Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Gunung Kematian


__ADS_3

Pagi itu saat matahari sepenggal naik, pasukan Panji Watugunung mulai bergerak menuju ke markas besar Gunung Kematian. Dengan jumlah sekitar 500 orang berkuda, pasukan itu bagai gelombang banjir di jalan pakuwon Kunjang.


Panji Watugunung diapit dua selirnya dan Dewi Srimpi berkuda di belakang Landung dan Ludaka. Dewi Anggarawati dan Ayu Galuh tidak di perbolehkan ikut, dan hanya boleh menjaga markas pasukan Garuda Panjalu di bantu Ki Kuwu Rakeh Kepung.


Landung membawa sebuah bendera hadiah dari Maharaja Daha berwarna Biru dengan hiasan bergambar burung Garuda emas pada tengah nya.


Pasukan itu bergerak cepat menuju Utara. Di tikungan bukit, Kelabang Koro dan pengikutnya bergabung dengan pasukan itu.


Panji Watugunung tersenyum melihat Kelabang Koro yang mengenakan jubah warna hijau seperti warna koro.


Setelah beberapa saat kemudian, pasukan bergerak cepat ke timur menuju ke markas Perguruan Gunung Kematian.


Seratus tombak dari depan pintu gerbang Gunung Kematian, Panji Watugunung memberikan isyarat agar pasukan pemanah yang berjumlah 100 orang di pecah menjadi dua bagian. Satu bagian di pimpin oleh Ludaka bergerak ke pepohonan hutan di sisi Utara, satu bagian di pimpin oleh Rajegwesi bergerak ke sisi selatan tebing batu.


Setelah itu, pasukan utama bergerak menuju pintu gerbang Gunung Kematian.


Para penjaga gerbang markas terkejut melihat ratusan orang berpakaian prajurit bergerak cepat menuju markas mereka.


Lonceng dan kentongan tanda bahaya segera berbunyi. Ratusan orang berbaju hitam dengan ikat kepala berhias segitiga putih di tengah segera merangsek menuju ke gerbang utama.


Panji Watugunung dan pasukannya berhenti 20 tombak dari gerbang.


"Dewa Maut, menyerah atau kami hancurkan perguruanmu", teriak Panji Watugunung yang di sertai tenaga dalam tingkat tinggi. Suaranya terdengar begitu keras, hingga Dewa Maut yang sedang bersemedi ritual nya terbangun.


Wajah kakek tua itu mendelik marah.


Kakek tua itu segera melesat ke arah pintu gerbang Perguruan Gunung Kematian. Ratusan prajurit sudah mengepung mereka.


Setan Gundul dan Iblis Biru sudah lebih dulu di puncak gerbang perguruan yang terbuat dari kayu gelondongan. Dewa Maut melompat ke atas puncak gerbang dan memandang tajam kearah Panji Watugunung.


"Bocah ingusan, berani menyatroni markas Gunung Kematian. Sudah bosan hidup kau hah?.


"Bukan bosan hidup, tapi bosan melihat tindakan mu yang menjadi perampok di wilayah Panjalu", balas Panji Watugunung segera.


"Hahahaha begundal Samarawijaya..


Aku sudah lama menahan diri untuk tidak memancing keributan. Hari ini kalian sendiri mengantar nyawa padaku. Dewa Yama benar benar sayang pada ku", seringai lebar menghiasi wajah Dewa Maut.


"Sombong sekali kau Galapati. Gelar mu memang Dewa Maut, tapi kau bukan dewa Yama", Kelabang Koro memanggil nama asli Dewa Maut.


"Mondhosio, sebuah kejutan besar.


Tak kusangka setelah sekian tahun mengasingkan diri, hari ini kau keluar sebagai anjing Daha.


Memalukan! ", teriak Dewa Maut mendelik tajam kearah Kelabang Koro.


Phuihhh


"Lebih baik aku menjadi anjing Daha dari pada menjadi perampok tengik seperti mu Galapati", Kelabang Koro meludah kasar.


"Kurang ajar!


Tadi aku masih memandang mu sebagai adik seperguruan ku. Hari ini, murid murtad seperti mu akan kuantar meminta ampunan guru di neraka", teriak Dewa Maut geram.


"Buka gerbang, serang mereka!"


Pintu gerbang terbuka dan ratusan orang berpakaian hitam berlari menuju pasukan Panji Watugunung yang masih diam.


Tiba tiba ratusan anak panah menghujani orang orang berbaju hitam..


Sreeetttttt


Crepp


Aughhhhh


Jerit memilukan hati akibat hujan anak panah yang di lepaskan pasukan Ludaka dan Rajegwesi, memenuhi tempat itu. Puluhan orang tewas seketika.


Setan Gundul menepis anak panah dengan mengibaskan baju nya.


Brakkk!!


Anak panah hancur berantakan.


"Kurang ajar!


Main taktik licik kalian", teriak Setan Gundul.


Dewa Maut segera menghantamkan tangan kanan nya kearah Rajegwesi.


Angin dingin bercampur asap hitam mengerikan melayang cepat menuju ke arah pasukan Rajegwesi.


Blammmm!


Rajegwesi waspada dan melompat menghindari angin tenaga dalam. Namun 3 anak buah nya tewas seketika.


Dewa Maut kembali menghantamkan tangan kanan ke arah pasukan Ludaka.


Ludaka sigap memberi aba-aba untuk melompat dari pepohonan saat angin pukulan Dewa Maut menuju ke arah mereka.


"Cepat menghindar!"


Blammmm!!


Pepohonan hutan itu hancur berantakan terkena hantaman pukulan Dewa Maut. Ludaka dan anak buahnya yang bersenjatakan panah segera menghambur sambil melesatkan anak panah mereka.

__ADS_1


Anggota perguruan Gunung Kematian maju lagi setelah hujan panah berhenti.


Sementara itu Kelabang Koro bergerak cepat di ikuti anak buah nya menerjang anggota Gunung Kematian. Mereka merangsek maju ke dalam markas.


Pasukan Garuda Panjalu langsung bergerak maju. Diikuti pasukan Daha, Kunjang, Watugaluh dan Randu.


Pertempuran sengit terjadi di depan markas Gunung Kematian.


Setan Gundul melayang turun , tangan nya mengincar kepala seorang prajurit Daha.


Kreeekkkkk


Arghhh


Prajurit itu tewas dengan batok kepala hancur.


Sekar Mayang segera melompat masuk menyabetkan Selendang Es nya ke arah Setan Gundul.


Whussss


Setan Gundul melihat ada serangan segera menghindar, tapi seorang anggota Gunung Kematian yang naas terhantam angin dingin tenaga dalam dari Selendang Es.


Blarrrrr..


Orang itu tewas seketika dengan dada membeku. Setan Gundul terkejut melihat nya.


"Selendang Es? Gadis tengik apa hubungan mu dengan Tangan Api dari Padas Putih?", teriak Setan Gundul.


"Tangan Api adalah guru ku. Apa kau takut? ", Sekar Mayang mengejek Setan Gundul.


"Keparat, bahkan jika guru mu sendiri yang kesini aku tidak takut".


Usai berteriak, Setan Gundul bergerak aneh. Dia bergerak seperti gasing. Tubuhnya yang pendek memegang pedang pendek berwarna hitam merangsek maju ke arah Sekar Mayang.


Sekar Mayang melompat ke atas sambil mengibaskan selendang es nya namun gerakan aneh setan tua itu dengan mudah menghindari nya.


Sementara itu, Ratna Pitaloka yang melesat maju di hadang seorang lelaki muda berpedang dua. Murid Iblis Biru yang bergelar Pedang Neraka.


"Gadis cantik, aku adalah lawan mu"


Pedang Neraka mengayunkan pedangnya mengincar dada Ratna Pitaloka yang menjatuhkan diri sambil menghantamkan tangan kanan nya.


Angin pukulan tenaga dalam meluncur cepat. Pedang Neraka memutar tubuhnya dan melompat mundur dua tombak.


Ratna Pitaloka segera berdiri dan mencabut Pedang Bulan Kembar nya. Pedang Neraka pun mencabut pedang kedua nya yang lebih pendek dengan tangan kiri.


Pertarungan sengit antara pemakai pedang ganda segera terjadi.


Jurus demi jurus sudah dilewati. Kecepatan tinggi dari serangan pedang Ratna Pitaloka di padu Ajian Sepi Angin nya mulai mendesak Pedang Neraka.


Tringg..


Ratna Pitaloka kembali menyabetkan pedang kearah Pedang Neraka, dan pemuda itu menangkis dengan pedang panjang nya. Tangan kiri Pedang Neraka yang memegang pedang pendek mengayun mengincar perut Ratna Pitaloka.


Namun perempuan itu melompat ke udara dan bersalto sambil menebas punggung Pedang Neraka.


Crashhhh


Aughhhhh


Punggung kanan pedang Neraka sobek dan mengucurkan darah segar.


"Kurang ajar!!,


Ku cabut nyawa mu perempuan laknat", teriak Pedang Neraka sambil memegang bahu kanannya yang berdarah.


Sambil menahan sakit, Pedang Neraka menerjang kearah Ratna Pitaloka dengan gerakan membabi buta.


Ratna Pitaloka bergerak lincah menghindari sabetan senjata Pedang Neraka. Dalam 10 jurus, luka sayatan di tubuh Pedang Neraka sudah bertambah banyak. Gerakan nya menjadi lambat karna banyak kehilangan darah.


Dengan satu gerakan cepat, Ratna Pitaloka mengincar leher Pedang Neraka yang terhuyung huyung setelah benturan pedang. Pedang Neraka tak bisa mengelak saat pedang Ratna Pitaloka menebas leher nya.


Crashhhh


Kepala Pedang Neraka menggelinding di tanah. Tubuhnya limbung dengan bersimbah darah.


Di lain tempat, Bekel Setyaka terus menerus membantai lawan yang ada di depannya. Pedang besarnya begitu lincah membabat kepala para anggota Gunung Kematian.


Beberapa orang pengikut Kelabang Koro bergerak cepat menyelinap ke pemukiman markas Gunung Kematian setelah pintu gerbang terbuka. Bersenjata obor, mereka dengan cepat membakar rumah rumah di markas. Asap kebakaran segera membumbung tinggi ke langit.


Panji Watugunung masih terus mengawasi gerak-gerik Dewa Maut.


Sementara itu Kelabang Koro berhadapan dengan Iblis Biru. Lelaki berwajah seram itu melesat cepat menyambar pinggang Kelabang Koro. Namun kecepatan tinggi dari Ajian Kelabang Sewu andalan Kelabang Koro bukan omong kosong.


Gerakan lincah Kelabang Koro begitu ringan, seolah dia hanya bermain main dengan Iblis Biru. Julungwangi alias si Iblis Biru sangat geram melihat serangan nya hanya menghajar udara kosong.


"Kelabang tua, sampai kapan kau akan bermain lompat ha? ", teriak Julungwangi yang nafasnya ngos-ngosan. Kakek paruh baya berjenggot pendek itu geram. Merasa di permainkan oleh Kelabang Koro.


"Tangkap saja jika mampu, tak usah banyak omong", ujar Kelabang Koro mencibir Iblis Biru.


"Bangsat Kau kelabang tua, aku tidak segan segan lagi", ujar Iblis Biru sambil mundur dua langkah.


Tubuh Iblis Biru tiba tiba berubah warna dari sawo matang menjadi kebiruan. Tangan dan kakinya di liputi asap kehitaman. Ilmu sesat warisan dari Resi Banaspati. Ajian Iblis Langit. Kelabang Koro pernah mempelajari ilmu itu walau hanya sampai tingkat 3. Melihat perubahan warna kulit, Iblis Biru sudah sampai tingkat 5 dari 7 tingkat ilmu sesat itu.


Kelabang Koro segera memusatkan tenaga dalam nya. Tubuh nya di liputi sinar hijau gelap. Kuku jari nya memanjang dan berubah warna menjadi merah. Seluruh tubuhnya berwarna hijau gelap tanda bahwa kulit Kelabang Koro mengandung racun mematikan.

__ADS_1


Ilmu andalan nya, Ajian Siluman Kelabang yang dia dapat dari mencuri kitab Resi Banaspati. Membuat namanya melambung di dunia persilatan. Dia tidak pernah gagal membunuh lawannya.


Iblis Biru melompat merangsek maju, kecepatan nya naik 2 kali lipat. Pukulan tapak Iblis Biru mengincar dada Kelabang Koro.


Tubuh Kelabang Koro berkelit ke samping, kuku nya mengincar perut Iblis Biru.


Melihat serangan nya kandas, dan balik di serang , Iblis Biru segera melompat ke udara sambil menghantamkan tangan ke arah Kelabang Koro.


Kakek tua itu hanya mundur satu tombak saat pukulan tapak Iblis Biru menghajar tanah...


Dhuarrrr!


Iblis Biru yang baru menjejak tanah, langsung di sambut cakaran tangan Kelabang Koro yang mengincar bahu kirinya. Seketika Iblis Biru menjatuhkan tubuhnya ke tanah dan menghantamkan tangan nya mengincar perut Kelabang Koro.


Angin dingin tenaga dalam meluncur cepat dan dengan cepat pula Kelabang Koro bergerak menghindari nya.


'Kelabang tua ini berniat menguras tenaga dalam ku. Aku harus cepat'


Iblis Biru segera melompat mundur dan menyilangkan tangan nya. Sinar biru pekat melingkupi seluruh tangan nya.


'Hemmm, Pukulan Tangan Iblis. Tidak buruk. Mau mengadu tenaga dalam dengan ku? Akan ku layani', batin Kelabang Koro.


Gigi Kelabang Koro gemeretak saat kedua tangan nya diliputi sinar hijau kemerahan.


Iblis Biru melompat menerjang Kelabang Koro, pria tua itu tidak menghindar namun menyongsong Pukulan Tangan Iblis dari Iblis Biru.


Dhuarrrr!!!


Ledakan dahsyat terjadi. Iblis Biru terlempar ke belakang sejauh 4 tombak dan menghantam tanah dengan keras. Dari mulutnya terus keluar darah segar tanda luka dalam.


Kelabang Koro terdorong ke belakang. Dadanya sedikit sesak. Sebuah bayangan hitam melesat cepat dan membokong Kelabang Koro dengan pukulan tangan nya.


Bukkkkk


Aughhhhh


Tubuh Kelabang Koro terpelanting ke belakang. Sebuah bayangan berkelebat menyambar tubuh lelaki tua itu.


Dewa Maut melihat murid nya terlempar segera melompat dan membokong Kelabang Koro kemudian mendekati tubuh Iblis Biru yang memucat. Mata Iblis Biru melotot menahan sakit. Pukulan Kelabang Koro mengandung racun. Iblis Biru tewas mengenaskan.


Panji Watugunung yang menangkap tubuh Kelabang Koro segera menotok urat nadi nya.


Darah segar mengalir dari mulut kakek tua itu.


Dari mulut Kelabang Koro, keluar kata kutukan.


"Galapati, hari ini Gunung Kematian akan musnah dari dunia persilatan".


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bagaimana nasib Kelabang Koro?

__ADS_1


Jangan lupa untuk dukung author terus menulis dengan like vote dan komentar nya


Selamat membaca guys 😁😁😁


__ADS_2