
Janamerta mendelik tajam kearah Mpu Narasima yang menangkis sabetan Pedang Tulang Iblis nya dengan tangan kosong.
Tubuh kakek tua itu diliputi oleh sinar kuning keemasan pertanda Ajian Tameng Waja nya telah dirapalkan.
"Rupanya selain Mpu Sakri masih ada jagoan yang lain di tempat ini.
Baiklah, akan aku habisi kalian semua", teriak Janamerta sambil melompat dari tempat nya dengan mengayunkan pedangnya kearah Mpu Narasima.
Melihat kakek tua itu tidak bergeming, Janamerta semakin bernafsu untuk membunuhnya.
Sreeetttttt
"Mampus kau kakek tua!", Janamerta tersenyum lebar.
Tranggg!
Saat Pedang Tulang Iblis membentur tangan kiri Mpu Narasima yang digunakan sebagai penangkis, Pedang Tulang Iblis seperti membentur logam baja yang keras.
Tangan Janamerta bergetar hebat. Dia berusaha keras mempertahankan pedang nya agar tidak terlepas dari tangannya. Pemimpin Padepokan Bukit Jerangkong itu segera melompat menjauh dari Mpu Narasima yang tersenyum tipis.
'Keparat!
Ilmu kanuragan apa yang dimiliki kakek tua itu?', batin Janamerta alias si Pedang Iblis sambil menatap ke arah Mpu Narasima.
Melihat Janamerta mundur, Iblis Abu-abu langsung meraih Golok Pencabut Nyawa yang ada di punggung nya.
Pria bertangan buntung itu segera melompat tinggi ke udara dan dengan cepat melesat turun membabatkan golok besar nya ke bahu Mpu Narasima.
Whuuuutt
Tubuh tua Mpu Narasima yang bersinar kuning keemasan segera menangkis Golok Pencabut Nyawa dengan tangan kanan nya.
Tringgg
Benturan Golok Pencabut Nyawa milik Iblis Abu-abu dan tangan kanan Mpu Narasima menciptakan bunyi nyaring yang memekakkan telinga.
Tangan kiri Mpu Narasima yang bersinar putih kebiruan segera melayang kearah dada Iblis Abu-abu.
Mata Julungpujud membeliak lebar, dan buru buru memutar tubuhnya menghindari pukulan tangan kiri Mpu Narasima.
Sinar putih kebiruan menerabas cepat kearah pasukan yang tengah bertempur. Kakek tua berjenggot kepang dari Lembah Angin ketiban sial.
Dia yang tengah bertarung dengan Wirotama sama sekali tidak menyangka bahwa lompatan tinggi nya menjadi lompatan terakhirnya saat sinar putih kebiruan dari tangan Mpu Narasima telak menghajar punggungnya.
Blammm!!!
Aughhhhh..
Si kakek berjanggut kepang itu menjerit keras saat sinar putih kebiruan itu menembus punggung sampai ke dada kanan nya. Kakek tua itu tewas dengan punggung bolong tembus dada.
Julungpujud alias Iblis Abu-abu melompat menjauh dari Mpu Narasima yang sudah berdiri sejajar dengan Mpu Sakri.
"Saudara Julungpujud,
Mereka setingkat dengan Dewa Maut dan guru ku, Iblis Bukit Jerangkong.
Jangan gegabah!", teriak Janamerta alias si Pedang Iblis yang segera melompat kearah Iblis Abu-abu.
Anak murid Padepokan Padas Putih terus tewas berjatuhan. Walaupun demikian, para penyerbu juga kehilangan banyak anggota. Dari 300 orang pendekar, tinggal separuh nya yang tersisa. Sedangkan dari sisi Padepokan Padas Putih, dari 300 murid hanya tersisa sekitar seratus dua puluh orang.
Dewi Angin-angin segera melompat mendekati Julungpujud alias Iblis Abu-abu dan Pedang Iblis.
"Menghadapi dua kakek busuk saja, kalian lama sekali", cibir Dewi Angin-angin pada Iblis Abu-abu dan Pedang Iblis.
"Perempuan jalang.
Tutup mulutmu atau ku robek biar kau diam.
Senjata ku tidak mempan pada dua kakek tua itu, apalagi cuma pedang karatan mu itu", Janamerta mendelik tajam kearah Dewi Angin-angin dengan geram.
Phuihhh
"Sombong mu tak sebanding dengan otak mu. Biar aku yang maju", Dewi Angin-angin segera melompat ke arah Mpu Narasima dan Mpu Sakri.
Pedang Ular Setan milik nya berayun mengincar leher Mpu Sakri. Namun guru Panji Watugunung itu mundur sejengkal kemudian melayangkan pukulan cepat kearah Dewi Angin-angin.
Whussss
Dewi Angin-angin terkesiap melihat serangan cepat itu. Dia merubah gerakan tubuhnya dan menyabet tangan yang hendak memukulnya.
Mpu Sakri waspada, dan menarik pukulan tangan kanan nya dan berganti dengan serangan tapak kearah bahu Dewi Angin-angin.
Pimpinan Perguruan Lembah Angin itu tak sempat menghindar dari serangan tapak Mpu Sakri.
Deshhhhh
Aaarghhh
Dewi Angin-angin terpelanting ke belakang beberapa tombak ke belakang dan jatuh terduduk di tanah. Bahunya terasa sakit sekali seperti dihantam kayu besar.
Perlahan dia bangkit, dan batuk kecil dua kali. Dari sudut bibirnya darah merah mengalir.
Dewi Angin-angin segera merogoh kantong bajunya dan menaburkan bubuk berwarna putih diatas pedang nya.
Itu adalah Racun Pelemah Tenaga.
Segera perempuan itu melesat cepat menuju ke arah Mpu Sakri sambil mengayunkan Pedang Ular Setan milik nya.
Mpu Sakri yang tidak waspada, hanya menghindar mundur selangkah menghindari sabetan pedang yang mengincar leher nya.
Sebuah bau wangi aneh segera tercium oleh Mpu Sakri.
Guru Panji Watugunung itu segera melayangkan tendangan keras ke perut Dewi Angin-angin.
Deshhhhh
Oughhh
Dewi Angin-angin terpental jauh ke belakang. Saat hendak menyentuh tanah, Dewi Ular Putih segera menangkap tubuh kakak seperguruannya itu.
__ADS_1
Dewi Angin-angin muntah darah segar seketika.
Mpu Sakri tiba-tiba terhuyung-huyung mundur. Saat hendak ambruk, Mpu Narasima segera menyangga tubuhnya.
"Sakri, Kau kenapa?", tanya Mpu Narasima yang terkejut melihat keadaan Mpu Sakri.
Muka Mpu Sakri terlihat pucat dengan bibir kering.
"Perempuan itu beracun Kakang", ujar Mpu Sakri sambil berusaha duduk bersila dan memusatkan tenaga dalam nya. Tapi tenaga dalam nya seperti tertahan oleh sesuatu.
Mpu Narasima segera menyalurkan bantuan tenaga dalam nya.
Melihat keadaan itu, Iblis Abu-abu menyeringai lebar. Dua jagoan tua itu bukan masalah lagi bagi pasukan persekutuan golongan hitam, pikir Julungpujud.
Hahaha
"Hari ini, akan ku pastikan bahwa Padas Putih hanya akan tinggal nama", tawa Iblis Abu-abu menggelegar.
Kakek tua bertangan satu itu segera melesat ke arah Mpu Sakri yang sedang di tolong oleh Mpu Narasima.
Iblis Abu-abu mengayunkan Golok Pencabut Nyawa nya kearah Mpu Sakri.
Mpu Rungkat yang berada tidak jauh dari tempat itu, segera menghadang laju Julungpujud dengan Tongkat Naga Besi nya.
Trangg!!
Percikan bunga api kecil tercipta saat benturan keras dua senjata itu terjadi.
Mpu Rungkat memutar tongkat nya kemudian dengan cepat menyodok ke arah perut Iblis Abu-abu.
Bekas petinggi Perguruan Gunung Kematian itu segera melompat tinggi ke dengan membuka kakinya lebar-lebar sambil menyabetkan Golok Pencabut Nyawa nya kearah leher Mpu Rungkat.
Kakak seperguruan Mpu Sakri menekuk lutut, kemudian memutar Tongkat Naga Besi dengan gerakan menyapu lawan dengan cepat.
Iblis Abu-abu terpaksa harus berguling ke tanah demi terhindar dari sapuan tongkat.
Mpu Rungkat melompat ke udara dan menggebukan tongkat nya pada Iblis Abu-abu yang baru bangkit.
Sreeetttttt...!
Iblis Abu-abu melompat kesamping menghindari gebukan tongkat Mpu Rungkat.
Dhammmm!!!
Lubang besar tercipta di tanah akibat gebukan tongkat besi Mpu Rungkat.
Melihat kawannya kerepotan menghadapi Mpu Rungkat, Janamerta alias si Pedang melesat cepat menuju kearah Mpu Rungkat sambil mengayunkan Pedang Tulang Iblis nya mengincar dada kakek tua itu.
Mpu Rungkat merasakan hawa dingin dari samping, segera menarik Tongkat Naga Besi nya kemudian menjajarkan tongkat pada dadanya.
Tringgg
Saking kuatnya benturan senjata, dua orang itu terdorong mundur beberapa langkah. Iblis Abu-abu segera melompat ke arah Mpu Rungkat disusul Pedang Iblis yang baru saja beradu senjata dengan kakek tua itu.
Di keroyok dua jagoan golongan hitam, membuat Mpu Rungkat segera memutar tongkat nya dengan cepat , dan membuat pertahanan tingkat tinggi pada dua serangan dari dua sisi berbeda.
Dengan julukan Dewa Tongkat Besi dari Padas Putih, Mpu Rungkat termasuk dari tokoh besar golongan putih dari Padas Putih bersama Mpu Sakri dan Mpu Wanabhaya.
Tringgg..
Mpu Rungkat dengan cepat menangkis sabetan Pedang Tulang Iblis dari Janamerta, kemudian kaki kanan nya menyapu kaki Iblis Abu-abu yang baru saja tertangkis serangan nya.
Whuuuutt
Julungpujud melompat ke udara sambil membabatkan Golok Pencabut Nyawa nya. Mpu Rungkat segera memutar tongkatnya, dan menangkis sabetan golok Iblis Abu-abu.
Namun Janamerta yang melihat celah pertahanan Mpu Rungkat, segera melayangkan tendangan keras ke perut kakek tua itu.
Dengan cepat, Mpu Rungkat menarik Tongkat Naga Besi untuk menahan tendangan keras Janamerta.
Deshhh
Meski sempat menahan tendangan dengan tongkatnya, tapi Mpu Rungkat terdorong mundur beberapa langkah ke belakang akibat kerasnya tendangan Janamerta.
Melihat lawan mundur, Iblis Abu-abu segera melesat cepat menuju ke Mpu Rungkat. Tapi Dewa Tongkat Besi itu tangannya sudah berubah menjadi kemerahan karena sinar merah menyala yang membelit tangan kanan nya.
Dengan cepat, kakek tua itu menghantamkan tangan kanan nya kearah Julungpujud. Sinar merah seperti matahari melesat cepat menyongsong gerakan Iblis Abu-abu.
Siuuuttttt
Julungpujud tersentak ketika sadar dia dalam bahaya. Kakek bertangan buntung itu dengan cepat merubah gerakan tubuhnya, melenting tinggi ke udara menghindari sinar merah seperti matahari dari Ajian Surya Pati nya Mpu Rungkat.
Sinar merah menerabas cepat kearah seorang pendekar dari Teratai Jingga yang naas.
Blammmm!!!
Pendekar itu roboh dan tewas seketika dengan tubuh gosong seperti terbakar api.
Janamerta segera melesat cepat menuju ke arah Mpu Rungkat yang merupakan pertahanan terakhir Padepokan Padas Putih
Pedang Tulang Iblis menyambar cepat kearah leher Mpu Rungkat yang sedang mengatur nafas.
Dari arah Utara, sebuah bayangan berkelebat cepat dan menangkis sabetan Pedang Tulang Iblis dari Janamerta.
Tringgg
Blammmm!!
Ledakan keras terdengar dari benturan dua senjata pusaka. Janamerta alias si Pedang Iblis terlempar ke belakang dan menabrak tubuh Dewi Ular Hijau.
Keduanya langsung jatuh terjerembab di tanah.
Janamerta alias si Pedang Iblis batuk kecil dengan darah segar mengalir dari sudut bibirnya.
Sementara itu, si penangkis dengan gagah berdiri di depan Mpu Rungkat.
Panji Watugunung menatap nanar ke mayat mayat murid Padepokan Padas Putih. Segera dia menerjang maju ke Janamerta dengan Pedang Naga Api nya.
Dari Utara, murid Padepokan Anggrek Bulan dan Warigalit serta para istri Panji Watugunung yang terlambat datang langsung mengamuk penuh amarah.
__ADS_1
Ratna Pitaloka segera menebas leher seorang pendekar yang menghadang langkah nya.
Crashhhh
Leher si pendekar dari Bukit Jerangkong nyaris putus. Dia tewas bersimbah darah.
Sedangkan Mayang menghantam dada seorang pendekar dari Macan Pasuruhan yang tersisa.
Whuuuutt
Blarrrrr!
Ujung Selendang Es Sekar Mayang telak menghajar dada si pendekar. Pria itu roboh dengan bibir memucat dan dada membeku.
Dewi Srimpi menyabetkan pedang nya kearah leher Dewi Ular Hijau yang tengah terpana dengan kejutan besar dari Utara itu.
Dewi Ular Hijau segera menangkis sabetan Pedang Kelabang Sewu dari Dewi Srimpi.
Tringgg
Tangan kiri Dewi Ular Hijau merogoh baju nya dan melempar senjata rahasia berbentuk pisau kecil seperti ekor ular yang berwarna hijau pekat pertanda bahwa pisau kecil itu beracun.
Dewi Srimpi segera melompat ke udara menghindari lemparan pisau itu dan balik melempar jarum kecil berwarna merah hitam.
Melihat lawan juga pandai dalam racun, Dewi Ular Hijau berjumpalitan menghindari jarum jarum beracun dari Dewi Srimpi.
Dewi Srimpi dengan cepat, kembali mengayunkan Pedang Kelabang Sewu nya ke arah Dewi Ular Hijau.
Naganingrum segera mengayunkan cakar tangan nya ke arah wajah Si Mata Picak dari Lembah Angin.
Pria bermata satu itu berusaha menghindar dengan menyabetkan pedang nya kearah Naganingrum.
Namun, putri bungsu Prabu Darmaraja itu segera menarik tangan nya, melenting tinggi ke udara dan menendang punggung Si Mata Picak dengan tumit kaki kanan nya.
Deshhhhh
Si Mata Picak terhuyung huyung maju nyaris tengkurap ke tanah kalau tidak ada pedang yang menyangga tubuhnya. Segera dia berbalik dan menatap wajah Naganingrum dengan satu matanya.
"Kumaha tendangan abdi, jawara picak??
Masih mau lagi? Sok atuh maju kesini, neng siap menghajar anjeun", ujar Naganingrum sambil menggerakkan telunjuk nya.
"Perempuan tengik!
Kubunuh kau", Si Mata Picak melesat maju sambil menusukkan pedang nya kearah leher Dewi Naganingrum.
Putri bungsu Prabu Darmaraja itu segera menekuk lutut kanan nya menghindari sabetan pedang dan memutar tubuhnya sambil menyapu kaki si pendekar bermata satu itu.
Deshhhhh
Si Mata Picak limbung tubuhnya, dan tangan kanan Dewi Naganingrum yang berbentuk cakar langsung terayun cepat kearah dada Si Mata Picak.
Srrraaakkkk
Aughhhhh
Si Mata Picak meraung keras saat dadanya robek terkena cakaran tangan Dewi Naganingrum. Pria itu jatuh dan berguling ke tanah untuk menjauh.
Dengan tubuh penuh tanah dan rumput, Si Mata Picak berdiri seraya membekap luka dadanya yang terus mengeluarkan darah banyak.
Naganingrum segera melesat cepat sambil menyambar sebuah pedang yang tertancap di tanah dan merangsek maju ke arah Si Mata Picak.
Dengan menahan sakit di bagian dadanya, Si Mata Picak menyalurkan tenaga dalam nya yang tersisa pada pedangnya. Saat Dewi Naganingrum mendekat, Si Mata Picak mengayunkan pedangnya ke arah kepala Dewi Naganingrum.
Putri Galuh Pakuan itu segera meloncat ke udara, dan dengan merubah gerakan tubuhnya dia menusuk punggung Si Mata Picak dengan pedangnya.
Jleppp
Arrrghh
Pedang Naganingrum menusuk punggung tembus ke dada kiri Si Mata Picak. Pendekar mata itu kemudian jatuh dengan darah menyembur dari lukanya. Dia tewas seketika.
"Rasakeun balukarna lamun ngaganggu Padepokan Padas Putih. Ini teh tempat menuntut ilmu Akang Kasep..
Abdi mah akan ikut campur lamun ada yang berani berbuat jahat", ujar Naganingrum sambil menatap mayat Si Mata Picak di depannya.
Wanita cantik dari Tanah Pasundan itu segera menghambur ke pertarungan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit ❤️ dan komentar 🗣️ nya agar author terus semangat menulis yah 😁
Selamat Iedul Adha kepada semua umat Islam di Indonesia 🙏🙏🙏
Selamat membaca 😁😁
__ADS_1