
Dari dalam ruangan, seorang gadis cantik berusia belasan tahun keluar bersama Anggrek Emas dan Anggrek Perak. Dia lah sang Dewi Anggrek Bulan. Gadis bergaun putih berlapis sutra kuning tersenyum manis saat melihat rombongan Panji Watugunung.
Ratna Pitaloka, Sekar Mayang dan Dewi Anggarawati terpana melihat kecantikan wanita itu. Meski tanpa pupur, kulit nya seputih kapas.
"Selamat datang di Padepokan Anggrek Bulan, pendekar.. Terimakasih atas kesediaan pendekar muda untuk berkunjung ke tempat kami", ujar gadis cantik itu ramah.
"Terimakasih atas ijin nya Dewi Anggrek Bulan.
Kami hanya kebetulan lewat dan di undang oleh anggota padepokan mu", Panji Watugunung menjawab.
"Kalau boleh tau, siapa pendekar muda ini dan mau kemana?", tanya Dewi Anggrek Bulan.
Anggrek Perak segera menyahut, " Guru, lelaki ini adalah Watugunung, yang berjuluk Pendekar Pedang Naga Api. Dia dan gadis berbaju kuning itu telah menyelamatkan nyawa saya dan 2 adik seperguruan yang di sergap Setan Darah".
Dewi Anggrek Bulan manggut-manggut sementara Anggrek Emas terkejut bukan main.
"Apa benar pendekar muda yang beberapa purnama lalu, mengobrak abrik markas Kalajengking Biru?", sambung Dewi Anggrek Bulan.
"Ah berita itu hanya di besar-besarkan saja Dewi. Saya memang bertarung dengan Tangan Kalajengking dan dua sesepuh Kalajengking Biru. Tanpa bantuan beberapa orang teman, saya mungkin tidak akan selamat", Panji Watugunung merendah.
Kini ganti Dewi Anggrek Bulan yang terpana. Menghadapi Tangan Kalajengking tidak mudah, apalagi 2 sesepuh Kalajengking Biru membantu nya.
Dewi Anggrek Bulan segera tersenyum.
"Pendekar muda, hanya orang berilmu tinggi saja yang bisa menghadapi mereka. Kau masih hidup dan mereka yang mati berarti kau lebih hebat dari mereka".
"Saya hanya orang yang beruntung Dewi", Panji Watugunung tetap merendah.
"Kalau begitu, ijinkan aku mencoba kesaktian mu".
Usai berkata, Dewi Anggrek Bulan segera melesat sambil mencabut Pedang Rembulan miliknya.
Gerakan itu sempat di lihat Panji Watugunung yang segera memakai Ajian Tameng Waja.
Tusukan cepat Pedang Rembulan milik Dewi Anggrek Bulan meluncur tepat ke ulu hati Panji Watugunung.
Namun saat menyentuh kulit Panji Watugunung, pedang itu seperti terhalang logam keras seperti baja. Jangankan menusuk, mengoyak kulit ari saja tidak.
Semua orang terkejut dan tak menyangka Dewi Anggrek Bulan menyerang Panji Watugunung dengan gerakan pedang secepat kilat.
Anggarawati segera mencabut sepasang pisau terbang nya, Sekar Mayang melepas Selendang Es nya, dan Ratna Pitaloka mencabut Pedang Bulan Kembar nya. Semuanya bersiap untuk bertarung.
"Tahan, jangan menyerang", teriak Panji Watugunung.
Merasa sudah puas, Dewi Anggrek Bulan melompat mundur dan kembali ke samping dua murid nya.
Perempuan cantik itu langsung tertawa kecil.
Dari benturan tadi, dia mengukur ilmu kanuragan Panji Watugunung yang ternyata setingkat dengannya. Di dunia persilatan Kahuripan, hanya Iblis Bukit Jerangkong, Mpu Wanabaya dan Mpu Sakri yang mampu mengimbangi nya.
Dewi Kalajengking Biru dan Pangeran Alas Larangan saja harus berusaha keras jika ingin menandingi kekuatan nya.
"Pendekar muda, ternyata kau hebat juga. Siapa guru mu?", Dewi Anggrek Bulan tersenyum simpul.
"Saya murid Mpu Sakri dari Padepokan Padas Putih", Panji Watugunung tenang.
"Pantas saja, kau murid si Tapak Api. Apa kakek tua itu juga yang mengajari mu Ajian Tameng Waja? Setau ku, kakek tua itu tidak punya ajian itu"..
"Kalau itu rahasia Dewi", jawab Watugunung sopan.
"Baiklah, tidak apa-apa kau tidak bisa cerita. Aku juga tidak memaksa", ujar Dewi Anggrek Bulan.
Ratna Pitaloka, Sekar Mayang dan Dewi Anggarawati segera menyarungkan kembali senjata setelah mendapat kode tangan dari Watugunung.
__ADS_1
Dewi Anggrek Bulan bertepuk tangan dua kali.
Beberapa wanita tampak masuk membawa nampan berisi makanan kemudian di taruh di meja kecil dengan dua kursi di samping nya. Memang begitu pengaturan meja di Padepokan Anggrek Bulan.
Sekar Mayang dan Dewi Kipas berpandangan saat mendapat jamuan. Jangan jangan ini jebakan, pikir mereka.
Dewi Anggrek Bulan sepertinya tau apa yang di pikirkan wanita wanita itu.
"Jangan khawatir, itu tidak beracun. Di Anggrek Bulan pantang bermain racun. Karena racun hanya untuk pengecut".
Setelah mendengar suara Dewi Anggrek Bulan, semua makan dengan tenang.
Usai bersantap, dan pelayan membersihkan tempat, mereka bercakap-cakap kembali.
"Dewi kalau boleh saya tau, tempo hari 2 orang teman saya mengunjungi tempat ini. Apa mereka benar mereka sampai kesini?", Panji Watugunung penasaran dengan Sepasang Sriti Perak.
"Maksud pendekar muda adalah Sepasang Sriti Perak dari Bukit Kapur?
Iya mereka memang kesini, membawa pesan untuk kami.
Tapi setelah mereka pulang, kami tidak mendengar berita apapun tentang mereka.
Ada apa memangnya Pendekar muda?", Dewi Anggrek Bulan tiba tiba terdengar serius.
"Mereka berjanji untuk datang ke Padas Putih, tapi sampai 3 purnama mereka tidak pernah muncul Dewi", jawab Watugunung seraya menarik nafas.
"Aku hanya khawatir dengan keselamatan mereka".
"Biarlah ini aku selidiki pendekar muda,
Nah sebagai ucapan terima kasih karna kau sudah menyelamatkan nyawa murid ku, ku ijinkan kau bermalam disini.
Dan aku tidak mau ada penolakan.
Panji Watugunung dan ketiga gadis nya segera mengikuti langkah Anggrek Perak menuju tempat peristirahatan mereka.
"Guru, apa mereka tidak berbahaya?", ujar Anggrek Emas setelah rombongan Panji Watugunung meninggalkan kediaman utama.
"Ilmu kanuragan pemuda itu memang hebat. Tapi dia dari golongan putih. Jadi tidak akan ada masalah. Yang aku khawatir kan bukan pemuda itu, tapi para sesepuh Alas Larangan yang sudah di sebar.
Markas besar mereka ada di Kadipaten Lewa. Tapi jagoan mereka, Setan Darah bisa muncul di tempat kita. Sepertinya rencana Maharaja Mapanji Garasakan akan berjalan lebih cepat dari yang di ketahui", kepala Dewi Anggrek Bulan berdenyut sakit memikirkan hal penting.
"Anggrek Emas, perketat pengawasan. Dan panggil 4 Dewi Pelindung untuk berkumpul di sini secepatnya".
"Baik guru", Anggrek Emas setelah mendengar perintah gurunya segera bergegas keluar.
Panji Watugunung yang sudah sampai di tempat tamu Padepokan Anggrek Bulan. Anggrek Perak yang secara khusus mengantarkan dan melayani semua kebutuhan Panji Watugunung. Meski awalnya menolak, tapi Anggrek Perak setengah memaksa, mau tidak mau Panji Watugunung menerima.
Sedangkan Sekar Mayang, Ratna Pitaloka dan Dewi Anggarawati mendapatkan kamar terpisah dari kamar Panji Watugunung. Sesuai peraturan perguruan Anggrek Bulan, tamu laki laki di larang jadi satu tempat dengan tamu perempuan.
Senja menjelang di kaki bukit Lanjar, markas Padepokan Anggrek Bulan. Suara jangkrik dan belalang mulai bersahutan menambah suasana sepi.
Dari balik keremangan malam di kaki bukit. Dua bayangan berlari cepat menuju gerbang Padepokan Anggrek Bulan.
"Cepat adik cepat, kita harus cepat..
Jangan sampai mereka menangkap kita", salah satu bayangan yang ternyata murid Padepokan Anggrek Bulan menarik tangan adik seperguruannya.
"Iya Kangmbok, kita harus bergegas", jawab sang adik terus mengikuti langkah kakak seperguruan.
Luka bekas sayatan senjata tajam terlihat menghiasi beberapa bagian tubuh mereka.
Darah mengering dan lebam menghiasi wajah mereka berdua.
__ADS_1
Langkah kaki mereka benar-benar berat, karna luka luar dan luka tenaga dalam.
"Itu adik, gerbang Padepokan sudah terlihat. Kita selamat adik", seru si gadis yang berlari di depan. Ada raut lega di wajahnya yang lebam.
"Iya Kangmbok kita selamat, kita selamat", sahut si gadis di belakang.
Penjaga gerbang yang melihat 2 anggota Anggrek Bulan segera memapak.
"Hei ada apa dengan kalian?", penjaga gerbang melihat kondisi tubuh teman mereka.
"Cepat tutup gerbang. Padepokan Anggrek Bulan dalam bahaya,", jawab si gadis dengan nafas tersengal-sengal.
Mendengar itu, si gadis penjaga segera memapah tubuh gadis yang terluka dan memerintahkan teman teman nya menutup gerbang padepokan.
Mereka segera melaporkan kejadian tersebut pada Anggrek Emas. Dan Anggrek Emas segera bergegas menuju kediaman Dewi Anggrek Bulan.
Dua pasang mata menatap geram keberhasilan dua orang anggota Anggrek Bulan masuk ke padepokan.
"Bagaimana ini kakang Langkir?", ujar si muka codet, salah satu pengejar.
Laki laki bernama Langkir itu mendelik tajam.
"Sial, mereka lolos. Kita harus cepat ke tempat lurah e. Besok Padepokan Anggrek Bulan akan rata dengan tanah".
Dua bayangan hitam segera melesat meninggalkan tempat itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Siapakah mereka?
Mengapa mereka mengincar anggota Anggrek Bulan?
Penasaran?
Tunggu episode selanjutnya ya 😁😁
Jangan lupa untuk dukung author menulis dengan like, vote dan komentar nya.
__ADS_1
Happy reading guys..