
"Aku ingin ke Gelang-gelang Dinda,
Sudah lama sekali aku ingin menengok Dinda Anggarawati", ujar Panji Watugunung sambil tersenyum memandang Ayu Galuh.
"Kapan kita berangkat ke Gelang-gelang Kangmas? Aku juga ingin berbakti kepada mertua ku, bukan hanya Yunda Anggarawati saja", Ayu Galuh menatap wajah tampan suaminya.
"Kau ini apa tidak punya perasaan putri liar?
Jelas jelas kami baru berperang, masih saja ingin cari muka sama Kanjeng Romo Bupati Gelang-gelang", sahut Sekar Mayang setengah geram.
"Bukan kau saja yang menantunya, Galuh. Aku, Mayang dan Srimpi juga menantu Gusti Bupati Gunungsari. Kami juga ingin berbakti kepada mereka, benar kan Srimpi?", Ratna Pitaloka segera menoleh ke arah Dewi Srimpi. Selir termuda Panji Watugunung segera mengangguk tanda mengiyakan.
"Aku kan hanya bertanya Kangmbok Pitaloka. Biar aku bisa siap-siap. Mau besok, lusa atau kapan ya terserah Kangmas Panji lah.
Kenapa juga harus marah?", Ayu Galuh tak mau kalah.
"Kau.."
"Sudah diam", teriak Panji Watugunung langsung menghentikan perdebatan antara istri-istrinya.
"Dengar, aku sedang capek. Jangan ribut di depan ku. Mengerti kalian?"
Panji Watugunung mendelik tajam kepada 4 istri nya. Mereka segera menunduk, takut kena marah sang suami.
"Srimpi, ikut aku".
Panji Watugunung melangkah menuju kamar tidur nya. Dewi Srimpi segera mengekor di belakangnya.
Para istri hanya bisa pasrah melihat Dewi Srimpi yang tidak banyak bicara malah di minta menemani sang suami. Mau protes tidak berani, daripada kena marah lagi. Mereka semua beristirahat di kamar masing-masing.
Pagi menjelang tiba di istana Pakuwon Bedander.
Suara ayam jantan berkokok bersahutan di pagi itu. Burung gelatik berkicau riang di dahan pohon sawo di depan balai peristirahatan Pakuwon Bedander. Suaranya terdengar riuh membuat suasana pagi hari itu begitu indah.
Panji Watugunung segera bergegas bangun dari tempat tidur nya. Dewi Srimpi ikut bangun begitu suaminya itu bangkit.
"Maaf Denmas, aku kesiangan", ujar Dewi Srimpi sambil tersenyum malu-malu. Perempuan itu mengucek matanya.
"Tidak apa-apa Dinda, kita semua kecapekan", Panji Watugunung tersenyum tipis sambil membuka pintu kamar dan bergegas menuju ke tempat mandi.
Pagi itu semua prajurit Panjalu melakukan upacara pemakaman untuk Tumenggung Surontanu, Tumenggung Juru, Bekel Majaya dan Bekel Rukma yang gugur dalam tugas.
Semua orang memakai kain putih dan sumping bunga kamboja sebagai tanda duka cita.
Resi Mpu Soma dari pertapaan Ranja memimpin acara. Taburan bunga mawar, kenanga dan melati memenuhi altar upacara penyucian raga di alun alun Pakuwon Bedander. Setanggi dan kemenyan di bakar. Asapnya mengepul perlahan memenuhi udara dengan aroma wangi khas.
Para brahmana terus mengucapkan mantra mantra penyucian jiwa.
Suasana semakin khusyuk dan sakral.
Resi Mpu Soma kemudian mendekati Panji Watugunung yang duduk bersila di diantara para perwira tinggi prajurit Daha yang mengikuti upacara penyucian jiwa.
Di tangan sang Resi ada sebuah obor menyala.
"Keturunan Lokapala,
Semua upacara penyucian sudah di lakukan. Sekarang giliran mu sebagai pemimpin, antar mereka ke nirwana dengan tangan mu".
Resi Mpu Soma kemudian menyerahkan obor pada Panji Watugunung. Sang putra Bupati Gelang-gelang itu segera berdiri. Kemudian melangkah maju ke tumpukan kayu kering dibawah empat mayat perwira tinggi prajurit Daha itu, lantas menyulutkan api kesana. Kayu langsung terbakar dengan cepat.
Brahmana terus mengucapkan mantra mantra mengiringi terbakarnya jasad mereka.
Menjelang tengah hari, serombongan orang datang ke istana Pakuwon Bedander. Mereka adalah utusan dari Kadipaten Seloageng yang di pimpin Rakai Kulawu, mertua Sindupati Akuwu Bedander.
Rakai Kulawu langsung menyembah kepada Panji Watugunung saat mereka bertemu.
"Kulawu memberikan hormat kepada Gusti Pangeran Panji Watugunung".
__ADS_1
"Berdirilah Ki Kuwu, jangan menyembah aku seperti seorang dewa. Aku masih manusia biasa", ujar Panji Watugunung segera.
Rakai Kulawu segera berdiri dan duduk di sebelah kanan Panji Watugunung.
"Ada apa kau mencari ku Ki Kuwu? Apa ada hal penting yang perlu aku dengar?", Sang Pangeran Daha menatap ke wajah Rakai Kulawu.
"Maafkan Kulawu ini Gusti Pangeran,
Hamba diutus oleh Gusti Adipati Tejo Sumirat yang meminta Gusti Ngurah agar bersedia mampir ke istana Kadipaten Seloageng", Rakai Kulawu membungkuk hormat.
"Sebenarnya aku ingin sekali bertemu dengan istri ku di Gelang-gelang. Tapi ya sudahlah, nanti aku mampir ke istana Kadipaten Seloageng", ujar Panji Watugunung segera.
Rakai Kulawu langsung tersenyum mendengar jawaban Panji Watugunung. Akuwu sepuh itu segera mohon diri untuk kembali ke istana Kadipaten Seloageng.
Selama 4 hari, mereka beristirahat sembari mengobati luka luka akibat peperangan.
Luka Tumenggung Adiguna sudah cukup membaik. Sementara luka luka ringan perwira tinggi lainnya sudah tidak ada masalah.
Berita kemenangan Panji Watugunung sudah menyebar ke seluruh bekas wilayah Kahuripan.
Berita itu menjadi buah bibir masyarakat terutama para pedagang yang melintas.
Sore itu Panji Watugunung mengumpulkan semua perwira tinggi prajurit Daha di serambi peristirahatan Pakuwon Bedander.
"Dengarkan aku wahai para perwira tinggi prajurit Daha.
Aku merasa kita sudah cukup memulihkan diri setelah peperangan yang kita lakukan. Aku minta kalian semua untuk kembali ke pos masing-masing.
Pasukan Garuda Panjalu akan pulang ke markas pasukan di Sanggur. Paman Saketi dan Kakang Warigalit akan memimpin pasukan untuk pulang.
Bagaimana dengan pasukan Daha yang lain Senopati Narapraja?", Panji Watugunung segera memandang kearah senopati muda itu.
"Hamba akan memimpin pasukan Daha kembali ke Pakuwon Kadri Gusti Pangeran. Untuk pasukan Seloageng dan Gelang-gelang, silahkan kembali ke Sengkapura atau bergabung dengan pasukan Garuda Panjalu di Sanggur", ujar Senopati Narapraja segera.
Tumenggung Gati dan Tumenggung Sancaka langsung menghormat pada Panji Watugunung dan meminta agar sisa pasukan mereka, menjadi satu dengan pasukan Garuda Panjalu di Sanggur. Panji Watugunung segera mengabulkan permintaan mereka.
Ucapan Panji Watugunung segera disambut sorak sorai para perwira prajurit Daha.
Malam itu mereka berpesta dengan meriah.
Rombongan penari tledek dari Pakuwon Bedander memeriahkan acara. Gumbreg bahkan nekat ikut menari bersama meski tubuhnya kaku dan menjadi bahan tertawaan rekan-rekan prajurit.
Pagi menjelang tiba.
Hari ini semua prajurit meninggalkan Pakuwon Bedander. Pasukan Garuda Panjalu di dampingi pasukan dari Gelang-gelang dan Seloageng menuju ke markas di Sanggur, sedangkan Pasukan Daha terus melaju ke barat menuju Pakuwon Kadri.
Sedangkan Panji Watugunung di dampingi ke empat istri nya menuju ke Kadipaten Seloageng. Mereka hanya memakai pakaian biasa agar tidak memancing perhatian orang.
Sesampainya di gerbang istana Seloageng, seorang prajurit penjaga segera mengantar mereka menemui Adipati Tejo Sumirat di ruang pribadi Adipati.
Tawa Tejo Sumirat langsung terdengar saat dia melihat Panji Watugunung memasuki serambi ruang pribadi nya.
Hahahaha
"Selamat datang di Seloageng Cah Bagus..
Selamat atas kemenangan mu. Mewakili rakyat Seloageng aku berterimakasih kepada mu", ujar Tejo Sumirat sambil tersenyum lebar.
"Terimakasih Kanjeng Romo Adipati, semua ini terjadi karena adanya bantuan dari Seloageng juga. Kalau tidak, bagaimana mungkin saya dan para prajurit Daha mampu mengusir pasukan Jenggala?", Panji Watugunung merendah.
"Hehehehe,
Kau selalu membuat ku senang cah Bagus.. Sebenarnya maksud ku memanggilnya mu kesini adalah aku ingin meminta mu menjadi Adipati Seloageng selanjutnya.
Kau tau aku sudah cukup tua, aku juga ingin hidup tenang tanpa memikirkan urusan negara", ujar Adipati Tejo Sumirat serius.
Panji Watugunung terkejut mendengar ucapan sang Adipati Seloageng. Dia sama sekali tidak menyangka kalau sang Adipati ingin melakukan hal ini. Keempat istrinya juga langsung terkaget.
__ADS_1
"Maaf Gusti Adipati.. Kangmas Panji Watugunung juga menantu ayahanda Samarawijaya. Ayahku hanya punya 4 putri dan seorang putra balita.
Aku masih punya hak atas takhta Panjalu. Jadi aku minta Gusti Adipati tidak memaksa Kangmas Panji Watugunung menentukan pilihan tentang kehidupan nya", Ayu Galuh menampakkan pesona nya sebagai putri raja.
Adipati Seloageng tersenyum tipis saja. Dia memang tak bisa memaksa Panji Watugunung menentukan pilihan untuk tempat di mana dia akan berkuasa. Gelang-gelang, Seloageng atau Daha sama sama memiliki arti penting dalam kehidupan Panji Watugunung.
"Aku tidak bisa memaksa orang Gusti Putri, aku hanya memberi pilihan kepada putra mantu ku", jawab Adipati Tejo Sumirat sambil tersenyum.
"Saya pasti akan memikirkan nya Kanjeng Romo, tapi saat ini saya hanya ingin pulang ke Gelang-gelang. Saya kangen Dinda Anggarawati", Panji Watugunung tersenyum malu.
Hehehehe
"Aku mengerti apa yang kau rasakan. Kalau kau ingin ke Gelang-gelang segera, aku mengijinkan mu", Tejo Sumirat manggut-manggut tanda mengerti.
Usai berbincang hangat sebentar, Panji Watugunung dan keempat istrinya mohon diri untuk menuju Gelang-gelang.
Tejo Sumirat menatap kepergian Panji Watugunung dan keempat istrinya dengan senyum. Dia begitu bangga pada putra mantu nya itu.
**
Sementara itu jauh di utara.
Di istana Pakuwon Lwaram.
Berita kekalahan Senopati Socawarma langsung membuat Maharaja Mapanji Garasakan murka. Dengan cepat dia mengutus Tumenggung Suralaya untuk menghadap Senopati Mpu Tandi di Lwaram.
Mpu Tandi sedang mengelus jenggotnya. Mantan Bekel Kahuripan itu tampak berpikir keras. Surat yang baru saja dia terima membuat nya pusing tujuh keliling.
Memang benar kekuatan Jenggala yang dia kendalikan sangat besar, lebih dari 10 ribu pasukan berkuda dan 8 ribu pasukan berjalan kaki serta 2000 prajurit pemanah.
Tapi, setelah mendengar 10 ribu pasukan Jenggala di bawah pimpinan Senopati Socawarma dihancurkan oleh Panji Watugunung dengan 7500 prajurit nya, dia tidak mau bertindak gegabah.
Apalagi berita dari telik sandi yang mengatakan bahwa Senopati Ganggadara sebagai senopati utama masih memegang kendali atas 15000 pasukan Panjalu, tentu akan sangat merepotkan.
Senopati Mpu Tandi menatap wajah Tumenggung Suralaya sejenak. Setelah itu dia menghembuskan nafas panjang sebelum berkata,
"Akan kulakukan perintah Istana Kahuripan".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Author mengucapkan beribu terima kasih atas dukungannya kakak reader tersayang semuanya pada cerita ini 👍👍👍👍👍👍
Spesial untuk Bang Wira, Bang Hasan, Bang Oezank, Bang Pedet, Bang Agus, Kak Nisa, Kak Hutri, Bang Edi, Kak Tenang, Bang Janur, Bang Syamsu dan semua kakak yang tidak bisa author sebut satu persatu 🙏🙏
Lophe pul deh pokoknya ❤️❤️❤️❤️
__ADS_1
Selamat membaca 😁😁😁😁