
"APAAAA????"
Teriak kaget Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang bersamaan.
Dewi Anggarawati tertawa cekikikan. Puas dia mengerjai mereka berdua.
"Sudah diam jangan ribut. Hari ini aku ingin berlatih tenaga dalam. Kalian tidur di kamar masing-masing.Jangan ada yang menggangu ku", ujar Panji Watugunung seraya melangkah masuk ke kamar nya dan menutup pintu dari dalam.
Ketiga gadis itu saling pandang. Lalu senyum nakal segera menghiasi wajah mereka.
"Kangmbok, aku ingin belanja pakaian di pasar sore dekat istana Pakuwon. Kangmbok Pitaloka mau ikut?", ujar Anggarawati.
"Iya, aku mau ikut. Lagi pula baju ku tinggal beberapa potong", Ratna Pitaloka teringat baju nya yang sobek saat bertarung dengan Setan Pendek.
"Aku juga ikut", sahut Sekar Mayang kemudian.
Ketiga gadis itu melangkah keluar penginapan.
Mereka berjalan kaki sambil menikmati suasana sore di Pakuwon Watugaluh.
Sampai di pasar sore, mereka berkeliling melihat-lihat. Ketika di tempat penjual baju, mereka masing masing membeli 2 baju.
Anggarawati membeli baju sutra warna biru muda dengan jahitan benang emas pada lehernya. Ratna Pitaloka memilih baju sutra warna kuning cerah, sedangkan Sekar Mayang memilih warna hijau muda dengan beberapa hiasan bunga dari benang emas.
Tak terasa senja mulai berganti malam, ketiga gadis itu memilih pulang ke penginapan.
Ketika akan masuk kamar, ketiga gadis itu saling pandang satu sama lain.
Sekar Mayang yang paling jahil, segera mendekati Ratna Pitaloka dan Dewi Anggarawati dan membisikkan sesuatu.
Tok tok tok..
Tok tok tok..
"Siapa?", suara dari dalam kamar.
"Pelayan tuan Pendekar, mengantar makan malam", suara pelayan menyahut.
Kriettttt..
Pintu kamar terbuka dan pelayan masuk mengantar makanan, di belakang pelayan ketiga gadis cantik itu mengikuti.
Hemmmm
Dengusan terdengar dari Panji Watugunung.
Selesai meletakkan makanan, pelayan mundur. Ketiga gadis itu masih disana.
"Ada apa lagi??",tanya Watugunung sambil menoleh ke arah tiga orang calon istri nya.
"Makan malam Kakang", Sekar Mayang menjawab pelan.
"Terus kenapa kalian belum keluar? Apa kalian belum makan?", Watugunung kembali bertanya.
Ketiga gadis itu menggeleng cepat.
Huhhhhhh
"Sudah kuduga sebelumnya", ujar Panji Watugunung segera duduk. Mengambil nasi dari bakul dan menambahkan sayur dan ayam bakar.
Mulai menyuapkan makanan ke mulut, tapi ketiga gadis hanya menunggu.
"Mau?"
Ketiga gadis itu mengangguk.
Panji Watugunung paham, lalu menyuapi ketiga gadis itu mulai dari Ratna Pitaloka, Sekar Mayang lalu Anggarawati.
Wajah cantik mereka terlihat bahagia.
'Makin hari makin manja mereka', batin Watugunung.
__ADS_1
Usai makan bersama mereka bergegas menuju kamar masing-masing, beristirahat sebagai persiapan jauh. Dan Panji Watugunung kembali tenggelam dalam semedi sampai pagi menjelang.
Pagi cerah di Pakuwon Watugaluh.
Panji Watugunung terbangun dari semedi saat jendela kamar nya di buka Ratna Pitaloka.
Anggarawati menyiapkan air hangat untuk cuci muka di gendok tanah liat.
Sementara Sekar Mayang menata pakaian Watugunung di buntalan kain.
Panji Watugunung segera bergegas turun dari ranjang, dan membasuh muka nya dengan air hangat. Wajahnya memerah membuat nya semakin tampan.
Usai bersiap-siap, mereka berempat membayar biaya menginap dan mengambil kuda mereka di kandang penginapan.
Mereka berempat meloncat ke atas kuda mereka, dan memacu kudanya ke istana Pakuwon Watugaluh.
Hari ini Akuwu Watugaluh Hangga Amarta memimpin 300 prajurit Pakuwon Watugaluh menuju Alas Lor. Sementara pemerintahan Pakuwon Watugaluh di serahkan pada putra sulung nya.
Bekel Setyaka dan dua orang wakil nya berjalan di depan. Di ikuti Akuwu Watugaluh. Panji Watugunung dan ketiga selir nya, Tabib Putih, Tapak Malaikat dan Dewi Kipas Besi mengiringi di belakangnya, sedang para prajurit berkuda membentuk barisan di belakang.
Setelah dua hari perjalanan, mereka tiba di tepi hutan kecil di selatan Alas Lor. Para prajurit segera membuka tenda dan perkemahan.
Mencapainya tengah hari, perkemahan para prajurit sudah mulai tertata rapi.
Di tenda besar tengah, nampak Akuwu Watugaluh di kelilingi Watugunung dan ketiga selir nya, Tapak Malaikat, Dewi Kipas Besi, Tabib Putih dan Bekel Setyaka.
"Gusti Kuwu, menurut laporan telik sandi, jalan masuk ke Alas Lor banyak jebakan. Kebanyakan beracun", lapor Bekel Setyaka.
"Aku sudah menyiapkan penawar racun, Ki Bekel tidak usah khawatir", ujar Tabib Putih sambil membuka kotak kayu berisi ratusan pil kecil berwarna hitam.
Akuwu Watugaluh tersenyum puas melihat kesiapan Tabib Putih.
"Ki Kuwu, sebaiknya aku dan ketiga selir ku berangkat lebih dulu di temani Tapak Malaikat dan Dewi Kipas Besi. Maksud ku, agar perhatian Kalajengking Biru terfokus pada Ki Kuwu saja, sedangkan kami bisa segera membebaskan Dewi Tunjung Biru.
Kita tidak akan perang terbuka dengan perguruan Kalajengking Biru. Jadi pasukan Ki Kuwu bergerak perlahan dari jalan selatan, sedangkan aku dan rombongan penyusup akan masuk dari arah barat.
Bagaimana menurut Ki Kuwu?", usul dari Watugunung.
Hemmmm
"Aku pernah mendengar Ki, kalau jagoan dari Kalajengking Biru di dunia persilatan dari aliran hitam memiliki kemampuan beladiri hebat, ditambah kemampuan mereka soal racun..
Aku mengusulkan itu agar tidak jatuh korban banyak Ki Kuwu", Panji Watugunung menjelaskan.
"Pendekar muda itu benar Ki Kuwu, 2 murid utama Kalajengking Biru itu mengerikan", sahut Dewi Kipas Besi.
"Baik kalau begitu, kapan kita bergerak?", tanya Akuwu Watugaluh.
"Setelah pertemuan ini, kelompok ku akan bergerak lebih dulu Ki Kuwu"
Usai pertemuan itu, kelompok kecil Panji Watugunung segera bergerak memutar menuju barat. Mereka memacu kudanya dengan cepat.
Menjelang senja, langit berwarna merah. Rombongan kecil Panji Watugunung sudah tiba di tepi Alas Lor dari arah barat. Mereka memilih berjalan kaki lewat jalan setapak. Dengan hati hati, mereka maju ke dalam hutan. Panji Watugunung segera melompat ke pohon besar, menuju pucuk pohon untuk mengamati sekitarnya.
Sekitar 200 tombak di arah timur, terlihat bangunan perguruan Kalajengking Biru yang berpagar kayu gelondongan besar.
Panji Watugunung segera melayang turun, dan semua orang bergegas mendekati nya.
"Mereka ada di depan, kita berhenti dulu sejenak disini. Setelah tengah malam, kita bergerak, terlalu berbahaya jika kita bergerak sekarang", bisik Watugunung.
Semua orang mengangguk tanpa suara.
Tiba tiba..
Suara langkah kaki mendekat.
Panji Watugunung segera menarik tubuh Sekar Mayang dan Anggarawati untuk bersembunyi di balik pohon besar. Ratna Pitaloka mengekor di belakang.
Tapak Malaikat dan Dewi Kipas Besi melompat ke arah gerumbul semak belukar.
Tiga orang lelaki berbaju biru gelap, berjalan beriringan. 2 orang memikul seekor babi hutan kecil.
__ADS_1
Panji Watugunung melirik ke arah Tapak Malaikat. Anggukan kepala dari tapak Malaikat tanda siap menghabisi. Panji Watugunung mencolek Ratna Pitaloka.
Mereka bertiga melesat kearah sosok berbaju biru gelap.
Dua orang yang memikul babi hutan, tak sempat mengelak saat pukulan tapak Malaikat menghajar dadanya, sedang pemikul di depan langsung tewas saat pedang Ratna Pitaloka membabat lehernya.
Sosok lain tak bisa bergerak saat bayangan merah hitam Watugunung melesat menotok urat nadi di dada nya.
"Ku kira paham kode ku, ehh malah di bunuh", ujar Watugunung.
"Maaf Kakang, kelepasan..", jawab Ratna Pitaloka.
Sedangkan Tapak Malaikat hanya tersenyum simpul.
Watugunung segera mendekati pria berbaju biru gelap yang di totok nya.
"Kalau kau menurut pada kami, nasib mu tidak akan seperti 2 teman mu itu. Kalau kau mau, kedipkan mata mu"
Sosok pria berbaju biru gelap mengedipkan matanya.
Panji Watugunung segera melepaskan totokan nya.
Tuk tuk..
"Apa kau tau tempat para tahanan?",
"Iya saya tahu. Di sebelah barat rumah pemimpin kami", jawab anggota Kalajengking Biru itu.
"Apa ada seorang gadis di tawan disana?", tanya Watugunung.
"Ada tuan. seorang gadis berpakaian seperti bangsawan ada disana. Di tangkap oleh Tuan Tangan Kalajengking, pemimpin sementara perguruan Kalajengking Biru", jawab anggota Kalajengking Biru takut melihat sorot mata tajam Panji Watugunung.
"Lalu pemimpin kalian kemana?".
"Dewi Kalajengking Biru bersama Tuan Kaki Kalajengking sedang di Padepokan Bukit Jerangkong, diundang Iblis Bukit Jerangkong"
Hemmmm
"Apa saya sudah boleh pergi tuan?", tanya anggota Kalajengking Biru itu
"Boleh"
Anggota Kalajengking Biru itu segera berlari tapi sebuah pisau terbang melayang cepat menembus tenggorokan nya. Orang itu tewas seketika.
Panji Watugunung segera menoleh, Anggarawati senyum senyum.
"Terlalu berbahaya melepaskan nya kakang"
Panji Watugunung mendengus panjang, lalu melesat menuju pintu gerbang barat perguruan Kalajengking Biru..
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bagaimana kisah selanjutnya??
__ADS_1
Sabar ya readers
Have a nice day, jaga kesehatan selalu 😁😁