
Dewi Tunjung Biru bergegas mengejar Sekar Mayang yang mau masuk ke kamar.
"Hey apa maksud ucapan mu kucing liar?", Tunjung Biru penasaran.
Sekar Mayang hanya tersenyum tipis.
"Kau sungguh sungguh mau tau?".
Dewi Tunjung Biru mengangguk.
"Mari ikut aku putri bodoh, supaya kau sedikit lebih pintar", ajak Sekar Mayang seraya menarik tangan Dewi Tunjung Biru. Sesampainya di kamar Dewi Anggarawati, Sekar Mayang mengetuk pintu.
Tok tok
"Anggarawati, kau sudah tidur??", teriak Sekar Mayang.
Langkah kaki terdengar lalu pintu kamar terbuka.
"Ada apa Kangmbok? Mengganggu waktu istirahat ku saja", Anggarawati menggerutu.
Cihhhhh
"Kalau bukan masalah Kakang Watugunung, mana sudi aku mengetuk pintu kamar mu", ganti Sekar Mayang mendelik tajam kearah Anggarawati.
"Hahh ada masalah apa dengan kakang Watugunung?", pupil mata Anggarawati segera melebar. Kantuk yang tadi menggelayut di mata indah nya mendadak sirna begitu saja.
"Tuh ada yang mau tanya tentang Kakang Watugunung", Sekar Mayang menunjuk Tunjung Biru.
"Ya sudah jangan di pintu kamar, ayo masuk", Anggarawati tersenyum dan mempersilahkan mereka duduk di kursi dalam kamar. Karena cuma ada 2 kursi, Anggarawati memilih duduk di tepi ranjang.
"Putri bodoh, sekarang coba kau tanyakan apa yang pengen kau tau?", ucap Sekar Mayang sambil melirik ke Tunjung Biru.
Dewi Tunjung Biru menghela nafasnya.
"Maaf mengganggu istirahat kalian, tapi aku ingin tau apa sebenarnya maksud sudah ada tiga saat kucing liar ini bilang jangan coba mendekati Kakang Watugunung".
Dewi Anggarawati dan Sekar Mayang saling berpandangan sejenak lalu setelah mendapat kerlingan mata dari Sekar Mayang, Anggarawati tersenyum simpul.
"Begini maksud nya, Kakang Watugunung itu sudah ada 3 gadis yang mendekati nya dan resmi di akui oleh ayahnya sebagai calon menantu".
"Apaaaaa????", teriak Tunjung Biru seketika.
"Ssstttt pelankan suara mu putri bodoh, kau mau pembicaraan kita di dengar orang luar", Sekar Mayang menaruh telunjuk di bibirnya.
"Aah maaf, aku tak sengaja. Lalu siapa gadis gadis itu?", tanya Tunjung Biru kemudian.
Sekar Mayang dan Anggarawati tersenyum bangga kemudian.
"Aku, Putri Manja ini dan Kangmbok Pitaloka. Apa kau pikir bisa menandingi kami bertiga?", Sekar Mayang tersenyum mencibir.
Tunjung Biru terkejut bukan main.
"Tak usah sok kaget, kalau kau tau ayah Kakang Watugunung, kau lebih kaget lagi", lanjut Sekar Mayang.
"Ayah Kakang Watugunung adalah Panji Gunungsari, Bupati Gelang-gelang. Dan Kakang Watugunung keturunan darah biru karna Panji Gunungsari itu kerabat dekat istana Kahuripan. Raja muda Samara Wijaya di Daha adalah sepupu jauh dari Kakang Watugunung", timpal Anggarawati.
Dewi Tunjung Biru hanya melongo mendengar berita itu.
"Sekarang kau paham kan maksud ku putri bodoh??", tanya Sekar Mayang.
Dewi Tunjung Biru mengangguk lemah. Pikiran nya terguncang oleh kenyataan bahwa pemuda tampan itu adalah keturunan darah biru.
Dengan langkah gontai dia menuju ke kamar nya.
Malam itu semakin panjang untuk Dewi Tunjung Biru, tak sedetikpun dia bisa memejamkan matanya hingga mentari pagi menyapa Pakuwon Tamwelang..
Akuwu Watugaluh pagi itu bermaksud mengunjungi cucu kesayangan nya, sesampainya di kamar Dewi Tunjung Biru, lelaki sepuh itu tertegun.
Dewi Tunjung Biru nampak seperti orang linglung, hanya duduk di atas ranjang. Sinar mata nya kosong menatap jendela. Buru buru penguasa Pakuwon Watugaluh mendekat.
"Ngger Cah Ayu, ada apa? Kenapa mukamu kusut seperti itu?", ujar Hangga Amarta..
Tak ada jawaban.
Dewi Tunjung Biru kemudian menoleh ke kakeknya.
Hiks huhuhuhu huuuu....
__ADS_1
Tangis Tunjung Biru pecah seketika..
Akuwu Watugaluh kebingungan. Dia mencoba menenangkan cucu nya.
"Ngger Cah Ayu, ada apa? Cup cup jangan menangis lagi..
Sudah sudah, coba ceritakan ke kakek mu ini.
Siapa tahu kakek bisa membantu".
Tunjung Biru segera berusaha berhenti menangis. Mata nya sembab.
"Kek, apa salah bila aku jatuh hati pada seorang pemuda??".
"Tidak salah Ngger Cah Ayu, lantas apa masalah nya?", nada tanya Akuwu Watugaluh penuh pengayoman.
"Pemuda itu.. Pemuda itu sudah punya istri kek hiks", tangis Tunjung Biru kembali pecah.
Akuwu Watugaluh terkejut bukan main mendengar perkataan cucu nya.
'Siapa pemuda itu?'
'Seperti apa latar belakangnya?'
'Apa kemampuannya hingga cucu ku jatuh hati kepada nya?'
Berbagai pertanyaan melintas di kepala lelaki tua itu.
"Ngger Cah Ayu, sekarang kakek mau bertanya kepada mu. Dengar baik baik ya..
Kalau kau mencintai pemuda itu, dan sudah tau dia beristri, apa kau masih mencintainya?"
Dewi Tunjung Biru terdiam, menghela nafasnya.
"Aku aku tetap mencintai nya kek, tapi bukankah tidak bisa bahagia bersama mereka??.
"Apakah pemuda itu juga mencintai mu Ngger??", Hangga Amarta tersenyum penuh kasih sayang.
"Tunjung Biru belum tau kek, tapi Tunjung Biru akan memperjuangkan cinta Tunjung Biru kek", ucap Dewi Tunjung Biru yakin.
"Jadi kakek mendukung ku??, selidik Tunjung Biru.
"Kenapa tidak? Sekarang katakan siapa pemuda itu? Kakek jadi penasaran siapa pemuda beruntung itu", sahut Sang Akuwu.
Dewi Tunjung Biru tersenyum senang.
"Dia putra Bupati Gelang-gelang kek".
"APAAAAA !!!!"
Hangga Amarta hampir pingsan mendengar penuturan Dewi Tunjung Biru.
"Darimana kau mengenal nya? Putra Bupati Gelang-gelang itu sepupu sepupu Raja muda Daha", panik sudah Akuwu Watugaluh.
"Kakek sudah bertemu dengan nya", ujar Tunjung Biru.
"Kapan? Kakek tua ini tidak pernah bertemu dengan orang yang kamu sebut Ngger", seru Akuwu Hangga Amarta.
"Akan ku beri tau, tapi kakek harus jaga rahasia ini".
Akuwu Watugaluh mengangguk seperti orang bodoh.
"Dia Pendekar Pedang Naga Api kek"
Perkataan dari Dewi Tunjung Biru itu bagai petir di siang bolong.
"Benarkah?? Benarkah yang kau katakan?", Akuwu Watugaluh tergagap berbicara.
"Benar kek, orang orang hanya mengenal nya sebagai Watugunung saja. Tapi nama lengkapnya Panji Watugunung kek. Gelar kehormatan nya tidak pernah di sebut saat berkenalan", Tunjung Biru menjelaskan.
Tiba tiba Akuwu Watugaluh tersenyum.
"Hehehehe, Ngger Cah Ayu. Kakek merestui keinginan mu. Kalau kau berhasil menjadi selir nya saja, itu sudah suatu anugerah untuk keluarga kita. Hehehehe garis keturunan kita akan menjadi penguasa Ngger".
"Sekarang ayo bersiap siap pulang ke Watugaluh. Nanti kakek cari suatu cara agar kamu dekat dengan kakang mu itu"
Dewi Tunjung Biru bersemangat lagi. Dia segera mandi dan berdandan cantik.
__ADS_1
'Aku akan mendapatkan cinta mu kakang Panji Watugunung'
Pagi itu, rombongan Akuwu Watugaluh berangkat meninggalkan istana Pakuwon Tamwelang.
Setelah tau bahwa Pendekar Pedang Naga Api adalah putra Bupati Gelang-gelang, sikap Hangga Amarta berubah drastis. Jika semula dia hanya menganggap Watugunung pendekar sewaan dengan sebelah mata, kini dia menghormati nya seperti raja.
"Kangmbok Pitaloka, kau merasa aneh tidak dengan sikap Akuwu Watugaluh itu?", bisik Sekar Mayang.
"Iya, aku merasa dia berusaha meraih hati kakang Watugunung. Dia juga sangat hormat pada kakang Watugunung", Ratna Pitaloka berpikir keras.
"Aku juga merasakan perubahan sikap nya Kangmbok", sahut Anggarawati.
Hemmmmm
"Atau jangan-jangan....", Ratna Pitaloka tidak meneruskan kata-katanya....
"Jangan-jangan apa Kangmbok?", tanya Sekar Mayang penasaran.
"Dia tahu rahasia kakang Watugunung", jawab Ratna Pitaloka.
Deggg..
Sekar Mayang dan Anggarawati berpandangan.
Mereka hanya bercerita pada Tunjung Biru dengan harapan Tunjung Biru tidak mendekati Panji Watugunung.
Celaka
Pasti Tunjung Biru sudah mengatakan semua nya pada Akuwu Watugaluh itu.
"Kangmbok maafkan kami, kami menceritakan tentang Kakang Watugunung pada Putri bodoh itu, berharap dia tidak berani mendekati Kakang Watugunung lagi.
Tapi ternyata putri bodoh itu menceritakan tentang Kakang Watugunung pada kakeknya", ujar Sekar Mayang. Anggarawati hanya menunduk.
Ratna Pitaloka geram mendengar suara dari Sekar Mayang.
"Kau mau suami kita menikah lagi?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Author masih bingung
Tambah gak ya?
🤔🤔🤔
________________________________________________
**Terimakasih author ucapkan kepada semua readers yang sudah meluangkan waktu membaca tulisan saya, baik yang sudah membaca, memberikan like, vote dan komentar. Saya sadar masih banyak yang perlu di benahi dalam gaya tulisan, alur cerita dan tata bahasa di novel ini.
Salam sehat selalu.
🙏🙏🙏🙏**
__ADS_1