Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Kelompok Setan Darah


__ADS_3

Rombongan Panji Watugunung terus bergerak ke barat. Setelah melewati hutan kecil di selatan Pakuwon Lantir, mereka berhenti sekedar mengistirahatkan kuda untuk makan di tepi kali kecil. Sebagus apapun kuda, mereka juga butuh makan dan beristirahat.


Matahari sudah di atas kepala. Walau cuaca sedikit mendung karna musim penghujan, tapi tetap saja panas.


Panji Watugunung dan ketiga calon istri nya, memilih beristirahat di bawah pohon kosambi rindang di tepi kali kecil. Mereka tampak gembira, sesekali tawa kecil terdengar dari mulut mereka. Kuda kuda mereka tertambat di semak belukar kecil di padang rumput yang hijau.


Suasana damai itu tidak berlangsung lama.


Pendengaran Panji Watugunung yang peka setelah menerima Ajian Tameng Waja, mendengar suara senjata beradu tak jauh dari mereka.


"Ada apa Kakang Watugunung? Apa kau mendengar sesuatu?", Ratna Pitaloka penasaran dengan perubahan wajah dari Panji Watugunung.


"Ada suara pertarungan Dinda Pitaloka, arahnya dari balik pohon rimbun disana", Panji Watugunung menunjuk ke arah barat dari tempat mereka beristirahat.


"Kalian tunggu disini, biar aku melihat nya".


Usai berkata demikian, Panji Watugunung melompat ke atas pohon besar dan meloncat loncat diantara dahan pohon setelah itu menghilang di balik pepohonan.


"Mayang, Anggarawati..


Kalian jaga kuda kuda kita. Aku akan menyusul Kakang Watugunung".


Belum sempat Sekar Mayang dan Dewi Anggarawati menjawab, Ratna Pitaloka segera melesat ke arah Panji Watugunung menghilang.


Sekar Mayang dan Dewi Anggarawati berpandangan sesaat.


Gerutuan segera muncul dari mulut Sekar Mayang.


"Apa wajah cantik ku ini mirip penjaga kuda?"


Dewi Anggarawati tersenyum geli, sambil berusaha menenangkan emosi Sekar Mayang.


"Biar saja Kangmbok, kita sekali kali beristirahat tenang. Sebaiknya kita mencari sesuatu untuk dimakan dari pada berdiam diri saja".


"Ide bagus, cari ikan di kali kecil itu saja yuk", jawab Sekar Mayang sambil menarik tangan Dewi Anggarawati..


Sementara itu Panji Watugunung sudah sampai di ujung pepohonan, dari atas pohon besar dia melihat 4 orang perempuan berbaju putih dan dengan hiasan berbentuk bunga anggrek di dada kiri sedang di kepung puluhan lelaki berbaju merah.


Panji Watugunung mengenali salah satu lelaki itu yang pernah dia temui di penginapan Pakuwon Bandar.


'Orang-orang Alas Larangan. Mengapa mereka ada disini? Bukankah markas besar ada wilayah Lewa?', batin Panji Watugunung seraya mengamati pertarungan tak seimbang itu.


"Hahahaha, menyerah saja manis. Kalau kau menyerah kupastikan malam ini kau mendesah nikmat di pelukan ku hahahaha", ujar lelaki berjenggot tipis yang merupakan pemimpin kelompok itu.


Phuihhh


"Kau pikir aku mau melayani setan tua? Dasar pendekar pengecut, beraninya main keroyok", jawab gadis berbaju putih dengan tusuk konde perak.


"Hahahaha, aku suka perempuan galak. Jadi tambah greget di atas ranjang. Hari ini aku, Setan Darah, pasti membuat mu jatuh ke pelukan ku hahahaha", orang yang mengaku Setan Darah tertawa terbahak-bahak.


"Kalau kakang sudah dengan wanita itu, sisa nya boleh untuk kami kan?", ujar seorang pemuda dengan pedang pendek mengusap air liurnya.


"Hahahaha, tentu saja, Pedang Kayu. Kau boleh pilih mana yang kau suka, asal bukan Anggrek Perak itu hahahaha", Setan Darah menyeringai lebar.


"Manusia terkutuk. Dari pada melayani nafsu bejat kalian lebih baik kami mati", ujar Anggrek Perak sambil mengangkat pedang nya.


"Adik adik, ayo kita habisi manusia laknat itu"..


Anggrek Perak melesat ke arah Setan Darah, di ikuti adik seperguruannya. Namun belum sempat mendekat, puluhan pedang anak buah Setan Darah sudah menghadang nya.


Pertarungan sengit kembali terjadi. Namun karena kalah jumlah, pengeroyok lebih unggul.


Beberapa luka sayatan pedang sudah menghiasi baju dan tubuh Anggrek Perak dan 2 adik seperguruannya. Seorang adik seperguruannya bahkan sudah tewas terkena sabetan pedang anak buah Setan Darah.


Mereka sadar bahwa kemungkinan untuk menang sudah tidak ada, tapi sebagai pendekar golongan putih, mereka pantang menyerah sampai titik darah penghabisan.


Saat yang kritis itu, sebuah bayangan hitam melesat cepat di antara mereka.

__ADS_1


"Tak pantas mengeroyok wanita"


Suara itu seketika menghentikan pertarungan.


Semua menoleh ke sumber suara yang ternyata seorang pemuda tampan dengan pedang bersarung merah di punggungnya.


"Siapa kau? Berani sekali mencampuri urusan kami", Pedang Kayu menatap bengis pada pemuda itu.


"Namaku Watugunung, aku hanya kebetulan lewat tak sengaja melihat sekumpulan kroco berpakaian merah mengeroyok gadis gadis", ujar Panji Watugunung santai.


"Kurang ajar!! Apa kau pengen mati?", teriak salah satu anak buah Setan Darah.


"Hidup mati manusia tidak ada yang tahu. Kalau kalian ingin mematikan ku, kenapa tidak kalian coba saja?", Watugunung terus bergerak maju.


"Bajingan, kubunuh kau!!", seorang anak buah Setan Darah melompat ke atas sambil membabatkan pedang nya kearah punggung Watugunung..


Tranggg..


Pedang anak buah Setan Darah seperti membentur logam keras dan hancur berkeping keping.


Semua mata melotot menahan nafas. Belum sempat berkedip, tiba tiba terdengar suara meraung keras dari anak buah Setan Darah.


Dadanya bolong tembus ke punggung dan ada bekas gosong seperti terbakar.


Itulah kehebatan Jari Guntur, ilmu kanuragan tingkat pertama Guntur Saketi ajaran Mpu Narasima.


Anggrek Perak yang sempat kehilangan harapan, kini tersenyum tipis sambil menyuruh adik seperguruannya mundur selangkah.


Setan Darah pucat melihat anak buahnya tewas seketika hanya dengan sekali kedipan mata.


12 anak buah Setan Darah yang tersisa saling pandang, namun Pedang Kayu yang gusar justru melompat ke udara dan menyambar leher Panji Watugunung dengan pedang pendek nya.


Saat pedang hampir menebas leher, tubuh Panji Watugunung menghilang dari pandangan.


Dua anak buah Setan Darah terpental ke belakang dengan dada gosong dan darah segar mengalir dari mulut.


Pedang Kayu geram. Dia melesat cepat ke arah Watugunung membacok bahu Watugunung.


"Mati kau", teriak Pedang Kayu namun pedang nya hanya mampu merobek baju Watugunung.


Pedang pendek itu terpental. Tangan Pedang Kayu terasa bergetar dan nyaris pedang nya lepas .


Sementara Panji Watugunung terus bergerak cepat membantai satu persatu anak buah Setan Darah.


Setan Darah semakin pucat, melihat gerakan Watugunung yang cepat. Dari 13 orang anak buah nya kini hanya sisa 4 orang bersama Pedang Kayu.


Melihat itu, Setan Darah segera mencabut pedang berwarna hitam yang berbau amis dan melompat ke arah Panji Watugunung.


Pedang Setan Darah mengincar kepala Panji Watugunung, tapi belum sempat menyentuh, sebuah bayangan kuning melesat menangkis sabetan pedang Setan Darah.


Tranggg...


Tangan Setan Darah kesemutan saat berbenturan dengan pedang dari bayangan kuning.


"Sudah ku bilang untuk menunggu, kenapa malah ikut kesini?", ujar Watugunung melihat Ratna Pitaloka menghunus pedang kembar nya.


"Aku kan mengkhawatirkan mu kakang", Ratna Pitaloka bersiap bertarung.


"Baiklah, kau atasi 5 orang itu. Bisa dinda?", Panji Watugunung menunjuk Pedang Kayu dan ke empat anak buah Setan Darah yang tersisa.


"Gampang", ujar Ratna Pitaloka sambil mencebikan bibirnya.


Melihat gadis cantik itu mengejek, amarah Pedang Kayu yang sempat jeri, meluap kembali.


"Kau menghina kami gadis tengik!"


"Untuk kroco sekelas kalian, tidak akan membuat aku keringatan", ujar Ratna Pitaloka sambil tersenyum mengejek.

__ADS_1


"Dasar laknat. Kucincang tubuh mu", Pedang Kayu melompat beringas sambil membabatkan pedang nya.


Tringgg..


Ratna Pitaloka menangkis sabetan pedang dari Pedang Kayu dengan pedang di tangan kanan, sedang pedang pendek menyabet perut Pedang Kayu.


Pedang Kayu terkejut, segera memutar tubuhnya di udara menghindari sabetan pedang Ratna Pitaloka. Namun gadis itu tidak meneruskan serangan nya, malah melesat ke anak buah Setan Darah yang bersiap maju.


Creeepp


Tiba tiba anak buah Setan Darah merasa ada yang menembus jantung nya, begitu sadar, Ratna Pitaloka sudah mencabut pedang bulan kembar dari dadanya. Anak buah Setan Darah tewas seketika.


Pedang Kayu yang berhasil menghindar terpana melihat anak buah Setan Darah tewas mengenaskan.


Dengan cepat , dia membabatkan pedang dengan aliran tenaga dalam tingkat tinggi ke arah Ratna Pitaloka.


Merasakan angin dingin tenaga dalam mengincar dada nya, Ratna Pitaloka melompat ke samping dan mengambil kuda kuda jurus andalan nya.


'Sabetan Pedang Bulan..


Hiyattttt'


Cahaya kekuningan dari Pedang Bulan Kembar di tangan kiri yang disabetkan tegak lurus menerabas cepat di ikuti sabetan pedang di tangan kanan Ratna Pitaloka yang mendatar.


Pedang Kayu yang tak siap menghindar hanya menyilang kan pedang pendek di depan dada, namun itu tidak cukup menahan serangan.


Pedang Kayu terlempar 4 tombak ke belakang dan menghantam tanah dengan keras. Darah segar muncrat dari mulut nya. Dia tewas dengan mata melotot menahan sakit.


Melihat Pedang Kayu tewas, Panji Watugunung menatap tajam ke Setan Darah.


"Sekarang giliran mu"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Author lagi semangat nih..


Terus dukung author ya dengan like, vote dan komentar readers.


Author tunggu..

__ADS_1


Happy reading guys 😁😁😁😁


__ADS_2