
Para prajurit bantuan dari istana Kembang Kuning kocar-kacir. Mereka yang tidak terbiasa berperang dalam kegelapan, satu persatu terus di bantai para anggota Pasukan Lowo Bengi yang bergerak cepat bagai siluman dalam gelap malam.
Sedangkan serbuan dari seberang Kali Serang jelas bukan kawan mereka.
Mundur jadi korban Pasukan Lowo Bengi, maju pun sudah bisa dipastikan nyawa mereka berakhir di tangan para prajurit yang perlahan mulai mendekati mereka.
Saat yang genting itu, Demung Bulukumba selaku pimpinan pasukan Kembang Kuning segera mencabut kerisnya. Dengan lantang dia berteriak.
"Lebih baik terbunuh oleh senjata musuh daripada hidup dalam kekalahan", usai berkata demikian, Demung Bulukumba segera menggebrak kuda tunggangan nya ke arah pasukan Garuda Panjalu yang dipimpin oleh Tumenggung Jarasanda.
Serentak para prajurit Kembang Kuning mengikuti langkah sang pemimpin menyerang maju kearah ribuan prajurit yang membawa obor.
Pertempuran sengit antara pasukan Panjalu dan Kembang Kuning pecah di tengah Kali Serang pada malam hari itu.
Demung Bulukumba segera menyabetkan keris pusaka nya ke arah leher seorang prajurit Panjalu dari Kadipaten Kurawan yang berada di barisan paling depan.
Si prajurit berusaha untuk menghindari sabetan keris Demung Bulukumba sembari tusukkan tombak ke arah dada sang Demung.
Dengan bergeser sedikit, Demung Bulukumba menghindari tusukan tombak. Lalu secepat kilat, tangan kiri nya menangkap gagang tombak si prajurit dan menariknya.
Lalu dengan cepat, tangan kanannya menusukkan keris pusaka ke leher lawan yang hilang keseimbangan.
Chrraaasssshhh..
Auuuggghhhhh
Si prajurit Kurawan langsung roboh bersimbah darah usai tusukan keris Demung Bulukumba menembus batang leher nya.
Usai berhasil menghabisi nyawa lawan, Demung Bulukumba langsung menggebrak kudanya menerjang maju ke depan.
Jerit kesakitan dan darah segar yang menyembur keluar dari luka luka para prajurit yang tewas membuat Kali Serang yang berair jernih seketika berubah warna menjadi merah. Bau anyir darah menyeruak di tempat itu seketika.
Demung Bulukumba terus mengamuk membantai setiap lawan yang dihadapi.
Jarasanda, sang pemimpin pasukan Garuda Panjalu mendengus keras melihat seorang lelaki bertubuh kurus mengamuk di dalam barisan pasukan nya.
Segera dia menggebrak kudanya menghadang laju pergerakan Demung Bulukumba.
Setelah berhasil mendekati lawan, Jarasanda langsung menghentakkan tubuh nya yang melayang tinggi lalu meluncur turun ke arah Demung Bulukumba sembari mengayunkan keris Kyai Klotok kearah leher Demung Bulukumba.
Shreeeeettttthhh!!
Perwira tinggi prajurit Kembang Kuning itu buru-buru menjatuhkan diri nya ke Kali Serang untuk menghindari sabetan senjata Tumenggung Jarasanda.
Berbekal obor di tangan kiri, Jarasanda melesat cepat kearah Demung Bulukumba yang baru saja berdiri usai berhasil menghindari sabetan Keris Kyai Klotok nya. Keris pusaka milik Jarasanda itu bergerak cepat menuju perut lawan.
Mendapat serangan itu, Demung Bulukumba segera sabetkan keris untuk menangkis serangan.
Thrrraaannnnggggg!!
Melihat lawan menangkis, Jarasanda langsung sapukan kaki kanan ke arah betis Demung Bulukumba.
Whuuthhh..
Perwira Kadipaten Kembang Kuning langsung melenting tinggi ke udara, menghindar dari sapuan kaki Tumenggung Jarasanda. Demung Bulukumba memang tersohor dengan ilmu meringankan tubuh nya yang tinggi.
Jarasanda segera melemparkan obor di tangan kirinya kearah tubuh Demung Bulukumba yang terlihat remang-remang di kegelapan malam.
Tangan kiri adik ipar Warigalit itu seketika berubah warna menjadi hijau terang pertanda Ajian Gugur Bumi andalan nya telah selesai di rapal.
Berkat bantuan obor, Jarasanda segera melihat tubuh Demung Bulukumba. Lalu dengan cepat dia hantamkan tangan kirinya kearah Demung Bulukumba yang masih di udara.
"Mampus kau!
Chhiyyyyyyyyyyyyyaaaaaaaatt..."
Selarik sinar hijau terang melesat cepat kearah Demung Bulukumba yang belum menjejak tanah.
Sadar tak bisa menghindar, Demung Bulukumba langsung memusatkan tenaga dalam tingkat tinggi pada kedua lengannya untuk menahan serangan Tumenggung Jarasanda.
Blllaaammmmmmmm!!!
Demung Bulukumba terpental dan jatuh menabrak seorang prajurit Panjalu yang ikut jatuh bersamanya.
Dada Demung Bulukumba seperti di timpa batu besar, sesak bukan main. Dari sudut bibirnya, ada darah segar yang menetes keluar.
Mata pria kurus itu mendelik tajam ke arah Jarasanda dan mengusap darah yang keluar dengan kasar. Dia segera menyarungkan keris pusaka ke pinggang nya.
"Bedebah!
Kau harus mati, hai wong Daha!", maki Demung Bulukumba yang terbakar amarah. Dia begitu geram melihat ribuan prajurit nya terbunuh di Kali Serang.
Segera kedua tangan kurus itu terentang lebar. Lalu muncul sinar merah berhawa panas bergulung pada kedua lengannya. Demung Bulukumba merapal Ajian Asta Geni.
Jarasanda segera pindahkan Keris Kyai Klotok ke tangan kiri. Kemudian tangan kanannya segera dia tekan ke bawah seperti menekan bumi. Itu adalah tahap selanjutnya dari Ajian Gugur Bumi, yaitu Gugur Bumi Langit. Tangan kanan Jarasanda berubah warna menjadi hijau kebiruan disertai angin dingin yang menderu-deru.
Dengan cepat, Jarasanda melesat ke arah Demung Bulukumba, begitu pula dengan perwira prajurit Kadipaten Kembang Kuning itu. Mereka sudah berniat habis-habisan mengadu nyawa.
Tangan kanan Jarasanda yang di liputi sinar hijau kebiruan beradu dengan tangan kanan Demung Bulukumba yang berwarna merah menyala.
Dhhhhuuuaaaaaarrrrrrrhh!!
Ledakan dahsyat terdengar saat dua perwira tinggi dari dua daerah yang tengah berseberangan itu beradu.
Jarasanda terpental ke belakang dan jatuh ke air Kali Serang. Dari mulut nya, darah kehitaman keluar dari sudut bibir. Dia terluka dalam meski tidak parah.
Sedangkan Demung Bulukumba terpelanting ke belakang dan jatuh diantara mayat prajurit Kadipaten Kembang Kuning yang bergelimpangan tak tentu arah.
Huuuuooogggghhh!
Demung Bulukumba muntah darah kehitaman. Dari hidung nya juga terlihat darah mengalir. Perwira tinggi prajurit Kembang Kuning itu berusaha bangkit, namun kaki nya tak mampu menyangga berat badannya.
__ADS_1
Dia limbung dan jatuh diatas mayat prajurit Kadipaten Kembang Kuning.
Guwarsa yang melihat kejadian itu segera melesat ke arah Demung Bulukumba lalu membabatkan pedang nya ke leher sang perwira prajurit Kadipaten Kembang Kuning itu segera.
Crrhaassss..
Kepala Demung Bulukumba langsung terpisah dari badannya dan menggelinding di aliran Kali Serang.
Sisa sisa prajurit Kadipaten Kembang Kuning yang masih bertahan langsung kacau balau saat pemimpin mereka tewas dengan kepala terpisah dari badan.
Salah seorang Bekel Prajurit dari Kadipaten Kembang Kuning mencoba untuk melarikan diri bersama kurang lebih 1000 prajurit yang tersisa. Mereka kabur ke arah hulu Kali Serang.
Meski para prajurit Panjalu terus memburu, sebagian tetap saja berhasil lolos karena gelap malam.
Malam itu, pasukan Panjalu kehilangan 1700 prajurit sedangkan dari pihak Kembang Kuning sekitar 4000 lebih prajurit tewas dan sekitar kurang dari 1000 prajurit berhasil melarikan diri.
Hingga menjelang pagi, para prajurit Panjalu masih bertahan di tepi Kali Serang untuk mengumpulkan mayat kawan mereka yang gugur dalam perang malam itu.
**
Patih Harjamukti dan Senopati Purbaya tampak gelisah menunggu kedatangan Demung Bulukumba.
"Paman Harjamukti,
Matahari hampir sepenggal naik tapi kenapa Demung Bulukumba belum kembali? Apakah Gusti Adipati Mpu Pamadi tidak memberi bantuan untuk kita?", tanya Senopati Purbaya dengan cepat. Raut wajah Senopati muda nampak cemas.
"Aku juga tidak tahu, Purbaya..
Kertawahana seharusnya lebih bijak menasehati Gusti Adipati dalam masalah ini tapi aku juga tidak yakin dengan keputusan Gusti Adipati", jawab Patih Harjamukti sambil menghela nafas berat.
Sebuah suara terompet tanduk kerbau yang terdengar nyaring mengagetkan Patih Harjamukti dan Senopati Purbaya.
Thuuuuuuuuutttttthhhh!!!
Senopati Purbaya dan Patih Harjamukti saling berpandangan sejenak lalu kedua orang perwira tinggi prajurit Kadipaten Kembang Kuning itu bergegas keluar dari dalam bangunan utama benteng pertahanan prajurit Kembang Kuning.
Seorang prajurit berlari menuju mereka berdua.
"Ampun Gusti Patih,
Rombongan pasukan Panjalu mulai mendekat ke arah benteng pertahanan kita. Mohon perintah nya", lapor sang prajurit dengan cepat.
"Tutup gerbang benteng pertahanan!
Siapkan para pasukan pemanah diatas benteng itu. Cepat!!", perintah Patih Harjamukti segera. Sang prajurit segera menghormat lalu berlari cepat kearah penabuh bende.
Dhheeeengggg...
Dhheeeengggg!!
Dua tabuhan bende membuat para prajurit menutup pintu benteng pertahanan yang terbuat dari kayu gelondongan yang dijajar rapi setinggi hampir 4 tombak. Dengan palang kayu sebesar badan orang dewasa, mereka menuntut pintu gerbang benteng pertahanan itu.
Para prajurit pemanah langsung bersiaga di atas benteng pertahanan itu dengan cepat. Mereka langsung memasang anak panah pada busur mereka masing-masing.
Tumenggung Wirasakti, Tumenggung Gunapati, Demung Kombang, Demung Harsawijaya dan Senopati Purbaya segera berkumpul. Patih sepuh itu segera membagi tugas diantara mereka.
Pasukan Panjalu terus bergerak mendekat ke arah benteng pertahanan Kembang Kuning di Pakuwon Semanding.
Saat mereka telah sampai di luar jangkauan para pemanah, Panji Watugunung mengangkat tangan kanannya dan seorang prajurit peniup terompet tanduk kerbau dengan sigap menjalankan tugas nya.
Thuuuuuuuuutttttthhhh!!
Pergerakan prajurit Panjalu langsung berhenti. Para prajurit pejalan kaki langsung menata tamengnya untuk membuat garis pertahanan dan bersiap untuk menyerang dengan tombak yang sudah mereka pegang erat.
Para perwira tinggi prajurit Kembang Kuning seperti Patih Harjamukti, Senopati Purbaya dan Tumenggung Wirasakti segera bergegas ke atas benteng pertahanan. Dari atas benteng pertahanan, mereka melihat kesiapan para prajurit Panjalu dalam berperang.
Panji Watugunung segera menoleh ke arah Senopati Warigalit dan Senopati Dewangkara. Senopati Dewangkara segera membawa bendera putih sebagai tanda ingin bicara. Mereka berdua segera menepuk pundak kudanya dan kuda berjalan pelan menuju ke tengah lapangan.
Melihat itu, Senopati Purbaya dan Patih Harjamukti segera turun dari atas benteng pertahanan. Usai prajurit membuka pintu gerbang benteng, mereka berdua menggebrak kudanya menuju ke tengah lapangan sambil membawa bendera putih..
Tepat di tengah lapangan, dua pasang Perwira dari dua daerah yang tengah berseberangan itu berhenti.
"Patih Harjamukti,
Aku utusan dari Gusti Prabu Jayengrana kemari ingin menyampaikan titah raja Panjalu yang ingin kalian kembali ke pangkuan Kerajaan Panjalu", ucap Senopati Warigalit sambil menatap ke arah Patih Harjamukti.
Warangka praja Kembang Kuning itu menghela nafas berat sebelum berbicara.
"Kau utusan, Senopati Warigalit dan aku juga utusan dari Gusti Adipati Mpu Pamadi.
Kami hanya akan kembali ke Panjalu jika Mpu Pamadi menjadi raja Panjalu", ujar Patih Harjamukti segera.
Hemmmmmmm
"Begitu rupanya. Jadi kalian memang berniat makar terhadap Kerajaan Panjalu. Baiklah, kita tidak akan mencapai titik temu.
Maaf jika kami terpaksa memakai jalan kekerasan untuk menegakkan hukum dalam tatanan masyarakat Panjalu.
Bersiaplah untuk berperang, Patih Harjamukti", usai berkata demikian Senopati Warigalit dan Senopati Dewangkara segera menarik tali kekang kudanya dan mereka berdua segera kembali ke barisan pasukan Panjalu. Begitu pula dengan Patih Harjamukti dan Senopati Purbaya.
Begitu sampai di barisan pasukan Panjalu, Senopati Warigalit segera mendekat ke arah Panji Watugunung.
"Bagaimana Kakang Warigalit? Mereka tetap bersikeras untuk melawan kita?", tanya Panji Watugunung segera.
"Mohon ampun Dhimas Prabu,
Mereka memang berniat untuk memberontak terhadap Daha", lapor Senopati Warigalit seraya menghormati pada Panji Watugunung.
Hemmmmmmm..
"Aku tidak suka cara ini. Tapi kalian orang-orang Kembang Kuning memaksa ku untuk melakukan nya..", ujar Panji Watugunung sembari menoleh ke arah prajurit penabuh bende.
__ADS_1
Seorang prajurit Panjalu bertubuh gempal segera memukul bende perang.
Dhheeeengggg!!!
Para prajurit pemanah pimpinan Demung Rajegwesi segera bergerak di belakang para prajurit bertameng yang ada di barisan paling depan. Dua lapis prajurit bertameng baja langsung bergerak maju mendekati benteng pertahanan.
Demung Harsawijaya yang memimpin pasukan pemanah Kembang Kuning langsung memberikan aba-aba pada prajuritnya.
"Tembaaaakkkkkk!!"
Whuuutt whuuutt whuuutt!!
Hujan anak panah segera mendekat ke arah prajurit bertameng baja yang bergerak mendekati benteng.
Para prajurit itu langsung meletakkan tameng baja diatas kepala untuk menahan hujan anak panah dari pasukan Kembang Kuning.
Clllannggg cllleeenggg!!
Kerasnya tameng baja tak mampu di tembus oleh anak panah membuat mereka terus bergerak mendekati benteng pertahanan prajurit Kembang Kuning yang terbuat dari kayu.
Jeda waktu yang di butuhkan para prajurit Kembang Kuning untuk memasang anak panah pada busur di manfaatkan dengan baik oleh Demung Rajegwesi. Satu ayunan tangan membuat ribuan prajurit pemanah dari Panjalu melepaskan anak panah kearah benteng pertahanan itu.
Shrrriinnnggg shhhrriinggg shriingg!!!
Hujan anak panah ganti menghujani benteng pertahanan prajurit Kembang Kuning. Sedangkan para prajurit bertameng baja memanfaatkan waktu itu untuk bergerak lebih cepat kearah benteng pertahanan.
Sesudah mereka sampai di bawah benteng, para prajurit bertameng baja langsung berusaha menjebol pertahanan dengan menyalakan api ke pintu gerbang.
Silih berganti menyerang membuat korban diantara kedua belah pihak semakin banyak.
Namun pasukan Panjalu berhasil mendekati benteng pertahanan prajurit Kembang Kuning.
Kokohnya kayu yang menjadi benteng pertahanan itu membuat para prajurit Panjalu kesulitan menembusnya.
Melihat itu, Panji Watugunung segera merapal Ajian Halimun nya. Sekejap mata, Panji Watugunung sudah berpindah ke depan pintu gerbang benteng pertahanan.
Tangan kanan Panji Watugunung yang berwarna biru terang karena Ajian Brajamusti menghantam pintu gerbang benteng pertahanan prajurit Kembang Kuning.
Blllaaammmmmmmm!!!
Krreeeeekkkkkk Bruuuuaaaakkkkhhh!!!
Sekali hantam, pintu gerbang benteng pertahanan prajurit Kembang Kuning langsung hancur berkeping keping. Panji Watugunung segera kembali ke tempat nya dengan Ajian Halimun.
Melihat pintu gerbang benteng pertahanan terbuka, para prajurit Panjalu menyerbu masuk ke dalam tempat itu.
Perang besar segera terjadi di dalam benteng pertahanan prajurit Kembang Kuning.
Demung Harsawijaya yang melihat pintu gerbang benteng jebol, langsung melompat turun dari atas benteng pertahanan itu sembari memutar tongkat besi nya dan menghantam pada kepala seorang prajurit Panjalu.
Plaaakkk..
Brraaakkkk!!
Kepala si prajurit Panjalu langsung hancur berantakan dengan otak berhamburan ke tanah.
Melihat kawannya tewas, para prajurit Panjalu segera mengepung Demung Harsawijaya yang langsung mengamuk dengan tongkat besi andalannya.
Thrrraaannnnggggg trakkk..
Bukkkk Bhaaaakkkk...
Amukan Demung Harsawijaya yang menghajar para prajurit Panjalu membuat Senopati Dewangkara geram.
Pria bertubuh gempal yang ingin terlihat berjasa bagi Kerajaan Panjalu itu langsung menerjang Demung Harsawijaya yang baru memukul dada seorang prajurit Panjalu.
Pedang besar Senopati Dewangkara terayun cepat kearah leher Demung Harsawijaya yang langsung memutar tongkat besi andalannya dan menangkis sabetan pedang itu.
Thrrriiinnnggggg!!
Mereka segera melompat mundur beberapa langkah untuk persiapan bertarung. Sambil menatap bengis kearah Demung Harsawijaya, Senopati Dewangkara berkata dengan lantang.
"Lawanmu bukan mereka, tapi aku!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya 😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah 😁
__ADS_1
Selamat membaca 😁🙏🙏😁