Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Ramalan Mpu Soma dari Ranja


__ADS_3

"Ada dimana dia sekarang Kanjeng Romo?", tanya Panji Watugunung segera.


"Sementara ini, dia Romo tempatkan di bangsal tamu. Apa kau ingin menemui nya sekarang?", tanya Panji Gunungsari pada putranya itu.


Belum sempat Panji Watugunung menjawab, Ratna Pitaloka sudah memotong nya.


"Maaf Kanjeng Romo jika Pitaloka lancang,


Kakang Watugunung masih capek. Kami baru menempuh perjalanan jauh dari Watugaluh. Jika tidak keberatan, sebaiknya besok pagi saja mereka bertemu".


"Itu benar Kanjeng Romo,


Sebaiknya besok pagi saja", imbuh Dewi Anggarawati yang mengerti isyarat tangan dari Sekar Mayang.


Panji Gunungsari manggut-manggut saja.


"Kangmas Panji,


Sebaiknya Kangmas segera beristirahat. Kangmas capek. Galuh akan tidur disini dulu.


Biar kesehatan Galuh segera membaik", ujar Ayu Galuh yang berusaha bangun dari tempat berbaring nya.


"Iya Dinda Galuh,


Kakang akan segera beristirahat", Panji Watugunung tersenyum tipis.


"Kangmbok Mayang, Dinda Srimpi.


Antar Kangmas Panji ke Keputran dulu. Ada yang mau aku bicarakan dengan Kangmbok Pitaloka", ujar Dewi Anggarawati yang segera memeluk tubuh Panji Watugunung. Perempuan itu langsung mencium bibir sang suami. Ayu Galuh segera berdiri dan melangkah mendekati Panji Watugunung. Putri Samarawijaya itu segera berjinjit dan mencium pipi lelaki pujaan hatinya.


Usai itu, Panji Watugunung segera bergegas menuju keputran Gelang-gelang di iringi Dewi Srimpi dan Sekar Mayang.


"Kangmbok Pitaloka,


Sebenarnya ada apa? Kenapa kalian bertiga sepertinya tidak suka dengan Rara Sunti ini?", tanya Dewi Anggarawati yang penasaran. Tidak biasanya ketiga selir Panji Watugunung ini seperti itu. Ayu Galuh yang penasaran juga mendekat.


Hemmmmm


"Rara Sunti itu putra Warok Suropati, keponakan Adipati Wengker. Kakang Watugunung diangkat murid oleh Warok Suropati, dan menerima 2 ilmu kanuragan tingkat tinggi.


Awalnya Rara Sunti meremehkan kemampuan beladiri Kakang Watugunung. Tapi setelah Kakang Watugunung mengalahkan orang yang menantang ayahnya, sikapnya berubah.


Kami bertiga khawatir kalau kehadiran nya hanya ingin diperistri Kakang Watugunung. Wengker ke Gelang-gelang itu jauh Anggarawati. Kenekatan dia bertualang, membuat kami yakin tentang hal ini", jawab Ratna Pitaloka sambil menghela nafas.


Dewi Anggarawati tersenyum tipis mendengar penuturan Ratna Pitaloka.


"Jadi Kangmbok Pitaloka tidak ingin Kangmas Panji menikah lagi??", tanya Anggarawati sedikit menggoda madu nya itu.


"Tentu saja, sudah cukup kita berlima. Aku tidak mau kita berbagi cinta dengan wanita lain lagi", jawab Ratna Pitaloka dengan sungguh-sungguh.


"Maaf ya Kangmbok Pitaloka,


Kita memang istri Kangmas Panji. Tapi kita juga tidak memaksa Kangmas Panji untuk hanya mengayomi kita.


Aku, Kangmbok Pitaloka dan Kangmbok Mayang misalnya. Kangmas menikahi ku karena mencintai ku, juga mencintai Kangmbok berdua. Dia melakukan nya atas aturan kebangsawanan. Kangmas menikahi Srimpi juga atas tanggung jawab nya kepada ayah Srimpi yang sudah menolong nyawanya. Kangmas Panji menikahi Ayu Galuh atas dasar kehendak Gusti Prabu Samarawijaya yang ingin mengikat tali persaudaraan dengan kerabat lama nya.


Tidak semata mata karena nafsu semata.


Jadi alangkah bijaknya jika kita melihat tindakan Kangmas Panji Watugunung dari pandangan nya, tidak dari pandangan istri yang egois, tanpa memikirkan nasib suami", tutur sang putri Adipati Seloageng sambil tersenyum simpul.


Ayu Galuh yang ikut mendengarkan, terharu mendengar ucapan Dewi Anggarawati. Perempuan cantik itu langsung bergegas memeluk Dewi Anggarawati.


"Yunda Anggarawati memang bijaksana. Pantas Kangmas Panji tidak bisa jauh dari Yunda", ujar Ayu Galuh dengan senyum manis.


Ratna Pitaloka manggut-manggut tanda mengerti.


Malam itu Panji Watugunung yang sedang menunggu kedatangan Ratna Pitaloka nampak mondar-mandir di serambi keputran. Begitu melihat istrinya itu masuk keputran, buru buru dia mendekati nya.


"Apa yang kalian bicarakan Dinda Pitaloka?", tanya Panji Watugunung penasaran.


"Hanya omongan perempuan. Kakang Watugunung tidak akan mengerti.


Srimpi,


Siapkan arak beras khusus mu", Ratna Pitaloka menatap ke arah Dewi Srimpi. Perempuan cantik itu segera mengangguk tanda mengerti. Sekar Mayang langsung senyum senyum.


"Arak beras?


Buat apa Dinda Pitaloka?", Panji Watugunung keheranan.


"Malam ini aku ingin kita minum arak beras berempat Kakang.


Ayo kita ke kamar mu", ujar Ratna Pitaloka yang segera menarik tangan Watugunung menuju kamar tidur nya. Dewi Srimpi sudah membawa sekendi besar arak beras ketan yang khusus di persiapkan.


Ratna Pitaloka segera menuangkan arak beras ketan itu ke dalam cangkir Panji Watugunung.


Segera Panji Watugunung meminumnya.


Hemmmm


'Kenapa rasanya agak aneh?', batin Panji Watugunung.

__ADS_1


Mereka berempat minum dengan cepat. Setelah 4 cawan, tubuh Panji Watugunung terasa hangat. Perlahan Ratna Pitaloka yang sudah bernafsu mendorong tubuh Watugunung ke atas ranjang. Dan segera meloloskan pakaian sang suami. Sementara itu dua selir nya masih asyik menikmati arak beras ketan itu sambil senyum-senyum sendiri.


Malam itu kamar Panji Watugunung segera terisi lenguhan panjang dan erangan kenikmatan. Mereka melakukannya sampai nyaris pagi.


Kokok ayam jantan bersahutan pertanda pagi telah datang. Kicau burung Manyar dan kutilang bersahutan di ranting pohon sawo di depan keputran Gelang-gelang.


Panji Watugunung membuka matanya dan melihat ketiga selir nya masih tertidur pulas tanpa sehelai benang pun menutupi tubuh nya. Pengaruh arak beras khusus itu masih terasa. Melihat Ratna Pitaloka yang memeluk tubuh nya, nafsu Panji Watugunung bangkit lagi. Dengan lembut, pria itu mengecup bibir mungil selir pertama nya ini.


Mata Ratna Pitaloka langsung terbuka, saat lidah Panji Watugunung menjelajahi rongga mulut nya.


Tak menunggu waktu lama, Panji Watugunung dan Ratna Pitaloka sudah mendayung ke puncak asmara bersama.


Dua selir yang tengah tertidur langsung melek akibat suara berisik dari mereka berdua.


Dewi Srimpi segera mencari pakaian nya dan bergegas keluar dari kamar menuju kamar mandi. Sekar Mayang malah terpancing nafsu melihat semua kejadian itu.


Akhirnya dua selir Panji Watugunung itu terkulai tak bertenaga diatas ranjang. Raut wajah mereka terlihat puas.


Pagi itu mereka sarapan berempat. Ada senyum cerah menghiasi wajah mereka. Saat mereka masih asyik menikmati makanan nya, dari depan keputran Rara Sunti berhenti di depan gapura keputran Gelang-gelang.


Seorang penjaga langsung berlari ke serambi depan keputran Gelang-gelang.


"Mohon ampun Gusti Pangeran,


Perempuan bernama Rara Sunti ingin menghadap", ujar sang prajurit penjaga sambil menghormat.


"Persilakan dia masuk", titah Panji Watugunung.


Sang penjaga gapura segera menghormat pada Panji Watugunung dan bergegas menuju ke arah gapura keputran.


Rara Sunti melangkah menuju serambi depan keputran Gelang-gelang di ikuti seorang prajurit penjaga.


"Selamat datang di Keputran Gelang-gelang Cempluk", ujar Panji Watugunung segera saat Rara Sunti dengan sopan masuk ke serambi.


"Silahkan duduk", imbuh Panji Watugunung kemudian.


"Terimakasih Gusti Panji Watugunung", ujar Rara Sunti sambil duduk di lantai serambi keputran Gelang-gelang.


"Ada perlu apa kau jauh jauh datang ke sini? Apa ada yang bisa aku bantu?", tanya Watugunung penasaran.


Rara Sunti segera mengeluarkan nawala atau surat yang dibungkus kain merah dari kantong bajunya. Perempuan itu segera mengulurkannya pada Panji Watugunung.


Panji Watugunung segera membuka kain merah dan membaca isi surat itu.


"*Nakmas Panji Watugunung,


Jika kau membaca surat ini.


Untuk mengabulkan satu permintaan.


Aku yang tidak tahu diri ini,


Memohon kepada mu.


Tolong kau jaga Cempluk Rara Sunti untukku,


Karena dia mencintai mu.


Aku sudah tidak mampu berpikir lagi,


Aku pasrahkan Cempluk Rara Sunti.


Maafkan sikap orang tua ini,


Yang tidak tahu diri.


Warok Suropati*.


Deggg!!!


Jantung Panji Watugunung seakan berhenti berdetak setelah membaca surat dari Warok Suropati. Ramalan Mpu Soma dari pertapaan Ranja hampir semua nya telah terjadi dan tidak meleset satu pun.


Tiga dari 7 ramalan nya sudah terbukti. Pertama menyelamatkan Seloageng yang di serang dari timur dan menjadi pangeran Daha serta berperang di utara. Yang keempat, memiliki 7 istri, sudah hampir terjadi. Sebisa Panji Watugunung mencoba untuk tidak menikah lagi, namun sepertinya takdir tidak mau kalah.


Hemmmm


Panji Watugunung menghela nafas panjang.


"Untuk masalah ini, aku akan berbicara dengan Permaisuri ku, Cempluk.


Biar mereka yang memutuskan.


Dinda Pitaloka, Dinda Mayang, Dinda Srimpi..


Kalian semua ikut aku ke keputren. Kau juga ikut Cempluk".


Panji Watugunung segera berdiri dan melangkah keluar dari serambi keputran Gelang-gelang diikuti oleh ketiga selir nya.


Cempluk Rara Sunti mengekor di belakangnya.


Sesampainya di keputren, Panji Watugunung segera mendekati Dewi Anggarawati dan Ayu Galuh yang sedang bercanda di depan ruang peristirahatan mereka.

__ADS_1


"Ada apa Kangmas? Ada masalah lagi?", tanya Dewi Anggarawati sambil mengernyitkan keningnya melihat Panji Watugunung dan ketiga selir nya serta seorang wanita muda mengekor di belakang.


Panji Watugunung tak menjawab hanya tersenyum tipis dan menyerahkan surat dari Warok Suropati itu kepada Dewi Anggarawati.


Setelah membaca, Dewi Anggarawati tersenyum dan menatap ke arah Cempluk Rara Sunti yang duduk bersimpuh di lantai.


"Nama mu Rara Sunti?", tanya Dewi Anggarawati sambil tersenyum tipis.


"Benar Gusti Putri. Hamba Rara Sunti dari Wengker", jawab Rara Sunti sambil menghormat.


"Jangan bersikap seperti itu kepada ku. Aku tidak suka orang terlalu merenda. Apa kau suka Kangmas Panji Watugunung", Dewi Anggarawati menatap kearah Rara Sunti.


"Saya menyukai Gusti Panji Watugunung Gusti Putri", Rara Sunti menunduk tak berani menatap kearah Dewi Anggarawati.


"Disini, sudah ada 5 istri nya. Aku sedang hamil tua, Ayu Galuh hamil muda. Itu tiga selir nya juga ada.


Apa kau yakin bisa berbagi cinta seperti kami disini?", tanya Anggarawati penuh selidik.


"Selama Gusti Panji memiliki sedikit tempat di hati nya untuk saya, saya bersedia Gusti Putri", Rara Sunti terdengar yakin dengan pilihan nya.


"Baik, kita lihat seberapa besar niat mu untuk bersama dengan kami.


Aku akan mengijinkan Kangmas Panji Watugunung menikahi mu, asal syarat nya kau penuhi", ujar Dewi Anggarawati sambil melirik ke arah Panji Watugunung.


Wajah Rara Sunti langsung cerah seketika.


**


Sebulan kemudian..


Dua orang pria berlari menuju ke sebuah rumah di tepi kota Pakuwon Tirta.


"Kita harus secepatnya melaporkan ini ke Daha kakang.. Kalau tidak,begitu berita ini sampai ke telinga Prabu Samarawijaya takutnya sudah terlambat", ujar seorang lelaki bertubuh gempal pada seorang lelaki paruh baya yang rambutnya mulai di tumbuhi uban.


"Benar, Lumana..


Jangan sampai kita terlambat. Kita kirim lewat merpati saja bagaimana Lumana?", lelaki beruban itu berpendapat.


"Aku setuju Kakang. Mari kita lakukan", ujar lelaki bernama Lumana itu segera.


Dengan cepat, mereka menulis surat pada secuil kain dan diikat pada kaki beberapa merpati surat. Dan mereka segera melepas burung burung itu.


Burung merpati surat dengan cepat terbang ke timur.


Setelah berhenti di Bumi Sambara, prajurit penjaga berita, langsung mengganti burung merpati surat lainnya.


Dalam waktu dua hari berita penting yang di kirim sudah sampai di istana Daha.


Seorang prajurit penjaga berita di Kepatihan, langsung berlari menuju ke bangsal Kepatihan Daha.


Mapatih Jayakerti sedang asyik berbincang dengan Senopati Narapraja.


"Maaf Gusti Mapatih, ada berita penting", ujar si prajurit penjaga berita sambil mengulurkan tulisan di kain putih itu.


Mapatih Jayakerti segera membaca tulisan di kain putih itu. Wajahnya terkejut.


"Paguhan berencana memberontak"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah perjalanan nya kak 😁😁


Jangan lupa untuk dukung author terus semangat menulis dengan like 👍, vote ☝️, dan komentar 🗣️ nya


Selamat membaca kak 😁😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2