Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Kelahiran Putra Pertama


__ADS_3

Wajah Mapatih Jayakerti langsung masam membaca surat telik sandi itu. Senopati Narapraja yang berada di dekatnya tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.


"Ada apa Gusti Mapatih? Apa ada sesuatu yang gawat?".


Tanpa sadar, Mapatih Jayakerti langsung mengulurkan surat telik sandi yang baru saja dia baca. Mata Senopati Narapraja langsung terbelalak lebar melihat tulisan di secarik kain putih itu.


"I-ini ..???.


Suara Senopati Narapraja seperti terhenti di tenggorokan nya.


Huuuhhhh..


Mapatih Jayakerti mendengus panjang. Belum lama masalah dengan Jenggala teratasi, tapi muncul masalah lain di perbatasan barat. Paguhan adalah pecahan Kalingga selain Kembang Kuning saat wilayah itu di taklukkan oleh Airlangga. Penduduk nya yang bercampur masyarakat tatar Pasundan, memiliki budaya dan sifat yang berbeda dengan wilayah Jawa Dwipa timur dan tengah.


"Kita harus cepat menghadap pada Gusti Prabu Samarawijaya, Narapraja.


Berita ini bukan berita main-main", ujar sang Mapatih Jayakerti segera.


"Benar sekali Gusti Mapatih, sebaiknya kita segera menghadap", Narapraja, Senopati yang baru diangkat menjadi Senopati besar menggantikan posisi Ganggadara mengangguk tanda setuju.


Dua orang pembesar istana Dahanapura itu segera bergegas menuju ke istana Daha untuk melaporkan berita penting ini.


Kebetulan, di ruang pribadi raja, Ranggawangsa sang Nayakapraja sedang menghadap Prabu Samarawijaya. Mapatih Jayakerti dan Senopati Narapraja segera menyembah kepada Maharaja Samarawijaya dan duduk bersila di hadapan nya.


"Mohon ampun beribu ampun Gusti Prabu,


Ada masalah besar yang perlu Gusti Prabu Samarawijaya ketahui", ujar Mapatih Jayakerti sambil menghormat.


"Katakan Jayakerti, ada apa?", tanya Sang Prabu Samarawijaya sambil mengangkat tangan kanannya.


"Baru saja hamba menerima berita dari telik sandi. Paguhan berencana memberontak Gusti Prabu", jawab Mapatih Jayakerti segera.


"APAAAAA??!!!


Prabu Samarawijaya langsung berdiri dari tempat duduknya. Mapatih Jayakerti segera menghaturkan secarik kain putih yang baru dia terima. Mata Samarawijaya nanar menatap tulisan itu.


"Gandakusuma,


Berani sekali kau ingin makar. Akan ku hancurkan kau seperti ulat", teriak Sang Prabu Samarawijaya keras.


"Ampun beribu ampun Gusti Prabu,


Sebaiknya kita selidiki dulu permasalahan ini. Menggempur Paguhan itu mudah Gusti Prabu, tapi Gandakusuma itu masih saudara Prabu Darmaraja dari Galuh Pakuan. Hamba takut jika kita tidak hati-hati, hanya akan menjadi awal permusuhan dengan Galuh Pakuan. Di sisi lain kita juga harus menghadapi Jenggala yang mulai membuka lahan persawahan baru di perbatasan kita. Hamba yakin, ada sesuatu yang dipersiapkan oleh Mapanji Garasakan kali ini", ujar Ranggawangsa sang Nayakapraja sambil menghormat pada Prabu Samarawijaya.


Hemmmm


Prabu Samarawijaya mendengus keras. Yang dikatakan Ranggawangsa itu ada benarnya juga. Menggempur Paguhan bukan perkara sulit, tapi kalau sampai Darmaraja turun tangan, maka perang antara Galuh Pakuan dan Panjalu pasti terjadi.


"Lantas apa usul mu Paman Ranggawangsa?", tanya Sang Prabu Mapatih sambil memandang kearah Ranggawangsa.


"Ampun Gusti Prabu,


Kalau boleh hamba mengusulkan, sebaiknya kita utus utusan ke Galuh Pakuan lebih dulu untuk mengetahui seberapa dalam keterlibatan dari Prabu Darmaraja untuk masalah ini.


Kemudian jika Prabu Darmaraja tidak terlibat, maka kita tinggal ambil tindakan terhadap masalah Paguhan ini Gusti Prabu. Begitu lah menurut hemat hamba", Ranggawangsa segera memberi hormat.


"Baik, aku terima usulan mu Paman Ranggawangsa,


Lantas siapa yang kita suruh berangkat ke Galuh Pakuan? Menghadapi Prabu Darmaraja bukan perkara mudah. Harus memiliki kemampuan kanuragan tinggi juga pintar berbicara.


Siapa yang kau usulkan Paman? Apakah Balapati?", tanya Sang Prabu Samarawijaya segera.


Ranggawangsa menghela nafas panjang. Balapati masih keponakannya, mengutus nya ke Galuh Pakuan bisa sangat berbahaya bagi keselamatan nya.


"Ampun beribu ampun Gusti Prabu,


Hamba dengar, ibu Balapati sedang sakit sedangkan di perbatasan timur juga mengawasi gerakan Jenggala. Lagipula dia tidak pintar berbicara.


Sebaiknya kita cari orang lain saja untuk masalah ini", Ranggawangsa menghormat pada Maharaja Samarawijaya.


Hemmmm


Sang Prabu Samarawijaya tampak seperti berpikir keras.


"Jayakerti,


Siapa yang kau usulkan?", Sang Prabu Samarawijaya melihat kearah Mapatih Jayakerti yang nampak seperti menimbang-nimbang sesuatu.


"Ampun beribu ampun Gusti Prabu,


Hamba rasa pilihan terbaik kita saat ini hanya Gusti Pangeran Panji Watugunung, disamping kemampuan beladiri yang tidak perlu diragukan lagi, kemampuan diplomasi nya cukup bagus.


Namun.....", Mapatih Jayakerti menghentikan omongannya.


"Namun apa Jayakerti? Lanjutkan saja", Sang Prabu Samarawijaya segera menatap ke warangka kerajaan Panjalu itu dengan seksama.


"Hamba dengar, Gusti Putri Ayu Galuh sedang hamil muda. Hamba hanya takut jika beliau akan marah jika kita mengutus Gusti Pangeran Panji menjadi duta besar ke Galuh Pakuan", Mapatih Jayakerti menghormat pada Maharaja Samarawijaya.


Raja Daha itu memijit pelipisnya. Kepalanya terasa sakit memikirkan situasi ini.


"Jayakerti,

__ADS_1


Bukankah kita belum memberikan hadiah untuk kehamilan Galuh?", tiba-tiba saja sebuah pemikiran cerdas melintas di kepala sang raja.


"Ampun Gusti Prabu,


Kita belum memberikan nya", Mapatih Jayakerti sedikit kebingungan mendengar ucapan Prabu Samarawijaya itu.


"Berikan beberapa peti harta dan kain sutra untuk Ayu Galuh. Juga beberapa pedati padi dan palawija. 20 ekor kerbau juga. Antar hadiah itu langsung.


Nanti sampaikan nawala dari ku untuk Panji Watugunung dan Ayu Galuh. Agar lebih meyakinkan, kau yang harus berangkat.


Narapraja,


temani Mapatih Jayakerti ke Gelang-gelang", Sang Raja Daha itu tersenyum penuh arti.


"Sendiko dawuh Gusti Prabu", Mapatih Jayakerti dan Senopati Narapraja segera menghormat pada Maharaja Samarawijaya dan mundur dari ruang pribadi raja untuk melakukan perintah sang raja Daha.


Sang Prabu Samarawijaya menghela nafas lega.


**


Sementara itu di istana Kabupaten Gelang-gelang.


Di keputren Gelang-gelang, puluhan dayang sedang sibuk menyiapkan air hangat dan semua uborampe melahirkan.


Rupanya Dewi Anggarawati sudah mencapai masa persalinan nya. Sejak pagi tadi, perempuan cantik itu mengeluh perutnya sakit. Tabib istana Kabupaten Gelang-gelang yang memeriksa langsung tahu saat itu putri bungsu Adipati Seloageng itu akan segera melahirkan.


Dua dukun bayi sudah menemani sang putri di dalam bilik kamar nya.


Panji Watugunung mondar-mandir terus di depan balai keputren Gelang-gelang. Ada raut muka panik di wajah pria tampan itu. Dewi Srimpi yang bolak balik masuk ke dalam kamar, nampak mengusap peluh di keningnya saat dia keluar dari kamar persalinan.


Panji Watugunung segera mendekati selirnya itu.


"Bagaimana Dinda Srimpi? Kenapa belum lahir juga?", tanya Panji Watugunung dengan mimik cemas.


"Sabar Denmas,


Sebentar lagi. Denmas berdoa dulu semoga Kangmbok Anggarawati segera melahirkan", jawab Dewi Srimpi sambil tersenyum tipis.


"Sudah Ngger Cah Bagus,


Tenangkan diri mu. Berdoalah kepada Sang Hyang Tunggal, agar persalinan istri mu lancar", ujar Sang Bupati Gelang-gelang, Panji Gunungsari sambil tersenyum. Dia berusaha menenangkan hati Panji Watugunung yang terlihat panik.


Cempluk Rara Sunti berlari menuju ke kamar persalinan.


"Ini Kangmbok Srimpi,


Sudah ketemu yang kau minta", ujar Cempluk Rara Sunti sambil menyerahkan daun seninjong dan adas pulowaras yang di minta Dewi Srimpi. Putri Kelabang Koro itu tersenyum dan segera masuk ke dalam kamar tidur Anggarawati.


Tiba tiba saja langit di seputar kota Gelang-gelang menjadi gelap. Dan halilintar menyambar dengan suara keras.


Jleggerrr!!!


Bersamaan itu pula, tangis bayi terdengar dari kamar Dewi Anggarawati.


Oooeeeekkkkk!!!


Oeeekkkk!!


Semua orang langsung menoleh pada sumber suara. Dewi Srimpi segera membuka pintu kamar Dewi Anggarawati.


"Denmas Panji selamat,


Kangmbok Anggarawati melahirkan seorang putra", ujar Dewi Srimpi yang segera mendapatkan senyuman lebar dari semua orang. Panji Watugunung tersenyum lega.


Segera Panji Watugunung dan keluarganya masuk ke kamar tidur Dewi Anggarawati. Putra Bupati Gelang-gelang itu langsung memeluk Dewi Anggarawati yang tersenyum dengan wajah pucat nya. Rona letih karena melahirkan seorang putra terlihat jelas di wajahnya.


"Dinda Anggarawati,


Terimakasih sudah melahirkan keturunan untuk ku. Terimakasih Dinda terima kasih", ujar Panji Watugunung seraya memeluk tubuh sang istri.


Dewi Anggarawati tersenyum bahagia mendengar ucapan sang suami. Lengkap sudah kodratnya sebagai seorang wanita. Dia menjadi seorang ibu dari pria yang dicintainya.


Wandansari, sang dayang istana untuk Dewi Anggarawati segera mendekati Panji Watugunung sambil menyerahkan bayi merah yang baru selesai di mandikan itu.


"Ini putra mu Gusti Pangeran".


Panji Watugunung dengan berhati-hati menggendong bayi laki laki mungil itu. Hidung dan rambutnya mirip dengan Panji Watugunung, kulitnya yang putih bersih mirip dengan sang ibu.


"Kau beri nama siapa Kangmas putramu ini?", tanya Dewi Anggarawati sambil tersenyum bahagia.


"Karena dia keturunan Lokapala, nama depannya adalah Panji. Dia cucu Tejo Sumirat. Kebetulan saat dia lahir bersama turun nya tejo di Gelang-gelang. Maka ku beri nama Panji Tejo Laksono", jawab Panji Watugunung yang segera mencium kening sang putra.


Semua orang saling berpandangan dengan senyum menghiasi wajah mereka masing masing. Semuanya berbahagia.


"Akan ku beri tau Kakang Tejo Sumirat mengenai cucu nya ini. Dia pasti gembira", ujar Panji Gunungsari segera.


"Nenek nya juga harus tau Kangmas Bupati. Akan ku kirim utusan ke Bukit Lanjar. Dewi Anggrek Bulan pasti gembira", Dewi Pancawati tak mau kalah dengan sang suami.


Semua orang di istana Gelang-gelang bergembira.


Bupati Gelang-gelang mengadakan perayaan selama sepekan penuh. Aneka hiburan tersaji di Alun alun Gelang-gelang, menyambut kelahiran sang cucu Bupati.

__ADS_1


Janur kuning beraneka bentuk diikat pada setiap penjor di sudut sudut istana Gelang-gelang. Angin berhembus sepoi-sepoi turut menggoncang penjor seakan ikut meramaikan suasana.


Tepat pada hari ketiga dari kelahiran cucu Bupati Gelang-gelang, rombongan Mapatih Jayakerti dari Daha datang ke Gelang-gelang. Mereka sedikit kaget melihat janur kuning yang menghiasi istana Gelang-gelang.


"Selamat datang di Gelang-gelang, Gusti Mapatih. Maafkan saya yang kurang baik menyambut kedatangan Gusti Mapatih", ujar Panji Gunungsari sambil membungkuk hormat.


"Aku sedikit terkejut melihat banyaknya janur kuning menghias istana ini Gusti Bupati,


Ada perayaan apa disini?", tanya Mapatih Jayakerti segera.


"Hanya menyambut kelahiran cucu saya, putra dari Watugunung dan Dewi Anggarawati Gusti Mapatih.


Mari kita berbincang di dalam", Panji Gunungsari segera tersenyum sambil mempersilakan Mapatih Jayakerti dan Senopati Narapraja masuk ke dalam serambi kediaman pribadi nya.


Panji Watugunung yang baru menggendong putra kecilnya, segera menyerahkan Panji Kecil pada Rara Sunti yang sedari tadi mengikuti langkah nya. Rara Sunti sangat menyukai putra Panji Watugunung itu.


Dengan segera, dia hadir di ruang pribadi Bupati Gelang-gelang, menyambut kedatangan Mapatih Jayakerti dan Senopati Narapraja.


"Selamat atas kelahiran putra mu Gusti Pangeran, semoga dia bisa setangguh ayahnya yang menjadi tameng pelindung kerajaan Panjalu", ujar Mapatih Jayakerti sambil tersenyum tipis.


"Terimakasih atas ucapannya Gusti Mapatih.


Semoga doa Gusti Mapatih Jayakerti menjadi pegangan putra ku dan direstui para Dewa di Kahyangan.


Kalau boleh tau, ada hal apa yang membuat Gusti Mapatih Jayakerti sudi datang ke Gelang-gelang ini?", Panji Watugunung tanggap terhadap maksud kedatangan mereka.


"Gusti Pangeran Panji Watugunung memang pintar, tahu sebelum diberi tahu..


Hamba di utus Gusti Prabu Samarawijaya untuk mengirimkan hadiah untuk Gusti Putri Ayu Galuh. Sekaligus meminta bantuan kepada Gusti Pangeran Panji", jawab Mapatih Jayakerti sambil tersenyum simpul.


"Hehehehe..


Sudah aku duga. Bantuan apa yang bisa saya lakukan untuk Gusti Prabu Samarawijaya, Gusti Mapatih?", tanya Panji Watugunung kemudian.


"Ada berita dari telik sandi yang mengatakan, bahwa Adipati Gandakusuma dari Paguhan berencana untuk memberontak terhadap Daha.


Gusti Pangeran diminta untuk menyelidiki masalah ini hingga tuntas. Namun karena Adipati Gandakusuma masih bersaudara dengan Prabu Darmaraja dari Galuh Pakuan, Gusti Prabu meminta agar Gusti Pangeran lebih dulu ke Kawali, untuk melihat sampai dimana keterlibatan Prabu Darmaraja", Mapatih Jayakerti menghormat.


Hemmmm


"Penjaga,


Tolong panggilkan Dinda Galuh kemari", ujar Panji Watugunung segera. 2 orang penjaga segera menghormat pada Panji Watugunung dan bergegas menuju ke keputren Gelang-gelang.


Tak berapa lama kemudian, Ayu Galuh hadir di ruang pribadi Bupati Gelang-gelang ditemani Wandansari.


"Ada apa Kangmas Panji memanggil ku? Dan Paman Jayakerti, kenapa ada disini?", Ayu Galuh sedikit kebingungan.


Mapatih Jayakerti segera menghormat pada Ayu Galuh dan segera menceritakan tentang tujuan nya ke Gelang-gelang.


Hemmmm


'Dasar Romo Prabu memang licik', gerutu Ayu Galuh dalam hati.


"Baiklah,


Meski aku tidak rela Kangmas Panji Watugunung berangkat ke Kawali, tapi aku adalah istri kesatria Daha. Aku harus siap merelakan suami ku bertugas.


Namun aku minta dukungan pengamanan dari setiap wilayah Daha yang di lewati nya. Kalau tidak, jangan harap aku mengijinkan nya pergi dari Gelang-gelang", ujar Ayu Galuh kemudian.


Mapatih Jayakerti tersenyum lega.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Petualangan menuju ke Galuh Pakuan dimulai.


Yuk dukung author terus semangat menulis cerita perjalanan Kang Panji Watugunung ini dengan like 👍, vote ☝️ dan komentar 🗣️ nya.


Yang sudah memberikan dukungannya, author mengucapkan beribu terima kasih 🙏🙏🙏

__ADS_1


Selamat membaca 😁😁


__ADS_2