Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Kegelisahan Sang Adipati Paguhan


__ADS_3

"Apa kau bilang?!


Berani sekali kau memaksa Ayahanda Prabu Darmaraja untuk tunduk pada keinginan mu", Pangeran Langlangbumi berdiri dari tempat duduknya. Dia marah mendengar syarat yang diajukan oleh Panji Watugunung.


"Cukup Langlangbumi,


Jangan kau memperkeruh suasana", Prabu Darmaraja menenangkan hati Pangeran Langlangbumi.


"Tapi Ayahanda, menyetujui persyaratan nya sama saja kita membiarkan Panjalu menindas paman Gandakusuma", Langlangbumi masih juga tidak bisa menerima kenyataan.


"Dengar putra ku,


Paguhan adalah wilayah Panjalu. Meski Gandakusuma itu saudara jauh ku, tapi kekuasaannya di wilayah Panjalu. Kita tidak bisa memaksa Panjalu untuk tidak menertibkan wilayah mereka. Kita tidak berhak ikut campur dalam urusan dalam negeri mereka.


Membantu Gandakusuma sama dengan kita menabuh genderang perang melawan Panjalu.


Ayahanda Jayabhupati sudah mewanti-wanti agar kita tidak bermusuhan dengan Airlangga dan keturunannya. Dan aku akan melaksanakan amanat itu, Langlangbumi.


Lagipula,


Aku juga tidak bisa membiarkan masa depan putri bungsu ku rusak hanya karena ulah Gandakusuma. Lebih baik kehilangan satu saudara jauh dari pada menghancurkan masa depan putri kesayangan ku", ucapan Prabu Darmaraja seketika membuat Pangeran Langlangbumi terdiam. Ayahanda rupanya benar benar bijaksana dan dalam pemikirannya, batin Langlangbumi.


Sang Raja Galuh Pakuan lantas menoleh kearah Panji Watugunung yang sedang mendengarkan percakapan ayah dan anak itu.


"Anak muda,


Ku akui bahwa kau benar-benar cerdas dan pintar. Kau membuatku mau tidak mau menuruti kemauan mu, meski kau melakukan nya tanpa sengaja.


Bagus, kau benar benar berbakat. Akan ku penuhi permintaan mu, sebagai syarat pernikahan mu dengan putri ku.


Tapi sebelum membahas pernikahan, jelaskan alur keluarga mu, agar Resi Buyut Gunung Galunggung bisa dengan mudah menentukan hari pernikahan mu dengan Naganingrum".


"Ampun Gusti Prabu,


Panji Watugunung adalah putra Bupati Gelang-gelang, Panji Gunungsari. Panji Gunungsari adalah sepupu Prabu Airlangga dari pihak ibu. Jadi bila masih diakui, kami adalah keturunan Lokapala dan Isyana Tunggawijaya. Bila ditarik ke atas, Galuh Pakuan dan Panjalu masih satu garis keturunan dari Ratu Shima dari Kalingga", ujar Panji Watugunung segera menghormat.


Semua orang di dalam Puri agung terkejut mendengar ucapan Panji Watugunung. Resi Buyut Gunung Galunggung pun mengagumi luasnya pengetahuan yang di miliki oleh Panji Watugunung.


Prabu Darmaraja tersenyum simpul, ucapan Panji Watugunung mengingatkan nya pada kata kata Sang Prabu Jayabhupati kala itu.


Senja itu mereka berbincang hangat. Panji Watugunung meminta agar pernikahan dengan Dewi Naganingrum di percepat karena khawatir dengan pasukan Daha yang mungkin sudah hampir sampai di Kalingga.


Akhirnya di putuskan, pernikahan mereka dilaksanakan pada neptu Anggara pasaran Kasih Wuku Tambir, atau 2 hari lagi.


Malam itu, ketiga selir Panji Watugunung dan Lawana serta Trajutrisna dipersilahkan untuk beristirahat sedangkan Panji Watugunung harus menemani Dewi Naganingrum untuk makan malam.


"Akang kasep,


Hayuk di makan mumpung masih hangat", ujar Dewi Naganingrum sambil tersenyum simpul mempersilakan Panji Watugunung segera makan.


"Hatur nuhun Gusti Putri", Panji Watugunung menjawab dengan bahasa Galuh nya yang kagok.


"Eh akang kasep henteu kenging nyauran abdi dengan sebutan Gusti Putri..


Kan sebentar lagi Akang kasep jadi suami Naganingrum", ujar Dewi Naganingrum dengan tersenyum malu-malu. Mukanya memerah seperti tomat matang.


Perempuan itu lalu mengambilkan nasi dan pepes ikan mas serta urap sayur pada piring lalu menyodorkan pada Panji Watugunung.


"Lalu bagaimana cara ku memanggil mu Gusti


Putri?", Panji Watugunung segera menerima piring yang disodorkan Dewi Naganingrum kepadanya.


"Sakedap, enaknya apa ya Akang?


Neng geulis wae kumaha Kang?", Dewi Naganingrum menatap wajah Panji Watugunung segera.


"Apa itu arti nya Gusti Putri?", tanya Panji Watugunung sambil menyuapkan makanan ke mulut nya.


"Arti nya gadis cantik gitu Kang", Dewi Naganingrum menjelaskan dengan semangat.


"Apa gak salah minta di panggil seperti itu?


Memang Gusti Putri merasa cantik ya?", timbul niat iseng Panji Watugunung menggoda Dewi Naganingrum.


"Ihh akang yah, bikin Naganingrum sebel aja. Asal akang kasep tau ya, banyak putra Adipati dan Raja yang menginginkan Naganingrum jadi istri", Dewi Naganingrum cemberut wajahnya.


"Ya sana, sama putra Adipati atau putra raja saja. Aku tidak keberatan kog", Panji Watugunung cuek saja sambil terus meneruskan makan nya.

__ADS_1


Buru buru Dewi Naganingrum memepet tubuh Panji Watugunung dan memeluk lengan kiri pria itu.


"Tapi Naganingrum teh maunya sama Akang kasep. Teu aya anu sanes deui", putri bungsu Prabu Darmaraja itu merebahkan kepalanya di pundak Panji Watugunung.


Malam itu Panji Watugunung tidur terpisah dengan selir selir nya. Mereka di tempat kan pada saung tamu, sedang Panji Watugunung di tempatkan pada kediaman pangeran.


Pagi itu cuaca di Kawali begitu indah. Angin semilir dari selatan seakan menyapa penduduk ibukota kerajaan Galuh Pakuan. Matahari bersinar malu malu dari balik awan putih di langit.


Semua orang di istana Kawali mulai mempersiapkan segala keperluan untuk upacara pernikahan Panji Watugunung dan Dewi Naganingrum. Janur kuning mulai di tata pada bambu yang akan menghias sudut istana.


Para pandita merapal mantra mantra puja Dewa Siwa sambil duduk bersila di depan sanggar pamujan. Mereka meminta berkah Sang Hyang Siwa agar acara pernikahan itu berjalan dengan lancar.


Di dapur istana, ayam dan kerbau di sembelih untuk keperluan lauk dan sesajen. Pohon pisang dipotong dengan pisangnya serta tebu, gelagah dan nanas dipadukan dengan hiasan janur kuning menghiasi gapura Puri Agung yang akan menjadi tempat upacara pernikahan.


Suasana di istana Kawali begitu sibuk.


**


Setelah keluarga Coa di tangkap dan dipenjarakan, 4 keluarga besar Tionghoa di pelabuhan Halong menjadi panik.


Pagi itu para kepala keluarga dari keluarga Tan, Kwee, Liem dan Oey berkumpul di rumah keluarga Oey.


Oey Yong yang menjadi kepala keluarga Oey membuka pertemuan mereka.


"Seperti yang kita ketahui bersama, Keluarga Coa sudah di tangkap oleh para prajurit Kalingga. Ini membuat kita tidak bisa tenang berdagang di Halong lagi.


Owe minta saran dan pendapat dari kalian semua, apa yang harus kita lakukan?", ujar Oey Yong sambil mengepalkan tangannya di dada.


"Tetua Oey,


Owe pikir kita harus segera pergi ke tempat Adipati Kalingga. Owe takut, jika kita tidak segera kesana nanti kita orang di cap ikut makar", Liem Ho Seng, tetua keluarga Liem memberi saran.


"Kata saudara Liem benar, tetua Oey. Namun sebaiknya kita orang tidak kesana dengan tangan kosong.


Untuk menunjukkan niat tulus kita. Bagaimana kalau kita patungan untuk kasih sesuatu pada Adipati Kalingga sebagai biaya keamanan kita?", Kwee Bo kepala keluarga Kwee memberi pendapat nya.


"Bukankah kita orang kasih pajak ke Adipati Kalingga tahun? Apa itu masih kurang?", tanya Tan Im Liong, kepala keluarga Tan yang terkenal pelit menyanggah pendapat Kwee Bo.


Kwee Bo mendengus dingin.


"Saudara Tan, owe tau kita orang tidak mudah kumpulkan harta dari berdagang. Tapi situasi sekarang berubah karena ulah Coa Bu Teng. Mau tidak mau kita harus berubah mendekati Adipati Kalingga.


Akhirnya di sepakati masing masing keluarga Tionghoa memberikan 200 kepeng emas untuk di sumbangkan ke Adipati Kalingga sebagai jaminan keamanan keluarga mereka.


Sore itu kepala keempat keluarga Tionghoa mengunjungi istana Kadipaten Kalingga untuk bertemu dengan Adipati Agnibrata.


"Ada tujuan apa kalian kemari?", tanya Adipati Agnibrata sambil menatap wajah keempat kepala keluarga Tionghoa itu.


"Maaf Gusti Adipati,


Owe mewakili keluarga Oey, Liem, Kwee dan Tan ingin meminta perlindungan kepada Gusti Adipati.


Kami takut dengan pandangan warga Kalingga yang mengira bahwa kami terlibat dalam masalah keluarga Coa.


Kami akan bayar biaya keamanan untuk Kadipaten Kalingga asal ada jaminan keamanan dari kadipaten.


Kami mohon perlindungan Gusti Adipati", ujar Oey Yong sambil membungkuk hormat. 3 kepala keluarga lainnya juga melakukan hal yang sama.


"Kami selaku pemerintah kadipaten Kalingga selalu melindungi seluruh warga Kalingga entah itu pribumi atau pendatang.


Tapi setiap pengkhianat negara, siapapun orangnya, akan kami basmi sampai ke akarnya", Adipati Agnibrata menatap tajam ke arah mereka berempat.


"Kami berjanji tidak akan berani berkhianat kepada negara", ujar Oey Yong segera.


Setelah itu empat keluarga Tionghoa itu menyerahkan 800 kepeng emas sebagai biaya perlindungan mereka di dalam peti kayu.


Usai mereka pergi, Adipati Agnibrata memanggil Senopati Lokananta.


"Lokananta,


Atur uang ini untuk biaya hidup para prajurit Daha yang sepekan lagi akan tiba. Minta Akuwu Banjar untuk mempersiapkan tempat di sekitar istana Pakuwon Banjar.


Lantas bagaimana kabar dari Kembang Kuning, Rajapura dan Bhumi Sambara? Apakah mereka sudah memberikan dukungannya?", Adipati Agnibrata memandang kearah Senopati Lokananta sambil mengelus kumis nya.


"Ampun Gusti Adipati,


Dari Bhumi Sambara sudah ada jawaban. Yang belum datang, utusan yang ke Rajapura dan Kembang Kuning. Untuk Kalingga sendiri sudah kami tata sebagus mungkin", ujar Senopati Lokananta sambil menghormat.

__ADS_1


"Bagus, aku tidak mau kalau kita sampai mengecewakan Gusti Pangeran Panji Watugunung.


Lakukan yang terbaik Lokananta", titah sang Adipati Kalingga.


"Sendiko dawuh Gusti Adipati".


**


Di wilayah Paguhan.


"Apa katamu?


Coa Bu Teng ketahuan?", teriak Adipati Gandakusuma. Pria paruh baya bertubuh gempal itu seketika berdiri dari singgasananya.


"Benar Gusti Adipati. Menurut berita dari telik sandi, pasukan Kalingga mengepung rumah Coa Bu Teng setelah mendapat bocoran berita dari telik sandi yang tertangkap", ujar Patih Nala Gupita sambil menghormat.


"Agnibrata keparat!


Berani sekali ikut campur urusan ku. Kalau sampai persiapan ku sempurna, akan ku gempur Kalingga lebih dulu.


Nala Gupita,


Bagaimana dengan persiapan kita? Apa sudah selesai?", Adipati Gandakusuma memijit pelipisnya. Dia mulai gelisah karena terputusnya aliran dana dan senjata untuk rencananya. Rambut ikalnya terlihat berkibar diterpa angin semilir.


"Ampun Gusti Adipati,


Persenjataan kita yang bagus baru separuh. Untuk persiapan latihan, kita sudah cukup bagus.


Tapi kalau sampai Daha menyerang kesini, hamba takut kita tidak mampu menahan mereka karena kurang nya persenjataan yang mumpuni Gusti Adipati", Patih Nala Gupita memberikan laporan nya.


Hemmmm


"Apa sebaiknya aku minta bantuan pada Kakang Prabu Darmaraja di Galuh?", ujar Adipati Paguhan itu mengelus jenggotnya.


"Mungkin itu satu satunya jalan Gusti Adipati. Sebab semua Adipati di sekeliling Paguhan menolak untuk mengulurkan bantuan", wajah tua Nala Gupita tampak seperti berpikir keras.


"Baik,


Aku yakin Kakang Prabu Darmaraja pasti membantu ku.


Rumpaksana,


Berangkatlah ke Kawali, hari ini juga. Ku beri waktu kau 4 hari untuk membawa berita baik", titah sang Adipati Paguhan pada Tumenggung Rumpaksana.


"Sendiko dawuh Gusti", Tumenggung Rumpaksana segera menghormat pada Adipati Gandakusuma dan mundur dari balai paseban Kadipaten Paguhan.


Setelah membawa bekal perjalanan secukupnya, Tumenggung Rumpaksana diiringi 10 prajurit pilihan segera memecut kudanya melesat meninggalkan istana kadipaten Paguhan menuju Kota Kawali.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Author nya lagi belajar bahasa Sunda ya..


Mohon dimaafkan jika ada kesalahan 🙏🙏


Beribu terima kasih kepada semua kakak reader tersayang atas dukungannya terhadap cerita ini 👍☝️🗣️❤️

__ADS_1


Selamat membaca guys 😁😁😁


__ADS_2