
"Tangkap dua orang itu!"
Teriakan Bupati Gelang-gelang membuat Tumenggung Sancaka bergerak cepat. Dalam sekejap, dua orang berpakaian hitam yang di hajar Sekar Mayang sudah di ikat prajurit.
"Bawa mereka ke penjara,
Yang lain bersihkan Puri Agung dari mayat-mayat penyusup",
"Baik Gusti Bupati", jawab Tumenggung Sancaka.
"Panggil semua pejabat kabupaten Gelang-gelang, aku mau ada pisowanan pagi ini", titah sang Bupati.
Panji Watugunung dan 3 calon istri nya kembali ke keputran Gelang-gelang untuk beristirahat.
Pagi mulai menyapa wilayah kota Gelang-gelang.
Suasana di Puri Agung Gelang-gelang terutama di bangsal pisowanan ramai.
Puluhan pejabat tinggi kabupaten tampak duduk rapi bersila. Bupati Gelang-gelang Panji Gunungsari tampak duduk di singgasana nya sambil mengerutkan keningnya.
Panji Watugunung juga ikut pisowanan kali ini.
"Kalian tau kenapa aku kumpulkan pagi ini?"
"Ampun Gusti Bupati, kami kurang tau", ujar seorang Akuwu sepuh.
"Tumenggung Sancaka bicaralah"
Tumenggung Sancaka kemudian berdiri,
setelah menyembah kepada Bupati Gelang-gelang, dia berkata,
"Tadi malam ada orang menyusup ke dalam Puri Agung Gelang-gelang. Pemimpin penyusup sudah tewas di tangan Gusti Pangeran Panji Watugunung dan Gusti Bupati.
Dari dua orang yang berhasil di tangkap, mereka berasal dari Perguruan Gunung Kematian, di lereng Kelud Utara".
Usai berkata, Sancaka duduk bersila lagi.
Semua orang terkejut.
"Patih Lodaya, bagaimana persiapan perayaan putra ku?", ujar sang Bupati.
"Ampun Gusti Bupati, semua persiapan sudah siap. Tapi apakah bijak jika kita melakukan perayaan saat ada masalah seperti ini?", ucap Patih Lodaya.
"Lanjutkan saja, aku tak mau mengecewakan hati rakyat ku. Tapi aku minta semua prajurit bersiaga penuh. Untuk Puri Agung Gelang-gelang tingkatkan keamanan 2 kali lipat lebih kuat dari sebelumnya", titah sang Bupati.
"Sendiko dawuh Gusti Bupati"
Dan malam itu, menjadi malam perayaan meriah dengan pengamanan ketat.
Keesokan paginya, Panji Watugunung dan ketiga gadis calon istri nya berkunjung ke tempat pribadi Bupati. Mereka meminta ijin kembali ke Padepokan Padas Putih.
Walaupun berat hati, Bupati Gelang-gelang mengijinkan putra mahkota nya ke Padepokan Padas Putih tapi dengan syarat setelah jelas semua masalah dia harus segera kembali ke Gelang-gelang.
Panji Watugunung menyanggupi permintaan ayahnya.
Hari itu juga mereka berangkat ke Padas Putih.
Memakai pakaian pengelana biasa, bersiap meninggalkan Gelang-gelang.
"Mohon pamit Romo Bupati, mohon doa Romo agar Jagat Dewa Batara melindungi perjalanan kami", ucap Panji Watugunung menghormat pada ayahnya di ikuti ketiga gadis calon istri nya.
"Iya Ngger, berhati-hati lah. Romo selalu mendoakan mu", ucap Panji Gunungsari mengangguk
"Kanjeng Ibu, Panji mohon pamit"
"Iya Ngger, jaga calon mantu ku ya?", ucap Dewi Pancawati seraya memandang ke tiga orang calon mantu nya.
Setelah berpamitan, Panji Watugunung dan ketiga calon istri nya segera melompat ke atas kuda mereka. Mereka memacu kudanya melesat meninggalkan Puri Agung Gelang-gelang menuju utara Gunung Penanggungan.
Sehari berkuda, membuat stamina mereka menurun. Sampai di tepi Alas Kunjang, mereka berhenti. Panji Watugunung mengikat kuda nya di rerumputan tepi hutan, memberi kuda kuda itu makan.
Dewi Anggarawati sibuk menata bekal perjalanan, Sekar Mayang dan Ratna Pitaloka mencari kayu bakar dan air minum.
__ADS_1
Melihat kesibukan Anggarawati, niat iseng Panji Watugunung muncul. Dengan gerakan cepat, dia sudah tiduran di belakang wanita cantik itu.
Anggarawati tak menyadari, ketika berjalan mundur, kakinya tersangkut badan Watugunung. Tubuh gadis itu limbung hendak jatuh ke tanah. Belum sempat menyentuh tanah, tangan kekar Watugunung menyambar pinggang Anggarawati.
Dan mereka berdua jatuh dengan posisi Anggarawati menindih tubuh Panji Watugunung.
Tatapan mata hangat Watugunung, membuat gadis itu tersihir. Tanpa sadar, bibir mungilnya menempel pada bibir laki laki pujaan hatinya itu.
Entah siapa yang memulai, tapi kecupan mesra mereka berubah menjadi ciuman panas. Nafas mereka terengah-engah merasakan sensasi berbeda. Tangan Panji Watugunung menjelajah tubuh Dewi Anggarawati.
"Woy, apa yang kalian lakukan??"
Teriakan keras itu seketika menghentikan nafsu Panji Watugunung dan Dewi Anggarawati.
Sekar Mayang yang baru mencari air minum mendelik tajam ke arah mereka berdua. Tangannya berkacak pinggang menahan kesal.
Panji Watugunung dan Dewi Anggarawati segera merapikan pakaian mereka yang acak acakan.
"Enak ya, aku repot mencari air minum, kalian bermesraan disini", Sekar Mayang sengit.
Panji Watugunung segera bergegas berdiri dan berjalan mendekati Sekar Mayang.
"Maaf Dinda, jangan marah ya?, ujar Watugunung.
"Kakang tega ya, aku cari minum sampai tengah hutan, repot repot menangkap ayam hutan, malah enak-enakan dengan putri manja itu, dimana perasaan kakang? apa kak......"
Cuppp
Kecupan mesra Panji Watugunung di bibir Sekar Mayang menghentikan omelan gadis cantik itu. Tangan kokoh Watugunung melingkar mesra di pinggang Sekar Mayang
"Sudah tenang?", ucap Panji Watugunung
Sekar Mayang mengangguk pelan. Tangan nya perlahan melingkar di leher pria itu.
"Mau lagi?", Panji Watugunung kini menggoda nya.
Sekar Mayang mengangguk lagi seperti tersihir.
Dewi Anggarawati melihat adegan itu geram.
"Kakang Wugunung..!!!"
Teriakan Dewi Anggarawati membuat Panji Watugunung dan Sekar Mayang saling melepaskan pelukannya.
"Ihhh sebel....", jerit Anggarawati kesal.
Tangan kiri Watugunung meraih tangan Sekar Mayang dan menarik nya mendekati Anggarawati yang cemberut.
Lalu memeluk pinggang Dewi Anggarawati dengan tangan kanan. Tangan kiri ke pinggang Sekar Mayang. Seperti di hipnotis, dua wanita cantik itu menyenderkan kepalanya ke dada Watugunung.
Hening
Hanya ada debar dada dan nafas berat diantara mereka bertiga.
"Kalau kalian rukun seperti ini, Kakang senang sekali"
Ucapan Watugunung bagai guyuran air hujan dingin di hati dua wanita itu.
Keduanya menikmati pelukan hangat dari Panji Watugunung. Mencium aroma tubuh nya.
"Mulai sekarang, kalian harus rukun. Aku milik kalian. Kalian harus bisa berbagi. Paham kalian?".
Dua wanita cantik itu hanya mengangguk pelan saja.
Panji Watugunung melepaskan pelukannya. Dua wanita itu tertunduk malu mengintip wajah pria pujaan hatinya.
"Ayo kita menata tempat istirahat, sebentar lagi malam", ucap Panji Watugunung.
Segera dua gadis itu mengangguk dan menjalankan tugas masing-masing. Anggarawati menata makanan perbekalan, sedangkan Sekar Mayang mengumpulkan rumput kering di sebelah tambi pohon besar, untuk alas tidur dan Panji Watugunung membubuti bulu ayam hutan hasil tangkapan Sekar Mayang.
Tak berapa lama, Ratna Pitaloka datang membawa ranting kayu kering. Panji Watugunung segera memanggang dua ekor ayam hutan setelah menyalakan api unggun.
Ratna Pitaloka merasa aneh dengan kelakuan Sekar Mayang dan Anggarawati yang saling membantu.
__ADS_1
'Hemmmm, tidak biasanya mereka akur'
batin Ratna Pitaloka melihat keakraban dua madu nya.
Dia masih tak berhenti takjub melihat dua oy gadis itu berbagi ayam hutan dengan adil.
Ratna Pitaloka penasaran.
"Kakang, tumben mereka akur,
kesambet setan darimana?"
Bisik Ratna Pitaloka pada Panji Watugunung.
Lelaki tampan itu terlihat sedikit berseri.
"Memang kenapa kalau mereka akur?"
"Ya tidak biasa saja kang, kan Kakang tau sendiri kalau dari dulu Mayang tidak pernah suka dengan Anggarawati", potong Ratna Pitaloka.
"Itu kan dulu, sekarang mereka harus rukun, karna mereka mencintai orang yang sama, jadi harus bisa berbagi waktu dan tempat bersama orang yang mereka sayang", ucap Panji Watugunung.
Ratna Pitaloka melengos,
"Ihhh kakang Panji, benar benar bikin kesel deh.
Terus aku dianggap apa sama kakang?
"Selir pertama", Panji Watugunung santai.
"Ahhh, gak peka. Dasar hidung belang penjerat wanita", gerutu Ratna Pitaloka.
Malam ini mereka tidur berempat. Walaupun sempat ribut, tapi akhirnya tenang setelah Panji Watugunung membagi tempat.
Ratna Pitaloka di sebelah kiri, Anggarawati mepet di sebelah kanan, dan Sekar Mayang di perut Panji Watugunung.
Malam yang dingin dan indah. Bulan sabit mengintip mereka berempat dari balik awan.
Bintang berkelap-kelip seolah tersenyum-senyum sendiri akhirnya di ganti sang pagi.
Cahaya matahari terbit di ufuk timur membangunkan Panji Watugunung. Dia menoleh sekeliling nya. Semalam suntuk dia nyaris tidak bisa bergerak sama sekali.
Ketika akan bangun, suara serak Anggarawati keluar sambil memejamkan mata..
"Masih pagi, jangan bangun dulu"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ya enak, pagi pagi diapit oleh tiga perempuan
__ADS_1
Ahh jiwa Author meronta ronta guys
Hehehehe 😁😁😁😁