
Nyi Kembang Jenar sedikit kaget melihat kedatangan Panji Watugunung dan rombongannya.
"Weladalah..
Ternyata ini to tamu yang diisyaratkan oleh burung prenjak tadi pagi. Selamat datang di gubuk ku, Watugunung.
Mari silahkan masuk", ujar Nyi Kembang Jenar sambil tersenyum simpul.
"Terima kasih atas sambutan mu Nyi,
Kami hanya mampir saja. Ada urusan istana Lodaya", jawab Panji Watugunung sembari melangkah menuju ke arah serambi kediaman Nyi Kembang Jenar. Ketiga istri Panji Watugunung yaitu Naganingrum, Dewi Srimpi dan Rara Sunti mengekor di belakang suaminya. Demung Rakai Sanga segera mengatur para pengawal setia Panji Watugunung untuk berjaga di sekitar tempat itu.
"Yang ini siapa? Kog aku baru melihat nya. Waktu tempo hari kau kemari, dua wanita cantik ini tidak bersama mu", tanya Nyi Kembang Jenar seraya menatap ke arah Naganingrum dan Rara Sunti.
"Abdi teh istri nya Akang Kasep, Nyi..
Urang Galuh Pakuan. Perkenalkeun nama abdi Naganingrum", ujar Naganingrum sambil tersenyum manis.
"Wah orang Negeri Kulon ternyata..
Kalau yang manis ini siapa?", tanya Nyi Kembang Jenar menatap ke arah Cempluk Rara Sunti segera.
"Kalau saya Rara Sunti, Nyi.
Dari Wengker. Istri Kakang Watugunung", jawab Cempluk Rara Sunti dengan tersenyum simpul.
"Loh, kamu juga istri nya?
Ckckck... Heh, Watugunung..
Memang berapa wanita yang menjadi istri mu sebenarnya?", Nyi Kembang Jenar tersenyum penuh arti menatap wajah Panji Watugunung yang segera merona merah.
"Istri Denmas Panji Watugunung itu 7 Nyi.
Tiga permaisuri dan empat selir. Dewi Naganingrum ini permaisuri ketiga, dia putri Raja Galuh Pakuan Maharaja Darmaraja.
Kalau Rara Sunti ini, selir bungsu Denmas Panji dari Wengker. Ayahnya adalah adik dari Adipati Wengker, Warok Surogati. Ayah Cempluk ini adalah Warok Suropati, yang juga menjadi guru dari Denmas Panji", terang Dewi Srimpi segera.
"Walahhh..
Tak rugi kau punya wajah tampan, Watugunung.
Benar benar Lananging Jagat hehehe", seloroh Nyi Kembang Jenar yang membuat Panji Watugunung semakin merah wajah nya seperti kepiting rebus.
"Kalian harus bermalam disini..
Biar cantrik ku yang menyiapkan tempat tidur untuk kalian.
Pujiwati, Selasih..
Siapkan kamar untuk para tamu agung ku ini", perintah Nyi Kembang Jenar pada dua cantrik nya.
Dua gadis muda itu segera mengangguk mengerti dan melaksanakan perintah guru nya.
"Sebenarnya ada urusan apa kalian di Lodaya, Watugunung?
Melihat para pengikut mu itu pasti ada sesuatu yang penting", tanya Nyi Kembang Jenar sambil menatap wajah tampan Panji Watugunung.
"Kami ingin tau Nyi, orang seperti apa Pangeran Arya Tanggung itu.
Itu tugas dari Kanjeng Romo Panji Gunungsari", jawab Panji Watugunung segera.
Hemmmm
"Arya Tanggung itu orang baik, Watugunung.
Dia baik dan tidak sombong. Tidak seperti kakak nya, Arya Judeg ataupun Dewi Tara yang sombongnya minta ampun.
Kekurangan nya hanya satu, dia suka menyabung ayam.
Memang ada apa dengan Arya Tanggung?", Nyi Kembang Jenar sangat penasaran.
"Dia dijodohkan dengan adik ku, Dewi Anggraeni.
Namun sebelum dilanjutkan, adik ku meminta agar Arya Tanggung datang ke Gelang-gelang untuk menemuinya.
Tapi sampai saat ini dia belum datang ke istana Gelang-gelang. Karena itu Romo Bupati meminta ku untuk menemui Pangeran Arya Prabu untuk menanyakan kejelasan masalah ini Nyi", jawab Panji Watugunung segera.
"Oh begitu,
Yang penting aku sarankan, agar kau waspada di sekitar Lodaya. Ada beberapa pihak yang ingin menggulingkan pemerintahan Arya Prabu hari ini.
Aku dengar desas-desus bahwa Kelompok Macan Kumbang dan Sima Lodra bergabung dengan dukungan dari Jenggala untuk menggulingkan kekuasaan Arya Prabu.
Padahal selama Arya Prabu memerintah Lodaya, semua rakyat hidup makmur", ujar Nyi Kembang Jenar sambil menghela nafas panjang.
Hemmmm
"Begitu rupanya..
Besok pagi aku akan ke istana Lodaya Nyi, sekalian menanyakan masalah ini kepada Pangeran Arya Prabu", Panji Watugunung memungkasi omongan nya.
Langit barat mulai berubah warna menjadi kuning kemerahan pertanda malam akan segera tiba.
Di kediaman Gana alias Si Macan Cilik, tampak pemuda itu sedang gelisah seperti menunggu sesuatu.
Dari arah halaman, muncul seorang lelaki tua berjenggot putih dengan baju berwarna hitam bergaris kuning seperti kulit harimau. Di belakang mengekor Ken Sora dan seorang pemuda berkumis tebal.
"Gana,
Ada apa kau memanggilku kemari? Apa ada hal penting?", tanya lelaki tua berjenggot putih itu begitu duduk di kursi kayu serambi kediaman Gana.
"Begini paman Lumahjati..
Pemuda yang membunuhnya adik seperguruan mu ada di Lodaya. Apa kau tidak ingin membalas dendam?", Gana alias Si Macan Cilik tampak menatap wajah lelaki tua itu dengan penuh harapan.
Hemmmm
"Tentu saja Gana,
Aku ingin merobek dada pemuda itu dan mencabik-cabik jantung nya", ujar si lelaki tua yang bernama Lumahjati yang bergelar Macan Besi sambil mengepalkan tangannya di depan Gana.
__ADS_1
Si Macan Cilik tampak gembira mendengar ucapan Macan Besi.
"Dimana mereka sekarang?", sambung Macan Besi sambil menatap ke arah Gana.
"Malam ini mereka bermalam di tempat Nyi Kembang Jenar, Paman Guru.
Kemungkinan mereka saling kenal", ujar Macan Cilik sambil tersenyum tipis.
"Nanti selepas senja, kita serang mereka Gana..
Aku sudah tidak sabar ingin beradu ilmu kanuragan dengan orang yang sudah membunuh adik seperguruan ku", mata Macan Besi berkilat penuh kebencian.
Sore itu, Gana alias Si Macan Cilik mengumpulkan beberapa anak buah nya untuk persiapan menyerbu kediaman Nyi Kembang Jenar yang ada di barat kota Lodaya.
Malam turun di Tanah Perdikan Lodaya. Suara jangkrik dan belalang saling bersahutan di antara semak belukar dan pohon perdu hutan kecil di barat Kota Lodaya. Burung burung malam terus berbunyi di atas ranting pohon beringin yang tampak seram di waktu malam.
Dari arah Utara rumah kediaman Nyi Kembang Jenar, puluhan bayangan hitam melesat cepat diantara pepohonan. Sinar bulan yang mendekati purnama, membuat pandangan menjadi jelas.
Mereka adalah Gana dan anak buah nya.
Panji Watugunung yang baru selesai makan malam bersama para istri dan Nyi Kembang Jenar langsung menoleh ke arah Utara.
Hawa pekat ***** membunuh terasa mendekat.
"Rakai Sanga,
Siapkan anak buah mu. Ada 22 orang mendekat kemari. Sepertinya mereka tidak berniat baik", perintah Panji Watugunung pada Rakai Sanga yang sedang asyik menikmati singkong rebus dan sambal bawang nya.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", ujar Rakai Sanga yang segera melompat dari tempat duduknya, sembari menyambar tombak nya. Pria muda itu dengan cepat menata para prajurit nya.
Dengan berpura pura santai, mereka telah bersiaga menanti kedatangan para penyerbu.
Dari arah Utara, Gana datang bersama Lumahjati alias Si Macan Besi serta 20 orang anak buah nya yang sudah bersiap untuk bertarung. Mereka berhenti di balik rimbun pepohonan yang ada di Utara rumah kediaman Nyi Kembang Jenar.
Demung Rakai Sanga yang berpakaian petani, dengan santainya menguap dari tempat duduknya melempar piring bekas wadah singkong rebus nya kearah Gana dan anak buahnya.
Whuuuuttt
Piring melesat cepat kearah anak buah Gana yang kepalanya terlihat oleh Rakai Sanga. Si Macan Besi yang melihat itu segera menghantam piring.
Bruakkk!
Piring makan itu langsung hancur berkeping keping akibat hantaman Macan Besi.
"Keparat,
Rupanya kedatangan kita sudah di ketahui. Ayo kita keluar", perintah Si Macan Besi sambil melompat ke arah Rakai Sanga yang sudah bersiap.
"Mau apa malam malam begini kalian mengendap endap seperti maling di tempat kami?
Apa kalian ini maling?", teriak Rakai Sanga sambil menatap tajam ke Si Macan Besi.
Phuihhhh
"Sembarangan kalau bicara!
Kami bukan maling, tapi kami adalah malaikat pencabut nyawa kalian.
Dua puluh prajurit Kadiri yang berpakaian petani langsung menghadang anak buah Gana yang merangsek maju.
Pertarungan sengit segera pecah di tempat itu.
Meskipun hanya prajurit biasa, kedua puluh prajurit Kadiri bukan prajurit sembarangan. Mereka adalah prajurit pilihan dengan kemampuan beladiri tangguh dan keterampilan khusus seperti senjata rahasia dan ilmu racun.
Apalagi pertarungan antara satu lawan satu, sudah dipastikan mereka akan menang.
Gana melesat cepat kearah Rakai Sanga yang sudah bersiap dengan memutar tombak nya.
Tubuh nya yang sudah berubah menjadi setengah harimau, bergerak cepat layaknya seekor harimau menerkam mangsanya.
Cakar tangan Gana terayun ke arah dada Rakai Sanga.
Sreeeetttt
Rakai Sanga segera menghadang cakaran Gana dengan gagang tombak nya yang terbuat dari rotan gajah.
Dengan cepat, Rakai Sanga segera memutar tubuhnya dan menusukkan tombaknya kearah dada Gana alias Si Macan.
Lelaki muda itu segera berguling ke tanah menghindari tusukan tombak Rakai Sanga yang mengincar nyawanya.
Whuuuuttt whutttt...
Usai menghindar tusukan tombak, Gana dengan cepat melenting tinggi ke udara kemudian melesat turun sambil mengayunkan cakar tangan kanan kearah leher Rakai Sanga.
Namun jagoan Pakuwon Karas itu dengan cepat melompat mundur selangkah, kemudian memutar tombak di atas tubuh nya. Kemudian Rakai Sanga segera menggebukan tombak nya kearah Gana.
Si Macan Cilik melompat kesampaian kanan, berguling ke tanah dan merangsek maju ke arah Rakai Sanga.
Si Macan Besi terus memperhatikan jalannya pertandingan antara mereka.
Panji Watugunung pun menahan tangan Dewi Srimpi untuk tidak melemparkan jarum Racun Kelabang Neraka miliknya.
Huhhhhh..!!
Gana mendengus keras.
Selama ini tidak ada yang bisa membuat membuat nya berkeringat deras saat bertarung kecuali saat melawan Panji Watugunung dulu. Dan kini lelaki bertubuh gempal yang menghadapi nya, mampu memaksanya untuk mengatur nafas setelah bertarung puluhan jurus.
Setelah mundur beberapa langkah kebelakang, Gana memakai ilmu pamungkas nya. Usai menghentak tanah dengan keras, Gana melesat cepat bagai kilat kearah Rakai Sanga yang masih memutar tombaknya.
Rakai Sanga yang kaget dengan kecepatan tinggi dari Gana, berusaha untuk menjauh sambil menusukkan tombaknya kearah dada Gana.
Sreeeetttt
Gana menghindari tusukan tombak Rakai Sanga dan dengan cepat menghantamkan tangan kanannya ke arah dada Rakai Sanga.
Meski kalah cepat, namun Rakai Sanga segera memapak serangan itu dengan pukulan tangan kiri nya.
Blammmmm!!!
Ledakan keras terdengar akibat benturan dua tenaga dalam dari mereka. Gana terlempar 2 tombak ke belakang sedangkan Rakai Sanga yang juga terpental langsung di sambar oleh Panji Watugunung.
__ADS_1
Naganingrum yang sudah gatal ingin bertarung melawan mereka, segera melesat cepat kearah Gana yang baru berdiri dari benturan.
Putri Prabu Darmaraja itu segera melayangkan cakar tangan nya kearah dada Gana.
Shhaaakkk
Ougghhh
Dada Gana langsung robek saat cakar Dewi Naganingrum yang memakai ilmu silat Cakar Rajawali Galunggung terayun ke arah nya.
Gana menjerit dan membekap dadanya yang berdarah. Mata si Macan Cilik itu berkilat penuh amarah kearah Dewi Naganingrum.
"Perempuan tengik.
Ku bunuh kau!", teriak Gana yang langsung melesat ke arah Naganingrum sambil mengayunkan cakar harimau nya.
Whuuussshh
Dengan mudah, Naganingrum menghindari serangan Gana. Perempuan cantik itu segera merubah gerakan tubuhnya dan segera menyikut ulu hati Gana.
Deshhhh
Aaarrghhh..!!
Gana terhuyung mundur. Belum sempat berdiri tegak, Naganingrum sudah melayangkan tendangan bebas pada perut Gana.
Bukkkkk
Si Macan Cilik itu terpental ke arah Lumahjati yang segera menyambar tubuh Gana. Usai meletakkan tubuh Gana yang muntah darah, Macan Besi segera bergerak cepat kearah Dewi Naganingrum yang baru hendak bersiap melanjutkan pertarungan nya.
Belum sempat mendekat, sebuah sinar merah menyala seperti api menerabas cepat kearah Macan Besi.
"Bangsaaatttt!!!!", teriak kaget Macan Besi sambil merubah gerakan tubuhnya menghindari sinar merah menyala yang menghadang laju tubuh Lumahjati.
Sinar merah menyala itu terus menerabas cepat kearah seorang prajurit yang sedang bertarung dengan anak buah Gana.
Si prajurit segera melompat menghindari sinar merah menyala. Namun anak buah Gana, Ken Sora, yang tidak sempat menghindar langsung menjerit keras saat sinar merah menyala itu menghantam dada nya.
AAAARRRGGGHHHH
Blammmmm!!
Anak buah Gana alias Si Macan Cilik langsung tewas dengan dada gosong seperti terbakar api.
Lumahjati yang berhasil menghindari serangan, menatap tajam ke arah siapa yang menyerangnya.
"Keparat!
Beraninya main bokong", teriak Lumahjati dengan gusar karena dia nyaris menjadi korban Ajian Tapak Dewa Api yang dilepaskan oleh Panji Watugunung.
"Melindungi istri ku adalah kewajiban ku, kakek tua.
Kau tidak tau malu, hendak menyerang seorang perempuan yang tidak siap", jawab Panji Watugunung segera.
Phuihhhh
"Siap tidak siap, dia sudah melukai murid Perguruan Macan Kumbang.
Dia harus mati", ujar Lumahjati alias Si Macan Besi sambil mendelik tajam ke arah Panji Watugunung.
"Kau bukan Dewa Yama, kakek tua.
Mati hidup seseorang ada ditangan Hyang Tunggal", Panji Watugunung tersenyum tipis.
"Jangan ceramah di depan ku, pemuda tengik!
Hari ini akan ku balas dendam kematian Macan Alas Lodaya agar dia tenang di Swargaloka", ujar Lumahjati alias Si Macan Besi sambil bersiap dengan jurus andalan nya.
"Majulah kakek tua.
Lawan mu adalah aku", Panji Watugunung segera mempersiapkan kuda kuda ilmu beladiri nya.
Di bawah sinar rembulan, dua orang pendekar tangguh itu melesat cepat untuk memulai pertarungan antara mereka.
Hiyyyyaaatttt!!!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya 😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah agar author terus semangat menulis 😁
Selamat membaca 🙏🙏
__ADS_1