
Dewi Anggarawati tersenyum bahagia. Dengan pernikahan ini, dia pun secara resmi menjadi permaisuri putra mahkota Kabupaten Gelang-gelang.
Hari ini keberangkatan Panji Watugunung ke Bedander terpaksa di tunda, meski persiapan nya sudah di tata. Tejo Sumirat memanggil Resi Mpu Seta dari Siwatantra Palah, untuk menentukan tanggal baik untuk pernikahan Panji Watugunung dan Dewi Anggarawati.
Sementara itu, untuk mengusir kebosanan Panji Watugunung dan Dewi Anggarawati di ijinkan berkeliling kota kadipaten Seloageng dengan iringan prajurit tentunya. Dan mereka melarang Dewi Srimpi, Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang ikut yang membuat hati 2 selir dan 1 pelayan itu panas bukan main.
Panji Watugunung berhenti di pinggiran kota. Sawah yang menghijau dan sebuah sungai kecil membuat nya ingin beristirahat di situ. Di sebuah pohon rindang di tepi kecil Panji Watugunung dan Dewi Anggarawati duduk berdua.
"Kakang Watugunung, aku merindukan saat kita mengembara berdua", Dewi Anggarawati menyenderkan kepalanya di pundak Watugunung.
"Kenapa kau merindukannya Dinda?", Watugunung tersenyum. Dia tahu gadis itu merindukan nya.
"Ya saat itu hanya kita, tidak ada Kangmbok Pitaloka dan Kangmbok Mayang. Aku ingin selamanya berdua dengan Kakang", Dewi Anggarawati mulai merajuk.
Pelan saja, tangan Panji Watugunung melingkar di pinggang gadis itu.
Rasa hangat dan hasrat membuat jantung Anggarawati berdetak kencang. Panji Watugunung menoleh ke wajah Dewi Anggarawati dan mengecup mesra kening perempuan cantik itu.
Cuppp...
Dewi Anggarawati memejamkan matanya. Dia begitu mencintai laki laki itu. Sejak pertama kali bertemu di pondok kayu, dia sudah jatuh hati kepada Panji Watugunung. Terlebih saat dia ternyata laki laki yang di jodohkan ayahnya, dia sangat gembira.
"Apa Kakang mencintai ku?", tanya Dewi Anggarawati.
"Apa aku masih perlu mengatakan nya?", Panji Watugunung memandang wajah cantik Anggarawati dengan seksama.
Dewi Anggarawati menganggukkan kepalanya pelan.
"Aku mencintaimu dinda, sangat mencintai mu", Panji Watugunung menatap mata Dewi Anggarawati.
Senyum bahagia menghiasi bibir mungil Anggarawati.
Gadis cantik itu melingkarkan tangan ke leher Panji Watugunung dan menekan nya. Wajah mereka bersentuhan. Bibir Anggarawati segera mengecup bibir Panji Watugunung yang berubah menjadi pagutan penuh gairah.
Para pengawal kadipaten Seloageng yang berada tak jauh dari mereka segera memalingkan muka.
Tiba tiba Panji Watugunung segera melepas ciumannya. Anggarawati yang sedang bergairah ingin menciumnya lagi, tapi Panji Watugunung segera menggeser kepalanya. Alhasil hanya pelukan hangat yang terjadi.
"Dinda, kita akan melakukan nya saat malam pernikahan kita".
Ucapan Watugunung bagai air telaga yang mengguyur gairah membara di hati gadis itu.
Dewi Anggarawati tersenyum bahagia, dia tidak marah. Dia tahu Panji Watugunung sangat menghargai kesucian seorang wanita.
'Tak salah aku memilih nya. Dia tidak mudah tergoda nafsu dan bisa mengendalikan diri', batin Anggarawati bahagia.
"Dinda ayo kita kembali ke istana Kadipaten. Kita sudah cukup lama berada di luar istana", kata Watugunung yang di jawab anggukan kepala Dewi Anggarawati.
Saat pulang, Dewi Anggarawati memaksa untuk berkuda bersama Panji Watugunung. Dan lagi lagi Panji Watugunung memilih mengiyakan keinginan calon istri nya itu.
Sepanjang jalan semua orang memandang dengan tatapan mata iri melihat kemesraan mereka berdua. Sampai di keputran, mereka tetap mesra seakan dunia hanya milik mereka berdua.
Lagi lagi tatapan mata dingin dari 2 selir dan 1 pelayan menghujani mereka.
"Kakang Watugunung tidak malu ya bermesraan di jalan seperti itu?", gerutu Ratna Pitaloka begitu Dewi Anggarawati kembali ke keputren Seloageng.
"Terus kami ini dianggap apa?", Sekar Mayang menimpali.
"Dengarkan aku, kalau aku tidak segera menikah dengan dengan Anggarawati apa aku bisa menjaga kalian dengan menjadi selir? Apa kalian ingin selamanya hanya seperti ini tanpa ada kejelasan? Aku tidak memaksa kalian untuk mengikuti ku, kalau kalian tidak terima kalian boleh pulang ke padepokan", Panji Watugunung gusar.
Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang langsung terdiam. Memang mereka tidak bisa menentang tradisi bangsawan. Panji Watugunung memang akan menikah dengan Anggarawati tapi semua itu dilakukan untuk melindungi mereka. Selir jauh lebih terhormat daripada gundik yang hanya di pakai saat butuh pemenuhan hasrat.
"Maafkan kami Kakang, kami terbawa emosi. Kami cemburu melihat kemesraan kakang", Sekar Mayang menunduk.
__ADS_1
"Aku menikahi Anggarawati juga agar aku bisa menikahi kalian, mengapa kalian masih susah percaya padaku?", Panji Watugunung sedikit geram.
Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang segera memeluk tubuh Panji Watugunung.
"Maaf kakang, aku cemburu", ujar Ratna Pitaloka merah wajah nya.
"Aku aku takut kakang Watugunung meninggalkan ku", Sekar Mayang menggigit bibirnya..
"Sudahlah, percaya padaku. Aku juga sayang kalian", Panji Watugunung menarik pinggang kedua gadis itu dan semakin merapatkan pelukan nya.
Dua gadis itu terhanyut dalam dekapan hangat dari Panji Watugunung. Mereka lupa masih ada seorang gadis lain di ruangan itu.
Seorang prajurit penjaga gerbang keputran berlari masuk serambi, setelah menghormat prajurit itu berkata,
"Ampun Gusti Panji,
Bekel Saketi, dan calon prajurit khusus dari Seloageng mohon menghadap".
"Persilakan masuk"
"Baik Gusti Panji", prajurit itu kembali ke gapura keputran.
Panji Watugunung melepaskan pelukannya dan duduk di kursi utama serambi keputran.
Sekar Mayang, Ratna Pitaloka dan Dewi Srimpi berdiri di samping kursinya.
Bekel Saketi dan 9 orang masuk ke keputran. Setelah memberikan hormat, mereka duduk bersila di lantai serambi keputran Seloageng.
"Maafkan saya mengganggu istirahat Gusti Panji. Mereka orang orang pilihan dari masing-masing pakuwon di wilayah Seloageng.
Selanjutnya mereka yang akan mengikuti langkah Gusti Panji menjadi pasukan khusus Garuda Panjalu"
Hemmmm
Pemuda itu adalah Jarasanda, dari Pakuwon Sata yang pernah membuat masalah dengan nya tempo hari.
Panji Watugunung tersenyum tipis.
"Paman kenapa cuma ada 9? Bukankah ada 10 Pakuwon di Seloageng?".
Saketi tertunduk mendengar pertanyaan Watugunung.
"Maaf Gusti Panji, calon yang ke 10 adalah saya", jawab Saketi.
"Kalau Gusti Panji keberatan karna usia saya, saya bisa mengerti", timpal Ki Saketi kemudian.
"Hehehehe paman kau ini ada ada saja, mana mungkin aku menolak paman. Sedangkan dia saja di terima", kekeh Panji Watugunung sambil menunjuk Jarasanda.
"Terimakasih Gusti Panji untuk kesempatan nya. Saketi akan sekuat tenaga membantu Gusti Panji", ucap Saketi dengan mata berkaca-kaca. Dia begitu terharu Panji Watugunung masih menerima nya.
"Jarasanda..", panggil Watugunung.
Deggg...
Tubuh Jarasanda menggigil ketakutan. Dia benar benar pasrah jika Panji Watugunung menolak nya karna masalah tempo hari.
"Kau sudah siap untuk mati?", tanya Panji Watugunung.
Jarasanda terkejut mendengar ucapan Panji Watugunung, tapi dengan menarik nafas dan berkata, "Untuk keamanan Panjalu, hamba siap Gusti Panji".
"Bagus, tidak sia sia Akuwu Argamanik mengajar mu tempo hari".
Jarasanda begitu lega mendengar kata kata Panji Watugunung. Dia kagum pada jiwa besar Kepala Pasukan Garuda Panjalu Wilayah selatan itu.
__ADS_1
"Paman, dan kalian semua. Siapkan diri dan mental kalian. Mulai besok kita bertugas sebagai Pasukan Garuda Panjalu", Panji Watugunung memberikan perintah nya.
Semua orang di serambi keputran memberikan hormat kepada Panji Watugunung dan berkata, Baik Gusti Panji"..
Lalu mereka mengundurkan diri dari keputran Seloageng.
Malam hari, Panji Watugunung menghadap ke Adipati Seloageng. Dia melaporkan bahwa semua anggota pasukan sudah siap bertugas.
Tejo Sumirat tertawa mendengar laporan Panji Watugunung. Dia begitu gembira calon mantu nya benar benar bertanggung jawab.
Tejo Sumirat segera memberitahukan bahwa Resi Mpu Seta dari Siwatantra Palah sudah menentukan tanggal. Pada tengah candra wuku sungsang atau 15 hari lagi mereka akan menikahkan Panji Watugunung dan Dewi Anggarawati.
Semuanya gembira. Namun Dewi Anggarawati seketika cemberut saat mendengar ucapan Nararya Candradewi bahwa dia harus di pingit sampai acara pernikahan. Itu artinya dia tidak boleh ikut Panji Watugunung ke Pakuwon Bedander.
Esok pagi nya, rombongan Panji Watugunung bersiap berangkat. 5 orang dari Gelang-gelang, 10 orang dari Seloageng dan Panji Watugunung beserta Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang serta Dewi Srimpi.
"Kakang Watugunung, hati hati. Aku menunggu kepulangan Kakang", Dewi Anggarawati menitikkan air mata. Baru kali ini dia berpisah dengan Panji Watugunung sejak pertemuan mereka.
"Dinda Anggarawati tenang saja, kakang akan baik baik saja. Berdoalah kepada Jagat Dewa Batara untuk melindungi ku", Panji Watugunung memeluk dan mencium kening Dewi Anggarawati untuk menenangkan hati nya.
Dewi Anggarawati mencoba tersenyum melepas kepergian Panji Watugunung.
Rombongan Panji Watugunung perlahan meninggalkan istana kadipaten Seloageng.
Selepas dari gapura istana, Panji Watugunung menggebrak kudanya di ikuti oleh anggota pasukan Garuda Panjalu melesat menuju ke timur.
Tujuan mereka cuma satu.
Pakuwon Bedander.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ada apa dengan pakuwon Bedander?
Nantikan terus kelanjutannya ..
Dukung author terus 🙏🙏
Jangan lupa tinggalkan jejak dukungan kalian semua dengan like vote dan komentar nya 👍
__ADS_1
Thanks for reading my novel 😁😁