
Sudah 3 purnama Panji Watugunung kembali ke Padepokan Padas Putih. Kabar turun takhta Airlangga menjadi topik hangat diperbincangkan. Kalau dulu pedagang bebas bepergian di seluruh wilayah Kahuripan, kini ada garis perbatasan yang melintang.
Perang saudara siap meletus setiap saat. Namun keberadaan Airlangga masih menjadi peredam panas. Mapanji Garasakan masih sungkan memulai konflik dengan saudara tirinya karna ayahandanya masih hidup.
Namun beberapa perguruan besar dan kecil dari wilayah Jenggala mulai melakukan pengacauan di wilayah Panjalu. Mereka mengorganisir perampok dan penyamun di wilayah perbatasan antara dua kerajaan.
Tamwelang masuk dalam wilayah Jenggala menjadi sarang gerombolan begal yang di kendalikan Perguruan Kalajengking Biru.
Mereka beraksi di wilayah Watugaluh dan sekitarnya yang masuk wilayah Panjalu.
Yang di dalam wilayah Jenggala juga tidak aman, karna banyak begal yang di bawah kendali perguruan aliran hitam. Semuanya wajib setor upeti ke Padepokan Bukit Jerangkong dengan tujuan menyiapkan dana perang menaklukkan Panjalu.
Rakyat Jenggala tidak betah dengan keadaan di negeri nya, banyak yang mengungsi ke Panjalu namun sebagian besar tidak sampai ke Panjalu karena jika ketahuan akan langsung di bunuh para prajurit Jenggala.
Mpu Sakri baru saja menerima sepucuk surat dari Bupati Gelang-gelang yang intinya meminta ijin agar Mpu Sakri memperbolehkan putra nya membasmi gerombolan perampok yang meresahkan wilayah perbatasan.
Panji Watugunung menghela nafas lega. Hari ini latihan nya telah selesai. Mpu Narasima tersenyum puas melihat kemampuan Panji Watugunung yang meningkat pesat.
"Bocah bagus, ayo kita pulang ke padepokan", Mpu Narasima kemudian melesat cepat menuju Padepokan Padas Putih di ikuti oleh Panji Watugunung. Dalam sekejap mata, mereka sudah sampai di gerbang Padepokan Padas Putih.
Penjaga gerbang segera memberikan hormat kepada mereka. Panji Watugunung dan Mpu Narasima melangkah menuju ke arah kediaman Mpu Sakri.
Mpu Sakri tersenyum melihat kedatangan mereka. Senja mulai turun di ufuk barat. Setelah makan malam yang ramai, Mpu Sakri Sakri lalu memulai pembicaraan mereka.
"Watugunung, tadi siang aku menerima surat dari ayah mu. Isinya meminta bantuan mu untuk membersihkan wilayah perbatasan Gelang-gelang yang sedang kacau oleh gerombolan perampok yang meresahkan".
"Murid mentaati perintah guru", Watugunung memberi hormat.
"Besok pagi bersiaplah. Wilayah Kahuripan Timur sekarang bukan wilayah ramah lagi. Kau harus berhati-hati", ujar Mpu Sakri.
"Murid mengerti guru".
"Anggarawati.., pergilah ikuti calon suami mu", Dewi Anggarawati tersenyum bahagia saat mendengar perkataan Mpu Sakri. Wanita cantik itu langsung mengangguk tanda setuju.
"Terimakasih Resi", Anggarawati menghaturkan hormat.
"Pitaloka dan kau Mayang, apa kalian siap membantu Panji Watugunung menjalankan tugas nya", sambung Mpu Sakri kemudian.
"Kami siap membantu Kakang Watugunung guru", ucap Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang kompak menjawab.
Meski wajah Mpu Sakri tersenyum, namun dalam hati dia bersedih harus berpisah lagi dengan murid muridnya.
Mpu Narasima juga demikian. Kakek tua itu diam diam menitikkan air mata. Selama 3 purnama ini, Panji Watugunung belajar ilmu kanuragan pada nya. Dia sangat menyukai sikap sopan dari pemuda itu.
Malam ini, menjadi malam terakhir untuk Panji Watugunung, Dewi Anggarawati, Sekar Mayang dan Ratna Pitaloka tidur di padepokan.
Mentari pagi sudah mulai mengintip dari celah awan di langit. Meski tidak cerah, namun cuaca masih bersahabat.
Panji Watugunung sudah menaruh buntalan kain berisi pakaian dan meletakkan di atas pelana kuda nya. Para gadis sudah lebih pagi bersiap siap.
Mereka berempat kemudian berlutut menghormat pada guru nya, Mpu Sakri.
Lalu Panji Watugunung segera berpindah menghormat pada Mpu Narasima.
"Jaga baik-baik calon istri mu Watugunung, sayangilah mereka seperti kau sayang pada dirimu sendiri", ujar Mpu Sakri tersenyum.
"Bocah bagus, aku tidak punya apa apa untuk ku berikan padamu, aku hanya bisa berdoa semoga Jagat Dewa Batara melindungi setiap langkah kalian", sambung Mpu Narasima.
__ADS_1
"Terimakasih guru, paman guru. Semua petuah yang kami terima, akan jadi pegangan perjalanan kami", Panji Watugunung menghormat pada guru dan paman guru nya.
"Kakang Warigalit, titip guru dan paman guru".
"Adik tenang saja, Kakang doakan semoga Sang Hyang Widhi melindungi perjalanan kalian", Warigalit meyakinkan.
Panji Watugunung segera melompat ke atas kuda mereka, di ikuti Ratna Pitaloka, Sekar Mayang dan Dewi Anggarawati. Mereka memandang kearah guru mereka sebelum menggebrak kuda mereka meninggalkan Padepokan Padas Putih.
Mpu Sakri, Mpu Narasima, Warigalit dan Ratri memandang kearah perginya Panji Watugunung dan ketiga gadis nya sampai menghilang di tikungan bukit.
Panji Watugunung dan ketiga gadis cantik itu menggebrak kuda mereka menuju Pakuwon Bandar. Sampai tengah hari mereka sudah sampai di Pakuwon Bandar, mereka makan siang dan melanjutkan perjalanan ke arah barat.
Rombongan Panji Watugunung sampai di perkampungan kecil yang mereka singgahi 3 purnama yang lalu saat menolong Sepasang Sriti Perak saat malam mulai turun.
Di ujung perkampungan kecil itu, beberapa orang berjaga. Panji Watugunung segera melompat turun dari kudanya.
"Permisi kisanak, kalau boleh tau apa ada tempat menginap di kampung ini?"
4 orang yang berjaga mengamati Panji Watugunung, kemudian ke arah 3 gadis cantik itu. Salah seorang dari mereka mengenali Ratna Pitaloka yang menghajar salah satu dari Dua Macan. Orang itu lalu membisikan sesuatu pada orang di sebelahnya.
"Tunggu disini kisanak, kami akan melapor pada sesepuh kampung lebih dulu", jawab salah satu penjaga.
Tak berapa lama, seorang lelaki tua segera mendekati Panji Watugunung dan rombongannya.
"Kalau ingin bermalam, sebaiknya di rumah saya saja. Karna disini tidak ada penginapan kisanak. Aku sesepuh kampung ini".
"Terimakasih Ki atas keramahan nya", ujar Panji Watugunung.
Mereka kemudian bergegas menuju kediaman sesepuh kampung itu.
Usai menambatkan kuda mereka di kandang rumah sesepuh. Mereka kemudian masuk ke rumah. Setelah memberikan jamuan makan, mereka di persilahkan untuk beristirahat di tempat yang sudah disiapkan.
Dari cara berpakaian, mereka terlihat seperti prajurit. Mereka bersenjata lengkap.
"Mata mata Panjalu, keluar kalian!"
Mendengar suara keras dari luar rumah, Panji Watugunung dan ketiga gadis nya keluar dari rumah sesepuh kampung.
"Maaf tuan prajurit, ada masalah apa tuan sekalian disini?", ujar Watugunung sopan.
Phuihhh
"Lagakmu seperti orang linglung. Kalian mata mata dari Panjalu, serahkan diri pada kalian baik baik sebelum kami bertindak kasar", ujar seorang lelaki tegap yang terlihat seperti perwira.
"Tunggu tuan, kami hanya pengelana yang kebetulan lewat. Pasti ada kesalahpahaman disini", Panji Watugunung mencoba menenangkan mereka.
"Kau pikir kami bodoh ha?? Kami sudah mendapat laporan bahwa kalian telik sandi dari Panjalu", perwira prajurit itu mendelik tajam.
"Tangkap mereka!"
Puluhan prajurit segera mengepung rombongan Panji Watugunung.
"Tuan prajurit, kami tidak bersalah. Kalau tuan memaksa jangan salahkan kami membela diri", teriak Panji Watugunung mulai gusar.
"Bedebah!
Bunuh saja mereka", teriak perwira prajurit.
__ADS_1
"Dinda semuanya, jangan sampai membunuh mereka, cukup lumpuhkan saja", ujar Watugunung di sambut anggukan kepala ketiga calon istri nya.
Puluhan prajurit Jenggala dengan beringas menyerang Panji Watugunung dan ketiga gadis nya.
Namun mereka bukan lawan sepadan untuk rombongan Panji Watugunung. Dalam beberapa gebrakan, mereka sudah tak berdaya. Semua serangan mereka sama sekali tidak bisa melukai Panji Watugunung dan ketiga gadis nya.
Perwira prajurit pucat pasi. Prajurit yang dia bawa adalah orang-orang pilihan. Namun tidak bisa berbuat apa-apa.
Dengan gugup, dia mencabut pedang nya. Belum sempat bergerak, sebuah bayangan berkelebat layak nya angin dan tiba tiba sudah mencengkram lehernya.
"Kakang, apa kita habisi saja orang dungu ini?", teriak Ratna Pitaloka sambil menoleh ke arah Panji Watugunung.
"Tunggu dinda Pitaloka", ucap Panji Watugunung segera.
Perwira prajurit itu ketakutan. Nyawanya di ujung tangan gadis berpedang kembar yang mencengkram kuat lehernya. Sekali gerak, pasti dia tewas.
"Ampuni nyawaku Pendekar, ampuni aku", nada bergetar keluar dari bibir perwira prajurit itu.
"Tadi kau berteriak teriak keras. Sekarang kau meminta nyawa mu diampuni. Berani sekali kau", Ratna Pitaloka mencengkeram kuat.
"Kami salah paham, ya kami salah paham", kata perwira prajurit itu bergidik ngeri. Sepuluh orang prajuritnya tergeletak pingsan dan beberapa terluka dalam.
"Dengarkan aku, perwira. Kami pengelana yang kebetulan lewat. Kami tidak ingin terlibat masalah apapun. Kalau kau berjanji tidak akan memperpanjang masalah ini, ku jamin kau akan ku ampuni. Tapi kalau sampai ada gangguan, kupastikan kau yang pertama aku habisi", kata Panji Watugunung dengan wajah dingin.
"Ba-baik pendekar. Aku mengerti aku mengerti", kata perwira prajurit terbata bata.
"Dinda Pitaloka, lepaskan dia".
Ratna Pitaloka melempar tubuh perwira prajurit itu ke arah anak buah nya.
"Untung saja suamiku mengampuni nyawamu, kalau tidak ku habisi kau"
Penonton yang melihat keributan itu tak berani bertindak. Mereka hanya memandang saat rombongan Panji Watugunung meninggalkan perkampungan kecil itu menuju ke arah Kabupaten Gelang-gelang..
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Sebentar lagi ramadhan, kalau author ada salah mohon maaf ya.
Happy reading guys 🙏🙏🙏😁😁😁