Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Kemenangan Satu Hari


__ADS_3

Panji Watugunung hanya melengos pergi tanpa berkata. Pimpinan Pasukan Garuda Panjalu itu segera mendekati Tumenggung Wiguna yang juga berlari ke arahnya.


"Gusti Pangeran, ketiwasan..


Watugaluh sudah jatuh ke tangan para pengacau itu", ujar Tumenggung Wiguna ngos-ngosan mengatur nafas nya.


Watugunung menghela nafas panjang.


"Tenangkan diri mu Tumenggung Wiguna, jangan terburu buru melapor".


Tumenggung muda itu segera menenangkan diri sejenak. Usai nafasnya berangsur normal, dia menatap ke arah istana Pakuwon Watugaluh. Ada gurat kesedihan di wajah nya.


"Maafkan kami Gusti Pangeran.


Pasukan kami tidak bisa mempertahankan Watugaluh, pasukan pengacau itu berhasil menembus pertahanan kami. Mereka orang orang berilmu tinggi Gusti", Tumenggung Wiguna menunduk wajahnya.


"Jelaskan nanti di tenda perkemahan. Hari sudah semakin sore", Panji Watugunung segera melangkah. Tumenggung Wiguna dan Bekel Majaya mengikuti langkah sang Pangeran Daha.


"Ludaka,


Ajak Landung dan Jarasanda, kabari berita penting ini ke pasukan Watugaluh yang di utara kota.


Dan juga sebar anak buah mu ke sekitar Pakuwon Watugaluh. Perhatikan semua gerakan mereka yang di dalam istana Pakuwon", titah Panji Watugunung.


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", jawab Ludaka sambil menghormat.


Mereka bertiga segera melompat ke atas kuda mereka dan melesat cepat menuju utara pakuwon Watugaluh lewat jalur barat.


Sepuluh prajurit Ludaka segera bergegas menyebar ke seputar Pakuwon Watugaluh.


"Gumbreg,


Kumpulkan mayat mayat saudara kita yang gugur hari ini. Makamkan mereka. Untuk musuh, tumpuk mayat-mayat mereka dan bakar biar tidak menjadi sarang penyakit".


Gumbreg yang baru saja ketakutan, segera menyembah kepada Panji Watugunung dan berlalu. Seluruh prajurit yang gugur di pertempuran selatan di kumpulkan dan di kubur. Sedangkan mayat mayat anggota Kalajengking Biru di tumpuk dan di bakar. Bau tidak sedap segera menyelimuti tempat itu.


Usai penguburan, Panji Watugunung dan seluruh prajurit bergegas kembali ke perkemahan.


Ludaka, Landung dan Jarasanda terus memacu kudanya menuju ke arah utara Pakuwon Watugaluh.


Di utara gapura kota, pertempuran baru saja selesai terjadi. Beberapa orang Lembah Hantu bisa meloloskan diri dari kejaran pasukan Watugaluh, termasuk Pangeran Lembah Hantu yang terluka parah dan Hantu Gunung yang menolongnya.


Ludaka, Landung dan Jarasanda segera memacu kudanya menuju ke arah pasukan itu.


Sriti Lanang yang mengenali mereka sebagai anak buah Panji Watugunung segera mendekati mereka usai mereka bertiga turun dari kudanya.


"Ada berita penting apa yang kalian bawa kemari?", tanya Sriti Lanang.


"Maaf Ki Lurah, Watugaluh sudah jatuh. Pasukan di selatan memenangkan pertarungan. Disini sepertinya juga begitu. Namun yang dari timur pasukan musuh berhasil menjebol pertahanan dan masuk ke istana Pakuwon Watugaluh", jawab Ludaka sambil menatap ke arah pasukan Pakuwon Watugaluh.


Semua orang terkejut mendengar berita itu. Dewi Tunjung Biru langsung menangis tersedu-sedu.


"Ba-bagaimana dengan Kanjeng Eyang Akuwu?", tanya Dewi Tunjung Biru terbata-bata.


"Jelasnya kami kurang tau. Tapi dari pasukan yang di timur, hanya Tumenggung Wiguna dan Bekel Majaya saja perwira prajurit yang berhasil lolos", jawab Jarasanda kemudian.


Dewi Tunjung Biru langsung pingsan setelah mendengar cerita Jarasanda. Dewi Kipas Besi langsung menyambar tubuh Dewi Tunjung Biru.


Bekel Setyaka yang sedang terluka dalam serius hanya menatap wajah Landung dengan tatapan kosong. Pria itu kemudian batuk batuk kecil dengan darah kehitaman mengalir di sudut bibirnya.


Sriti Lanang menatap ke sekeliling tempat itu.


"Apa sebaiknya yang harus kita lakukan?", Sriti Lanang kebingungan. Pimpinan pasukan sedang terluka dalam serius, cucu Akuwu Watugaluh sedang pingsan, Dewi Kipas Besi pun hanya pendekar sewaan.

__ADS_1


"Sebaiknya Ki Lurah pimpin prajurit bergabung dengan Gusti Pangeran Panji Watugunung. Langkah selanjutnya biar kita atur disana", usul Ludaka kemudian.


Sriti Lanang mengangguk tanda mengerti. Setelah itu Sriti Lanang memerintahkan kepada prajurit Pakuwon Watugaluh yang tersisa untuk mengikuti nya ke selatan lewat jalan barat. Dengan di pandu Jarasanda, Ludaka dan Landung mereka bergerak menuju ke tempat perkemahan pasukan Garuda Panjalu.


Malam mulai turun saat pasukan Watugaluh tiba di perkemahan pasukan Garuda Panjalu.


Bersamaan itu pula, Tumenggung Adiguna dan Tumenggung Koncar dari pasukan Anjuk Ladang yang baru datang ke Watugaluh membawa 1000 orang prajurit diarahkan prajurit Ludaka untuk menuju ke perkemahan Panji Watugunung.


Para prajurit bahu membahu mendirikan tenda untuk bermalam disitu.


Di tenda pengobatan, Dewi Srimpi bekerja sama dengan para selir Panji Watugunung serta Ratri mengobati luka para prajurit dan Bekel Setyaka yang baru datang.


Di tenda perbekalan, Gumbreg dan anggota nya di bantu para prajurit dari Anjuk Ladang sibuk menyiapkan makanan untuk mereka semua.


Kini pasukan Panji Watugunung berjumlah 1850 orang, dengan 1700 orang siap tempur, 130 orang luka ringan dan 20 orang luka parah.


Seluruh perwira tinggi prajurit berkumpul di tenda besar. Ki Saketi, Tumenggung Wiguna, Tumenggung Adiguna, Tumenggung Koncar, Bekel Majaya, Sepasang Sriti Perak, Dewi Kipas Besi, Dewi Tunjung Biru yang sudah sadar, Warigalit, Jarasanda, Ludaka, Rajegwesi, dan Landung duduk bersila menanti perintah Panji Watugunung yang duduk di temani Ayu Galuh.


Panji Watugunung benar benar terlihat seperti raja muda yang diapit permaisuri dan pembesar istana nya.


Hemmmmm


Putra Bupati Gelang-gelang itu menghela nafas panjang sebelum berkata.


"Tumenggung Wiguna, ceritakan tentang keadaan pasukan lawan yang berhasil menjatuhkan Watugaluh".


"Ampun Gusti Pangeran, seperti yang tadi hamba ceritakan. Mereka terdiri dari orang-orang persilatan aliran hitam yang dipimpin oleh Iblis Bukit Jerangkong. Dia sangat sakti, Tapak Malaikat yang luar biasa dengan mudah dia bunuh.


Jumlah mereka kini sekitar 600 sampai 700 orang, Gusti Pangeran", jawab Tumenggung Wiguna.


"Dengan kekuatan kita yang sekarang, menghadapi mereka tidak terlalu sulit jika di perang terbuka. Tapi posisi mereka ada di dalam istana Pakuwon Watugaluh. Akan sulit karena tembok istana Pakuwon Watugaluh cukup tinggi.


Dewi Tunjung Biru, apa kau tahu jalan rahasia untuk menembus istana Watugaluh yang aman?", Panji Watugunung menatap ke arah Dewi Tunjung Biru yang duduk di sebelah Dewi Kipas Besi.


"Ada Kakang Watugunung, di dekat gapura selatan sebuah lapak yang menjual buah segar. Di situ ada sebuah celah sempit untuk keluar masuk istana tanpa di ketahui penjaga. Aku sering kabur lewat jalan itu dan hanya aku yang bisa masuk kesana", jawab Dewi Tunjung Biru.


Cucu Akuwu Watugaluh itu segera menunduk tidak berani bersuara.


Hemmmmm


Ganti Panji Watugunung yang mendengus kesal pada Ayu Galuh. Matanya tajam menatap nya.


Sadar dirinya sedang membuat Panji Watugunung kesal, Ayu Galuh diam seketika. Kalau tidak ada banyak orang pasti Panji Watugunung mengomeli nya panjang lebar. Untung saja suaminya itu masih menjaga kehormatan nya di depan orang banyak.


"Nanti menjelang pagi, Ludaka, Rajegwesi, Jarasanda dan Dewi Tunjung Biru akan menyelinap masuk ke dalam tembok istana Watugaluh. Kalian menyamar lah. Buka pintu gerbang selatan saat terdengar terompet tanduk kerbau berbunyi.


Pasukan kita akan di bagi dua. Satu pasukan berkekuatan 700 prajurit berkuda dan 100 prajurit pemanah di bawah pimpinan Tumenggung Wiguna, Tumenggung Adiguna, Tumenggung Koncar akan menyerbu gapura barat istana Pakuwon Watugaluh. Buat perhatian mereka teralihkan pada gerbang barat.


Sedangkan prajurit sisanya akan ikut aku menggempur lewat gapura selatan istana yang dibuka Dewi Tunjung Biru dan yang lainnya.


Malam ini, biarkan mereka menikmati kemenangan satu hari. Besok pagi kita bebaskan istana Pakuwon Watugaluh", ujar Panji Watugunung berapi-api.


"Hidup Gusti Pangeran Panji...


Hidup Gusti Pangeran Panji


Hidup Gusti Pangeran Panji..."


Semua orang di tenda bersorak riuh rendah. Dalam hati mereka mengakui bahwa Panji Watugunung memang pandai dalam bersiasat perang.


**


Di istana Pakuwon Watugaluh, Iblis Bukit Jerangkong duduk di singgasana Pakuwon Watugaluh dengan pongah.

__ADS_1


Para prajurit yang menjaga istana sudah di bantai oleh orang orang Bukit Jerangkong dan Bukit Hitam. Tinggal menyisakan para dayang dan keluarga wanita Akuwu Hangga Amarta.


Para petinggi istana Pakuwon, sudah dibantai habis. Anggota Perampok Bukit Hitam menjarah harta benda para petinggi istana Pakuwon Watugaluh, juga memperkosa para wanita yang tersisa disana.


"Guru, hari ini Watugaluh. Besok kita taklukkan Pakuwon lainnya", teriak Pedang Iblis sambil mengangkat cawan arak nya.


"Bukan hanya Pakuwon, tapi seluruh Panjalu akan kita kalahkan", Iblis Bukit Jerangkong mengangkat kendi araknya.


Suasana semakin liar malam itu. Mereka mabuk berat akibat arak beras ketan.


Malam semakin larut. Suara burung malam bersahutan dengan jangkrik dan belalang. Bulan baru yang nampak seperti sabit menggantung indah di langit.


Saat pagi hampir tiba, 4 bayangan hitam bergerak cepat menuju sebuah lapak buah di kiri gapura selatan istana Pakuwon Watugaluh.


Dengan hati hati mereka menyelinap masuk ke dalam lapak buah. Salah satu bayangan hitam itu membuka kain hitam tebal yang melekat pada tembok istana. Sebuah lubang menganga yang cukup untuk satu orang masuk ada disana.


4 bayangan hitam itu segera masuk dan menutup lagi lubang itu dengan kain hitam tebal. Ternyata lubang itu menembus sebuah bangunan rumah kosong. Dari dalam rumah kosong mereka mengintip keluar lewat lobang dinding kayu.


Diluar nampak beberapa orang berpakaian hitam sedang teler akibatnya arak beras ketan.


Perlahan mereka keluar dari rumah kosong itu dan mendekati ketiga orang berpakaian hitam itu serta segera menikam dengan senjata masing-masing.


Creeppp


Setelah membekap mulut mereka agar tidak ada suara yang keluar, mereka menyeret ketiga mayat itu ke dalam rumah kosong.


Tiga orang itu segera melepas baju orang yang baru mereka habisi dan memakai nya. Kemudian mereka menyambar arak beras ketan untuk semakin menambah kemiripan.


Salah satu bayangan hitam itu segera kembali ke tempat mereka masuk. Kemudian dengan cepat dia meninggalkan lapak buah itu menuju ke tempat perkemahan pasukan Panji Watugunung.


"Kakek,


Akan kubalas kematian mu"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah perjalanan kang Panji dalam pengabdian kepada negeri tercinta 😁😁

__ADS_1


Author mengucapkan beribu terima kasih kepada reader yang sudah memberikan dukungannya terhadap cerita ini 🙏🙏🙏


Selamat membaca guys 😁😁


__ADS_2