Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Ajian Triwikrama


__ADS_3

Para prajurit segera membersihkan mayat anggota Padepokan Alas Larangan yang mereka tumpas malam itu. Mereka segera mengangkut mayat mereka dengan pedati untuk di bakar di tepi hutan luar kota Kadiri.


Tumenggung Landung di bantu Demung Marakeh memapah tubuh Gumbreg yang mulai sadar dari pingsannya. Demung Rakai Sanga dan Bekel Prajurit Istana Katang-katang, Jalapaksi memapah Senopati Warigalit yang masih belum pulih sepenuhnya. Mereka segera menuju balai tamu Kayuwarajan Panjalu untuk mendapat pengobatan lebih lanjut. Dewi Srimpi terus mengawasi pengobatan mereka dengan Ilmu Tujuh Obat Mujarab nya.


"Bagaimana Gusti Senopati? Apa obat yang ku berikan memiliki khasiat?", tanya Dewi Srimpi seraya menatap wajah Senopati Warigalit yang berangsur memerah.


"Sudah lebih baik, Gusti Selir.


Terima kasih atas obat yang sudah Gusti Selir berikan", ujar Senopati Warigalit dengan wajah yang masih pucat.


Warigalit menatap Dewi Srimpi yang sibuk meracik obat untuk nya.


"Gumbreg... Bagaimana keadaan Gumbreg, Gusti Selir?", tanya Warigalit yang berusaha untuk bangkit dari tempat tidur nya.


"Gusti Senopati Warigalit tidak perlu khawatir. Gumbreg sudah sadar dari pingsannya", jawab Dewi Srimpi yang terus melanjutkan kegiatannya.


Selir ketiga Panji Watugunung itu segera menoleh ke arah dua prajurit yang bertugas menjaga kamar peristirahatan Warigalit.


"Seorang dari kalian,


Cepat panggil tabib istana Katang-katang kemari. Dua duanya suruh menghadap", perintah Dewi Srimpi segera.


Seorang prajurit berbadan tegap segera menghormat pada Dewi Srimpi dan mundur dari depan kamar peristirahatan.


Tak berapa lama kemudian, dia kembali dengan dua orang tabib istana Katang-katang. Seorang lelaki paruh baya berjenggot lebat segera menghormat pada Dewi Srimpi.


"Apa tugas untuk hamba, Gusti Selir?", tanya sang tabib istana dengan hormat.


"Awasi perkembangan kesehatan Gusti Senopati Warigalit. Jika ada masalah, cepat laporkan pada ku", ucap Dewi Srimpi seraya menyerahkan bubuk obat yang sudah di raciknya.


"Besok pagi minumkan obat ini separuh nya saja. Jangan sampai lebih", timpal Dewi Srimpi segera.


"Sendiko dawuh Gusti Selir", ujar sang tabib istana Katang-katang dengan penuh hormat.


Dewi Srimpi kemudian melangkah keluar dari kamar peristirahatan Warigalit menuju kamar peristirahatan Gumbreg diikuti oleh seorang tabib istana yang bertubuh kurus.


Tumenggung Landung dan Demung Rakai Sanga yang menemaninya segera menghormat pada Dewi Srimpi yang masuk ke dalam kamar peristirahatan.


"Bagaimana keadaan Demung Gumbreg?", tanya Dewi Srimpi segera mendekati Gumbreg yang terbaring lemah di atas ranjang.


"Kami sudah menyalurkan tenaga dalam padanya, Gusti Selir tapi keadaan nya masih lemah meski sudah sadar", jawab Tumenggung Landung sambil menghormat.


Dewi Srimpi segera meraih tangan kiri Gumbreg untuk memeriksa denyut nadi kepala pasukan perbekalan itu.


Segera Dewi Srimpi mengeluarkan sebutir pil berwarna merah darah dari botol keramik kecil yang ada di dalam kantong baju nya.


Selir ketiga Panji Watugunung itu segera memberikan obat itu pada tabib istana yang mengikuti nya.


"Minumkan obat ini pada Demung Gumbreg. Periksa denyut nadi nya secara teratur. Laporkan pada ku setiap perkembangan keadaan Demung Gumbreg", perintah Dewi Srimpi yang mendapat anggukan kepala dari sang tabib istana Katang-katang.


Usai memberikan obat, Dewi Srimpi segera melangkah menuju ke arah Puri pribadi nya.


Malam segera berlalu dengan cepat. Kokok ayam jantan bersahutan menjadi pertanda bahwa pagi sudah menjelang tiba di istana Katang-katang.


Pagi itu Panji Watugunung yang baru selesai mandi, segera berdandan layaknya Seorang Yuwaraja. Dengan di bantu oleh Cempluk Rara Sunti, Naganingrum dan Sekar Mayang, putra mahkota Kerajaan Panjalu itu terlihat tampan dan gagah.


Dari luar kamar pribadi nya, seorang prajurit menyembah dan berkata dengan sopan.


"Mohon ampun Gusti Pangeran,


Para Nayaka praja sudah menunggu kedatangan Gusti Pangeran Jayengrana di balai Paseban Agung Kayuwarajan", lapor sang prajurit dengan menghormat.


"Aku mengerti, kau boleh pergi", ujar Panji Watugunung yang segera berdiri dari tempat duduknya.


Pangeran Mahkota Kerajaan Panjalu itu segera melangkah menuju ke arah balai paseban. Dewi Anggarawati dan Ayu Galuh mengapit langkah sang Yuwaraja.


Melihat kedatangan Panji Watugunung, seluruh punggawa Kayuwarajan Panjalu segera berjongkok dan menyembah pada Panji Watugunung. Usai Panji Watugunung duduk dan mengangkat tangan kanannya, para punggawa Kayuwarajan Panjalu kembali duduk bersila di kanan dan kiri dari singgasana Yuwaraja.


"Paman Patih Saketi,


Bagaimanapun tugas yang ku berikan kepada mu? Apakah sudah beres?", tanya Panji Watugunung pada Patih Saketi.


"Mohon ampun Gusti Pangeran,


Mayat mayat para pengacau itu sudah di bereskan oleh para prajurit Kadiri sesuai perintah Gusti Pangeran", jawab Patih Saketi sambil menghormat pada Panji Watugunung.


"Bagus..


Untuk prajurit yang terbunuh, berikan santunan kepada keluarganya. Mereka telah menyelamatkan Kadiri dengan mengorbankan nyawa", perintah Panji Watugunung yang segera mendapat anggukan kepala dari Patih Saketi.


Lalu para punggawa Kayuwarajan Panjalu satu persatu mulai melaporkan pekerjaan mereka masing-masing.


"Bagus,


Aku terima laporan pekerjaan kalian.


Paman Patih Saketi, dan juga kalian semua..


Aku minta tingkatkan keamanan di wilayah kota Kadiri. Kejadian semalam bisa menjadi pembelajaran bagi kita agar berhati-hati", perintah Panji Watugunung segera.


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", seluruh punggawa Kayuwarajan Panjalu menyembah pada Sang Yuwaraja.


Usai pisowanan, Panji Watugunung segera kembali menuju ke istana pribadi nya. Istri nya yang kedua, Ayu Galuh menemaninya kesana sedangkan Dewi Anggarawati kembali ke Puri pribadi nya.


"Dinda Galuh,


Kangmas ada urusan sebentar ke Bukit Tawang, mohon maaf tidak bisa menemani mu", ujar Panji Watugunung sambil tersenyum tipis.


"Kangmas mau berangkat dengan siapa?", tanya Ayu Galuh yang tidak mengerti maksud Panji Watugunung.


"Sendiri saja Dinda, Kangmas akan menggunakan Ajian Halimun agar cepat sampai kesana", jawab Panji Watugunung yang segera duduk bersila di lantai istana pribadi nya.

__ADS_1


Pria tampan itu segera bersedekap sambil merapal mantra Ajian Halimun ajaran Ki Buyut Permana. Dan...


Cliinnngggg!!!


Panji Watugunung telah menghilang dari pandangan Ayu Galuh. Perempuan cantik itu kebingungan mencari keberadaan Panji Watugunung dan segera berlari menuju ke arah Naganingrum yang tengah duduk di depan Puri pribadi nya.


"Ayeu naon Teh?


Bingung mencari siapa?", tanya Naganingrum sambil menatap wajah Ayu Galuh.


"Kangmas Panji menghilang, adik.


Tadi dia berkata ingin ke Bukit Tawang, lalu bersedekap dan menghilang saat itu juga", jawab Ayu Galuh yang memang tidak tahu ilmu kedigdayaan Panji Watugunung.


Dewi Naganingrum tersenyum tipis.


"Eta Akang Kasep enteu menghilang atuh Teh,


Itu memang kemampuan Ajian Halimun yang bisa membuat pemakainya menembus ruang dan waktu.


Teteh mah aya aya wae nya", ujar Naganingrum dengan senyum tipis terukir di wajah nya.


Mendengar penjelasan Naganingrum, Ayu Galuh menarik nafas lega. Kekhawatiran nya musnah seketika.


Sementara itu di Bukit Tawang, Panji Watugunung yang muncul tiba-tiba di tengah Padepokan Padas Putih membuat para murid yang sedang berlatih terkejut bukan main.


Seorang murid yang dituakan, Wirotama yang mengenali Watugunung segera mendekati Sang Yuwaraja Panjalu.


"Selamat datang di Padepokan Padas Putih, Gusti Pangeran.


Mari silahkan saya antar menemui guru", ujar Wirotama dengan sopan.


Panji Watugunung segera mengangguk dan berjalan mengikuti langkah Wirotama menuju ke serambi kediaman Mpu Sakri, gurunya.


Saat mereka masuk ke serambi, Mpu Sakri yang sedang bercakap-cakap dengan Mpu Narasima terkaget melihat kedatangan murid kesayangannya itu.


"Sembah bakti saya Guru", ujar Panji Watugunung segera.


"Ya Nakmas Pangeran, sembah bakti mu aku terima.


Ada keperluan apa Nakmas Pangeran kemari?", tanya Mpu Sakri dengan cepat. Tidak biasanya Panji Watugunung dadakan mengunjungi Padas Putih, pasti ada sesuatu yang penting.


"Begini Guru,


Semalam terjadi penyerangan di Katang-katang. Kakang Warigalit terluka parah saat menghadapi Pangeran Alas Larangan. Walaupun sekarang keadaannya sudah membaik, tapi itu masih mengkhawatirkan ku.


Bisakah guru menurunkan ilmu kanuragan tingkat tinggi untuk Kakang Warigalit?", ujar Panji Watugunung dengan penuh pengharapan.


Hemmmm..


Mpu Sakri mengerutkan keningnya yang sudah keriput. Kakek tua itu terdiam beberapa saat. Kakak seperguruan nya, Mpu Narasima jelas tidak mau menurunkan ilmu pada Warigalit yang dianggapnya tidak berbakat.


"Baiklah,


Panji Watugunung menarik nafas lega.


"Kapan guru mulai bisa mengajari Kakang Warigalit?", tanya Panji Watugunung segera.


"Segera saja,


Aku tahu keadaan sekitar Panjalu dan Jenggala mulai memanas lagi setelah kematian Airlangga. Sebagai pilar utama kekuatan Kadiri, Warigalit memang harus mendapatkan tambahan ilmu untuk menghadapi segala situasi yang terjadi", ucap Mpu Sakri dengan cepat.


Panji Watugunung tersenyum lebar. Mpu Sakri memang paling memahami nya.


Dengan bantuan Ajian Halimun, dalam sekejap, Panji Watugunung dan Mpu Sakri telah sampai di dalam istana Katang-katang.


Mulai hari itu, Mpu Sakri kembali melatih Warigalit yang baru pulih dari cideranya.


Satu purnama kemudian..


Warigalit telah menyelesaikan apa yang di berikan oleh Resi Mpu Sakri, begitu pula Sekar Mayang dan Ratna Pitaloka yang ikut menambah ilmu beladiri mereka saat guru mereka tinggal di istana Katang-katang.


Seorang lelaki tua yang nampak seperti seorang pertapa berdiri di depan istana Katang-katang. Pakaian nya terlihat lusuh dengan robekan disana sini. Rambutnya yang di gelung ukel nampak memutih sewarna dengan jenggot panjang nya yang memutih.


"Permisi Kisanak,


Apa benar ini Istana Katang-katang tempat tinggal Pangeran Jayengrana?", tanya si lelaki tua itu pada prajurit penjaga gerbang istana.


"Benar pertapa,


Apa yang kau inginkan dari Gusti Pangeran Jayengrana?", tanya si prajurit penjaga gerbang istana Katang-katang dengan ramah.


"Aku mau bertemu dengan Gusti Pangeran Jayengrana, kisanak.


Bisakah kau membantuku?", si pertapa tua itu menatap wajah prajurit dengan penuh harap.


"Kau tunggu disini dulu pertapa tua,


Aku akan menemui Gusti Pangeran Jayengrana di dalam istana", ujar si prajurit penjaga gerbang istana yang segera berlalu menuju ke dalam istana.


Panji Watugunung yang sedang berbincang dengan Tumenggung Ludaka yang baru kembali dari mengantar surat Panji Watugunung ke Adipati Paguhan, Kalingga, Rajapura, Bhumi Sambara dan Kembang Jenar.


Mereka sudah mengirimkan pasukan yang diminta oleh Panji Watugunung. Para punggawa yang lain juga mulai menata pemukiman para prajurit yang tengah di persiapkan untuk menghindari perang besar.


Dengan penuh antusias, Panji Watugunung mendengar laporan para bawahannya saat si prajurit penjaga gerbang istana itu menghadap kepada nya.


"Mohon ampun Gusti Pangeran,


Seorang pertapa tua memohon agar diperkenankan untuk menghadap kepada Gusti Pangeran", lapor si prajurit dengan penuh hormat.


"Ijinkan dia masuk kemari", ujar Panji Watugunung segera.

__ADS_1


Si prajurit penjaga gerbang istana segera menghormat pada Panji Watugunung dan segera mundur dari serambi istana pribadi Yuwaraja.


Tak berapa lama kemudian dia kembali bersama seorang lelaki tua yang berdandan layaknya seorang pertapa. Semua perhatian para punggawa Kayuwarajan Panjalu segera tertuju pada kakek tua itu.


"Salam Resi,


Ada apa kau kemari mencari ku?", tanya Panji Watugunung yang segera menatap wajah sepuh di depan nya itu.


"Saya Resi Begawan Wisrawa dari Gunung Mahameru..


Jauh jauh datang kemari hanya untuk bertemu dengan Panji Watugunung, yang ditakdirkan untuk menjadi penentram tanah Jawa.


Bila diijinkan, aku ingin memberikan sesuatu kepada mu, Gusti Pangeran", ujar Resi Wisrawa sambil membungkuk hormat pada Panji Watugunung.


"Apa maksud mu Kanjeng Resi?


Aku tidak memahami maksud mu", tanya Panji Watugunung yang penasaran dengan ucapan Resi Begawan Wisrawa.


Resi Wisrawa tersenyum penuh arti. Kakek tua itu segera membuka telapak tangan yang menangkup di depan dada nya.


Whuuussshh


Tiba-tiba secercah cahaya menyilaukan mata terpancar dari tangan Resi Begawan Wisrawa. Semua orang langsung menutup mata karena tidak kuat menatap nya.


Saat mata para punggawa Kayuwarajan Panjalu terbuka, Panji Watugunung dan Resi Begawan Wisrawa sudah tidak ada di balai paseban agung.


Istana Kadiri langsung gempar.


Resi Begawan Wisrawa dan Panji Watugunung sudah duduk bersila di puncak Gunung Kelud.


"Nakmas Pangeran,


Maaf aku memakai cara ini untuk membawa mu kemari. Sekarang pasti istana Katang-katang heboh dengan menghilang nya dirimu", ujar Resi Begawan Wisrawa sambil tersenyum tipis.


"Aku tidak masalah Resi,


Aku hanya penasaran apa tujuan mu membawa ku kemari", tanya Panji Watugunung segera.


"Begini Nakmas Pangeran,


Sepeninggal Prabu Airlangga, kau sebagai keturunan Lokapala yang berhak mewarisi ilmu Ajian Triwikrama yang merupakan tanda kau yang terpilih sebagai penentram Tanah Jawa.


Ilmu kedigdayaan ini berpindah ke tubuh ku saat Prabu Airlangga moksa. Namun sangat membebani tubuh ku. Raga ku tidak mampu menahan beban ilmu ini lebih lama lagi.


Dengan ilmu ini, kau bisa berubah menjadi raksasa besar berwarna merah atau Butha Agni.


Akan ku turunkan Ajian Triwikrama sebagai penguat daya batin mu. Kendalikan hawa amarah mu, dan pergunakan Ajian ini saat paling genting saja", ujar Resi Begawan Wisrawa dengan jelas.


Panji Watugunung mengangguk mengerti. Perlahan dia memejamkan mata, menata nafas dan tenaga dalam nya.


Segera Resi Begawan Wisrawa meletakkan jempol tangan kanannya ke dahi Panji Watugunung. Sebuah sinar merah keemasan langsung mengalir dari jempol tangan kanan Resi Begawan Wisrawa.


Perlahan tubuh Panji Watugunung membesar dan terus membesar layaknya raksasa yang berwarna merah. Saat mencapai puncak, Resi Begawan Wisrawa melepaskan jempol tangan kanannya.


"Sekarang buka mata mu, Nakmas Pangeran", perintah Resi Begawan Wisrawa yang melayang di udara tepat di depan wajah Panji Watugunung.


Panji Watugunung segera membuka mata nya dan mendapati dirinya telah berubah menjadi seorang raksasa besar dengan wajah menyeramkan.


"Tata pikiran mu dan kembalilah pada wujud mu yang sebenarnya", perintah Resi Begawan Wisrawa yang membuat Panji Watugunung segera menata daya batin nya. Perlahan tubuh Panji Watugunung mengecil ke wujud semula.


"Terimakasih atas tambahan ilmu yang Resi berikan kepada saya", ujar Panji Watugunung yang segera menghormat pada Resi Begawan Wisrawa.


"Tidak Nakmas Pangeran,


Dengan ini selesai sudah tugas ku sebagai wadah Ajian Triwikrama. Selamat tinggal Nakmas Pangeran", ujar Resi Begawan Wisrawa. Tubuh kakek tua itu perlahan berubah menjadi abu dan menghilang di terpa angin.


Panji Watugunung terpana melihat itu semua.


Setelah itu, dia segera merapal Ajian Halimun dan kembali ke balai paseban agung Kadiri.


Ayu Galuh yang melihat sang suami segera mendekatinya.


"Kemana saja kau, Kangmas Panji?"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya 😁

__ADS_1


Yang suka silahkan tinggalkan jejak dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya


Selamat membaca 🙏🙏


__ADS_2