
Anggrek Emas berlari menuju kediaman utama Padepokan Anggrek Bulan. Perempuan itu bergegas menuju tempat peristirahatan guru nya.
Tok tok tok..
Anggrek Emas terburu buru mengetuk pintu kamar gurunya.
"Guru mohon maaf mengganggu istirahat mu"
Pintu kamar terbuka dan wajah cantik Dewi Anggrek Bulan segera terlihat.
"Ada apa Sari? Kenapa kau mengganggu semedi ku?".
Anggrek Emas yang bernama asli Puspasari terlihat gugup.
"Maaf guru, dua orang murid padepokan kita terluka. Mereka bilang ada ratusan orang bergerak menuju ke padepokan kita. Mereka berdua bilang, sepertinya mereka anggota Alas Larangan dan beberapa seperti anggota Gunung Kematian guru".
Dewi Anggrek Bulan terkejut. Dia tau selain Bukit Jerangkong, Alas Larangan dan Gunung Kematian adalah tempat para jagoan dunia persilatan aliran hitam. Kalau sampai ratusan orang bergerak, bisa di pastikan ada sesepuh dari masing-masing perguruan.
Jika hanya satu sesepuh perguruan dia masih sanggup, tapi jika dua tentu dia kerepotan. Apalagi kemampuan murid tingkat 2 nya masih rendah. Anggrek Perak dan Anggrek Emas saja belum cukup untuk menghadapi 1 sesepuh perguruan.
Huhhhhhh
"Apa 4 Dewi Pelindung sudah kau kabari?"
"Sudah guru, utusan dari goa Ludra sudah kembali. Dan mereka bilang, begitu Dewi Anggrek Timur bangun dari semedi, 4 Dewi Pelindung akan segera turun ke padepokan", jawab Anggrek Emas.
"Bocah itu kalau semedi selalu sulit di bangunkan. Sepertinya kita harus mengandalkan kekuatan sendiri kali ini", Dewi Anggrek Bulan memandang langit makam yang mulai berangsur terang, tanda pagi segera tiba.
Suasana pagi di padepokan itu riuh tak seperti biasa. Semua murid berkeliling dengan kelompok 4 sampai 5 orang. Pedang pun terselip di pinggang masing-masing orang. Semua tampak bersiaga.
Panji Watugunung baru bangun dari semedi nya ketika lonceng tanda bahaya bertalu-talu.
Segera dia melompat keluar kamar. Dewi Anggarawati dan Ratna Pitaloka sudah bersiap siaga. Tak lama kemudian Sekar Mayang pun menyusul di belakangnya.
"Ada apa Kakang?", tanya Ratna Pitaloka.
"Mana aku tahu? Coba dinda Pitaloka tanya ke gadis itu", Panji Watugunung menunjuk gadis yang akan berlari ke arah depan.
"Nisanak, apa yang terjadi? Kenapa semua orang heboh?",tanya Ratna Pitaloka menghentikan langkah gadis itu.
"Padepokan di kepung orang berbaju merah dan hitam. Kami semua akan bertarung", jawab gadis itu kemudian berlari menuju gerbang Padepokan Anggrek Bulan.
Watugunung segera melompat ke kamar nya. Dan segera mengambil Pedang Naga Api serta mengikat sarung pedang di punggungnya.
Begitu keluar kamar, ketiga gadis nya juga sudah bersiap dengan senjata masing-masing.
Mereka lalu melompat ke atas atap bangunan. Kemudian meloncat ke atap bangunan sebelahnya menuju gerbang Padepokan Anggrek Bulan di ikuti oleh ketiga gadis nya.
Di satu atap dekat gerbang, mereka berhenti melihat keadaan.
Ratusan orang berpakaian hitam dan merah mengepung gerbang Padepokan Padas Putih. Mereka bersenjata pedang dengan berbagai ukuran. Ada juga yang membawa tombak dan tongkat besi.
"Dewi Anggrek Bulan, keluar!!
Seruan keras bertenaga dalam membuat kuping sakit.
Barisan murid murid Padepokan Anggrek Bulan segera menyibak, memberi jalan saat pemimpin sekaligus guru besar mereka Dewi Anggrek Bulan maju di temani Anggrek Emas dan Anggrek Perak.
"Hahahaha...", tawa seorang lelaki tua berkumis tebal berwarna putih dan berbaju abu abu meledak saat Dewi Anggrek Bulan menemui nya.
"Tak kusangka bahwa kau masih terlihat cantik meski usia mu sudah renta, Anggrek Bulan".
"Julungpujud eh apa harus ku panggil Iblis Abu-abu, ada urusan kau kemari? Kami tidak menerima tamu seperti kalian", Dewi Anggrek Bulan tersenyum tipis.
"Hahahaha, mulut mu tetap manis seperti dulu.
Hari ini, semua anggota Padepokan Anggrek Bulan harus bersedia membantu rencana besar Raja Mapanji Garasakan. Kau harus menjadi selir ku dan murid murid akan ku jadikan istri anggota Gunung Kematian dan Alas Larangan", Julungpujud alias Iblis Abu-abu meleletkan lidah nya ke bibir.
"Kalau kami menolak?", jawab Dewi Anggrek Bulan tersenyum sinis.
"Akan aku buat Padepokan Anggrek Bulan rata dengan tanah", Iblis Abu-abu menyeringai lebar.
Phuihhh
"Kau pikir aku takut dengan ancaman mu iblis tua? Sekalipun Dewa Maut sendiri yang kesini aku tidak takut", Dewi Anggrek Bulan tersenyum mengejek.
"Sudah kita habisi saja mereka Iblis Abu-abu, tangan ku sudah gatal dari tadi", seorang kakek berambut merah dan berpakaian serba merah memotong ucapan Iblis Abu-abu.
"Diam kau Setan Geni. Aku sedang bicara sebaiknya tutup mulutmu atau ku hajar kau", bentak Iblis Abu-abu pada Setan Geni.
__ADS_1
Setan Geni diam dan mendengus dingin.
"Kalau begitu mau mu, hari ini Padepokan Anggrek Bulan akan tinggal nama"
Usai berkata, Iblis Abu-abu segera melesat cepat ke arah Dewi Anggrek Bulan.
Bayugeni dan seluruh pengepung mencabut pedang nya dan mengikuti langkah Iblis Abu-abu menyerang murid murid Padepokan Anggrek Bulan.
Dewi Anggrek Bulan tersenyum dan segera melepaskan Pukulan Tapak Rembulan menyongsong Iblis Abu-abu.
Pertarungan sengit segera terjadi. Iblis Abu-abu dengan Tinju Iblis nya melawan Tapak Rembulan dari Dewi Anggrek Bulan. Saat keduanya beradu pukulan bertenaga dalam, terlihat Dewi Anggrek Bulan setingkat lebih tinggi dari Iblis Abu-abu.
Sementara itu, Setan Geni dan Setan Air dari Alas Larangan menghadapi Anggrek Emas dan Anggrek Perak. Pertarungan mereka berlangsung cepat, namun karna Setan Geni dan Setan Air ilmu kanuragan nya jauh lebih tinggi dari dua murid Dewi Anggrek Bulan, Anggrek Emas dan Anggrek Perak sudah menerima beberapa pukulan dan sayatan pedang dari dua sesepuh Alas Larangan itu.
Anggrek Perak yang lengah, terkena tendangan Setan Air tepat di perutnya sakit luar biasa. Lambung nya seperti pecah. Saat Setan Air melesat hendak menebas leher Anggrek Perak yang jatuh terduduk, tiba tiba sebuah bayangan menarik cepat tubuh Anggrek Perak dan menghajar punggung Setan Air dengan tapaknya.
Deshhhhh..
Nyawa Anggrek Perak tertolong dan Setan Air terpental ke belakang.
"Kau tidak apa-apa?", ujar Panji Watugunung yang sudah menyelamatkan nyawa Anggrek Perak. Gadis itu hanya mengangguk sambil menahan sakit di dadanya.
Dewi Anggarawati, Sekar Mayang dan Ratna Pitaloka segera menghambur ke samping Panji Watugunung.
"Dinda Pitaloka, bantu Anggrek Emas menghadapi setan tua itu".
Ratna Pitaloka mengangguk dan segera melesat ke arah Anggrek Emas yang sudah terdesak oleh Setan Geni.
"Dinda Anggarawati, jaga Anggrek Perak dan gunakan pisau terbang mu untuk melindungi diri".
Dewi Anggarawati tersenyum tipis dan segera mencabut sepasang pisau terbang.
"Dinda Mayang, bantu habisi orang orang golongan hitam itu segera".
Sekar Mayang melepas Selendang Es di pinggang nya dan segera melompat maju kearah pengepung.
Usai memberikan perintah, Panji Watugunung segera bersiap menghadapi Setan Air.
Sesepuh Alas Larangan itu baru bangkit setelah punggungnya di hajar Panji Watugunung. Rasa sesak akibat pukulan Panji Watugunung terasa menembus dada.
"Bedebah! Berani sekali kau membokong ku pemuda tengik", Setan Air mengurut dada kanan nya yang sesak.
"Keparat!
Sudah bosan hidup kau rupanya", Setan Air geram.
Lelaki tua itu segera merangsek ke arah Panji Watugunung bermaksud menebas leher nya.
Panji Watugunung segera menunduk, lalu menyapu pinggang setan tua itu.
Setan Air menarik pedang dan memutar tubuhnya sambil memukul ke arah kaki Watugunung yang mengancam pinggang nya dengan tangan kiri.
Bukkk..
Tangan Setan Air terasa sakit seperti memukul baja. Kakek tua itu melihat sinar kuning keemasan keluar dari kaki Panji Watugunung.
'Bedebah cilik ini rupanya punya ilmu Tameng Waja'
Setan Air melompat mundur dua tombak ke belakang. Mata kakek tua itu berkilat seperti hendak mencincang Panji Watugunung.
Setan Air memusatkan tenaga dalam nya. Bersiap menggunakan ilmu andalan nya, Pukulan Siluman Air. Tubuh kakek tua itu tiba-tiba bergetar hebat, lalu dari tubuh nya muncul titik titik air seperti keringat dingin.
Dengan gerakan cepat, seberkas sinar biru berhawa dingin keluar dari telapak tangan Setan Air di ikuti butir butir air menyelimuti sinar menerabas cepat kearah Panji Watugunung.
Melihat itu, Panji Watugunung melompat ke samping dan pukulan Setan Air menghajar tembok kayu Padepokan Anggrek Bulan.
Dhuarrrr..
Tembok kayu hancur berantakan dan bekasnya seperti di hantam air.
Panji Watugunung segera melesat cepat kearah kakek tua itu saat Setan Air hendak melepaskan pukulan kedua.
Tangan kanan Panji Watugunung berubah merah menyala seperti api karena dia menggunakan ilmu Tapak Dewa Api tingkat 5, menyongsong Pukulan Siluman Air dari tangan Setan Air.
Blammmm..
Ledakan keras terjadi. Panji Watugunung terdorong mundur satu langkah sedangkan Setan Air terpental ke belakang menabrak pohon.
Hoarrghhh..
__ADS_1
Setan Air muntah darah kehitaman tanda luka dalam serius. Mata kakek tua melotot, tubuhnya kejang lalu diam dan tidak bergerak lagi.
Semua orang terpana. Setan Air salah satu sesepuh Alas Larangan dan termasuk jagoan golongan hitam, meregang nyawa di tangan pemuda itu.
Anggrek Emas yang sudah tak sanggup bertarung dan ada di pinggir arena pertarungan takjub. Dia tak pernah mengira kalau pemuda tampan yang di sukai nya, ternyata pendekar tangguh.
Sementara itu Setan Geni yang sudah bertarung puluhan jurus melawan Ratna Pitaloka melompat mundur saat melihat saudara seperguruannya tewas.
Dia marah besar.
"Kau tak kan sanggup menghadapi nya", cibir Ratna Pitaloka melihat wajah Setan Geni merah menahan marah.
"Sebelum pemuda tengik itu mampus, kau yang akan ku habisi".
Setan Geni segera menyarungkan pedangnya dan memusatkan tenaga dalam tingkat tinggi. Tangannya tiba tiba di liputi api membara. Itulah Ajian Cadasgeni tingkat akhir.
Segera Setan Geni melompat maju menyerang Ratna Pitaloka.
Gadis cantik berbaju kuning cerah yang di juluki Dewi Pedang Kembar oleh Akuwu Watugaluh itu menyilangkan Pedang Bulan Kembar nya. Sinar kuning segera melingkupi seluruh pedang dan saat tangan Setan Geni memukul ke depan, Ratna Pitaloka menyongsong dengan satu tebasan pedang di tangan kanan.
Dhuarrrr..
Ledakan keras saat dua tenaga dalam tingkat tinggi berbenturan. Setan Geni terdorong 2 langkah ke belakang dan Ratna Pitaloka juga sama.
Sepertinya tenaga dalam mereka seimbang.
Ratna Pitaloka segera melesat maju, dan menyabet pinggang Setan Geni yang langsung melompat keatas menghindar sambil menyambar kepala Ratna Pitaloka dengan cakaran tangan berapi.
Ratna Pitaloka menunduk dan menyabetkan Pedang Bulan Kembar di tangan kiri. Setan Geni terkejut dan memutar gerakan nya dan berguling ke tanah.
Belum sempat setan tua itu berdiri tegak, sambaran pedang Ratna Pitaloka mengancam dada nya.
Wushhhhh
Angin dingin tenaga dalam tingkat tinggi menerabas cepat membuat Setan Geni melompat ke atas. Namun Ratna Pitaloka segera menebas leher Setan Geni setelah menjejak tanah dan menggunakan Ajian Sepi Angin.
Crashhhh
Kepala Setan Geni terpisah dari badan nya dan jatuh menghantam tanah.
Dari kejauhan, Dewi Anggrek Bulan yang sedang bertarung dengan Iblis Abu-abu berteriak,
"Lihat kawan mu iblis tua,
Sekarang mereka jadi setan sesungguhnya"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Penasaran dengan nasib Iblis Abu-abu?
Tunggu di episode selanjutnya ya..
Jangan lupa untuk terus dukung author dengan like, vote dan komentar nya.
__ADS_1
Happy reading guys 😁😁😁