
Mpu Rikmajenar terus melecut kuda kuda penarik kereta yang di tumpangi nya. Dia memacu kuda secepat mungkin untuk meninggalkan kotaraja Daha.
Bajong dan Gombang serta 4 pengawal pribadi Mpu Rikmajenar pun ikut memacu kudanya kearah timur. Usai keluar tapal batas kotaraja Daha, mereka berbelok ke kanan pada pertigaan karena lurus adalah Kota Kadiri. Daha dan Kadiri hanya dipisahkan oleh 2 wanua besar saja. Rombongan Mpu Rikmajenar terus bergerak menembus gelap malam dengan penerangan pelita dan obor. Cahaya bulan yang separuh lebih juga turut membantu pelarian mereka.
Sementara Mpu Rikmajenar tergesa-gesa menuju ke arah selatan, Kotaraja Daha yang kisruh karena kebakaran membuat para prajurit Panjalu yang ada di sekitar istana Daha berduyun-duyun mendatangi istana. Mereka bahu membahu membantu memadamkan api yang berkobar-kobar. Meski sebagian harta benda istana bisa di selamatkan tapi nyaris separuh lebih bangunan istana musnah di lalap si jago merah.
Para penduduk Kotaraja Daha pun berdatangan untuk melihat keadaan yang menggegerkan seisi kota Dahanapura.
Kelima istri Prabu Jayengrana terus menyaksikan upaya pemadaman kebakaran yang dahsyat itu. Meski mereka selamat, namun Ayu Galuh yang lama mendiami istana itu menangis sesenggukan. Ada banyak kenangan indah bersama Sang Maharaja Samarawijaya di tempat itu.
"Sudahlah Nimas Ratu,
Tak perlu kau tangisi tempat ini. Kita masih beruntung bisa selamat dari maut. Bersabarlah Nimas Ratu Panjalu", ujar Dewi Anggarawati sambil memeluk pundak kanan Ayu Galuh yang bersandar di bahu kirinya.
"Tapi Kangmbok Anggarawati, tempat ini adalah kenangan bersama Kanjeng Romo Prabu Samarawijaya.
Aku aku sayang tempat ini hiks hiks...", Ayu Galuh terisak lirih sambil memeluk tubuh kecil Pangeran Mapanji Jayawarsa.
"Kau tidak perlu berkecil hati Nimas Ratu..
Nanti kita minta Kakang Watugunung untuk membangun kembali istana ini. Sebaiknya sudahi kesedihan mu, coba kau tengok Pangeran Mapanji Jayawarsa itu. Jadikan dia sebagai pengobat kesedihan di hati mu. Aku yakin pangeran kecil ini sanggup membuat mu tersenyum", ucap Dewi Anggarawati dengan penuh nada pengayoman.
Mendengar penuturan Dewi Anggarawati, Ayu Galuh segera menoleh ke arah wajah imut Pangeran Mapanji Jayawarsa.
"Biyung Latu jangan menangis ya? Nanti Jayawalsa buat istana balu buat Biyung Latu", ujar Pangeran Mapanji Jayawarsa seakan tahu kesedihan hati ibunya.
Ayu Galuh langsung tersenyum tipis mendengar ucapan putra Panji Watugunung itu. Segera dia mengecup kening sang pangeran kecil dengan gemas.
"Tejo Laksono akan bantu Kanjeng Romo untuk membuat istana yang indah untuk Biyung Galuh. Tejo Laksono janji pada Biyung Galuh", timpal Panji Tejo Laksono sambil mengangguk penuh keyakinan.
Kelucuan dua putra Panji Watugunung segera membuat kesedihan para istri Panji Watugunung mereda. Mereka tersenyum simpul menatap tingkah dua pangeran kecil itu.
Sekar Mayang mengelus perutnya yang mulai membesar sambil senyum-senyum sendiri.
"Teh Mayang, naon ie senyum senyum sorangan wae?", tanya Dewi Naganingrum yang membuat Selir kedua Panji Watugunung itu mendelik sengit ke arah Naganingrum.
"Kau itu kenapa sih tidak bisa lihat orang senang sedikit saja, Putri Sunda?
Kau lihat Pangeran Jayawarsa dan Pangeran Tejo Laksono. Pasti putra ku nanti akan setampan dan seimut mereka", ujar Sekar Mayang sambil mengelus perutnya.
"Eleuh eleuh..
Eta Pangeran Jayawarsa sama pangeran kecil mah sudah pasti tampan, orang ambu na wanita lemah lembut.
Beda atuh dengan Teh Sekar Mayang. Meni galak pisan wae sama saudara", oceh Naganingrum sembari beringsut menjauh dari Sekar Mayang.
"Apa katamu Putri Sunda? Coba ulangi sekali lagi", Sekar Mayang geram mendengar omongan Dewi Naganingrum.
"Kangmbok Mayang, sudahlah.. Kita ini sedang dalam suasana seperti ini, jangan membuat kekacauan", Dewi Anggarawati menengahi perdebatan Sekar Mayang dan Dewi Naganingrum.
"Tapi Putri Manja, dia..."
Belum sempat Sekar Mayang meneruskan omongannya sudah di potong oleh Anggarawati lagi.
"Naganingrum hanya bercanda, jangan diambil hati Kangmbok. Apa kau mau putra Kakang Watugunung nanti ikut jadi pemarah karena kau tidak bisa diajak bercanda?", mendengar ucapan itu Sekar Mayang langsung terdiam seketika.
Kelima istri Prabu Jayengrana terus menyaksikan nyala api yang berkobar-kobar.
Mapatih Jayakerti yang baru saja menata para prajurit Panjalu untuk terus bekerja memadamkan api, berjalan mendekati kelima istri Prabu Jayengrana.
Terpancar raut lelah di wajah sepuh warangka praja Panjalu itu.
"Mohon ampun Gusti Ratu bertiga, juga Gusti Selir berdua..
Hamba mohon sudilah kiranya untuk beristirahat di Kepatihan Daha. Urusan kebakaran dan harta benda istana akan hamba tangani sebaik mungkin. Gusti sekalian tidak perlu khawatir.
Mari Gusti hamba antar ke Kepatihan", ujar Mapatih Jayakerti sambil menghormat pada mereka.
"Paman Mapatih Jayakerti,
Tolong kau cari ibu ku dan Ibu Suri Daha. Pastikan keadaan mereka aman", pinta Ayu Galuh dengan penuh permohonan.
"Hamba mengerti Gusti Ratu. Segala titah Gusti Ratu akan hamba laksanakan sebaik-baiknya.
Mari Gusti sekalian", Mapatih Jayakerti segera berjalan di depan. Para istri Panji Watugunung segera mengikuti langkah sang warangka praja Panjalu dengan di kawal puluhan prajurit Panjalu.
Senopati Tunggul Arga yang mendapat mandat untuk berjaga jaga di seputar istana Daha membentuk pagar betis agar para penduduk Kotaraja Daha tidak bisa mendekat. Selain khawatir ada yang berbuat nakal dengan mencuri harta istana, juga sebagai pencegahan agar tidak ada korban jiwa yang bertambah besar jika mereka nekat masuk ke dalam istana.
Sampung, mata mata khusus yang di tugaskan oleh Panji Watugunung untuk mengawasi pergerakan Mpu Rikmajenar benar benar kecolongan. Selama dua hari terakhir dia ijin pada Mpu Rikmajenar karena istrinya sakit namun rupanya waktu inilah yang menjadi batu loncatan Mpu Rikmajenar untuk kabur dari Kotaraja Daha.
Saat hendak meninggalkan rumah kediaman Mpu Rikmajenar yang kosong untuk melapor pada Mapatih Jayakerti, dari arah selatan muncul dua bayangan hitam. Sampung segera memepetkan tubuhnya ke tembok rumah Mpu Rikmajenar.
Melihat keadaan rumah Mpu Rikmajenar yang sepi bahkan pelita penerangan pun tidak menyala, dua bayangan hitam itu tertegun sejenak.
"Brengsek!
Kita ditipu oleh lelaki tua itu. Dia sepertinya sudah kabur Lurah e", ujar bayangan hitam itu sambil mengepalkan tangannya.
Mereka adalah Grepaksenthe dan Dadhap Regol, anggota Perkumpulan Burung Hantu yang sudah membakar istana Daha.
__ADS_1
"Benar Regol,
Harusnya aku minta semua bayaran yang dia janjikan di muka. Bajingan bau tanah itu benar-benar licik.
Ayo kita kembali ke markas sebelum ada yang melihat kita di tempat ini. Cepat Regol", ujar Grepaksenthe sambil melesat turun dari tembok pagar kediaman Mpu Rikmajenar. Dadhap Regol segera mengikuti langkah sang pemimpin Perkumpulan Burung Hantu.
Sampung dengan cepat menyusul mereka. Dia terus mengikuti langkah dua orang berpakaian hitam-hitam itu dari jarak jauh. Dadhap Regol dan Grepaksenthe sama sekali tidak mengetahui bahwa mereka tengah diikuti oleh Sampung. Setelah melewati tapal batas kota Dahanapura, dua orang itu terus bergerak menuju ke dalam hutan kecil yang menjadi markas kelompok mereka. Gerakan Samping yang memiliki ilmu meringankan tubuh yang tinggi, membuat kedua orang itu lengah. Mereka segera masuk ke perkampungan kecil.
Sampung menghentikan langkah pada sebatang pohon randu alas yang tak jauh dari tempat tinggal Perkumpulan Burung Hantu.
'Jadi para pelaku pembakaran istana Daha itu berasal dari tempat itu. Akan ku laporkan ini pada Gusti Mapatih Jayakerti', batin Sampung sambil mengamati situasi di perkampungan kecil yang berjarak 50 tombak di depannya.
Dengan gerakan ringan bagai kapas, Sampung meninggalkan tempat itu menuju ke arah Kepatihan Daha.
Para prajurit Panjalu berhasil memadamkan kebakaran di Istana Daha menjelang tengah malam. Meski api berhasil dipadamkan, namun separuh lebih bangunan utama istana Daha hancur menyisakan puing puing dan arang kayu bangunan yang berserakan dimana-mana.
Para prajurit Panjalu terus berjaga di sekitar istana Daha.
Suara kokok ayam jantan bersahutan menandakan bahwa pagi akan segera tiba di wilayah Kotaraja Daha. Perlahan, sinar matahari pagi mulai menerangi seluruh alam semesta seakan memberikan harapan dan semangat baru untuk seluruh umat manusia.
Pagi itu di Kepatihan Daha suasana menjadi sibuk luar biasa. Para dayang istana Daha berpindah ke sana hingga membuat suasana Kepatihan menjadi ramai.
Raut muka Mapatih Jayakerti kusut. Dari laporan para prajurit Panjalu yang memadamkan kebakaran, mereka menemukan bahwa Ibu Suri Daha Dyah Kirana menjadi korban kebakaran yang terjadi. Beberapa selir Prabu Samarawijaya pun turut tak selamat. Beruntung Larasati, ibu Ayu Galuh masih bisa di selamatkan meski menderita luka karena tertimpa atap bangunan istana yang roboh.
Saat Mapatih Jayakerti masih termenung, Sampung yang menemukan petunjuk pelaku pembakaran istana masuk ke dalam Kepatihan.
Hanya Panji Watugunung dan Mapatih Jayakerti saja yang mengetahui bahwa Sampung adalah mata-mata.
Seorang prajurit penjaga Kepatihan menghadang Sampung di depan gapura Kepatihan.
"Ada apa kau kemari Kisanak? Kepatihan sekarang sedang kacau, tidak menerima tamu", ujar si prajurit bertubuh gempal itu segera.
"Mohon ampun Ndoro Prajurit, tolong sampaikan pada Gusti Mapatih Jayakerti bahwa Sampung datang membawa berita penting", jawab Sampung dengan sopan.
Prajurit itu menatap ke arah Sampung seakan tak percaya dengan omongan orang berpakaian rakyat jelata itu. Dia mendengus keras lalu beranjak masuk ke dalam Kepatihan meninggalkan Sampung dengan beberapa prajurit Kepatihan di luar gapura Kepatihan.
"Mohon ampun Gusti Mapatih, seorang lelaki bernama Sampung ingin menghadap pada Gusti Mapatih.
Katanya dia mempunyai berita penting", lapor sang prajurit Kepatihan sambil menghormat pada Mapatih Jayakerti.
"Sampung?
Cepat antar dia kemari!", ucap Mapatih Jayakerti dengan keras membuat sang prajurit sedikit kaget dan buru buru menghormat pada Mapatih Jayakerti lalu mundur dari serambi Kepatihan Daha dengan segera.
Tak berapa lama kemudian dia kembali bersama Sampung. Melihat kibasan tangan kanan Mapatih Jayakerti, sang prajurit segera kembali ke tempat nya berjaga.
Sampung dengan cepat menghormat pada Mapatih Jayakerti lalu duduk bersila di hadapan Mapatih Jayakerti.
Apa ada hubungannya dengan Mpu Rikmajenar?", tanya Mapatih Jayakerti segera. Warangka praja Panjalu itu menatap ke arah Sampung.
"Mohon ampun Gusti Mapatih,
Mahamantri Mpu Rikmajenar adalah dalang dari kebakaran di Istana Daha", lapor Sampung sambil menghormat.
APAAAAAA???!!
"Darimana kau tahu kalau Mpu Rikmajenar adalah dalang dari kekacauan ini?", Mapatih Jayakerti begitu kaget mendengar laporan Sampung.
Dengan berurutan, Sampung menceritakan tentang kejadian tadi malam di rumah Mpu Rikmajenar termasuk mengikuti langkah para pelaku pembakaran istana Daha hingga ke tempat persembunyiannya.
"Bedebah tua bangka tak tahu diri!
Jadi dia sudah kabur dari Kotaraja Daha? Bangsat keji itu harus membayar semua perbuatan jahatnya", ujar Mapatih Jayakerti dengan marah. Pria sepuh itu segera berdiri dari tempat duduknya.
Saat yang bersamaan, dari arah depan Senopati Narapraja yang baru sampai di Kotaraja langsung masuk ke Kepatihan. Melihat kedatangan Senopati Narapraja, Mapatih Jayakerti mengurungkan niatnya untuk keluar.
Usai menghormat pada Mapatih Jayakerti, Senopati Narapraja segera duduk bersila di samping Sampung.
"Gusti Mapatih,
Kenapa bisa terjadi peristiwa besar seperti ini?", tanya Senopati Narapraja dengan tatapan penuh pertanyaan.
Mapatih Jayakerti menghela nafas berat sebelum mulai berbicara tentang rentetan peristiwa mulai pemberontakan Adipati Mpu Pamadi hingga peristiwa kebakaran di Istana Daha.
"Jadi jadi Mpu Rikmajenar adalah dalang dari semua kejadian ini?
Kurang ajar!
Dasar musang berbulu domba!
Ayo kita tangkap pengkhianat negara itu sekarang", ujar Senopati Narapraja yang hendak berdiri.
"Tunggu Senopati Narapraja!
Mpu Rikmajenar sudah kabur dari Kotaraja Daha tadi malam saat kebakaran ini terjadi. Sebaiknya sebarkan sebagian para prajurit Panjalu untuk melacak arah kaburnya Mpu Rikmajenar.
Yang terpenting sekarang, kau tangkap para pelaku pembakaran istana Daha lebih dulu. Barangkali mereka tahu kemana kaburnya tua bangka keparat itu", ujar Mapatih Jayakerti yang membuat Senopati Narapraja segera menghormat pada warangka praja Panjalu itu lalu bergegas keluar dari serambi Kepatihan Daha diikuti Sampung yang menjadi penunjuk jalan.
Dengan membawa 1000 prajurit Panjalu, Senopati Narapraja bergerak cepat menuju ke arah markas Perkumpulan Burung Hantu. Saat memasuki hutan kecil, Senopati Narapraja meminta 900 orang prajurit menyebar untuk mengepung hutan kecil itu dari segala penjuru.
__ADS_1
"Siapapun yang keluar dari hutan kecil ini, tangkap mereka. Jika melawan, beri hukuman mati!", perintah Senopati Narapraja yang disambut dengan anggukan kepala oleh para prajurit Panjalu.
Mereka dengan cepat segera membentuk jaring prajurit yang berjarak 2 tombak. Tak seorang pun bisa lolos dari kepungan para prajurit Panjalu.
Sedangkan Senopati Narapraja beserta 100 prajurit Panjalu pilihan, langsung menuju ke arah perkampungan kecil yang menjadi markas Perkumpulan Burung Hantu.
"Kau yakin ini tempatnya Sampung?", tanya Senopati Narapraja sambil melihat sepinya perkampungan kecil itu.
"Yakin Gusti Senopati, hamba melihat orang yang datang ke rumah Mpu Rikmajenar memasuki rumah besar itu", tunjuk Sampung pada kediaman Grepaksenthe.
Dengan hati-hati para prajurit Panjalu memasuki perkampungan kecil. Tiba-tiba saja...
Shhhrriinggg shriingg!!
Dua anak panah melesat cepat kearah dua prajurit Panjalu yang ada di depan. Mereka tidak bisa menghindar karena serangan dadakan itu.
Chhreepppppph crreepppphhh..
Aaauuuuggggghhhhh!!!
Melihat dua prajurit terdepan roboh, Senopati Narapraja marah besar. Dia segera menghantamkan tangan kanannya yang berwarna biru terang Ajian Geledek Sewu andalannya kearah sebuah rumah kecil tempat dua anak panah meluncur.
Whhhuuuggghhhh...
Blllaaammmmmmmm!!!
Rumah kecil yang berisi dua orang anggota Perkumpulan Burung Hantu itu langsung hancur berantakan.
Dari 8 rumah yang tersisa, puluhan orang berpakaian serba hitam dan memakai topeng kayu bergambar burung hantu melesat cepat ke hadapan para prajurit Panjalu. Jumlah mereka sekitar 25 orang dengan seorang lelaki bertubuh gempal yang memakai topeng dari besi.
"Para prajurit Panjalu,
Mau apa kalian di tempat kami ha? Apa sudah bosan hidup?", teriak Grepaksenthe dari balik topeng besi nya.
Chhuuuiiihhhhh...
"Sampah masyarakat seperti kalian, apa yang perlu aku takuti?!
Menyerahlah, hutan ini sudah kami kepung. Jangankan orang, nyamuk pun tidak bisa lolos dari kepungan kami", ujar Senopati Narapraja dengan lantang.
Mendengar ucapan Senopati Narapraja, para anggota Perkumpulan Burung Hantu saling pandang. Mereka tahu siapa lelaki yang ada di hadapan mereka, senopati Panjalu yang tak segan segan membantai lawan.
"Ah peduli setan!
Burung Hantu, serang mereka!", teriak Grepaksenthe yang membuat para lelaki berbaju hitam segera melesat ke arah para prajurit Panjalu.
Pertarungan sengit segera terjadi di perkampungan kecil itu.
Para anggota Perkumpulan Burung Hantu memang berilmu tinggi namun jumlah yang tidak seimbang membuat satu persatu anggota kelompok itu tewas bersimbah darah di tangan para prajurit Panjalu.
Para anggota kelompok pengacau keamanan itu semakin ciut nyalinya melihat ratusan prajurit Panjalu mulai terlihat mengepung tempat mereka dari segala arah.
Grepaksenthe langsung memutar pedangnya. Segera dia menyabetkan pedang nya ke arah Senopati Narapraja, namun perwira tinggi prajurit Panjalu itu dengan tenang menghindari sabetan pedang Grepaksenthe. Lalu memutar tubuhnya sambil menendang pinggang Grepaksenthe dengan keras.
Dhiesshhhhhhh...
Ouuuuggghhhh!!
Grepaksenthe meraung kesakitan. Tubuhnya terjerembab ke tanah dengan keras. Ilmu kanuragan nya jelas di bawah Senopati Narapraja, namun dia tidak akan pernah mudah untuk menyerah begitu saja. Senopati Narapraja menatap wajah Grepaksenthe yang tertutup topeng besi sambil berkata,
"Apa kau sudah kapok,
Maling keparat?!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih kepada semua reader setia BNL untuk dukungan kalian semua selama ini..
__ADS_1
Tetap jaga kesehatan untuk melanjutkan perjalanan hidup ke depan..
Yang mau berteman dengan author di IG, boleh juga loh. Cek at : ebez2812