
Nyai Polok murka melihat serangan ilmu pangiwa nya pada Mpu Guritno mental di tangan Mpu Sukrasana. Setelah berkomat-kamit sebentar, dari dua telapak tangannya muncul dua bola api sebesar buah kelapa.
Dengan cepat, Nyi Polok melempar bola api itu kearah Mpu Sukrasana.
Plassshh!!
Bagai kilat, bola api melayang cepat kearah kakek tua berjenggot putih itu yang terus memutar tasbih biji genitri di tangan kanan nya.
Mpu Sukrasana melompat tinggi ke udara menghindari hantaman bola api yang mengancam nyawa nya sambil menyiram kaki dan tangannya dengan air suci.
Bola api itu seperti hidup dan memutar arah menyerang ke arah Mpu Sukrasana yang dengan lincah berjumpalitan di udara.
Whussss
Sambil mengerahkan tenaga dalam nya, Mpu Sukrasana menendang salah satu bola api kearah Nyi Polok.
Bola api melesat cepat menuju ke arah perempuan bertudung merah darah itu. Nyi Polok terkejut dan melompat menghindari hantaman bola api itu. Surenggono langsung menarik tangan Nyi Pundi agar terhindar dari hantaman bola api yang menerabas cepat kearah pondok kayu Nyi Polok.
Singggg....
Blammmm!!
Gubuk kayu Nyi Polok meledak seketika dan hancur berantakan akibat hantaman bola api.
Amarah Nyi Polok semakin meluap. Perempuan yang wajahnya selalu tertutup bayangan tudung merah darah itu gemeretak gigi nya.
Tangan kiri Nyi Polok berputar cepat. Kemudian dari dalam tanah, muncul sulur sulur tumbuhan merambat yang seperti memiliki nyawa. Panji Watugunung dan Warigalit serta Mpu Guritno dan lelaki bertubuh ceking terkejut bukan main. Mereka segera bersiap siap.
Saat tangan Nyi Polok mengibas ke depan, dengan cepat sulur tumbuhan itu bergerak menuju ke arah Panji Watugunung dan rombongannya.
Mpu Sukrasana dan Mpu Soma segera merapal mantra perlindungan yang membuat sulur tumbuhan merambat itu menghindari mereka namun tidak dengan Panji Watugunung dan rombongan yang di belakang.
Panji Watugunung segera melompat menghindari sulur tumbuhan yang hendak membelitnya, Warigalit pun segera memutar Tombak Angin nya dan dengan cepat memotong sulur tumbuhan merambat itu.
Crashhhh
Sulur tumbuhan itu terpotong namun dengan cepat pula ujung sulur tumbuhan yang terpotong itu membelah menjadi dua bagian dan kembali menyerang ke arah Warigalit.
Warigalit yang kaget melihat itu semua, segera menyadari bahwa yang dihadapi adalah sihir segera melesat cepat menghindari gerakan sulur tumbuhan merambat itu.
Panji Watugunung dan Warigalit lolos, tapi Mpu Guritno dan Sanggem, si lelaki bertubuh ceking itu meski mencoba untuk menjauh tapi gerakan mereka berdua kalah cepat dari sulur tumbuhan merambat. Mereka segera terbelit sulur yang makin lama makin erat mengikat tubuh mereka.
"Tolong kami", teriak Sanggem yang menyadarkan Panji Watugunung dengan keberadaan mereka. Setelah membaca mantra perlindungan Rajah Kala Cakra Buana, Panji Watugunung segera mencabut Pedang Naga Api yang ada di punggungnya dan melesat cepat menuju ke arah Mpu Guritno dan Sanggem yang di belit sulur tumbuhan.
Hawa panas menyengat seketika menyebar ke seluruh udara di sekitar tempat itu.
Pusaka ampuh itu membuat baik Nyi Polok dan Mpu Sukrasana terkejut melihat nya. Sebab selain kekuatan kanuragan, pusaka itu juga memiliki daya batin yang mengerikan.
Panji Watugunung segera mengayunkan Pedang Naga Api nya.
Crashhhh
Sulur tumbuhan merambat itu langsung terpotong dan membebaskan Mpu Guritno dan Sanggem yang nyaris mati kehabisan nafas. Anehnya sulur itu tidak tumbuh lagi seperti tadi.
Melihat itu, Panji Watugunung segera bergerak cepat memotong setiap ujung sulur tumbuhan merambat yang hendak menyerang.
Crashhhh
Crashhhh
Dengan Ajian Sepi Angin nya, gerakan cepat bagai kilat Panji Watugunung mampu memotong sulur sulur sampai ke tempat asal makhluk itu.
Nyi Polok mengibaskan tangannya, menciptakan angin dingin sebagai pelindung tubuhnya saat Panji Watugunung melompat tinggi ke udara dan melesat turun dengan menyabetkan Pedang Naga Api nya ke arah leher Nyi Polok.
Whuuuutt
Perisai angin membuat serangan Panji Watugunung tertahan dan mendorong tubuh Watugunung ke belakang. Pria itu segera bersalto dua kali kebelakang dan mendarat dengan sempurna di samping Warigalit dan Mpu Guritno serta Sanggem.
Mpu Soma terus merapal mantra penyucian jiwa sementara Mpu Sukrasana menangkupkan kedua tangan di depan dada.
Melihat lawan semakin menaikkan tingkat kemampuan nya, Nyi Polok kemudian memejamkan matanya sambil merapal mantra pamungkas ilmu pangiwa nya.
Haaaaarrrgggghhh!
Perlahan tubuh kurus Nyi Polok membesar. Dari dahinya perlahan muncul tanduk sementara dari tengah punggungnya muncul semacam duri yang tajam.
Mpu Sukrasana dan Mpu Soma segera mundur beberapa langkah sambil melihat perubahan wujud Nyi Polok yang berubah menjadi makhluk besar dengan tanduk dan ekor runcing seperti sengat kalajengking. Mulut nya bertaring dan terus meneteskan air liur seakan ingin memakan korban.
"Rupanya kau sudah bersekutu dengan iblis, Polok!
Kau tidak boleh hadir di dunia manusia lagi", ujar Mpu Sukrasana yang segera mencabut keris yang senantiasa ada di pinggang nya.
"Huahahaha...!!
__ADS_1
Coba saja kau kalahkan aku Kakang Sukrasana. Dewa Yama sudah memberikan kekuatan kepada ku", tawa keras Nyi Polok terdengar menakutkan.
Mpu Soma segera menyiram keris pusaka Mpu Sukrasana dengan air suci yang selalu dibawanya.
Tiba keris pusaka itu bersinar terang dengan cahaya kekuningan yang menyilaukan mata.
"Kakang Warigalit, Ki Lurah, dan kau ceking..
Cepat menjauh!", teriak Panji Watugunung yang membuat Warigalit, Mpu Guritno dan Sanggem segera mundur menjauhi bekas pasangan suami istri yang hendak mengadu ilmu kebatinan.
Mpu Sukrasana segera melenting tinggi ke udara saat makhluk besar itu menyabetkan ekornya kearah Mpu Sukrasana. Saat di udara, Mpu Sukrasana merubah gerakan tubuhnya dan bermaksud menusuk jantung makhluk besar penjelmaan Nyi Polok dengan keris pusaka nya.
Belum sempat menyentuh kulit mahkluk itu, tiba-tiba tangan makhluk itu bergerak mengibas ke arah Mpu Sukrasana.
Whuuuutt
Mpu Sukrasana terkejut dan langsung menyilangkan tangan di depan dada, namun tubuh kakek tua itu terlempar ke belakang sejauh empat tombak terdorong angin kibasan tangan.
Setelah menjejak tanah, Mpu Sukrasana kembali menyerang maju. Kali ini dia mengincar perut makhluk jadi-jadian itu. Namun lagi lagi dengan cepat, makhluk itu menghindar seraya menghantamkan tangan nya.
Mpu Sukrasana harus berjumpalitan menghindari hantaman makhluk jadi-jadian itu yang lantas menghajar pohon randu alas yang ada disana.
Brakkkk
Pohon randu alas langsung roboh terkena hantaman makhluk itu.
Melihat Mpu Sukrasana kerepotan mengurus makhluk itu, Mpu Soma segera memutar tasbih kayu stigi nya kemudian melesat cepat ke arah makhluk mengerikan itu sambil menghantamkan tangan kanan nya yang sudah di lumuri air suci.
Deshhhhh
Hoaarrggghhhh
Makhluk penjelmaan Nyi Polok meraung keras saat tangan kanan Mpu Soma menghantam perutnya. Tubuh besar nya terhuyung huyung mundur, Mpu Sukrasana tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.
Kakek tua itu segera melompat ke udara dan dengan cepat menusukkan keris pusakanya kearah dada kiri makhluk jadi-jadian itu.
Jleppp
Hoaarrggghhhh!!
Makhluk penjelmaan Nyi Polok itu terhuyung mundur dan roboh menghantam tanah dengan keras.
Perlahan tubuh mahkluk itu menyusut saat asap hitam pekat mulai keluar dari tubuhnya. Tubuhnya terus mengecil, kembali ke wujud perempuan tua Nyi Polok.
Dengan mata berair, Nyi Polok menatap ke arah Mpu Sukrasana.
Maafkan aku", suara Nyi Polok terdengar lirih.
Mpu Sukrasana segera melompat mendekati bekas istri nya itu.
"Kau harusnya mendengar omongan ku Polok.
Jika dari awal kau mau mendengar omongan ku, tentu tidak ada kejadian seperti ini", ujar Mpu Sukrasana dengan penuh nada sesal. Bagaimanapun juga, Nyi Polok adalah bekas istri nya. Mereka pernah bahagia dan memiliki seorang putra, namun sang putra tewas oleh serangan perampok yang menyerang kediaman mereka. Itu yang membuat Nyi Polok menaruh dendam, dan nekat mempelajari ilmu pangiwa demi membalas kematian sang putra.
"Aku.. Aku tidak menyesal karena sudah menjadi pembunuh untuk penjahat yang menghabisi putra ku Kakang Sukrasana.
Aku hanya berharap Ka..Kakang Sukrasana memaafkan ku", ujar Nyi Polok dengan suara yang terus melemah. Darah terus mengalir dari luka tusukan keris pusaka Mpu Sukrasana yang masih menancap di dada kiri nya.
"Aku sudah memaafkan mu Polok, aku tidak pernah menyalahkan mu untuk kematian putra kita", Mpu Sukrasana tersenyum kecut menatap wajah Nyi Polok yang memucat.
"Terimakasih banyak Kakang Sukrasana", Nyi Polok lantas mencabut keris yang menancap di dada kiri nya.
Perempuan itu segera muntah darah dan dengan tersenyum tipis dia menatap wajah Mpu Sukrasana sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.
Tak terasa air mata menetes dari sudut mata Mpu Sukrasana.
Semua orang terdiam sejenak melihat kejadian itu.
Nyi Pundi melihat Nyi Polok tewas, diam diam melangkah mundur dari tempat itu bersama Surenggono.
Namun Mpu Guritno yang melihat gelagat mencurigakan Nyi Pundi, segera melemparkan keris nya.
Whuuuutt
Melihat itu, Nyi Pundi segera menarik tangan Surenggono yang ikut berlari disampingnya. Rupanya dia menjadikan Surenggono tameng dari serangan Mpu Guritno.
Creeppp
Punggung Surenggono langsung tertembus keris Mpu Guritno. Pria itu tak menduga, bahwa dia akan dijadikan tumbal pelarian Nyi Pundi, wanita yang dicintainya. Mata Surenggono melotot sesaat sebelum tewas dengan keris menancap di punggung.
Nyi Pundi terus berlari menembus hutan lebat itu. Namun sebuah ranting kayu kering melesat cepat menuju ke leher nya.
Creeppp
__ADS_1
Arghh!!!
Perempuan cantik mantan kembang tledek keliling itu menjerit keras saat ranting kayu kering menembus tenggorokannya.
Sesaat kemudian dia kejang meregang nyawa dengan darah menyembur dari luka di leher nya. Nyi Pundi tewas bersimbah darah.
Warigalit menatap ke arah Panji Watugunung segera usai melihat kematian Nyi Polok.
"Tumben kau bisa tegas pada perempuan Dhimas Pangeran", ujar Warigalit seraya tersenyum tipis.
"Kejahatan nya terlalu berat Kakang. Kalau sampai dibiarkan hidup, bukan tidak mungkin dia akan kembali lagi ke Padelegan dan menyebabkan malapetaka bagi orang tidak berdosa lagi", jawab Panji Watugunung sambil menepuk telapak tangannya yang kotor. Yuwaraja Panjalu itu segera bergegas mendekati Mpu Sukrasana dan Mpu Soma yang masih duduk di samping mayat Nyi Polok. Warigalit segera mengikuti langkah sang Pangeran Daha.
"Mohon maaf jika hamba lancang Gusti Pangeran.
Mohon ijin untuk menyucikan jasad Nyi Polok dengan api Gusti Pangeran. Hamba tahu, kejahatannya terlalu besar. Tapi walaupun begitu, dia tetap bagian dari hidup hamba.
Mohon Gusti Pangeran Panji Jayengrana mengijinkannya", ujar Mpu Sukrasana sambil menghormat.
"Aku tidak keberatan dengan permintaan mu, Resi Guru.
Lakukan saja sesuai dengan harapan mu, aku akan meminta Lurah Wanua Padelegan untuk menyiapkan bahan upacara yang dibutuhkan", jawab Watugunung sambil tersenyum simpul.
Mpu Sukrasana tersenyum tipis mendengar jawaban Panji Watugunung. Kakek tua itu kemudian menggendong jasad bekas istri nya keluar dari hutan angker diikuti oleh Panji Watugunung, Warigalit, Mpu Soma, Mpu Guritno dan Sanggem.
Mayat Surenggono dan Nyi Pundi dibiarkan tergeletak begitu saja. Tak berapa lama kemudian, datang kawanan serigala yang mencium bau amis darah. Kawanan serigala itu langsung mencabik-cabik tubuh Surenggono dan Nyi Pundi. Mereka berpesta pora dengan memakan daging pasangan selingkuh itu. Mereka layak mendapatkan karma perbuatan mereka.
Sekar Mayang, Naganingrum dan Dewi Srimpi segera berlari mendekati Panji Watugunung yang datang bersama dengan Mpu Sukrasana, Mpu Soma dan Lurah Wanua Padelegan serta Sanggem.
"Akang Kasep,
Akang teh baik baik saja na?", tanya Naganingrum sambil memperhatikan sekujur tubuh Panji Watugunung.
"Kakang baik baik saja, Naganingrum. Kau tidak usah mencemaskan keadaan Kakang", jawab Panji Watugunung sambil tersenyum penuh arti.
"Syukurlah Akang Kasep baik baik saja, Naganingrum mah khawatir atuh Kang", Naganingrum tersenyum malu-malu.
"I-itu siapa Kakang Watugunung? Yang di gendongan Mpu Sukrasana itu?", tanya Sekar Mayang sambil menunjuk ke arah jasad Nyi Polok.
"Itu adalah bekas istri Mpu Sukrasana. Sekarang kau diam dulu, jangan banyak tanya.
Ki Lurah,
Siapkan upacara pemakaman untuk Nyi Polok segera", perintah Panji Watugunung yang segera di sambut anggukan kepala oleh Mpu Guritno.
Selepas itu, Panji Watugunung memerintahkan kepada dua orang prajurit Kadiri untuk meminta Demung Gumbreg mengirim bantuan bahan makanan dan obat-obatan ke Wanua Padelegan. Dua orang prajurit itu langsung menghormat dan bergegas melompat ke atas kuda mereka menuju ke arah Kayuwarajan Kadiri.
Sore itu, dilakukan upacara penyucian jiwa Nyi Polok. Mpu Sukrasana dengan pakaian putih dan bunga kamboja di telinga kanannya, menyulut tumpukan kayu kering di bawah jasad Nyi Polok.
Dengan cepat, api membakar kayu kering hingga berkobar.
Mata Mpu Sukrasana berkaca-kaca saat melihat kobaran api yang membakar jasad Nyi Polok.
"Tenanglah Nyi Polok dalam tidur panjang mu,
Kau sekarang bersama putra kita di nirwana"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁
__ADS_1
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit ❤️ dan komentar 🗣️ nya agar author terus semangat menulis yah 😁
Selamat membaca 🙏🙏🙏