Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Melawan Paman Guru


__ADS_3

Bayangan hitam itu terus berlari. Sesampainya di perkemahan pasukan Panji Watugunung, bayangan hitam itu segera mendekati tenda besar yang ada di tengah.


Didalam tenda, rupanya Panji Watugunung sudah duduk berhadapan dengan Tumenggung Wiguna, Tumenggung Adiguna, dan Tumenggung Koncar.


"Sudah siap Kakang Watugunung, tinggal menunggu perintah mu", ujar si bayangan hitam yang tak lain adalah Dewi Tunjung Biru usai masuk ke dalam tenda besar.


Panji Watugunung segera menoleh kearah ketiga tumenggung di hadapannya.


"Sekarang saat nya kalian berangkat".


Ketiga Tumenggung itu segera menghormat pada Panji Watugunung dan segera bergegas menggerakkan pasukannya.


Pagi buta di istana Pakuwon Watugaluh, matahari belum menunjukkan wajahnya di ufuk timur. Suara kokok ayam jantan masih bersahutan ramai.


Tuuuttttttttttttt


Suara terompet tanduk kerbau berbunyi nyaring sekali, tanda perang berbunyi, mengagetkan para penghuni istana Pakuwon Watugaluh yang baru berpesta pora.


Suasana di dalam istana Pakuwon Watugaluh langsung kacau balau.


10 prajurit berbadan kekar, sedang memanggul sebuah kayu gelondongan besar di depan gerbang barat istana Pakuwon Watugaluh.


"Satu


Dua


Tiga


Yoooookkk..."


Brukkk!!!


Kayu gelondongan besar itu menghantam pintu gapura barat istana Pakuwon Watugaluh dengan keras, namun belum berhasil menjebolnya.


Beberapa orang yang berjaga sekuat tenaga menahan pintu gerbang agar tidak jebol.


Suasana semakin gaduh, ratusan anggota Bukit Jerangkong dan Bukit Hitam yang masih setengah mabuk langsung menuju gerbang barat istana Pakuwon Watugaluh.


Janamerta alias si Pedang Iblis yang baru bangun tidur dan masih pusing akibat mabuk arak beras ketan, geram sekali. Dia bangun tidur karena terganggu oleh keributan para anggotanya.


Setan Pengkor yang kebetulan mengetahui situasi ini, segera mendekati Janamerta.


"Kakang Janamerta,


Pasukan Daha berusaha menjebol gerbang barat istana. Apa yang harus kita lakukan??", lapor Setan Pengkor pada Janamerta alias si Pedang Iblis.


"Kurang ajar!!


Cecunguk itu sudah mengganggu tidur ku.


Pengkor, bangunkan guru. Aku akan ke gerbang barat istana sekarang.


Cepat!".


Usai berteriak, Janamerta alias si Pedang Iblis segera bergegas menuju ke gerbang barat. Sementara Setan Pengkor segera bergegas membangunkan Iblis Bukit Jerangkong.


Seratus prajurit pemanah Anjuk Ladang sudah membidik kearah pintu gerbang. Begitu gerbang terbuka, mereka akan langsung menembakkan anak panah nya.


Para prajurit berbadan kekar itu terus mendorong kayu gelondongan besar itu kearah pintu gerbang barat istana Pakuwon Watugaluh.


Brukkk!!!


Masih belum berhasil mendobrak masuk. Namun pintu gerbang barat istana mulai retak..


Dewa Rampok dan Pedang Iblis yang baru saja tiba langsung melesat cepat keatas tembok istana.


Tumenggung Koncar yang melihat kedatangan mereka berdua langsung memerintahkan kepada pasukan pemanah untuk melepaskan anak panah kearah Janamerta alias si Pedang Iblis dan Dewa Rampok yang hendak hinggap di atas tembok istana Pakuwon Watugaluh.


"Panah mereka!"


Sring sringggg sringgg....


Ratusan anak panah melesat cepat mengincar Janamerta dan Dewa Rampok. Dua orang petinggi pasukan dari Jenggala itu terkejut melihat ratusan anak panah mengancam nyawa mereka.


Dua orang pendekar golongan hitam itu segera bersalto mundur sambil mengibaskan tangannya yang di lambari ilmu tenaga dalam.


Trang traaakk!


Kibasan angin tenaga dalam membuat beberapa anak panah hancur berkeping keping. Namun yang lolos terus menghajar para anggota Padepokan Bukit Jerangkong yang di belakang mereka berdua.


Creeppp creppp


Aughhhhh! Arrgghhhh!


Jerit memilukan hati akibat hujan anak panah terdengar kemudian.


"Bangsat!!! Mereka rupanya sudah melakukan persiapan sebelum menyerang", teriak Janamerta geram.


Bruakkk!!!


Kembali hantaman kayu gelondongan besar itu menghantam pintu gerbang barat istana Pakuwon Watugaluh.


"Guru, gerbang istana ini tidak akan bertahan lebih lama lagi. Apa yang harus kita lakukan??, teriak salah satu anggota Bukit Jerangkong yang menahan pintu gerbang.


Belum lagi Janamerta menjawab dari belakang, muncul Iblis Bukit Jerangkong dan Setan Pengkor.


"Kalau mereka menerobos masuk, kita bantai mereka", teriak Iblis Bukit Jerangkong dengan pongah.

__ADS_1


Bruakkk!!!


Pintu gerbang barat istana Pakuwon terbuka lebar. Para pendobrak segera tiarap. Ratusan anak panah melesat kencang mengancam nyawa anggota Bukit Jerangkong dan Bukit Hitam.


"Berlindung!! Cepat berlindung!!!", teriak Dewa Rampok pada anggota Bukit Jerangkong dan Bukit Hitam segera melompat mencari perlindungan namun yang terlambat menghindar langsung menjadi sasaran empuk anak panah dari pasukan Anjuk Ladang.


Creppp Creeppp crepp..


Argh!! Arrgghhhh!


Kembali jerit kesakitan akibat tusukan anak panah terdengar menyayat hati.


"Serbu mereka!!!", teriak Tumenggung Koncar. Pasukan Anjuk Ladang segera menerjang maju.


Anggota Bukit Jerangkong dan Bukit Hitam langsung menyongsong mereka.


Terompet tanduk kerbau berbunyi nyaring lagi.


Disaat yang bersamaan, di gerbang selatan istana. Rajegwesi, Jarasanda dan Ludaka segera mengangkat palang kayu pintu gerbang.


Di depan pintu gerbang selatan, Panji Watugunung dan pasukannya sudah bersiap siap.


Kriettttt


Begitu pintu terbuka lebar, mereka langsung menyerbu masuk ke istana Pakuwon Watugaluh.


"Sesuai perkiraan Gusti Pangeran, mereka semua bergerak ke gerbang barat istana", lapor Ludaka sambil menghormat pada Panji Watugunung.


"Bagus,


Ayo kita bebaskan Watugaluh", teriak Panji Watugunung yang segera di balas teriakan semangat pasukannya. Mereka menyerang maju bagai air bah.


Saat pandangan Iblis Bukit Jerangkong dan Dewa Rampok tertuju pada pasukan Anjuk Ladang, terdengar teriakan keras dari anggota mereka di belakang.


"Kita di kepung. Kita di kepung"


Iblis tua itu segera menoleh ke belakang dan benar saja, ratusan prajurit menyerang dari sisi selatan.


"Bangsat!!!


Habisi mereka semua", teriak Iblis Bukit Jerangkong dengan geram.


Jumlah mereka yang kalah jauh membuat satu persatu anak buah Bukit Hitam dan Bukit Jerangkong tewas bersimbah darah.


Pedang Iblis segera melesat cepat ke arah Panji Watugunung dan ketiga selir nya. Ratna Pitaloka segera mencabut Pedang Bulan Kembar nya dan menyongsong si Pedang Iblis.


Tranggg


Denting pedang beradu langsung terdengar saat mereka bertarung.


Ratna Pitaloka mengayunkan pedang di tangan kanan nya, si Pedang Iblis menangkis dengan pedang nya, namun pedang di tangan kiri Ratna Pitaloka segera bergerak menebas perut.


Selir tertua Panji Watugunung itu segera menangkis sabetan pedang dari atas itu, dan tangan kanan nya mengayunkan Pedang Bulan Kembar.


Whuttttt


Si Pedang Iblis segera menangkis sabetan pedang Ratna Pitaloka dengan pukulan tangan kiri nya yang sudah di berubah warna menjadi hijau kemerahan.


Sreeetttttt


Blammm!!!


Ledakan keras terdengar dari benturan dua tenaga dalam tingkat tinggi itu.


Ratna Pitaloka dan Pedang Iblis sama sama terdorong mundur beberapa langkah.


'Perempuan tengik ini rupanya memiliki kemampuan kanuragan tinggi', batin si Pedang Iblis sambil mengusap darah yang mengalir dari sudut bibirnya.


Ratna Pitaloka sesak nafas nya. Dari benturan tadi, terlihat tenaga dalam mereka hanya berbeda sedikit.


Sementara itu Dewa Rampok segera mencabut sepasang pedang pendek nya saat Warigalit menerjang kearah nya. Tombak Angin Warigalit menusuk lurus mengincar ulu hati nya.


Tringgg


Percikan bunga api tercipta dari benturan dua senjata pusaka. Warigalit bersalto di udara dua kali dan melayangkan tendangan keras ke bahu kiri Dewa Rampok.


Deshhh


Pemimpin Bukit Hitam itu terhuyung ke depan dan segera memutar tubuhnya.


"Bangsat,


Ku cincang tubuh mu".


Dewa Rampok melesat cepat ke arah Warigalit sambil menyabetkan pedang pendek nya. Warigalit bersiap dengan memutar Tombak Angin nya. Lalu dengan cepat menjejak tanah dengan keras dan melesat ke arah serangan Dewa Rampok.


Pertarungan sengit kembali terjadi di gerbang barat istana Pakuwon Watugaluh.


Sekar Mayang yang meladeni permainan tongkat Setan Pengkor, dengan tenang terus bergerak lincah dan gesit menghindari serangan kakek tua berkaki pengkor itu sambil sesekali menyerang dengan Selendang Es nya.


Dewi Srimpi yang menghadapi adik seperguruan Dewa Rampok yang berjuluk Bidadari Bengis dengan Pedang Kelabang Sewu nya, mampu menyudutkan perempuan itu. Beberapa kali tendangan dan pukulan sudah mendarat di tubuh adik seperguruan Dewa Rampok itu.


Tumenggung Wiguna terus merangsek maju dengan pedangnya, membantai setiap lawan yang di jumpai nya. Rasa kesal karena kekalahan kemarin, menjadi semangat tersendiri untuk membantai pasukan pengacau itu.


Jarasanda mengamuk dengan bersenjata keris Kyai Klotok nya. Pakaian nya sudah berwarna merah darah dari hasil pertarungan nya.


Ki Saketi, Tumenggung Koncar, Ludaka dan Landung terus bertarung bagai banteng ketaton.

__ADS_1


Jumlah anggota Bukit Jerangkong dan Bukit Hitam terus menyusut dengan cepat.


Pedang Iblis terus merangsek ke arah Ratna Pitaloka dengan serangan pedang bertubi-tubi. Namun irama permainan pedang Ratna Pitaloka sama sekali tak berubah.


Janamerta mengayunkan pedangnya ke arah leher Ratna Pitaloka, namun perempuan itu hanya merendahkan tubuhnya nya sambil menangkis sabetan pedang Janamerta alias si Pedang Iblis dengan pedang di tangan kanan nya, dan pedang di tangan kirinya langsung menyambar paha kiri Pedang Iblis.


Crashhhh


Aaarghhh


Paha kiri Janamerta robek. Ratna Pitaloka segera memutar tubuhnya dan melayangkan tendangan keras ke perut Pedang Iblis.


Deshhhhh


Pedang Iblis terpental ke belakang namun saat hendak menyusruk tanah, Iblis Bukit Jerangkong menyambar tubuhnya dan menghantamkan tangan kanan yang sudah berwarna hijau kemerahan.


Siuuuttttt


Sinar hijau kemerahan menerabas cepat kearah Ratna Pitaloka.


Panji Watugunung yang melihat kejadian itu langsung merapal Ajian Tameng Waja dan menghadang sinar hijau kemerahan dari tangan Iblis Bukit Jerangkong.


Dhuarrrr!


Ledakan dahsyat terjadi. Iblis Bukit Jerangkong yang melayang turun sambil membawa Pedang Iblis menyeringai lebar.


"Mampus kau"


Semua orang terkejut melihat kejadian itu. Hanya Warigalit, Sekar Mayang dan Dewi Srimpi saja yang tetap tenang.


Asap mengepul perlahan menghilang. Perlahan punggung Panji Watugunung mulai terlihat. Seringai lebar Iblis Bukit Jerangkong langsung lenyap.


Mata kakek tua bertubuh kurus itu melotot menyaksikan tubuh Panji Watugunung tidak tergores sama sekali. Sinar kuning keemasan melingkupi seluruh tubuh Panji Watugunung.


Lalu Panji Watugunung yang sedang memeluk tubuh Ratna Pitaloka berdiri dan menoleh kearah Iblis Bukit Jerangkong.


"Bedebah!


Apa hubungan mu dengan Mpu Narasima ha?", teriak Iblis Bukit Jerangkong keras.


"Mpu Narasima adalah guru ku. Kenapa kau nampak terkejut Paman Guru Dadung Awuk?", Panji Watugunung tersenyum lebar saat memanggilnya nama asli Iblis Bukit Jerangkong.


"Huhhh keparat!


Pantas kau jumawa, berani menghadang Tapak Setan Neraka ku.


Hari ini aku masih berbaik hati pada mu mengingat kau murid Mpu Narasima. Pergilah!


Jangan campuri urusan ku", Iblis Bukit Jerangkong alias Dadung Awuk menatap tajam ke arah Panji Watugunung.


"Maafkan aku Paman Guru Dadung Awuk. Aku adalah abdi Daha. Tugasku melindungi setiap wilayah Daha dari serangan musuh. Kalau Paman Guru tidak ingin bertarung dengan ku, silahkan paman tinggalkan tempat ini. Tapi kalau paman memaksakan kehendak, jangan salahkan aku bertindak diluar norma kesopanan", Panji Watugunung segera melepaskan pelukan nya pada Ratna Pitaloka. Perempuan cantik itu langsung bergegas menjauh dari Panji Watugunung.


"Brengsek,


Berani sekali kau memerintah aku. Sudah bosan hidup kau rupanya ha", Iblis Bukit Jerangkong mulai gusar.


"Bosan hidup? Ah tidak juga. Tapi kalau harus hidup dan membiarkan tingkah laku mu yang semena-mena, maaf aku tidak bisa Paman Guru", Panji Watugunung tetap tenang.


"Bocah kurang ajar,


Ku bunuh kau!!!", Iblis Bukit Jerangkong segera melompat ke udara dan melesat turun dengan cepat kearah Panji Watugunung. Putra Bupati Gelang-gelang itu segera menyiapkan kuda kuda nya, dan berteriak keras.


"Majulah Paman Guru"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Beberapa episode perang terus ya??😁


Bosen gag kawan?? 🤔🤔🤔


Ya memang ini alurnya, jadi tetap berpegang pada alur cerita kisah ini.


Author mengucapkan terima kasih banyak atas dukungannya terhadap cerita ini ya 😁👍👍

__ADS_1


Semoga para reader tetap setia menemani perjalanan Kang Panji Watugunung sampai tamat 🙏🙏🙏🙏🙏


Selamat membaca guys 😁😁


__ADS_2