Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Candani, Harsa dan Gentala


__ADS_3

Sebelumnya Mapatih Jayakerti takut kalau Ayu Galuh tidak mengijinkan Panji Watugunung untuk bertugas, namun melihat putri Prabu Samarawijaya itu berjiwa besar, ada sebentuk kekaguman pada Ayu Galuh.


Dulu Ayu Galuh di cap pembangkang oleh Prabu Samarawijaya karena tidak pernah mematuhi peraturan di istana Daha, suka bertindak seenaknya sendiri, sedikit kejam dan menang sendiri. Namun setelah menikah dengan Panji Watugunung, sifat bengal Ayu Galuh perlahan hilang dan berganti layaknya putri raja.


"Gusti Mapatih,


Saya akan berangkat dalam pakaian penyamaran agar lebih mudah masuk ke Kawali. Untuk dukungan keamanan, saya minta semua telik sandi di sepanjang perjalanan untuk menemui saya.


Setengah purnama setelah saya berangkat, mohon Senopati Narapraja segera menyusul saya di Kalingga.


Apa bisa di terima Gusti Mapatih?", Panji Watugunung menatap wajah Mapatih Jayakerti segera.


Warangka kerajaan Panjalu itu tersenyum tipis.


"Saya mengerti apa yang di inginkan Gusti Pangeran. Sebelum berangkat ke Galuh Pakuan, mohon Gusti Pangeran ke istana Daha untuk menerima nawala yang akan di berikan pada Prabu Darmaraja di Kawali", jawab Mapatih Jayakerti kemudian.


Panji Watugunung mengangguk tanda setuju. Mapatih Jayakerti dan Senopati Narapraja malam itu bermalam di Gelang-gelang, sambil melihat pertunjukan perayaan kelahiran cucu Bupati Gelang-gelang.


Keesokan harinya, rombongan Mapatih Jayakerti meninggalkan istana Gelang-gelang dan kembali ke Daha. Panji Watugunung berjanji akan bertugas usai upacara sepasaran putranya yang juga penentuan nama untuk bayi itu.


Malam itu, upacara sepasaran putra Panji Watugunung di hadiri Adipati Seloageng Tejo Sumirat dan Nararya Candradewi. Tejo Sumirat tertawa terbahak-bahak mendengar namanya diikutkan pada nama cucu nya ini. Nararya Candradewi tak henti hentinya meneteskan air mata kebahagiaan.


Pagi menjelang tiba. Mendung hitam menggelayut mesra di langit pagi. Sinar matahari kesulitan menembus tebal nya awan membuat cuaca pagi itu terasa dingin. Burung burung berkicau dan berkejaran di ranting pohon, pertanda musim penghujan segera datang ke bumi Panjalu.


Usai melakukan persiapan, Panji Watugunung segera memanggil Warigalit.


"Kakang Warigalit,


Kali ini aku tidak bisa mengajak mu berangkat ke Kawali. Aku minta Kakang ke Sanggur dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk persiapan ke Kalingga setengah purnama lagi.


Apa Kakang tidak keberatan?", tanya Panji Watugunung sambil tersenyum tipis.


"Baik Dhimas,


Serahkan semua pada ku", Warigalit mengangguk tanda mengerti.


"Aku titip nawala untuk Paman Saketi,


Biar nanti dia yang membagi apa yang sudah aku putuskan", imbuh Panji Watugunung segera.


Panji Watugunung kemudian mendekati Dewi Anggarawati dan Ayu Galuh. Dua istri nya itu tampak bersedih hati.


"Jangan khawatir Dinda Anggarawati, Kakang pasti kembali dengan selamat.


Jaga baik-baik putra ku selama aku menjalankan tugas", ujar Panji Watugunung yang segera di balas anggukan kepala dari Dewi Anggarawati.


"Dinda Galuh,


Selama Kakang bertugas, Dinda baik baik disini. Kali ini Kakang tidak bisa mengajak mu ikut. Keselamatan Panji kecil di perutmu adalah yang terutama", Panji Watugunung mengelus rambut hitam Ayu Galuh. Perempuan cantik itu langsung terisak lirih.


"Kangmas harus berjanji untuk segera pulang saat tugas ini selesai", ujar Ayu Galuh segera. Panji Watugunung langsung memeluk tubuh dua istri nya itu. Tak lupa dia mencium kening Panji Tejo Laksono yang ada di gendongan Dewi Anggarawati.


"Cempluk,


Kali ini aku tidak bisa mengajak mu ikut. Tolong kau bantu dua saudara mu ini selama aku tidak ada. Aku berjanji sepulang dari tugas, aku akan menikahi mu.


Bisa kau bantu aku?", Panji Watugunung menatap wajah Cempluk Rara Sunti yang berdiri di belakang Dewi Anggarawati dan Ayu Galuh.


"Aku berjanji Kakang, akan ku jaga dua kakak ku ini seperti menjaga nyawa ku sendiri", jawab Cempluk Rara Sunti dengan raut wajah berseri.


Usai berpamitan kepada keluarganya, Panji Watugunung dan ketiga selir nya segera melompat ke atas kuda mereka masing masing. Setelah menoleh sebentar, putra Bupati Gelang-gelang itu menggebrak kuda nya melesat cepat menuju ke arah istana Daha.


Dewi Anggarawati, Ayu Galuh dan Cempluk Rara Sunti menatap kepergian Panji Watugunung dan ketiga selir nya hingga mereka menghilang di tikungan jalan.


Menjelang tengah hari, Panji Watugunung sudah sampai di istana Dahanapura. Mapatih Jayakerti segera mengantarkan mereka ke ruang pribadi raja.


Sang Prabu Samarawijaya memberikan lencana Chandrakapala, sepucuk surat untuk Prabu Darmaraja di Kawali dan bekal perjalanan pada mereka berempat.


Usai menghadap Raja Panjalu, mereka menuju bangsal Kepatihan untuk berganti baju. Kini mereka berdandan layaknya seorang pendekar dengan busana ala rakyat biasa.


Panji Watugunung dan ketiga selir nya segera memacu kuda mereka menuju ke dermaga penyeberangan menuju Anjuk Ladang. Mereka akan menempuh perjalanan ke Kawali, melalui Lasem, Kalingga, Kembang Kuning, dan Rajapura. Mereka tidak akan ke Paguhan yang ada di selatan wilayah Rajapura sebelum ke Kawali lebih dulu.

__ADS_1


Menjelang sore, Panji Watugunung dan ketiga selir nya memutuskan untuk beristirahat di rumah penginapan di wilayah Pakuwon Berbek, di tempat mereka dulu pernah singgah, Penginapan Kembang Sore.


Seorang lelaki muda yang bertugas sebagai pelayan, langsung menyambut kedatangan Panji Watugunung dan ketiga selir nya saat mereka masuk ke penginapan itu usai memberikan kekang kuda pada para pekatik kuda Penginapan Kembang Sore. Dia mengernyitkan keningnya merasa tidak asing dengan wajah 4 orang itu.


"Selamat datang di Penginapan Kembang Sore, Pendekar muda. Sepertinya kalian pernah datang kesini sebelumnya.


Apa aku benar?", tanya sang pelayan itu segera.


"Mata mu cukup jeli juga dalam mengingat orang. Benar sekali, kami pernah menginap disini sebelumnya", jawab Panji Watugunung sambil tersenyum tipis.


"Oh hebat sekali..


Mari silahkan duduk. Aku akan menyiapkan makan malam untuk kalian", ujar pelayan itu dengan ramah.


Penginapan Kembang Sore masih tetap ramai seperti saat mereka datang.


Mereka berempat mendapat meja di salah satu sudut ruang makan. Tak berapa lama kemudian, Panji Watugunung dan ketiga selir nya sudah menikmati sedapnya makanan yang disajikan oleh pelayan muda itu.


Usai makan bersama, Sekar Mayang yang mengurus pembayaran untuk mereka bermalam. 10 kepeng perak dia berikan kepada sang pelayan itu, sebagai ongkos makan dan bermalam. Malam itu mereka beristirahat dengan tenang.


Keesokan paginya, Panji Watugunung dan ketiga selir nya melanjutkan perjalanan setelah sarapan pagi. Tak lupa sekeping perak diberikan kepada para pekatik yang sudah memberikan rumput hijau untuk kuda mereka. 2 orang pekatik itu langsung menghaturkan terima kasih berulang kali, karna sekeping perak sama dengan setengah gaji mereka selama 10 hari bekerja.


Cuaca mendung mengiring langkah kaki kuda mereka menuju ke perbatasan Lasem.


Di tepi hutan dekat perbatasan antara Lasem dan Anjuk Ladang mereka berhenti sejenak untuk beristirahat. Panji Watugunung segera mengikat tali kekang kudanya pada pohon perdu yang tumbuh di tepi hutan itu. Para selir pun mengikuti langkah sang suami.


Dewi Srimpi membuka perbekalan yang mereka beli di kota pakuwon yang sempat mereka lewati.


Saat mereka sedang asyik menikmati makanan, dari timur tiga orang berkuda mendekat ke arah mereka. Seorang perempuan berbaju putih dan 2 orang lelaki berpakaian sama. Sepertinya mereka saudara seperguruan.


Mereka bertiga langsung turun begitu melihat Panji Watugunung dan ketiga selir nya.


"Maaf Kisanak,


Apakah ini jalan menuju ke arah Lasem?", tanya sang perempuan itu sambil menatap wajah Panji Watugunung.


"Menurut penduduk di wanua tadi, kalau lurus akan ke kota Kadipaten Lasem, nisanak tapi kalau sampai di Pakuwon Poh Telu, belok kiri akan menuju ke Kalingga", jawab Watugunung sambil menggigit pisang rebus nya.


"Apa kalian bukan penduduk sini Kisanak?", tanya pemuda berkumis tipis di belakang perempuan itu.


"Kebetulan sekali, kami juga akan ke Kalingga. Apa sebaiknya kita melakukan perjalanan bersama sama jika kalian tidak keberatan?


Semakin banyak orang, kita bisa saling melindungi bukan?", ujar si perempuan berbaju putih itu dengan sopan.


"Apa kau tidak takut kalau kami berbuat jahat nisanak?", Ratna Pitaloka angkat bicara.


Perempuan itu tersenyum tipis.


"Melihat cara berpakaian kalian yang rapi dan sopan, kalian pasti bukan orang jahat.


Sebagai awal pertemanan kita, aku Candani. Ini adik seperguruan ku Harsa dan Gentala".


Dua pemuda di samping perempuan bernama Candani itu mengangguk.


"Kalau kalian tidak curiga, kami berterima kasih atas kepercayaannya.


Aku Watugunung, ini Pitaloka, yang itu Mayang dan yang di belakang ku ini Srimpi", Panji Watugunung tersenyum tipis.


"Silahkan duduk nisanak, kami memiliki sedikit makanan. Lumayan untuk mengganjal perut", Ratna Pitaloka mempersilakan tiga orang itu untuk duduk bersama.


Mereka kemudian berbincang hangat. Usai makan, mereka melanjutkan perjalanan. Hari menjelang sore. Langit berwarna merah di ufuk barat.


Belum sempat masuk kota Pakuwon Poh Telu, puluhan orang berwajah seram mencegat mereka di luar kota Pakuwon.


"Berhenti!


Teriak seorang lelaki berkumis tebal dengan badan gempal.


"Serahkan harta kalian, jika tidak akan ku cabut nyawa kalian semua".


Phuihhh

__ADS_1


"Begal busuk,


Bosan hidup kau rupanya", Gentala si badan besar mendelik tajam kearah gerombolan begal itu.


"Bangsat!!


Bunuh mereka semua", teriak kepala begal itu segera.


Puluhan orang itu langsung merangsek maju sambil mencabut senjata masing-masing.


Gentala langsung menerjang kearah salah satu anggota begal itu.


Bukkkk


Tendangan keras Gentala langsung membuat anggota begal itu tersungkur seketika.


Harsa tak mau kalah. Kakak seperguruan Gentala itu segera melompat ke udara dan membabatkan pedang kearah leher seorang anggota begal.


Crashhhh


Anggota begal itu tewas dengan leher nyaris putus.


Candani pun sama, dengan cepat perempuan berbaju putih itu melesat cepat ke arah pemimpin begal itu sambil mengayunkan pedangnya. Pemimpin begal itu gelagapan saat pedang Candani terarah cepat pada leher nya. Buru buru dia menjatuhkan diri dan berguling ke tanah.


Pertarungan sengit segera terjadi.


Saat Sekar Mayang hendak melompat, dia segera mengurungkan niatnya saat Panji Watugunung memberikan isyarat agar tidak bergerak.


Candani terus menyerang kepala begal itu dengan jurus jurus cepatnya.


Satu persatu anak buah begal itu mulai berjatuhan di hajar Harsa dan Gentala. Melihat keadaan yang tidak menguntungkan baginya, kepala begal itu segera menyerang dengan gerak tipu. Kemudian dia kabur ke rimbun pohon di kegelapan senja.


Phuihhh


"Ternyata pengecut. Main kabur begitu saja", umpat Candani sambil menyarungkan kembali pedangnya.


"Pendekar sungguh hebat, kami beruntung karena melakukan perjalanan bersama kalian", ujar Panji Watugunung sambil tersenyum tipis.


"Jangan merendah kisanak, aku tahu kalian juga memiliki kemampuan beladiri. Ayo kita lanjutkan perjalanan", Candani segera melompat ke atas kuda nya di ikuti Harsa dan Gentala. Mereka segera bergegas meninggalkan tempat itu karena hari mulai gelap.


Di sebuah penginapan di tepi kota Pakuwon Poh Telu, mereka bertujuh segera berhenti. Mereka masuk dan memesan makanan. Saat mereka asyik menikmati hidangan, seorang lelaki berambut panjang dengan bekas luka di pipi, mendekati mereka.


"Apa kau yang bernama Watugunung?"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah perjalanan Panji Watugunung dalam pengabdian kepada negeri tercinta.

__ADS_1


Yang sudah memberikan dukungannya, author mengucapkan beribu terima kasih ❤️❤️❤️


Selamat membaca guys 😁😁😁😁


__ADS_2