Payah..."


Semua orang menoleh ke arah suara itu.


Seorang gadis cantik dan seorang pemuda tampan duduk di atas pohon waru besar.


Panji Watugunung kemudian meraih pinggang Dewi Anggarawati, melayang pelan turun dari pohon. Gerakan mereka seperti bulu, turun di dekat gadis berbaju biru.


Semua orang terkejut bukan main. Sebab ilmu meringankan tubuh mereka sangat luar biasa.


Hanya pendekar berilmu tinggi yang bisa melakukan nya.


"Kalau jantan, jangan main keroyok.


Apa pantas seorang di sebut pendekar jika bertarung main keroyok seperti centeng pasar?" , ujar Panji Watugunung sinis.


"Minggir kau! ini bukan urusan mu!

__ADS_1


Hari ini akan ku cabut nyawa kakek busuk itu"


teriak si mata satu gusar


"Sombong sekali kau, apa kau ini dewa yang bisa seenaknya mencabut nyawa?", Dewi Anggarawati ketus


"Hahahaha, aku Setan Mata Satu. Hari ini akan mewakili dewa mencabut nyawa kalian semua"


Phuihhh


"Lagakmu sudah seperti dewa Yama.


Dinda, mundur.. Akan ku habisi orang sombong ini", perintah Panji Watugunung


Dewi Anggarawati mundur sambil memapah tubuh gadis berbaju biru.


"Kakek tua, mundur.." ucap Dewi Anggarawati


Serahkan saja pada dia"


Panji Watugunung bersiap,


seketika melesat cepat kearah orang orang baju hitam.


Dengan gerakan seperti tak terlihat, dia memukul dan menendang orang orang baju hitam.


Tiga orang tak sempat menghindar, terlempar beberapa tombak. Tubuh mereka menganyam tanah, dan langsung muntah darah segar.


Panji Watugunung terus merangsek masuk ke dalam kerumunan orang orang baju hitam. Dua orang berikut nya terpukul tanpa sempat melihat, wajah mereka lebam dan gigi tanggal.


Satu lagi orang kena tendang langsung terhuyung mundur dan seketika pingsan.


Melihat teman mereka di hajar tanpa melawan sisa anak buah Setan Mata Satu melompat mundur mencabut pedang, lalu melompat maju sambil membabatkan pedang kearah Panji Watugunung.


Panji Watugunung lagi lagi menghilang dari pandangan, membuat anak buah Setan Mata Satu kebingungan.


Lalu terdengar suara


Crashhhh


Aaarghhh


Rupanya saat menghilang dari pandangan, Watugunung menyambar pedang salah satu anggota Setan Mata Satu dan membabat perut 2 orang anak buah nya yang langsung tewas seketika.


Setan Mata Satu melotot melihat cepatnya gerakan Watugunung.


Sementara dari jarak agak jauh, kakek tua, pemuda baju putih, dan gadis berbaju biru melongo melihat kehebatan pemuda itu.


Cuma Dewi Anggarawati saja yang senyum senyum.


Setan Mata Satu mundur, mencabut pedang nya lalu melesat menebas Watugunung.


Karna jarak terlalu dekat, Panji Watugunung menangkis sabetan pedang Setan Mata Satu dengan pedang rampasan nya.


Benturan pedang beraliran tenaga dalam menciptakan ledakan keras.


Blammmm..


Panji Watugunung mundur dua langkah, sedangkan Setan Mata Satu melompat mundur 1 tombak.


Pedang di tangan Panji Watugunung hancur


Lalu Panji Watugunung mencabut Pedang Naga Api.


Hawa panas segera menyebar di sekeliling Panji Watugunung.


Setan Mata Satu melotot melihat Pedang Naga Api di tangan Panji Watugunung yang berwarna merah menyala..


Panji Watugunung memundurkan kaki kiri kebelakang, mengangkat pedang dengan kedua tangan diatas kepala lalu membabatkan pedang kearah Setan Mata Satu


"Tebasan Pedang Dewa,


Hiyattttt...."


Angin tenaga dalam Panji Watugunung berpadu panas Pedang Naga Api menerabas cepat kearah Setan Mata Satu.


Setan Mata Satu berusaha menangkis dengan sabetan pedang hitamnya.


Hawa dingin dari pedang Setan Mata Satu menghadang Tebasan Pedang Dewa dari Panji Watugunung.


Namun, bukan berhenti karena tertabrak angin pedang Setan Mata Satu, hawa panas Tebasan Pedang Dewa terus menerabas kearah Setan Mata Satu.


Crashhhh


Oughhh


Setan Mata Satu melengguh saat Tebasan Pedang Dewa menghantam dada nya.


Setan Mata Satu tewas seketika dengan luka robek besar di dada.


Melihat pemimpin mereka tewas, 3 orang anak buah Setan Mata Satu segera melompat kabur dari tempat itu.


Panji Watugunung menyarungkan kembali Pedang Naga Api.


Lalu berjalan menuju Dewi Anggarawati.


Kakek tua, pemuda baju putih dan gadis berbaju biru segera bergegas menghampiri mereka.


"Terimakasih pendekar atas bantuannya", ucap kakek tua itu sambil memberi hormat,


"Kalau tidak ada pendekar mungkin kami sudah di bantai setan itu".


"Sudah lah kek, aku hanya kebetulan lewat saja.


Ayo Dinda kita pergi".


"Tunggu pendekar muda, aku Ajar Panitih belum membalas budi baik mu", potong kakek tua itu, " mohon pendekar muda bersedia mampir ke tempat ku. Tidak jauh dari sini"


Panji Watugunung memandang Dewi Anggarawati, melihat gadis itu mengangguk, Panji Watugunung segera mengikuti kakek tua dan dua murid nya itu..


.


.


.


.


.


*bersambung*

__ADS_1


__ADS_2