
Lepas tengah malam, persekutuan golongan hitam bergerak menuju ke arah Padepokan Padas Putih di lereng Gunung Penanggungan.
Dengan membawa obor dari daun kelapa kering yang diikat memanjang, mereka bergerak laksana semut api yang memburu mangsa.
"Ular Putih,
Tidak ada anggota kita yang ketinggalan bukan?", tanya Dewi Angin-angin yang berkuda bersama Dewi Ular Putih.
"Tidak ada Kangmbok,
Aku berani memastikan itu karena sebelum berangkat aku sudah berkeliling ke seluruh tempat anggota kita", jawab Dewi Ular Putih sambil melirik ke arah belakang.
"Ular Hijau,
Anak buah mu yang terluka, bagaimana keadaannya? Kalau merepotkan, tinggal saja dia", Dewi Angin-angin menatap ke arah Dewi Ular Hijau yang berkuda di belakangnya.
"Dia sudah baikan Kangmbok,
Kita sudah siap untuk membalaskan dendam kematian Kakang Srenggapati", ujar Dewi Ular Hijau dengan cepat.
Memang keterlibatan mereka dalam upaya penyerbuan ke Padas Putih berkaitan erat dengan kematian Tumenggung Srenggapati yang merupakan kekasih Dewi Angin-angin.
Tumenggung Jenggala itu tewas dalam upaya penyerbuan ke istana Pakuwon Watugaluh. Meski bukan tewas di tangan Panji Watugunung, tapi mereka yang terhasut Iblis Abu-abu menyalahkan Panji Watugunung yang berasal dari Padepokan Padas Putih.
Anggota Lembah Angin yang berjumlah 50 orang terus bergerak mengikuti langkah murid murid Padepokan Bukit Jerangkong yang memimpin di depan.
Di belakang mereka, perkumpulan sesat Lembah Hantu mengekor dengan 50 orang pengikutnya. Pemimpin mereka yang berjuluk Bendara Lembah Hantu, menjalankan kudanya dengan pelan. Kegelapan malam membuat mereka tidak bisa bergerak cepat.
Di depan, Iblis Abu-abu yang bertangan buntung tersenyum tipis melihat rombongan di belakangnya. Dia menoleh ke arah lengan nya yang buntung karena di tebas pedang Dewi Anggrek Bulan. Dia benar benar dendam pada Panji Watugunung yang menghancurkan Perguruan Gunung Kematian dan membunuh Julungwangi saudara nya.
Disampingnya, Pedang Iblis yang menyandang gelar pemimpin Padepokan Bukit Jerangkong berkuda sambil terus menatap jalanan di depannya. Dia ingin menuntut balas atas kematian Iblis Bukit Jerangkong, gurunya. Dibelakang nya, murid murid Padepokan Bukit Jerangkong yang berjumlah 100 orang berkuda mengikuti nya.
Menjelang pagi hari, mereka sudah mendekati Padepokan Padas Putih. Dua pemimpin dari Macan Pasuruhan dan Teratai Jingga sudah menunggu kedatangan mereka. Pemimpin Macan Pasuruhan, Mpu Simaboja adalah guru Senopati Socawarma yang tewas ditangan Panji Watugunung saat pertempuran di Kali Aksa. Sedangkan pemimpin Teratai Jingga, Mahasambu adalah adik seperguruan Tumenggung Wangkas yang juga terbunuh di pertempuran Kali Aksa tempo hari.
"Bagaimana keadaan di Padas Putih, Mpu Simaboja? Apa mereka sudah melakukan persiapan?", tanya Iblis Abu-abu alias Julungpujud sambil memandang kearah pintu gerbang Padepokan Padas Putih.
"Sepertinya mereka telah bersiap siap, Iblis Abu-abu.
Mereka menempatkan penjagaan berlapis, dan para penjaga selalu berganti tiap pergantian waktu", jawab si kakek tua berkumis jarang itu pada Julungpujud alias Iblis Abu-abu.
Hemmmm
"Sepertinya rencana kita telah bocor sebelumnya.
Kalau mereka sudah bersiap, tidak mudah bagi kita untuk mengalahkan mereka. Setidaknya ada dua jagoan tua setingkat Iblis Bukit Jerangkong di tempat itu.
Kalau kita menyerbu sekarang, pasti mereka dalam tahap kewaspadaan tinggi. Tunggu besok pagi. Mereka pasti tidak mengira kita menyerang mereka pagi-pagi", ujar Iblis Abu-abu sambil terus memandangi pintu gerbang Padepokan Padas Putih.
Semua pemimpin perguruan kompak mengangguk bersamaan dengan cepat. Mereka segera menyiapkan diri sebaik-baiknya.
Pagi menjelang tiba di lereng Gunung Penanggungan. Sinar matahari perlahan mulai menghangatkan seisi bumi.
Melihat matahari mulai terbit, Pedang Iblis memerintahkan pasukan persekutuan golongan hitam bergerak mendekati Padepokan Padas Putih.
Para penjaga gerbang Padepokan yang baru berganti, melihat ratusan orang bergerak langsung berlari dan menutup pintu gerbang Padepokan Padas Putih.
Sementara yang bertugas di menara pengawas disamping pintu gerbang, langsung membunyikan kentongan dengan cepat.
Thong thongg thong!!!
Mendengar titir kentongan itu, semua orang di dalam Padepokan Padas Putih terkejut. Mereka semua segera bersiaga dengan memegang senjata masing-masing.
Rara Wilis berlari cepat menuju ke arah kediaman Mpu Sakri begitu mendengar titir kentongan bertalu-talu.
Mpu Sakri dan Mpu Narasima segera bergegas keluar dari kamar peristirahatan masing-masing dan mendapati Rara Wilis yang tengah berlari ke arah mereka.
"Guru, itu itu titir....", Rara Wilis menunjuk kearah pintu gerbang Padepokan Padas Putih dengan gugup.
"Tenang Wilis, tenang...
Mana kakak seperguruan mu?", tanya Mpu Sakri agar Rara Wilis lepas dari kegugupan nya.
"Aku tidak tau guru,
Tadi pagi Kakang Abyasa ada di depan tapi aku tidak melihatnya lagi. Mungkin sudah ke pintu gerbang Padepokan sekarang", jawab Rara Wilis dengan terengah-engah mengatur nafas.
Hemmmm
"Segeralah bersiap siap untuk bertarung, Wilis.
Kakang Narasima, ayo kita lihat siapa mereka?", ajak Mpu Sakri yang segera melesat cepat menuju ke pintu gerbang Padepokan Padas Putih diikuti oleh Mpu Narasima.
Mereka berdua segera melompat tinggi seperti terbang ke udara dan mendarat dengan sempurna diatas pintu gerbang Padepokan Padas Putih.
Melihat itu, anggota pasukan persekutuan golongan hitam melongo sesaat. Pedang Iblis dan Iblis Abu-abu yang memiliki kemampuan beladiri tertinggi di antara mereka tidak bisa berbuat seperti itu.
Hahahaha
__ADS_1
"Rupanya ada dua jagoan tua yang menyambut kedatangan ku, sungguh suatu kehormatan bagiku", ujar Janamerta alias si Pedang Iblis sambil tertawa terbahak-bahak.
"Kau murid Dadung Awuk,
Mau apa kau kemari?", tanya Mpu Sakri dengan tatapan mata dingin.
"Hari ini kami akan membalas kematian junjungan kami, Iblis Bukit Jerangkong yang mati di tangan Panji Watugunung.
Juga akan memusnahkan Padepokan Padas Putih dari muka bumi", teriak Janamerta alias si Pedang Iblis sambil tersenyum sinis.
"Dendam mu salah alamat, murid Dadung Awuk.
Kalau kau ingin membalas kematian junjungan mu, cari saja Panji Watugunung di Panjalu", ucap Mpu Sakri sambil tersenyum penuh arti.
"Ahhhhh tidak peduli!
Bersiaplah untuk mati orang tua. Hari ini akan ku ratakan Padepokan Padas Putih dengan tanah!
Serang mereka!!!", teriak Janamerta alias si Pedang Iblis sambil memberikan isyarat agar pasukannya bergerak.
Ratusan pendekar golongan hitam yang berilmu tinggi segera melompat maju ke arah pintu gerbang Padepokan Padas Putih.
Iblis Abu-abu melesat cepat menuju ke arah pintu gerbang Padepokan Padas Putih dan menghantam pintu kayu itu dengan Ajian Iblis Neraka nya.
Blammmm!!
Pintu gerbang Padepokan Padas Putih langsung meledak hancur berkeping-keping.
Pasukan persekutuan golongan hitam segera menerjang maju ke arah pintu gerbang.
Para murid Padepokan Padas Putih segera menghadang mereka dengan senjata masing-masing.
Pertarungan sengit segera terjadi di antara mereka.
Mpu Sakri segera melesat turun diikuti oleh Mpu Narasima. Dua jagoan tua golongan putih itu segera bertarung dengan gagah.
Mpu Sakri dengan jurus silat Padas Putih nya langsung menendang dada seorang pendekar dari Perguruan Macan Pasuruhan.
Bukkkkk
Pendekar itu langsung terpental jauh dan menabrak seorang pendekar dari Teratai Jingga. Kuatnya tendangan keras itu membuat tulang rusuk si pendekar patah. Pria itu muntah darah dan roboh seketika. Sementara si pendekar Teratai Jingga terjengkang ke belakang dan buru buru bangkit menyerang maju.
Seorang pendekar dari Bukit Jerangkong membabatkan pedang nya kearah punggung Mpu Sakri.
Sreeetttttt
Guru Panji Watugunung itu melompat ke samping sambil menepuk bahu seorang pendekar dari Lembah Angin yang ada di dekatnya.
Si pendekar merasakan bahunya tertimpa batu besar. Mpu Sakri dengan cepat menggunakan tubuh si pendekar dari Lembah Angin dan memutar tubuhnya lantas menendang perut si pendekar Teratai Jingga yang hendak membacok tubuhnya dengan golok nya.
Brukkk
Si pendekar Teratai Jingga terlempar ke belakang kearah pedang seorang murid Padepokan Padas Putih.
Jleppp
Aaarghhh
Si pendekar Teratai Jingga menjerit keras saat pedang murid Padepokan Padas Putih menembus pinggang hingga ke perut nya. Pendekar itu langsung roboh bersimbah darah.
Melihat banyaknya anak muridnya yang tewas di tangan Mpu Sakri, Mpu Simaboja segera melesat cepat menuju arah Mpu Sakri sambil mengayunkan senjata berbentuk cakar dengan tiga ujung runcing kearah punggung Mpu Sakri.
Mpu Sakri melenting tinggi ke udara dan mendarat turun 2 tombak di belakang Mpu Simaboja.
"Tak ku sangka. Seorang pendekar besar menyerang ku dari belakang", ujar Mpu Sakri sambil tersenyum tipis.
Phuihhh
"Dalam pertarungan hidup mati, segala sesuatu boleh dilakukan untuk kemenangan", Mpu Simaboja meludah ke tanah dengan kasar.
"Jadi begitu cara pandang mu sekarang Simaboja?
Kita semakin tua Simaboja, buat apa menuruti dendam dan nafsu?", Mpu Sakri tersenyum simpul.
"Simpan ceramah mu Mpu Sakri.
Hari ini akan ku balas kematian Socawarma pada guru Panji Watugunung", teriak Mpu Simaboja sambil melesat cepat ke arah Mpu Sakri.
Dengan ayunan cepat, cakar besi Mpu Simaboja mengancam leher Mpu Sakri.
Namun dengan Ajian Sepi Angin nya, Mpu Sakri menunduk lantas menghantamkan tapaknya ke arah perut Mpu Simaboja.
Kakek tua itu terkejut dan segera menghadang hantaman tapak Mpu Sakri dengan tangan kiri nya.
Blarrrrr
Ledakan keras terdengar dari benturan dua tenaga dalam tingkat tinggi itu dan membuat dua orang tua itu terdorong mundur.
__ADS_1
Mpu Sakri sambil tersenyum tipis segera bersiap untuk melanjutkan pertarungan sedang Mpu Simaboja merasakan tangan kiri nya sakit seperti mati rasa.
Pertempuran sengit terus terjadi di dalam Padepokan Padas Putih.
Mpu Wanabhaya yang sedang sakit, memaksakan diri untuk maju dan menghadapi Iblis Abu-abu.
Meski secara ilmu kanuragan, Iblis Abu-abu kalah tinggi, tapi karena keadaan tubuh yang tidak sehat membuat Mpu Wanabhaya tak mampu bertahan dan terlempar ke belakang akibat benturan Ajian Iblis Neraka andalan Iblis Abu-abu dengan Ajian Sastra Jendra andalan Mpu Wanabhaya.
Pemimpin Padepokan Padas Putih itu muntah darah segar sedangkan Iblis Abu-abu juga sama meski tidak separah Mpu Wanabhaya. Wirotama segera membentuk pagar betis untuk melindungi Mpu Wanabhaya yang terluka dalam parah.
Pedang Iblis alias Janamerta terus mengamuk membantai para murid Padepokan Padas Putih. Dewi Angin-angin, Dewi Ular Putih dan Ular Hijau dari Lembah Angin bertarung dengan ilmu kanuragan beracun nya. Ditambah lagi pendekar yang mereka ajak menyerang ke Padepokan Padas Putih adalah para pendekar dengan kemampuan kanuragan tinggi sehingga bukan tandingan para murid Padepokan Padas Putih yang masih dalam tahap belajar.
Murid murid Padepokan Padas Putih satu persatu mulai tewas berjatuhan akibat pertarungan sengit itu. Dari dua ratus lima puluh orang murid Padepokan Padas Putih, hanya tersisa kurang dari separuh nya saja.
Sementara itu di sisi lain, pagi itu Panji Watugunung yang baru mencuci muka nya di sungai kecil berjalan menuju kearah istri istri nya yang tengah merapikan pakaian mereka.
Mereka segera berkemas untuk bersiap menuju Padepokan Padas Putih saat Garungwangi berlari mendekati nya.
"Celaka Kakang Watugunung,
Aku baru dari wanua dekat kota Pakuwon Bandar. Seorang pedagang yang biasa menjadi langganan ku memberi tahu kalau tadi malam terdengar suara ribut-ribut. Setelah itu rombongan membawa obor bergerak menuju ke arah padepokan", ujar Garungwangi dengan nafas ngos-ngosan.
Panji Watugunung terkejut bukan main. Segera mereka bergegas melompat ke atas kuda kuda mereka. Dengan sepenuh tenaga, mereka menggebrak kuda mereka menuju ke Padepokan Padas Putih.
Mpu Sakri dengan Ajian Tapak Dewa Api nya menghajar dada kanan Mpu Simaboja yang sedikit lengah saat mengayunkan cakar besinya.
Blammmm!!!
Mpu Simaboja terpelanting ke belakang dan menghantam tanah dengan keras.
Pemimpin Perguruan Macan Pasuruhan itu muntah darah segar. Dadanya terasa mau pecah. Di dada kanan kakek tua itu tercetak jelas bekas gosong seperti lima jari tangan.
Kakek tua itu berusaha menahan sakit dan berdiri namun dia limbung dan terduduk sambil memegang dada kanan nya yang sakit.
"Kau tidak akan menang melawan ku Simaboja,
Menyerahlah dan pulang lah ke Pasuruhan", ujar Mpu Sakri dengan tatapan mata waspada.
Phuihhh
"Kalaupun harus mati, aku akan mengajak mu Sakri!", Mpu Simaboja meludahkan darah segar yang memenuhi mulut nya.
Mulut pimpinan Macan Pasuruhan itu segera komat-kamit membaca mantra Ajian Langit Geni andalannya.
Seketika itu pula, tangan kanan nya diputari sinar merah menyala. Kemudian kakek tua itu segera melesat cepat menuju ke arah Mpu Sakri.
Dengan Ajian Sepi Angin nya, Mpu Sakri bergerak cepat bagai kilat menyongsong serangan Mpu Simaboja. Ajian Tapak Dewa Api tingkat tinggi nya, membuat tangan kanan guru Panji Watugunung itu berubah warna menjadi merah menyala seperti api.
Dan..
Dhuarrrr!!!!
Ledakan dahsyat terjadi saat dua ajian andalan ini beradu. Mpu Simaboja terpental jauh ke belakang dan menghantam tanah dengan keras. Kakek tua itu hanya bergerak sebentar kemudian diam untuk selamanya. Dari mulutnya darah segar mengalir keluar.
Sementara itu Mpu Sakri juga terdorong mundur beberapa langkah. Dadanya sedikit sesak.
Janamerta alias si Pedang Iblis melesat cepat ke arah Mpu Sakri sambil mengayunkan Pedang Tulang Iblis nya kearah leher Mpu Sakri namun saat genting itu sebuah bayangan dengan cepat menangkis sabetan Pedang Tulang Iblis dari Janamerta.
Traanggg
Kerasnya benturan membuat Pedang Tulang Iblis nyaris terlepas dari tangan Janamerta. Pemimpin Padepokan Bukit Jerangkong itu segera melompat melompat mundur.
"Lawan mu adalah aku"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁
__ADS_1
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit ❤️ dan komentar 🗣️ nya agar author terus semangat menulis yah 😁
Selamat membaca kak 😁