Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Petualangan Terakhir Nyi Suhita


__ADS_3

"Rombongan dedemit ini mulai membuat ku muak. Tak bisa dibiarkan.


Kakang Warigalit, bantu aku dengan mantra puja Dewa Siwa", teriak Panji Watugunung dengan keras.


Mendengar itu Senopati Warigalit segera duduk bersila dan mulai membaca mantra puja Dewa Siwa. Para prajurit Panjalu segera mengikuti langkah sang senopati.


Sebentar kemudian, terdengar alunan mantra puja Dewa Siwa menggema di sekitar tempat itu.


Panji Watugunung segera bersedekap tangan di depan dada sambil memejamkan mata. Mulutnya komat-kamit membaca mantra Sastra Jendra yang berguna untuk membangkitkan Rajah Kala Cakra Buana yang ada di tubuhnya.


Biasanya Rajah Kala Cakra Buana akan melindungi Panji Watugunung dari segala serangan sihir ilmu hitam tanpa harus di perintah. Namun jika untuk memusnahkan makhluk halus dan dedemit harus menggunakan mantra Sastra Jendra.


Dari punggung kiri Panji Watugunung keluar sinar kuning keemasan yang menyilaukan mata. Sinar itu lalu membentuk lingkaran kuning keemasan yang merupakan bentuk Cakra Buana.


Perlahan tubuh Panji Watugunung terangkat ke udara seperti terbang.


Banaspati yang masih di udara melemparkan bola bola api besar kearah Panji Watugunung.


Whhhuuuggghhhh..


Dua bola api besar melesat ke arah Panji Watugunung namun bola bola api itu meledak sebelum menyentuh tubuh Panji Watugunung.


Bllarrrrrrr blammmmm!!


Melihat serangan nya gagal, Banaspati menggeram marah. Dengan bertubi-tubi, dia melemparkan puluhan bola api kearah Panji Watugunung yang masih menutup mata sambil bersedekap tangan.


Hooooaaaarrrrggghhh!!


Whuuussshh whuuussshh whuuussshh..!!


Blammmmm blammmmm..


Dhhhhuuuaaaaaarrrrrrrhh!!!


Ledakan dahsyat beruntun terdengar. Semua orang yang ada di situ merasa takut terjadi sesuatu hal pada Prabu Jayengrana. Mereka terus menyaksikan peperangan gaib itu dengan harap harap cemas. Asap tebal menutupi seluruh tubuh Panji Watugunung.


Panji Watugunung membuka mata nya. Matanya berwarna kuning keemasan dan bersinar terang. Lalu Raja Panjalu itu melesat cepat kearah Banaspati sambil menghantamkan tangan kanannya kearah tubuh Banaspati.


Lelembut itu dengan cepat berkelit ke kiri sembari menghantam ke arah perut Panji Watugunung. Putra Bupati Gelang-gelang itu segera bersalto menghindari serangan Banaspati lalu turun ke bawah.


Banaspati terus memburu Panji Watugunung dengan serangan nya yang mematikan. Panji Watugunung terus bertahan sembari menyerang sesekali.


Sekali hentakan, Panji Watugunung melenting tinggi ke udara. Lelembut bertubuh api itu terus memburu Panji Watugunung. Namun dari tangan Panji Watugunung lingkaran keemasan tercipta. Saat Banaspati mengayunkan tangan kanannya, Panji Watugunung merunduk sedikit lalu dengan cepat menghantam dada mahkluk halus itu dengan keras.


Dhiiieeeessshh..


Banaspati yang terkena hantaman tangan kanan Panji Watugunung yang diliputi sinar kuning keemasan meluncur turun lalu menghantam tanah dengan keras.


Blllaaammmmmmmm!!!


Terdengar bunyi ledakan dahsyat saat tubuh Banaspati melesak masuk ke dalam tanah. Mencipta lobang besar yang menganga di sisi selatan perkemahan para prajurit Panjalu.


Meski telah dijatuhkan, namun Banaspati kembali berdiri. Nyala api yang sempat meredup kembali berkobar lagi. Sepertinya mahkluk halus itu masih sanggup untuk bertarung.


Panji Watugunung segera melayang turun. Seketika itu juga tangan kanannya menghantam ke arah Banaspati. Lompatan kilat berwarna kuning keemasan menyambar tubuh Banaspati yang membuat lelembut paling di takuti oleh orang itu meraung kesakitan.


Hooooaaaarrrrggghhh!!


Kilat kuning keemasan terus menggulung tubuh Banaspati hingga membentuk sebuah lingkaran Cakra Buana yang membelenggu tubuh Banaspati dengan erat.


Panji Watugunung segera melompat tinggi ke udara lalu melesat turun ke arah Banaspati seraya menghantamkan tangan kanannya yang berwarna kuning keemasan.


"Pulanglah kau neraka hai lelembut, disini bukan tempat mu..


Hiyyyyaaaaaaaatttttt....."


Dhhhhuuuaaaaaarrrrrrrhh!!!


Mahkluk halus kiriman Nyi Suhita itu meledak hancur, meninggalkan nyala api yang masih membakar rumput di tempatnya berdiri.


Di lembah angker, kuali besar tanah liat yang berisi darah anjing hitam bertabur bunga 7 rupa itu meledak keras menyebabkan Nyi Suhita terpental ke belakang dan menabrak dinding kayu rumah kediaman nya dengan keras.


Perempuan paruh baya berwajah menyeramkan itu muntah darah kehitaman.


Huuuuooogggghhh!!


Banggal dan Wandini segera mendekati majikannya itu.


"Nyi Nyi Suhita baik baik saja?", tanya Banggal sesegera mungkin. Bukan jawaban yang diberikan namun sebuah tamparan keras dari Nyi Suhita yang didapat Banggal.


Plaaaakkkk!!


Banggal mengaduh kesakitan. Di pipi pemuda yang bopeng wajahnya itu tercetak jelas bekas 5 jari.


"Matamu buta ya ha??


Aku menderita begini kau bilang baik baik saja? Dasar cantrik bodoh!!


Kurang ajar!!


Rupanya Raja Panjalu itu punya Rajah Kala Cakra Buana. Ini tidak boleh dibiarkan begitu saja. Tidak boleh!!", teriak Nyi Suhita sambil berusaha berdiri di bantu oleh Banggal dan Wandini.


Panji Watugunung yang baru selesai melenyapkan Banaspati, segera duduk bersila di atas tanah.

__ADS_1


"Dinda Srimpi, Kakang Warigalit, Dinda Sunti..


Aku akan mengejar pelaku sihir ini.


Titip raga ku", ucap Panji Watugunung yang membuat ketiga orang dekatnya langsung mengelilingi tubuh Panji Watugunung yang bersemedi.


Rupanya Panji Watugunung merapal Ajian Ngrogoh Sukmo ajaran Warok Surapati yang juga ayah dari selir bungsu nya, Cempluk Rara Sunti.


Sukma Panji Watugunung segera melesat cepat memburu jejak sihir yang mengarah ke lembah angker.


Whuuussshh!!


"Jadi rupanya kau yang mengirim dedemit untuk mengganggu ku, nenek tua", ucap Panji Watugunung yang tiba-tiba muncul di hadapan Nyi Suhita.


Perempuan tua itu terkejut bukan main.


"Kau..kau bagaimana bisa kemari?", tanya Nyi Suhita yang masih lemah akibat luka dalam yang baru saja dia terima.


"Kau pikir ilmu sihir mu adalah ilmu paling digdaya di dunia ini, nenek tua? Sekalipun kau bisa menyamarkan keberadaan mu tapi Rajah Kala Cakra Buana akan bereaksi setiap aku bersentuhan dengan ilmu hitam.


Hentikanlah,


Sebelum semua terlambat", ucap Panji Watugunung dengan tegas.


"Keparat!


Aku tidak takut padamu Jayengrana. Matilah kau!", teriak Nyi Suhita sambil melemparkan tongkat kayu yang memiliki gagang berbentuk tengkorak manusia.


Tongkat itu melesat cepat kearah Panji Watugunung dan menghujam keras pada dada raja Panjalu itu. Namun anehnya tongkat itu seperti menembus ruang hampa hingga hanya menghantam dinding rumah. Itulah kedigdayaan Ajian Ngrogoh Sukmo, meski hanya Sukma yang datang tapi mampu menyerang seperti raga pada umumnya namun tidak bisa terluka dengan serangan kasar biasa.


Brruuuaaaakkkh!


Panji Watugunung segera melesat cepat sembari tangannya berubah warna menjadi merah menyala seperti api. Banggal berusaha melindungi Nyi Suhita, namun satu kibasan tangan kiri Panji Watugunung membuat dia terpental.


Whuuthhh..


Banggal terlempar jauh ke samping kiri. Tubuh cantrik Nyi Suhita itu menabrak dinding kayu rumah kediaman Nyi Suhita dengan keras. Banggal langsung roboh kemudian.


Tangan kanan Panji Watugunung yang sudah di lambari Ajian Tapak Dewa Api menghantam perut Nyi Suhita.


Blllaaammmmmmmm!!!


Penyihir itu terlempar jauh ke belakang dan menimpa sebuah lemari kayu yang berisi aneka peralatan sihir miliknya. Tubuhnya hangus terbakar.


Namun perempuan paruh baya itu bangkit lagi dari tempat jatuhnya seakan tak terjadi apa-apa. Panji Watugunung terkesiap melihat itu semua.


"Ehehebehehehehehe...


Kau pikir mudah membunuh ku ha? Aku sudah mendapat karunia Batari Durga untuk hidup kekal selamanya hehehehe..", tawa Nyi Suhita sambil menatap tajam ke arah Panji Watugunung.


Panji Watugunung segera melesat cepat kearah Arca Batari Durga yang ada di sanggar pamujan Nyi Suhita. Perempuan tua itu terkejut bukan main melihat gerakan Panji Watugunung.


"Mau apa kau Jayengrana?!", teriak Nyi Suhita yang ketakutan melihat Panji Watugunung tangannya berwarna biru terang akibat Ajian Brajamusti nya.


"Mau mengakhiri hidup mu yang penuh kesesatan, nenek tua. Kau harus bertemu Dewa Yama untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatan sesat mu", ucap Panji Watugunung yang menghantamkan tangan kanannya ke arah Arca Batari Durga.


"Jaaaangngngaaaaaannnnnnn...!!!!!", teriak Nyi Suhita sambil berusaha melesat ke arah Panji Watugunung. Namun perempuan tua itu kalah cepat dengan ayunan tangan Panji Watugunung ke Arca Batari Durga.


Blllaaammmmmmmm!!!


Arca Batari Durga langsung hancur lebur menjadi debu saat Ajian Brajamusti menghantam arca yang menjadi sumber kekuatan Nyi Suhita. Perempuan sihir itu langsung ambruk ke tanah. Perlahan tubuhnya meleleh dan hancur menjadi debu. Wandini dan Banggal pun ikut lebur menjadi abu karena mereka telah hidup ratusan tahun sejak kerajaan Mataram Lama masih berdiri. Petualangan terakhir Nyi Suhita berakhir di tangan Panji Watugunung.


Panji Watugunung segera melesat cepat keluar dari rumah itu yang berderak keras lalu perlahan hancur lebur seperti tidak pernah ada.


Dalam sekejap mata, Panji Watugunung telah kembali ke tempat dia bersemedi. Lalu perlahan dia membuka mata nya perlahan. Senopati Warigalit, Dewi Srimpi, Cempluk Rara Sunti dan para perwira yang mengerubungi Panji Watugunung menarik nafas lega usai melihat junjungan mereka membuka mata nya.


"Gusti Prabu, kau sudah kembali", ujar Cempluk Rara Sunti yang segera memeluk tubuh sang suami dengan erat.


Tadi dia sempat ketakutan saat tubuh Panji Watugunung bergetar hebat saat melawan Nyi Suhita.


Para perwira tinggi prajurit Daha yang mengerubungi Panji Watugunung langsung memalingkan wajahnya saat Cempluk Rara Sunti memeluk Raja Panjalu itu.


"Dinda Sunti,


Bisa tolong lepaskan pelukan mu? Malu Dinda di lihat para prajurit", ucap Panji Watugunung yang membuat Cempluk Rara Sunti tersadar dari tindakan nya. Dia buru-buru melepaskan pelukannya pada Panji Watugunung dan menunduk malu.


"Sekarang mari kita beristirahat..


Besok pagi kita bergerak menuju Kadipaten Kembang Kuning", titah Panji Watugunung yang membuat semua orang menghormat pada sang penguasa negeri Panjalu.


"Sendiko dawuh Gusti Prabu", ucap mereka bersamaan.


Malam segera berganti pagi. Suara kokok ayam jantan bersahutan menandakan bahwa malam telah berakhir dan siang akan segera datang.


Bersama dengan kedatangan sang penguasa siang, para prajurit perbekalan sibuk membongkar tenda tempat para prajurit Panjalu menghabiskan malam. Mereka bahu membahu membongkar, menata dan mengangkut aneka peralatan dan kebutuhan dalam pedati.


Demung Gumbreg tampak mengawasi pekerjaan para prajurit perbekalan yang bekerja cekatan.


"Gusti Warigalit,


Kita berangkat nanti atau kapan?", tanya Demung Gumbreg yang melihat Senopati Warigalit tengah mengatur para prajurit. Pria bertubuh tambun itu berjalan mendekati kakak seperguruan Panji Watugunung itu dengan tergesa-gesa.


"Lha mau mu kapan kita berangkat?", Senopati Warigalit malah balik bertanya kepada Demung Gumbreg.

__ADS_1


"Ealahh ditanya malah balik bertanya to Gusti..


Saya ini kan tidak tahu rencana nya seperti apa jadi manut dawuh dari Gusti Senopati", Demung Gumbreg menatap ke arah Senopati Warigalit seakan meminta jawaban.


"Makanya kalau ada pertemuan itu hadir. Jangan tidur melulu. Dari 2 pertemuan kemarin kau selalu bolos hadir.


Kau sudah bosan jadi pamong praja Panjalu?", Warigalit mendelik tajam ke arah Demung Gumbreg.


"Jagat Dewa Batara,


Tidak Gusti Senopati, tidak. Saya suka menjadi pamong praja Panjalu. Kalau kemarin tidak hadir itu gara gara makan cabai terlalu banyak hingga bolak balik pergi ke sungai.


Bukan karena ketiduran", ujar Demung Gumbreg membela diri.


"Ahhhh alasan saja...


Cepat selesaikan pekerjaan mu karena keberangkatan pasukan Panjalu tergantung kesiapan pasukan perbekalan mu. Kalau sampai lambat dan Gusti Prabu Jayengrana marah, tanggung sendiri akibatnya", ancam Senopati Warigalit yang membuat Demung Gumbreg segera bergegas meninggalkan Senopati Warigalit setelah menghormat.


"Ah sialan..


Mentang mentang pangkatnya lebih tinggi seenaknya saja main ancam", gerutu Gumbreg sambil sedikit berlari hingga tidak memperhatikan jalan di depannya. Walhasil sebuah lobang yang cukup dalam berhasil membuat Gumbreg kehilangan keseimbangan dan tengkurap di atas rumput tanah lapang itu.


Bhhhuuuuuuggggh..


"Aduuuh apes banget aku hari ini..


Sudah kena omel Gusti Warigalit masih juga pakai jatuh karena lobang sialan ini", Gumbreg meringis sambil mengusap pakaiannya yang kotor. Dengan terpincang-pincang, Gumbreg berlari menuju ke arah para prajurit perbekalan untuk menyuruh mereka bekerja lebih keras. Dia takut kena omel Senopati Warigalit yang terkenal keras dan disiplin.


Saat matahari sepenggal naik, Pasukan Panjalu dan para prajurit Lasem bergerak menuju ke arah Pakuwon Semanding yang menjadi benteng pertahanan prajurit Kembang Kuning.


Kini mereka berjumlah 13 ribu prajurit yang sebagian besar terdiri dari prajurit berjalan kaki.


Sepanjang perjalanan, para Rama atau Lurah Wanua juga para warga wilayah yang mereka lewati lebih memilih untuk bersujud di tepi jalan sebagai tanda mereka takluk pada pasukan Panjalu.


Di benteng pertahanan prajurit Kembang Kuning di Pakuwon Semanding, Senopati Purbaya dan Patih Harjamukti tengah mengatur siasat untuk menghadapi pasukan Panjalu saat seorang lelaki yang merupakan salah seorang telik sandi melapor kepada mereka.


"Mohon ampun Gusti Patih,


Pasukan Panjalu sudah bergerak menuju ke arah kita. Perkiraan jumlah pasukan mereka tak kurang 15 ribu prajurit Gusti Patih", lapor sang mata-mata dengan cepat.


"Celaka!


Jumlah pasukan Panjalu jauh lebih besar daripada pasukan kita Gusti Patih. Kalau begini bisa di pastikan kita tidak akan mampu bertahan", ujar Senopati Purbaya dengan raut wajah panik dan ketakutan.


"Kau tenang dulu Purbaya..


Akan aku minta Demung Bulukumba untuk menghadap ke Kadipaten sekarang juga meminta tambahan prajurit untuk menahan gempuran para prajurit Panjalu.


Prajurit,


Panggil Demung Bulukumba kemari. Cepat!", perintah Patih Harjamukti yang membuat seorang prajurit Kembang Kuning bergegas melaksanakan perintah sang warangka praja Kembang Kuning.


Tak berapa lama kemudian sang prajurit kembali dengan seorang lelaki bertubuh kurus, bermata cekung dengan lingkar mata kehitaman seperti orang yang kurang tidur. Dia adalah Demung Bulukumba, seorang perwira tinggi prajurit Kembang Kuning yang terkenal dengan kemampuan berkuda dan ilmu meringankan tubuh nya.


"Bulukumba..


Segeralah berangkat ke kota Kadipaten Kembang Kuning. Sampaikan pada Gusti Adipati Mpu Pamadi bahwa aku meminta tambahan 5 ribu prajurit untuk menahan serangan pasukan Panjalu", perintah Patih Harjamukti segera.


"Sendiko dawuh Gusti Patih", ucap Demung Bulukumba sembari menghormat pada Patih Harjamukti. Perwira tinggi bertubuh kurus itu segera mundur dari tempat itu dan melompat ke atas kuda nya kemudian menggebrak kudanya menuju ke arah Kota Kadipaten Kembang Kuning.


Patih Harjamukti menatap ke arah perginya Demung Bulukumba sambil menghela nafas berat.


"Cepatlah kembali Bulukumba..


Keberhasilan prajurit Kembang Kuning dalam menahan pasukan Panjalu tergantung kepada mu".


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya 😁

__ADS_1


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah 😁


Selamat membaca 😁🙏😁


__ADS_2