Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Ayu Galuh


__ADS_3

Seorang gadis cantik berwajah bulat telur berusia sekitar 16 tahun dengan rambut panjang dan berpakaian bangsawan memasuki keputran Daha. Di tangan nya sebuah nampan berisi makanan.


Gadis itu Ayu Galuh, putri Prabu Samarawijaya dari Selir nya yang bernama Larasati. Selama ini Ayu Galuh terkenal karna kelakuan nya yang tidak mencerminkan kepribadian seorang putri raja.


Dia suka membuat ulah dan sering kabur dari istana. Kelakuan nya membuat pusing Samarawijaya dan istana Dahanapura.


Di balik kelakuan nya yang nakal, Ayu Galuh sebenarnya anak yang baik. Cuma dia tidak terlalu suka di kekang aturan istana.


Kemarin saat Sang Prabu Samarawijaya mengatakan dia akan dinikahkan dengan seorang pemimpin prajurit, Ayu Galuh marah. Pasti seorang lelaki yang sudah tua, pikirnya. Dan saat penjaga gapura mengatakan pesan Sang Prabu Samarawijaya, Ayu Galuh berpikir inilah kesempatan nya untuk mengerjai lelaki tua sialan itu dengan obat pencuci perut.


Dengan hati hati Ayu Galuh masuk ke keputran Daha. Disana cuma ada seorang gadis bercadar hitam dan seorang lelaki yang tidak jelas karna memunggungi nya.


"Selamat datang di keputran Gusti Putri", ujar Dewi Srimpi saat Ayu Galuh memasuki serambi.


Gadis itu celingukan mencari lelaki tua yang di jodohkan ayahnya.


"Mana dia? Mana lelaki tua yang di jodohkan dengan ku?", ujar Ayu Galuh.


Mendengar itu, Panji Watugunung menoleh kearah sumber suara.


"Apa maksud Gusti Putri dengan lelaki tua yang di jodohkan dengan Gusti Putri?".


Suara itu mengagetkan Ayu Galuh. Seorang pemuda tampan dengan tubuh gagah mendekat. Jantung Ayu Galuh berdebar keras saat pandangan mata pemuda itu seperti menghujam jantung nya.


"Jagat Dewa Batara, apakah Kamajaya turun dari langit ke keputran Daha?', batin Ayu Galuh.


"Aku ti-tidak mencari mu. Aku mencari lelaki tua yang di jodohkan dengan ku", jawab Ayu Galuh terbata-bata.


"Jadi kau orang nya?", tanya Panji Watugunung.


"Apa maksud mu? Aku tidak mengerti", jawab Ayu Galuh berusaha mengalihkan perhatian nya


Dewi Srimpi terkekeh geli.


'Jadi rupanya putri ini mengira pria yang di jodohkan dengan nya adalah pria tua?'.


"Ya sudah, cari saja pria tua mu itu sampai ketemu", ujar Panji Watugunung ketus. Dia dongkol sekali dengan Ayu Galuh yang menyebutnya pria tua.


Panji Watugunung segera duduk di meja. Perutnya lapar minta di isi.


"Eeehhh kau mau apa?", tanya Ayu Galuh mencegah Panji Watugunung yang hendak menyantap makanan.


"Aku lapar, mau makan", Panji Watugunung acuh tak acuh.


"Eh tidak boleh. Ini untuk calon suami ku. Seorang pemimpin prajurit penjaga perbatasan. Bukan untuk mu", Ayu Galuh merebut kembali nampan berisi makanan.


"Aku adalah seorang lelaki tua pemimpin prajurit penjaga perbatasan. Aku adalah calon suami mu. Berikan makanan itu sekarang".


Ucapan Panji Watugunung sontak membuat Ayu Galuh terpana. Saat Panji Watugunung mengambil nampan nya dia hanya bengong.


Panji Watugunung segera menyambar lalu menggigit paha ayam yang ada di nampan.


Melihat itu, Ayu Galuh seketika tersadar.


'Celaka celaka celaka....', batin Ayu Galuh.


Seketika tangan lentik Ayu Galuh berusaha merebut paha ayam yang sudah di kunyah Panji Watugunung. Namun usaha nya sia-sia. Daging paha ayam sudah masuk ke perut Panji Watugunung.


Sesaat kemudian..


'Kenapa rasanya perut ku menjadi mules begini'


Panji Watugunung tiba tiba berjongkok sambil memegangi perutnya.


Prepeeettt preetttt


Dari pantat Panji Watugunung keluar angin berbau busuk.


Panji Watugunung segera berlari menuju kamar mandi. Berniat untuk buang air besar.


Ayu Galuh pucat pasi. Tak diduga, lelaki yang di jodohkan ayahnya adalah seorang pemuda tampan yang membuat jantung nya berdetak kencang. Pemuda yang membuat dia jatuh cinta. Dan sekarang pasti pemuda itu sangat menderita karena ulahnya.


Tak berapa lama kemudian, Panji Watugunung kembali dengan wajah pucat. Namun belum sampai dia duduk, perutnya meronta lagi. Secepat kilat dia berlari menuju kamar mandi lagi.


Panji Watugunung ke serambi keputran. Wajah nya pucat pasi.


"Perempuan busuk, kau meracuni ku", tuding Panji Watugunung pada Ayu Galuh.


Dewi Srimpi segera bergegas mendekati Panji Watugunung. Mengambil sebutir obat dari botol keramik kecilnya. Dia menotok perut Panji Watugunung dan meminumkan obat nya.


Tak berapa lama, wajah Panji Watugunung berangsur membaik. Dewi Srimpi segera melepas totokan nya.


"Srimpi, ambilkan aku makanan. Aku lapar", pinta Panji Watugunung yang membuat Dewi Srimpi segera berlari menuju gerbang istana dan bertanya letak dapur. Gadis itu segera menuju ke arah yang di tunjukkan.


Tinggal Panji Watugunung dan Ayu Galuh di serambi. Ayu Galuh sangat ketakutan.

__ADS_1


"Maaf. Maafkan aku. Aku tidak sengaja", Ayu Galuh menunduk.


"Manis sekali mulut mu, setelah meracuni orang tinggal minta maaf", jawab Watugunung ketus.


"Aku tidak bermaksud melakukan itu pada mu. Aku hanya kesal karna di jodohkan. Tolong jangan laporkan ini pada Ayahanda", Ayu Galuh berlutut memohon maaf.


Cihhhhh


Panji Watugunung benar benar kesal dengan ulah gadis itu. Kalau bukan perempuan, mungkin sudah dia hajar habis-habisan.


Tak mendapat jawaban, Ayu Galuh semakin ketakutan. Air mata nya menetes deras.


Huhuhuhu..


Huuu...


Panji Watugunung kaget melihat gadis itu menangis. Sekesal-kesalnya hatinya, dia tak kan bisa melihat air mata wanita.


"Hei kenapa menangis? Cepat diam.


Nanti orang mengira aku menindas mu"


Ayu Galuh terus menangis, bahkan lebih keras.


Huuuuu...


Karena tidak tega, akhirnya Panji Watugunung mendekat ke Ayu Galuh. Dengan manja, gadis itu memeluk tubuh Panji Watugunung.


"Sudah jangan menangis lagi. Diamlah..


Aku sudah memaafkan mu. Jadi jangan menangis".


Ucapan Watugunung membuat Ayu Galuh menghentikan tangisannya. Dengan masih terisak, dia memandang ke wajah Panji Watugunung.


"Maafkan aku".


"Iya iya, sudah aku maafkan. Jangan menangis lagi", ujar Panji Watugunung sambil mengelus kepala Ayu Galuh.


Dewi Srimpi yang mengambil makanan, berhenti dan mematung melihat adegan itu.


Ehemmm hemmmmm


Suara batuk Dewi Srimpi segera membuat Panji Watugunung melepaskan pelukan Ayu Galuh. Panji Watugunung segera menuntun Gadis itu ke kursi.


Menyadari Ayu Galuh memperhatikan nya, Panji balik memandang.


"Mau makan?"


Ayu Galuh hanya menggeleng pelan. Dan Panji Watugunung meneruskan makan nya.


Usai makan dan minum air kendi, Panji Watugunung mencuci tangan nya.


"Sudah malam, pulang lah ke keputren. Nanti ibu mu mencari mu", ujar Panji Watugunung.


"Ibu sudah tau aku ada disini", jawab Ayu Galuh dengan tenang.


"Lha terus mau mu apa? Badan ku lelah ingin istirahat", Panji Watugunung mengusir halus Ayu Galuh.


"Aku temani ya", Ayu Galuh tetap tak mu pergi.


"Apa sih sebenarnya mau mu?", ujar Watugunung mulai kesal.


"Aku mau tetap disini, aku tidak mau pergi", Ayu Galuh tetap tak beranjak.


Panji Watugunung segera berdiri dan meninggalkan serambi keputran menuju kamar peristirahatan nya. Ayu Galuh mengikuti langkah Panji Watugunung yang masuk ke kamar nya.


Panji Watugunung nyaris mengumpat melihat tingkah laku Ayu Galuh. Saat Dewi Srimpi pergi, Ayu Galuh juga tetap berdiri di samping ranjang Panji Watugunung.


"Jagat Dewa Batara, apa sebenarnya mau mu?".


"Aku mau kau memaafkan ku", ujar Ayu Galuh.


"Tadi kan sudah ku maafkan. Terus mau apa lagi?", Panji Watugunung benar benar kesal dengan ulah Ayu Galuh yang menyebalkan.


"Aku mau kau menerima perjodohan dengan ku", ucap Ayu Galuh.


Hemmmm


"Dengar gadis cilik. Aku sudah tua, istri ku tiga. Kau masih menikah dengan ku? ", Panji Watugunung kini bersungguh sungguh.


"Aku tidak peduli meskipun istri mu 10 sekalipun. Aku mau kau jadikan nomer 11 juga tidak masalah. Yang penting aku kau nikahi", jawab Ayu Galuh dengan tenang.


"Terserah kau saja", Panji Watugunung segera menarik selimutnya. Dia sudah berusaha menjauhi Ayu Galuh, tapi gadis itu tetap pada pendiriannya. Sekalipun demikian, Ayu Galuh tetap jadi istrinya. Kalau tidak, bisa bisa dia di cap sebagai ancaman oleh Prabu Samarawijaya.


Malam semakin larut dan mulai beranjak pagi.

__ADS_1


Hujan deras mengguyur kota Daha berangsur reda.


Panji Watugunung terbangun saat merasa satu tangan memeluk tubuh nya. Ya, itu tangan Ayu Galuh. Panji Watugunung ingat tadi malam saat dia tidur, Ayu Galuh masih di kamarnya.


Tubuh ramping gadis itu menggulung badan Panji Watugunung. Kelihatan dia kedinginan. Panji Watugunung hanya bisa pasrah dan tak bergerak sampai pagi tiba.


Panji Watugunung pelan melepas pelukan gadis itu, beringsut turun dari ranjang nya.


Dewi Srimpi yang membuka pintu kamar, tersenyum tipis dari balik cadar hitam nya.


"Selamat pagi Denmas Panji, bagaimana tidur nya semalam?".


Panji Watugunung mendengus kesal ke arah Dewi Srimpi.


"Kau meledek ku Srimpi?".


"Apa saya salah Denmas? kelihatannya Denmas Panji begitu menikmati pelukan hangat istri mudanya, hihihi", Dewi Srimpi terkekeh geli.


"Diam kau. Pagi ini kita menghadap Gusti Prabu Samarawijaya. Kita tidak bisa disini terlalu lama".


Usai mandi dan berdandan ala bangsawan, Panji Watugunung dan Dewi Srimpi menghadap ke ruang pribadi raja.


"Ada apa pagi pagi begini kau mencari aku Dimas Panji?", ujar Prabu Samarawijaya tersenyum.


"Mohon maaf jika hamba mengganggu istirahat Gusti Prabu. Sebenarnya hamba bermaksud untuk menyelesaikan tugas hamba sebagai pemimpin pasukan Garuda Panjalu. Berdasarkan hasil pemantauan terhadap semua tindak kejahatan di perbatasan, ternyata Alas Larangan dan Gunung Kematian yang ada di belakangnya Gusti Prabu. Hamba bermaksud menyerang markas mereka dengan bantuan dari Keraton Daha", Panji Watugunung menghaturkan sembah.


"Apa maksudmu dengan bantuan ku Dimas Panji?", tanya Samarawijaya.


"Hamba mohon Paduka bisa memberikan ijin untuk menyerbu markas mereka. Untuk pasukan, kami akan meminta bantuan Pakuwon Kunjang dan Watugaluh dalam upaya ini Gusti Prabu", Panji Watugunung menjelaskan.


"Baiklah, sebagai bentuk ijinku, ku pinjamkan keris pusaka Naga Panjalu. Jika mereka menolak memberikan bantuan kepada Dimas Panji setelah melihat keris ini, maka mereka bisa dianggap tidak setia pada Daha", titah sang Prabu Samarawijaya sambil mengulurkan keris pusaka Naga Panjalu kepada Panji Watugunung.


"Terimakasih atas dukungannya terhadap hamba Gusti Prabu", Panji Watugunung segera menghaturkan sembah sujud nya.


"Satu lagi Dimas Panji Watugunung, jangan membantah ku", ucap Prabu Samarawijaya, "Bawa Ayu Galuh bersama mu".


"Hamba tidak mengerti maksud Gusti Prabu", Panji Watugunung kebingungan.


Samarawijaya tersenyum penuh arti.


"Bukankah semalam dia menginap di tempat mu Dimas Panji??


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


*Nah loh ketahuan kan?


Hehehehe 😁😁😁😁


Dukung author terus menulis dengan like vote dan komentar nya ya guys 👍👍👍


Selamat membaca 🙏🙏🙏🙏*

__ADS_1


__ADS_2