
Sambil menggigil menahan dingin karena basah kehujanan, mereka menyusuri jalan di tengah Wanua Ketawang.
Aroma ketela pohon bakar dari salah satu rumah warga menandakan sudah ada orang yang bangun. Lamana segera bergegas menepuk punggung kudanya menuju rumah itu diikuti Panji Watugunung dan rombongannya.
Tok tok tok
Lamana mengetuk pintu rumah itu segera. Tak berapa lama kemudian terdengar suara langkah kaki menuju pintu.
Kriettttt...
Saat pintu rumah terbuka, seorang lelaki tua bertubuh kurus nampak disana. Wajah sepuhnya mengernyit heran karena merasa tidak mengenal mereka.
"Permisi Ki, bolehkah kami menumpang berdiang? Kami pengelana dari jauh, kehujanan di jalan", Lawana menatap wajah sepuh si kakek tua.
Mendengar suara Lawana yang menggigil kedinginan, laki laki tua itu segera tersenyum.
"Silahkan masuk kisanak, mari langsung ke dapur saja", ujar kakek tua itu segera.
Setelah menambatkan kuda mereka di samping teras rumah, mereka segera bergegas mengikuti langkah si laki laki tua menuju dapur.
Seorang wanita tua berambut putih dengan kemben kain hitam nampak duduk di depan tungku dapur ditemani seorang bocah laki-laki yang sedang asyik menikmati singkong bakar. Mereka segera berdiri saat Panji Watugunung dan rombongannya datang.
"Eh ini siapa Ki? Kenapa baju mereka basah kuyup begini?", tanya si nenek tua dengan nada khawatir.
"Mereka pengelana Ni. Kehujanan di jalan tadi. Sudah kau agak jauh sana, biarkan mereka berdiang dulu supaya hangat tubuhnya", jawab kakek tua itu segera.
Setelah si nenek tua menjauh, buru buru Panji Watugunung dan keempat istrinya duduk di depan perapian. Lawana dan Trajutrisna juga ikut mendekat. Perlahan rasa panas mulai menghangatkan tubuh mereka. Untung saja mereka memiliki tenaga dalam yang cukup, kalau tidak pasti sudah mati kedinginan dari tadi.
Sambil berdiang, mereka kemudian berbincang dan saling memperkenalkan diri masing masing. Kakek tua itu bernama Ki Gatra, istri nya bernama Nyai Amurti. Sedang bocah laki-laki tadi bernama Barda.
Nyai Amurti kemudian membuatkan mereka wedang jahe untuk mengusir dingin dari tubuh mereka.
Mentari pagi bersinar hangat mengusir dingin malam yang mengikuti hujan deras semalam. Setelah berganti baju, mereka berbincang hangat di serambi kediaman Ki Gatra. Nyi Amurti menghidangkan singkong rebus dan jagung rebus untuk mengisi perut mereka pagi itu.
"Sebenarnya kalian ini dari mana dan hendak kemana?", tanya Ki Gatra dengan penasaran. Dari pertama bertemu dengan mereka, dia merasa mereka bukan orang biasa.
"Kami pengelana Ki, dari Galuh hendak ke Kalingga. Jujur saja, semalam kami kabur dari penginapan, karena hendak di tangkap prajurit Pakuwon Pandanarum. Menurut orang yang menolong kami, kami ini dituduh sebagai mata-mata", ujar Panji Watugunung segera.
"Hemmmm
Kalau kalian benar dari Galuh Pakuan, seharusnya tidak masalah melewati wilayah Kadipaten Paguhan.
Bukankah Raja Galuh Pakuan masih bersaudara dengan Adipati Paguhan?", ujar Ki Gatra terheran-heran.
"Kami tidak tahu Ki, kenyataan nya seperti itu", Panji Watugunung menoleh ke arah Naganingrum yang sedang mengeluarkan beberapa kepeng perak.
"Ini untuk Aki. Hatur nuhun nyak sudah membantu kami", Naganingrum segera mengulurkan tangannya yang berisi beberapa kepeng perak pada Ki Gatra.
Si laki laki tua setelah melihat kepeng perak, seketika percaya bahwa mereka berasal dari Galuh Pakuan karena kepeng perak nya terdapat ukiran kujang yang menandakan itu mata pembayaran di wilayah Galuh Pakuan.
Setelah cukup beristirahat, rombongan Panji Watugunung segera mohon pamit untuk meneruskan perjalanan mereka. Ki Gatra dan Nyai Amurti menatap ke arah Panji Watugunung dan rombongannya yang menggebrak kuda mereka menuju ke arah timur.
Lawana yang menjadi pemimpin perjalanan langsung mengarah ke gerbang istana Pakuwon Banjar.
Di depan pintu gerbang istana, empat orang prajurit tampak berjaga-jaga. 2 orang memegang tombak dan tameng, sementara 2 lainnya memegang tameng dan pedang.
Lawana langsung melompat turun dari kudanya dan mendekati sang penjaga gerbang istana segera.
"Aku ingin bertemu dengan Akuwu Umbara. Bilang padanya, Bekel Lawana utusan Gusti Senopati Lokananta ingin menghadap", ujar Lawana sambil menunjukkan lencana perak bergambar bunga cempaka pada prajurit penjaga.
Seorang prajurit berlari masuk ke istana, tak lama kemudian dia kembali.
"Silahkan Ki Bekel, Gusti Akuwu sudah menanti di balai pisowanan Pakuwon", sang prajurit menghormat pada Lawana.
Mereka bertujuh segera melangkah menuju ke balai pisowanan Pakuwon Banjar.
Di balai pisowanan, tampak Tumenggung Janadi dan Tumenggung Sukendro dari Bhumi Sambara sedang berhadapan dengan Akuwu Umbara. Begitu melihat Panji Watugunung berjalan di belakang Lawana, dua orang tumenggung itu segera berjongkok dan menyembah kepada Panji Watugunung.
"Sembah bakti hamba pada Gusti Pangeran Panji Watugunung", ujar Tumenggung Janadi dan Tumenggung Sukendro bersamaan.
"Bangunlah, jangan terlalu banyak adat", ujar Panji Watugunung sambil tersenyum tipis.
Dua orang tumenggung itu segera berdiri.
__ADS_1
"Akuwu Banjar, Umbara memberi hormat kepada Gusti Pangeran Panji Watugunung", pria paruh baya dengan badan tegap berjalan mendekati Panji Watugunung dan segera menyembah kepada nya.
"Berdiri lah Ki Kuwu, jangan seperti menyembah kepada dewa", ujar Panji Watugunung segera.
"Ayo kita duduk", imbuh Panji Watugunung kemudian.
Mereka segera duduk bersila di lantai bangsal pisowanan Pakuwon Banjar. Semuanya menanti perintah dari Panji Watugunung.
"Bagaimana persiapan kalian, Tumenggung Janadi?", Panji Watugunung membuka percakapan.
"Sejauh ini, 1000 pasukan Kalingga dan 1000 prajurit dari Bhumi Sambara sudah berkemah di luar kota Pakuwon Banjar Gusti Pangeran. Kami sudah mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk melakukan perintah dari Gusti Pangeran", lapor Tumenggung Janadi sambil menghormat.
Hemmmm
"Kita harus menunggu kedatangan pasukan Garuda Panjalu dan pasukan Daha lebih dulu, Tumenggung Janadi.
Pasukan dari Bhumi Sambara,
Apakah membawa pasukan pemanah?", Panji Watugunung menoleh kearah Tumenggung Sukendro dari Bhumi Sambara.
"Ampun Gusti Pangeran,
Separuh prajurit Bhumi Sambara adalah pemanah pilihan", Tumenggung Sukendro menghormat pada Panji Watugunung.
"Baguslah,
Dengan begitu setidaknya bisa melakukan serangan kejutan seperti yang aku rencanakan.
Maaf Ki Kuwu,
Kami lelah setelah perjalanan jauh. Apakah masih ada tempat untuk ku dan pengiring ku beristirahat?", Panji Watugunung menatap ke arah Akuwu Umbara.
"Sudah hamba persiapkan sejak kemarin Gusti Pangeran. Namun bila tidak sebagus harapan dari Gusti Pangeran, hamba mohon maaf sebelumnya", ujar Akuwu Banjar itu sambil menghormat pada Panji Watugunung.
Setelah merasa cukup bercakap-cakap, Panji Watugunung dan keempat istrinya diantar oleh Akuwu Banjar untuk beristirahat. Tak lupa, pelbagai jenis masakan khas istana Pakuwon Banjar diantarkan ke serambi peristirahatan mereka.
Lewat tengah hari, pasukan Daha beserta pasukan Kembang Kuning dan Rajapura datang ke Pakuwon Banjar. Tumenggung Janadi mengatur tempat berkemah untuk masing masing pasukan. Sementara itu para perwira tinggi prajurit masing-masing pasukan menuju ke istana Pakuwon Banjar untuk melaporkan kedatangan mereka kepada Panji Watugunung.
Saat senja, para perwira tinggi prajurit berkumpul di balai pisowanan Pakuwon. Nampak Senopati Narapraja, diapit Tumenggung Wiguna, dan Warigalit dari pasukan Daha. Senopati Lokananta dan Tumenggung Janadi dari pasukan Kalingga. Ada juga Tumenggung Sukendro dan Demung Bena dari Bhumi Sambara. Tumenggung Jayanata dari Kembang Kuning dan Tumenggung Kumara dari Rajapura ikut hadir di balai pisowanan. Semuanya mengelilingi Panji Watugunung untuk mendengarkan perintah dari sang pemimpin tertinggi pasukan.
Besok pagi aku minta kau dan Kakang Warigalit menjadi duta ke Paguhan. Ajak mereka baik baik untuk kembali pangkuan Panjalu. Akan ku tulis sepucuk surat untuk Adipati Gandakusuma.
Berhati-hatilah kalian selama perjalanan. Bawa beberapa prajurit pilihan untuk mengawal kalian", perintah Panji Watugunung pada dua orang itu segera.
Senopati Narapraja dan Warigalit segera mengangguk tanda mengerti.
"Untuk semua prajurit semua bersiap di perbatasan Paguhan dan Kalingga.
Setelah Kakang Warigalit dan Senopati Narapraja kembali, baru kita tentukan langkah kita selanjutnya", ujar Panji kemudian.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", seluruh perwira tinggi prajurit menjawab bersamaan dan segera berjongkok menyembah Panji Watugunung.
Malam itu mereka beristirahat di istana Pakuwon Banjar.
Gumbreg, Ludaka dan Landung turut bermalam disana. Mereka asyik berbincang sambil membakar jagung muda yang baru di dapat tadi sore.
"Lu, aku dengar Gusti Pangeran Panji Watugunung kawin lagi ya?", tanya Gumbreg pada Ludaka yang sedang asyik membolak balik jagung muda diatas api unggun.
"Aku dengar sih iya Mbreg, katanya putri bungsu Prabu Darmaraja dari Galuh Pakuan", jawab Ludaka sambil meniup jagung bakar nya yang sedikit gosong.
"Wah enak bener. Istri tiga tiga nya anak penguasa. Empat selir semuanya cantik dan sakti.
Eh putri Galuh Pakuan itu cantik gak Ndung? Tadi kan kamu sudah lihat orang nya", Gumbreg menoleh pada Landung yang asyik mengunyah jagung bakar dari tadi.
"Kalau masalah cantik, menurut ku dia tidak kalah dengan Gusti Dewi Anggarawati Mbreg", Landung terus makan sambil menjawab pertanyaan Gumbreg.
"Wahh jadi pengen ngintip. Penasaran aku", ujar Gumbreg sambil cengar-cengir.
"Kau sudah tidak sayang dengan Juminten Mbreg?", tanya Ludaka tiba-tiba.
"Ya sayang Lu,
Kenapa kau tanya begitu?", Gumbreg menoleh pada Ludaka.
__ADS_1
"Ya kalau masih sayang, sebaiknya kau urungkan niat mu. Mengintip istri Gusti Pangeran Panji sama dengan kau siap di keeeeekkkkkk sama beliau", Ludaka menarik tangan nya ke leher seperti memotongnya.
Gumbreg bergidik ngeri.
Pagi menjelang tiba di Pakuwon Banjar. Ayam jantan berkokok bersahutan di pagi itu. Seakan menjadi pertanda bahwa sang mentari akan segera menyingsing di ufuk timur. Perlahan dari punggung Gunung Sindoro, cahaya kemerahan mulai menggantikan gelap malam.
Panji Watugunung menyerahkan sepucuk surat dari daun lontar yang terbungkus kain biru pada Senopati Narapraja. Dengan ditemani oleh Warigalit dan 10 orang prajurit pilihan, Senopati Narapraja menggebrak kuda nya menuju selatan menuju kota Kadipaten Paguhan.
Setelah seharian melakukan perjalanan dengan kuda, mereka tiba di istana Kadipaten Paguhan.
Dua orang prajurit penjaga langsung menghadang mereka karena melihat dari kain jarik batik berwarna ungu kecoklatan jelas mereka adalah prajurit Panjalu.
"Mau apa kalian kemari?", tanya sang prajurit sambil menodongkan tombak nya.
"Kami adalah utusan Gusti Pangeran Panji Watugunung selaku pimpinan pasukan Daha. Ingin menyampaikan pesan kepada junjungan mu, Adipati Gandakusuma", jawab Senopati Narapraja dengan tenang.
"Huhhh..
Kalian jangan biarkan mereka masuk. Aku akan menghadap Gusti Gandakusuma", ujar si prajurit kepada kawannya. Dia segera berlari masuk ke dalam balai paseban Kadipaten Paguhan. Setelah beberapa saat, dia kembali.
Dengan pengawalan ketat, Senopati Narapraja dan Warigalit memasuki balai paseban Kadipaten Paguhan.
Adipati Gandakusuma duduk dengan pongah di atas singgasana nya. Di kanan-kiri nya ada Patih Nala Gupita, Senopati Sembu, Tumenggung Rumpaksana, Tumenggung Kalayaksa, Demung Gempi, Demung Kandaga dan beberapa pejabat tinggi istana Kadipaten Paguhan.
Setelah menyembah sebagai tanda penghormatan, Senopati Narapraja duduk bersila dengan Warigalit di sampingnya.
"Salam hormat Gusti Adipati Gandakusuma.
Saya Narapraja, utusan Gusti Pangeran Panji Watugunung sang Panglima Pasukan Panjalu.
Saya diutus untuk mengantarkan surat kepada Gusti Adipati Gandakusuma", ujar Senopati Narapraja yang kemudian merogoh kantong bajunya dan mengambil surat dari Panji Watugunung. Dengan kedua tangannya dia menghaturkan surat.
Adipati Gandakusuma segera mengangkat tangan kanannya. Demung Gempi segera berdiri dan mengambil surat dari tangan Senopati Narapraja kemudian menyerahkan pada Adipati Gandakusuma.
Perlahan dia membuka kain biru pembungkus surat itu. Kemudian satu persatu daun lontar itu dia baca. Bibirnya bergetar saat membaca kata demi kata yang tertulis. Dengan gemas dia meremas surat itu dan dengan lantang berkata,
"Katakan pada Panji Watugunung,
Paguhan siap berperang!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kakak reader tersayang semuanya dengan like 👍, vote ☝️, favorit ❤️ dan komentar 🗣️ nya
Juga tak lupa kasih rate lima bintang 🌟 agar author semakin semangat menulis 😁😁
__ADS_1
Selamat membaca kak 😁😁