Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Gadis Pendekar dari Gunung Wilis


__ADS_3

"Gusti Putri,


Jangan keras-keras ngomong nya, nanti kalau ketahuan rencana kita bisa gagal", ujar seorang gadis muda yang mengiringi perempuan cantik berbaju hijau muda itu.


"Kali ini aku tidak akan gagal, Puspa Abang..


Ilmu beladiri ku sudah meningkat pesat dibandingkan 2 warsa yang lampau. Begawan Mpu Lodang sudah menurunkan ilmu Ajian Gelap Ngampar pada ku, dan aku yakin gadis desa itu tidak akan bisa mengalahkan ku", ujar si wanita cantik berbaju hijau muda itu dengan penuh keyakinan.


"Iya kami percaya Gusti Putri,


Selama dua warsa ini Gusti Putri dikenal sebagai pendekar muda yang sakti dari wilayah Lembah Gunung Wilis.


Tapi kita juga tidak bisa meremehkan kekuatan orang orang dari Gelang-gelang", ucap Puspa Putih, salah satu dari dua pengiring wanita cantik berbaju hijau muda yang tak lain adalah Dewi Ambarwati, putri Akuwu Rakeh Pamintihan dari Pakuwon Sukowati.


Setelah kekalahan tempo hari dari Ratna Pitaloka, Dewi Ambarwati berguru kepada Mpu Lodang, salah satu dari Resi terkenal di lereng Gunung Wilis.


Selama hampir satu warsa, Mpu Lodang menempa diri dan pikiran Dewi Ambarwati untuk menjadi pendekar tangguh.


Alhasil, Dewi Ambarwati menjelma menjadi pendekar pilih tanding di wilayah Kadipaten Kurawan dan perbatasan Wengker.


Selama dua warsa terakhir, sepak terjangnya di dunia persilatan sangat diakui oleh lawan-lawannya hingga mendapat julukan sebagai Gadis Pendekar dari Lembah Wilis.


Dia mengasah kemampuan beladiri lewat pertarungan dengan banyak pendekar, terutama dari golongan hitam.


Satu hal yang mendasari perkembangan kemampuan beladiri itu, rasa cinta kepada Panji Watugunung. Dia bertekad untuk mengalahkan Ratna Pitaloka hingga dia pantas menjadi istri Panji Watugunung.


Si lelaki bertubuh gempal itu menatap wajah cantik Dewi Ambarwati dengan penuh keheranan.


"Maaf nisanak,


Aku mendengar putra Bupati Gelang-gelang bernama Watugunung. Apa dia orang yang kau cari?", tanya si lelaki bertubuh gempal itu segera.


"Yang jelas dia orang yang sangat tampan. Aku tidak tahu dia putra seorang Bupati atau bukan, yang penting aku akan mencari nya di Gelang-gelang.


Ayo seberangkan kami", ucap Dewi Ambarwati sambil melangkah menuju ke perahu penyeberangan yang ada di dermaga sambil menuntun kuda nya. Puspa Abang dan Puspa Putih mengikuti langkah Dewi Ambarwati.


Si pemilik perahu penyeberangan itu hanya tersenyum tipis sambil geleng-geleng kepala melihat ulah Dewi Ambarwati.


Perahu penyeberangan itu segera bergerak menuju ke seberang sungai. Dengan 6 awak, perlahan perahu itu mulai membelah arus sungai Brantas yang sedikit besar karena air nya keruh akibat musim penghujan yang telah mulai.


Setelah perahu penyeberangan merapat di dermaga seberang sungai, Dewi Ambarwati dan kedua pengiringnya segera turun usai membayar 3 kepeng perak dan 6 kepeng perunggu untuk biaya menyeberang mereka.


Mereka segera memacu kuda menuju ke arah kota Kabupaten Gelang-gelang.


Saat hampir tengah hari, Dewi Ambarwati dan kedua pengiringnya sudah sampai di kota Gelang-gelang.


Ketiga perempuan cantik itu berhenti di sebuah warung makan yang terlihat ramai oleh pengunjung. Usai menambatkan kuda pada geladakan yang ada di samping pintu masuk warung makan, mereka masuk kesana.


Kehadiran tiga perempuan cantik itu segera mendapat perhatian dari para pengunjung warung makan.


Seorang lelaki bertubuh tegap dengan pakaian putih seperti seorang pendekar, terus menatap ke arah Dewi Ambarwati dan kedua pengiringnya.


"Kau tertarik dengan perempuan itu, Jayaseta?", tanya seorang lelaki paruh baya yang duduk di sebelah nya. Pria berjambang lebat dengan kumis tebal itu tersenyum penuh arti.


"Tentu saja Paman,


Gadis secantik itu siapa yang tidak suka?", jawab Jayaseta sembari menatap ke arah Dewi Ambarwati.


"Kalau kau suka, dekati saja.


Masak murid Perguruan Pedang Perak takut mendekati perempuan? Memalukan aku saja", ujar lelaki berjambang lebat itu sambil senyum-senyum mesum.


"Bukan takut paman Kramayuda, tapi kelihatannya gadis itu bukan perempuan biasa.


Lihat saja dari dandanan nya", ujar Jayaseta yang masih memperhatikan Dewi Ambarwati.


Dewi Ambarwati yang merasa diperhatikan, langsung mendekati mereka berdua.


"Hei kau,


Kenapa dari tadi matamu melotot terus kearah ku? Minta aku colok ya?", ujar Dewi Ambarwati dengan galaknya.


Jayaseta dan Kramayuda langsung tersipu malu mendapat teguran keras dari Dewi Ambarwati. Apalagi semua pengunjung warung makan langsung memperhatikan mereka.


"Maaf nisanak,


Kami tidak sengaja melihat mu. Itu ketidaksengajaan. Mohon nisanak tidak marah", ujar Jayaseta dengan sopan.


"Alah di dunia ini maling mana ada yang mau ngaku.


Kalau kalian terus menatap ku, aku tidak segan-segan mencongkel biji mata kalian. Kalian camkan itu", usai berkata demikian, Dewi Ambarwati segera membalik badan nya hendak kembali ke meja makan nya.


Namun Kramayuda yang merasa diremehkan oleh Dewi Ambarwati segera berdiri dari tempat duduknya.


"Sombong sekali mulutmu itu, gadis tengik!


Apa kau pikir kami takut terhadap gertakan mu ha?", Kramayuda mendelik tajam ke arah Dewi Ambarwati.


"Hooohh..


Ada yang tersinggung dengan perkataan ku rupanya. Kalau tidak mau dihina orang, jangan suka menatap wanita dengan tatapan cabul seperti itu, Kumis Kucing!


Orang mesum seperti mu layak mendapat hinaan, tahu!", Dewi Ambarwati segera membalik badan dan melotot ke arah Kramayuda.


"Gadis sinting!


Mulutmu layak mendapat pelajaran", teriak Kramayuda yang segera melompat maju hendak menampar Dewi Ambarwati.


Whuuuuttt


Namun sebelum tangan Kramayuda menyentuh kulit wajah Dewi Ambarwati, perempuan cantik itu mundur selangkah dan dengan cepat melayangkan tendangan keras kearah perut Kramayuda.

__ADS_1


Deshhhh


Ougghhh


Kramayuda langsung meraung keras saat tendangan dari Dewi Ambarwati telak mengenai perutnya. Lelaki paruh baya itu terpental dan menabrak meja makan di belakangnya.


Bruakkk


Meja makan langsung hancur berantakan, tak kuat menahan beban tubuh Kramayuda.


Melihat Kramayuda jatuh, Jayaseta naik darah. Dia tidak terima paman nya di hajar orang. Pemuda itu segera melesat cepat kearah Dewi Ambarwati sambil melayangkan pukulan ke arah kepala gadis itu.


Whuuuuttt


Dewi Ambarwati berkelit ke samping kanan Jayaseta, dengan cepat menangkap tangan pemuda itu dan menariknya dengan keras.


Jayaseta terkejut bukan main.


Saat tubuh Jayaseta tertarik oleh tarikan tangan ramping Dewi Ambarwati, lengan kiri gadis itu dengan cepat menghantam dada Jayaseta.


Bukkkkk


Jayaseta langsung meringkuk menahan sakit pada dadanya, namun serangan Dewi Ambarwati rupanya masih berlanjut.


Dengkul kiri gadis itu dengan cepat menghantam pinggang Jayaseta yang membuat pemuda itu terjungkal ke depan sambil menabrak meja makan.


Bruakkk


Sebuah meja makan kembali hancur berantakan tertimpa tubuh Jayaseta.


Semua orang langsung berhamburan keluar dari warung makan, takut menjadi korban serangan nyasar.


Kramayuda yang baru bangun dari jatuhnya, mengusap darah yang menetes dari sudut bibirnya. Mata pria paruh baya itu begitu geram dengan tindakan Dewi Ambarwati.


Salah satu sesepuh Perguruan Pedang Perak itu segera mencabut pedangnya yang berwarna putih berkilau seperti perak.


Dengan cepat ia mengayunkan pedangnya kearah leher Dewi Ambarwati.


Sreeeetttt


Angin dingin tenaga dalam menyertai sabetan pedang Kramayuda. Dewi Ambarwati yang merasakan hawa pekat pembunuh segera bersiap. Gadis itu segera melompat mundur beberapa langkah. Dengan cepat, gadis cantik ini segera menendang sebuah kursi kayu yang ada di dekat nya.


Bakkkk!!


Kursi kayu melayang ke arah Kramayuda.


Pria paruh baya itu segera menebas kursi kayu yang melayang cepat kearah nya.


Braakkkk!!


Saat yang bersamaan, Dewi Ambarwati segera melesat maju sambil mengayunkan pedangnya kearah Kramayuda.


Kramayuda yang baru saja menebas kursi kayu, gelagapan dengan serangan cepat Dewi Ambarwati. Pria paruh baya itu segera memutar pedangnya dan memapas serangan pedang yang mengincar kepalanya.


Tranggg!!


Bunga api kecil tercipta akibat benturan dua senjata mereka. Melihat serangan nya bisa ditangkis, Dewi Ambarwati dengan cepat menyapu kaki kanan Kramayuda.


Kuda kuda Kramayuda yang rapuh, langsung buyar saat sapuan kaki kanan Dewi Ambarwati menghajar betis kirinya.


Deshhhh


Kramayuda limbung. Belum sempat dia menyentuh tanah, tendangan keras kaki kiri Dewi Ambarwati yang baru memutar tubuhnya membuat terpental ke belakang dan menghantam dinding kayu warung makan itu hingga jebol.


Bruakkk


Kramayuda langsung muntah darah segar dan roboh seketika.


Jayaseta dengan ketakutan langsung berlari ke arah Kramayuda yang pingsan. Melihat pamannya masih hidup, Jayaseta menarik nafas lega.


Dengan sedikit tertatih, Jayaseta memapah tubuh Kramayuda yang sedang terluka dalam meninggalkan tempat itu.


"Hihh..


Ilmu seujung kuku sombong nya minta ampun. Untung saja aku masih berbaik hati melepaskan nyawamu", ujar Dewi Ambarwati sambil berjalan mendekati meja makan nya.


Dua pengiringnya langsung bertepuk tangan.


"Gusti Putri memang hebat", ujar Puspa Abang sambil tersenyum tipis.


"Pendekar kelas teri seperti mereka kalau tidak diberi pelajaran, akan seenaknya melecehkan perempuan.


Dipikir aku akan tertarik dengan lelaki seperti mereka. Cinta ku hanya untuk Watugunung, bukan untuk pendekar kroco seperti mereka", sungut Dewi Ambarwati dengan raut muka di tekuk.


"Sabar Gusti Putri..


Kita sudah sampai di Gelang-gelang. Pasti kita bisa menemukan Watugunung disini", ujar Puspa Putih dengan cepat.


"Bukankah menurut tukang perahu penyeberangan tadi Watugunung adalah putra Bupati Gelang-gelang.


Kenapa kita tidak ke istana Kabupaten Gelang-gelang saja Gusti Putri?", Puspa Abang menatap wajah Dewi Ambarwati.


"Benar juga omongan mu, Puspa Abang..


Selepas makan kita ke istana Gelang-gelang saja untuk menanyakan masalah ini", ujar Dewi Ambarwati segera. Mereka menikmati hidangan yang disajikan di warung makan itu seolah tak terjadi apa-apa.


"Pelayan,


Hitung berapa semua nya?", tanya Puspa Abang pada pelayan warung makan yang ketakutan melihat orang berkelahi.


"Ti-tidak usah Pendekar muda,

__ADS_1


Tidak usah bayar saja", ujar si pelayan warung makan itu dengan muka pucat.


"Eh tidak boleh begitu, yang namanya makan ya harus bayar.


Ini cukup kan?", Dewi Ambarwati menyerahkan 10 kepeng perak kepada pelayan warung makan itu.


"I-ini terlalu banyak pendekar muda, aku tidak berani menerima nya", si pelayan warung makan bergidik ketakutan.


"Sudahlah, ambil saja..


Untuk mengganti kerusakan warung mu kisanak, agar kau tidak merugi", jawab Dewi Ambarwati segera.


Pelayan warung makan itu langsung mengucapkan terima kasih berulang kali kepada Dewi Ambarwati dan kedua pengiringnya.


Ketiga perempuan dari Pakuwon Sukowati itu segera meninggalkan warung makan menuju ke arah Istana Gelang-gelang.


Sementara itu, Panji Watugunung yang baru pulang dari Pertapaan Lembah Hijau sedang melakukan pemeriksaan di beberapa tempat yang dijadikan lumbung pangan bersama Demung Gumbreg dan Senopati Warigalit.


Mereka berkeliling mulai dari Kadri hingga ke Kunjang. Di beberapa Wanua, mereka melihat hamparan sawah yang mulai menghijau di lahan yang baru di buka.


Perjalanan mereka selalu menjadi pusat perhatian para penduduk yang tinggal di sepanjang rute yang mereka lalui.


Saat sampai di Kunjang, mereka berhenti di Wanua Sambu yang ada di barat kota Pakuwon Kunjang.


Lurah Wanua Sambu, Mpu Sengka menyambut kedatangan Panji Watugunung dan rombongannya di gapura masuk Wanua Sambu dengan penuh hormat.


"Selamat datang di Wanua Sambu, Gusti Pangeran Jayengrana.


Hamba Mpu Sengka memberikan hormat pada Gusti Pangeran Jayengrana dan rombongan", ujar Lurah berambut putih itu.


"Terima kasih atas sambutan mu Ki Lurah.


Aku hanya ingin melihat kemajuan daerah yang aku pimpin", ujar Panji Watugunung sambil tersenyum tipis.


"Hamba sangat berterimakasih Gusti Pangeran Jayengrana.


Selama menjadi Yuwaraja Panjalu, rakyat di wilayah Wanua Sambu hidup dengan makmur.


Para Nayaka Praja begitu baik dan mengayomi rakyat", ucap Lurah Wanua Sambu dengan penuh semangat.


"Nah yang termasuk yang baik itu adalah saya, Ki Lurah.


Saya ini adalah punggawa Kayuwarajan Panjalu yang selalu menjadi pilihan utama Gusti Pangeran untuk mengurusi urusan pangan dan pergudangan di istana", ujar Demung Gumbreg yang kumat sombongnya.


"Iya, karena Gusti Demung Gumbreg itu suka main perintah", celetuk Weleng yang selalu ada di belakang Gumbreg.


"Kapan aku main perintah, Leng? Jangan asal tuduh seenaknya ya?", Gumbreg mendelik pada Weleng.


"Tadi pagi persiapan untuk keberangkatan, semua orang sibuk bersiap, Gusti Demung kan hanya tidur di kereta kuda", Weleng mengingatkan.


"Itu karena semalam aku ikut meronda di pos penjaga gerbang istana Leng, jadi aku ngantuk", Gumbreg tak mau kalah.


"Meronda apanya? Gusti Demung kan hanya tidur sesudah makan malam", sergah Weleng yang paham betul apa yang terjadi.


Saat Gumbreg hendak menyanggah, mata Gumbreg sempat melihat Warigalit melotot ke arah nya. Suami Juminten langsung menutup rapat mulutnya.


"Buka mulut lagi,


Kau pulang jalan kaki Mbreg", ancam Warigalit yang langsung membuat ciut nyali Gumbreg. Punggawa Kayuwarajan Panjalu itu menggerutu dalam hati.


'Sedikit sedikit main ancam,


Dasar tidak setia kawan'.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah agar author terus semangat menulis 😁


Selamat membaca 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2