
Panji Watugunung dan rombongan nya berhenti di luar gerbang barat perguruan Kalajengking Biru. Dari jarak 8 tombak, mereka mengamati sekeliling.
Terlihat 2 penjaga di pos yang di bangun mengapit gerbang dari kayu gelondongan. 2 pemanah di atas gerbang tampak bersiaga.
"Tuan Tapak Malaikat, bereskan penjaga di di sebelah kiri. Aku akan membereskan yang sebelah kanan. Dinda Anggarawati, setelah aku dan Paman Tapak Malaikat selesai, lempar pisau mu pada 2 pemanah diatas. Usahakan pada batang tenggorokan agar tidak ada suara.
Sudah mengerti?"
Semua mengangguk.
Panji Watugunung segera bergegas melesat cepat menuju penjaga sebelah kiri. Tapak Malaikat juga bergerak cepat menuju sebelah kanan gapura.
Dua penjaga gapura tidak melihat saat 2 orang menuju ke arah mereka, langsung terkejut saat Watugunung dan Tapak Malaikat sudah mencengkram leher mereka.
Kreeekk..
Mereka tewas tanpa bersuara.
Melihat Panji Watugunung dan Tapak Malaikat berhasil, secepat kilat Dewi Anggarawati melempar 2 pisau terbang nya kearah 2 pemanah diatas gerbang.
Creeepp oughh..
Hanya itu yang terdengar sesaat setelah pisau terbang Dewi Anggarawati menembus leher mereka.
Tubuh dua pemanah jatuh, belum sempat menyentuh tanah, Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang telah menangkap mayat mereka dan menyeret ke samping pohon besar di sebelah semak belukar.
Panji Watugunung kemudian menjejak tanah, melompat ke atas gerbang kayu, di ikuti Tapak Malaikat. Sementara Dewi Kipas Besi, Ratna Pitaloka, Sekar Mayang dan Dewi Anggarawati menunggu di depan gerbang.
Tapak Malaikat menepuk tangan Panji Watugunung dan menuding ke tengah perkampungan pada sebuah rumah besar. Tampak nya ada sesuatu sehingga para anggota Kalajengking Biru berkumpul dan penjagaan menjadi longgar.
Memang dari gerbang selatan nampak ada serombongan orang membawa obor, mencoba menyerbu Perguruan Kalajengking Biru. Watugunung paham, segera melompat turun.
Dengan cekatan, dia membuka palang kayu gerbang. Dan membuka gerbang. Dewi Anggarawati, Dewi Kipas Besi, Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang segera masuk dan memasang palang pintu agar tidak terlihat di buka.
Rombongan Panji Watugunung lalu bergerak di balik bayangan malam menuju penjara.
Sementara itu di bangunan utama, tampak Tangan Kalajengking pemimpin sementara perguruan Kalajengking Biru menerima laporan dari penjaga gerbang selatan, ada ratusan orang bergerak menuju ke markas perguruan.
"Hemmmm siapa mereka?"
"Ampun pemimpin, tampak nya mereka pasukan prajurit Pakuwon Watugaluh. Mungkin mereka bermaksud mengambil Dewi Tunjung Biru yang kita culik beberapa hari lalu pemimpin", jawab salah satu sesepuh yang bergelar Racun Tua.
"Hahahaha cari mati, walaupun pemimpin besar kita tidak ada, kalau cuma kroco sekelas mereka, bukan lawan sepadan untuk kita.
Racun Tua, bawa seratus anggota dan hadang mereka di luar gerbang perguruan. Aku tak mau bangkai mereka mengotori markas kita.
Nenek Racun , Racun Ular dan Kalajengking Hitam bantu Racun Tua.
Sisanya bersiap menghadapi situasi dan perketat penjagaan", perintah Tangan Kalajengking.
"Baik Pemimpin"
Mereka segera bergerak sesuai perintah Tangan Kalajengking.
Sementara itu, Panji Watugunung dan rombongan sudah berhasil sampai di gerbang penjara.
Penjaga gerbang penjara sudah mereka lumpuhkan. Panji Watugunung masuk ke dalam di temani Dewi Anggarawati, sedangkan Ratna Pitaloka, Tapak Malaikat, Dewi Kipas Besi dan Sekar Mayang berjaga di pintu keluar.
Bau busuk menyengat di dalam penjara. Dewi Anggarawati hampir muntah namun segera mengikat separuh wajah dengan kain agar tidak mencium bau busuk.
Rata rata yang di tahan terlihat mengenaskan dengan bekas penyiksaan kejam. sampai di satu ruang tahanan yang agak besar, Panji Watugunung melihat Dewi Tunjung Biru di ikat pada tiang. Panji Watugunung mengenali nya karena dulu sewaktu masih di padepokan mereka pernah bertemu beberapa kali.
Segera Panji Watugunung membuka pintu tahanan dengan kunci yang di rampas dari penjaga. Watugunung segera membuka ikatan Dewi Tunjung Biru dan segera menggendong nya karna wanita itu pingsan.
__ADS_1
Mereka segera bergegas keluar menuju gerbang penjara. Lalu rombongan itu bergerak cepat menuju pintu gerbang barat.
Belum sempat sampai di pintu gerbang barat terdengar teriakan keras.
"Ada penyusup masuk!!!"
Lonceng segera berbunyi.
Dua sesepuh Kalajengking Biru yang berjuluk Racun Biru, dan Racun Api segera mengejar.
Puluhan anggota Kalajengking Biru sudah mengepung rombongan Panji Watugunung.
Dewi Anggarawati segera mengambil Obat Segala Racun dan memberikan pada Panji Watugunung, Sekar Mayang dan Ratna Pitaloka.
Dewi Kipas Besi dan Tapak Malaikat pun segera memakan Obat penawar racun dari Tabib Putih.
Salah satu anggota Kalajengking Biru segera menyerang. Dewi Kipas Besi segera menyongsong. Kipas Besi senjata andalan nya menyambut anggota Kalajengking Biru dengan sapuan angin kencang bertenaga dalam yang membuat anggota Kalajengking Biru terlempar mundur dan tewas menghantam tanah.
Melihat itu, anggota Kalajengking Biru lain langsung menyerang maju. Ratna Pitaloka juga tak tinggal diam, segera mencabut Pedang Bulan Kembar nya melesat maju kearah anggota Kalajengking Biru. Sekar Mayang segera melompat mengibaskan selendang es ke arah anggota Kalajengking Biru lain nya. Pertarungan sengit terjadi.
Namun anggota Kalajengking Biru bukan tandingan Sekar Mayang, Ratna Pitaloka maupun Dewi Kipas Besi. Dalam beberapa saat puluhan anggota Kalajengking Biru tewas bersimbah darah.
Racun Biru marah besar melihat anggota Kalajengking Biru di bantai.
Kakek tua berjenggot biru melesat kearah rombongan Panji Watugunung. Tapak Malaikat segera menyongsong. Serangan Tinju Racun Biru beradu dengan Tapak Malaikat berlangsung seru karna keduanya memiliki kemampuan kanuragan berimbang.
Racun Biru mencoba mencari celah, tangan kiri nya memukul dada Tapak Malaikat, namun pendekar golongan putih itu mampu menghindar sambil melayangkan jurus Tapak Kilat nya ke arah perut Racun Biru.
Racun Biru kaget, dan menghantam tangan Tapak Malaikat. Benturan keras membuat mereka berdua mundur selangkah.
Tangan Racun Biru terasa sakit seperti pecah sedangkan Tapak Malaikat hanya kesemutan.
Racun Api tak mau jadi penonton segera menyabetkan senjata nya yang berupa cakar besi.
Panji Watugunung segera menurunkan tubuh Dewi Tunjung Biru.
Usai berkata, Panji Watugunung mencabut Pedang Naga Api dan menghadang Racun Api.
Panas Pedang Naga Api, segera menyelimuti udara. Panji Watugunung menggunakan jurus Pedang Tanpa Bayangan menangkis cakar Racun Api.
Sewaktu dua senjata bertemu, percikan bunga api keluar.
Tring
Racun Api terkejut bukan main saat satu jari cakar besi nya putus di hantam Pedang Naga Api. Kakek tua berambut merah segera mundur 2 tombak ke belakang.
'Gila, pedang apa itu? Sampai cakar besi ku rompal', batin Racun Api.
"Kenapa mundur pak tua?
Ayo maju", teriak Watugunung.
"Bedebah, ku bunuh kau! ", geram Racun Api sambil melempar jarum kecil berwarna merah kearah Panji Watugunung.
Dengan cepat Panji Watugunung memutar pedangnya dan menangkis jarum beracun.
"Kau seperti anak kecil bermain lempar gundu pak tua", ejek Panji Watugunung berhasil membuat Racun Api marah besar.
"Keparaaaaatttt!!!!!,
Ku antar nyawa mu ke neraka"
Racun Api melesat cepat menyabetkan cakar besi nya ke dada Watugunung, namun pemuda itu dengan tenang melompat ke samping sambil membabat perut Racun Api.
__ADS_1
Merasa angin panas menerjang ke perut, Racun Api melompat mundur. Panji Watugunung tak membuang waktu, segera melompat mengeluarkan jurus Pedang Seribu Bayangan yang membuat pedang nya terlihat menjadi banyak.
Racun Api berusaha menangkis semua serangan tapi karna banyaknya serangan, tak semua bisa di hentikan.
Satu tusukan Pedang Naga Api berhasil menusuk dada Racun Api tembus ke punggung. Kakek tua berambut merah itu melotot sesaat, lalu diam tak bergerak lagi.
Racun Api tewas seketika.
Panji Watugunung segera mencabut Pedang Naga Api nya dan menuju arah Dewi Anggarawati.
Racun Biru melihat kakak seperguruannya tewas, segera melesat ke Panji Watugunung sambil menyabetkan pedang yang belum dia gunakan saat melawan Tapak Malaikat.
Angin dingin tenaga dalam menderu kencang menerabas kearah Watugunung, segera dia menangkis dengan ujung pedang di bawah dan dua tangan memegang gagang pedang diatas kepala .
Angin dingin terpotong menjadi 2 bagian, dan menghantam anggota Kalajengking Biru. 2 anggota Kalajengking Biru tewas.
Tapak Malaikat yang di tinggal pergi Racun Biru, segera bergegas menuju Dewi Tunjung Biru dan menggendong nya.
Racun Biru langsung merangsek maju,dan menyabetkan pedang nya dengan cepat. Namun Ajian Sepi Angin tingkat tinggi Watugunung benar benar luar biasa. Gerakan Watugunung lincah menghindari sabetan pedang, dan lemparan jarum beracun serta memberikan serangan balik cepat yang membuat lawan kelabakan.
Racun Biru mencoba menyabet kaki Watugunung, pemuda itu dengan gerakan cepat melompat ke atas, menghujam ke kepala kakek tua berjenggot biru yang membuat Racun Biru terpaksa berguling ke tanah.
Panji Watugunung segera melompat mundur saat Racun Biru melempar jarum kecil berwarna biru. Pemuda itu segera memutar pedangnya, menangkis jarum beracun keji.
'Aku harus cepat sebelum anggota Kalajengking Biru semakin banyak disini', batin Panji Watugunung sambil melirik pengepung yang semakin banyak.
Saat menjejak tanah, Panji Watugunung segera melompat ke atas.
"Tebasan Pedang Dewa...
Chiattttt....."
Sabetan Pedang Naga Api berwarna merah menyala menerabas kearah Racun Biru yang baru berdiri. Kakek tua berjenggot biru itu hanya bisa pasrah saat sabetan Pedang Naga Api telak menghajar dada nya. Racun Biru tewas dengan dada terpisah.
Melihat Racun Biru tewas mengenaskan, anggota Kalajengking Biru ciut nyali nya.
"Ayo kakang kita mundur"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dapatkah mereka lolos dari kepungan?
__ADS_1
Siapa lawan mereka selanjutnya?
Tunggu episode selanjutnya yah 😁😁