
Suasana pagi berangsur menghangat setelah sang surya menampakkan sinarnya dari balik awan. Setelah semalam hujan deras mengguyur Puri Agung Gelang-gelang, tampak nya mendung masih menyelimuti seluruh langit.
Hari itu, Panji Watugunung di temani ketiga gadis cantik calon istri nya dan seorang pelayan nya bersiap berangkat ke Kadipaten Seloageng. Di samping mereka 5 jagoan dari 5 pakuwon di Kabupaten Gelang-gelang juga mengikuti perjalanan mereka.
"Watugunung mohon pamit Kanjeng Romo, Kanjeng Ibu", Panji Watugunung menghaturkan sembah bakti untuk ayah dan ibunya di ikuti ketiga calon istri dan seorang pelayan nya.
"Berangkatlah Ngger Cah Bagus, hati hati. Semoga Jagat Dewa Batara melindungi diri mu dari semua marabahaya yang melintang", Bupati Gelang-gelang memberikan restunya.
"Mohon ijin pamit Gusti Bupati", 5 prajurit jagoan pilihan memberikan hormat kepada Bupati Gelang-gelang.
Bupati Gelang-gelang, Panji Gunungsari mengangkat tangan kanannya sebagai tanda mengiyakan permohonan mereka.
Sebagai pasukan khusus, mereka tidak berpakaian layaknya prajurit biasa. Mereka berpakaian seperti pendekar yang tidak seragam tapi mengenakan jarit berwarna hitam dan ikat kepala berwarna merah dengan sulaman benang emas bergambar burung Garuda.
Diantara mereka berlima, ada satu wanita dengan keahliannya memanah yang bernama Arimbi dari Pakuwon Kancar. Ada juga Gumbreg dari pakuwon Randu yang mengurus perbekalan. Ludaka dari dari Pakuwon Janti yang ahli menyusup. Marakeh ahli pertarungan jarak dekat dan Rakai Sanga yang ahli memakai tombak.
Setelah semuanya mereka melesat cepat menuju Kadipaten Seloageng. Setelah melewati perbatasan, beristirahat sebentar, dan melanjutkan perjalanan. Senja merah menjelang malam saat rombongan Panji Watugunung ketika sampai di hutan kecil sebelah barat kota Kadipaten Seloageng.
"Gusti Watugunung, sebaiknya kita bermalam di sini saja. Biar saya dan Gumbreg menata tenda untuk beristirahat", ujar Ludaka dari atas kuda menjejeri kuda Watugunung yang berjalan pelan karna jarak penglihatan yang terbatas.
"Baiklah, beritahu semua kita berhenti di sana dan mendirikan tenda", Watugunung menunjuk ke sebuah padang rumput kecil dengan pohon rimbun kecil di tengah pohon pohon besar.
Ludaka menghormat dan berbalik menuju Gumbreg di belakang. Setelah itu, mereka berdua mendahului rombongan Panji Watugunung dan mendirikan tenda di padang rumput.
Marakeh dan Rakai Sanga mengumpulkan kayu kayu kering untuk api unggun sedangkan Arimbi di bantu para gadis Watugunung dan Dewi Srimpi menyiapkan makanan untuk makan malam.
Setelah tugas jaga di bagi, mereka beristirahat di tenda masing-masing. Tinggal Gumbreg dan Ludaka yang berjaga-jaga sampai pagi. Malam ini sinar bulan menjelang purnama begitu cerah.
"Gusti Watugunung enak ya Lu", ujar Gumbreg sambil melempar potongan kayu ke api unggun yang mulai mengecil.
"Enak bagaimana? ", Ludaka mengernyitkan keningnya.
"Sudah ganteng, kaya, putra mahkota Bupati, istrinya 3 lagi", Gumbreg dengan muka bego nya memandang kosong ke arah api unggun.
"Kamu iri Mbreg?", Ludaka tersenyum simpul melihat ekspresi wajah Gumbreg.
"Iri sih tidak, cuma kenapa ya Dewata tidak memberikan itu pada ku? Coba kalau aku yang jadi Gusti Watugunung pasti aku sudah hihhhh dengan wanita wanita cantik itu", Gumbreg melantur dan tiba tiba Ludaka menepuk tengkuknya.
"Kau mau di pancung lehermu ya Mbreg?".
Gumbreg mendengar kata pancung leher langsung bergidik ngeri.
Ludaka ikut tersenyum melihat tingkah kawan nya itu, tiba tiba ekspresi wajah nya berubah saat telinga nya yang tajam mendengar puluhan langkah kaki bergerak mendekati tempat itu.
"Mbreg, bangunkan Marakeh dan Rakai Sanga. Juga Arimbi. Cepat! ", ujar Ludaka berbisik.
"Ada apa Lu?", Gumbreg belum menyadari situasi.
"Ada tamu tak diundang kesini. Cepat bangunkan mereka", bisik Ludaka.
Gumbreg pucat mendengar kata kata Ludaka, segera bergegas menuju ke tenda Marakeh dan Rakai Sanga.
"Woi bangun woi, bangun cepat!".
"Ada apa Mbreg? Ini masih malam, aku ngantuk", Rakai Sanga menguap lebar.
"Kau mau mati atau mau hidup? Kalau mati tidur saja lagi", Gumbreg gusar.
"Ada puluhan orang bergerak menuju kemari. Takutnya mereka adalah musuh".
__ADS_1
Rakai Sanga melotot lebar seketika, buru buru dia membangunkan Marakeh. Mereka segera keluar dari tenda dengan senjata masing-masing.
Gumbreg lantas berlari ke tenda Arimbi. Sedangkan di tenda besar, Watugunung yang sadar akan bahaya, sudah terbangun dari awal kelompok itu bergerak. Setengah berbisik, dia membangunkan Dewi Anggarawati, Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang. Sedangkan Dewi Srimpi sudah terjaga dari tadi.
Kesepuluh orang sudah bersiap siaga dengan segala kemungkinan saat dari balik gelapnya malam puluhan orang berbaju hitam mengepung tempat itu.
"Ternyata ada perempuan nya. Kita menangkap ikan besar hari ini hahahaha", kata seorang lelaki berbadan kurus yang merupakan pemimpin gerombolan itu disambut tawa anak buah nya.
Hemmmmm
Dewi Anggarawati mendengus panjang saat melihat pria kurus yang tertawa.
Panji Watugunung segera menyadari perubahan wajah pada Dewi Anggarawati.
"Kau tahu mereka dinda Anggarawati?".
"Mereka gerombolan Macan Wulung kakang, mereka yang menculik ku tempo hari. Hari ini jangan sampai mereka lolos kakang", kata Anggarawati dengan mata berkilat menyimpan dendam.
Panji Watugunung tersenyum tipis.
"Kalian menyerah saja, serahkan harta kalian juga perempuan perempuan itu. Kalau tidak siap siap nyawa kalian kami antar ke neraka", teriak Macan Wulung.
"Siapa yang takut dengan mu Macan Wulung?", Anggarawati geram sekali.
"Hemmmm bagus, rupanya ada yang mengenali aku. Kalau begitu aku tidak akan baik hati lagi. Ayo habisi mereka", teriak Macan Wulung yang membuat para pengikutnya langsung melompat menyerbu Panji Watugunung dan rombongannya.
Gumbreg maju menghadang langkah Ganden. yang bersenjata palu dari kayu berukuran besar.
"Kau lawan ku, bongsor. Biar adil badan besar lawan badan besar", ujar Gumbreg sambil mengayunkan pentungan kayu berwarna hitam.
"Keparat. Ayo kita bertarung", teriak Ganden sambil mengayunkan palu kayu nya ke arah kepala Gumbreg. Gumbreg sigap mundur dan melayangkan gebukan keras mengincar punggung Ganden.
Bukkk!
Ganden melotot melihat bekas gebukan Gumbreg yang meninggalkan lobang dalam di tanah. Sedangkan Gumbreg menyeringai lebar.
"Sebentar lagi kepalamu akan ku buat seperti itu bongsor".
"Sombong sekali kau gendut. Ayo kita lanjutkan pertarungan kita, dan kita lihat siapa yang lebih jago", Ganden memutar palu kayu nya.
"Banyak omong, maju kau!", teriak Gumbreg yang paling kesal di sebut gendut.
Berkali-kali mereka bertukar serangan namun sepertinya Ganden dan Gumbreg berimbang.
Ganden mendengus keras, dan berlari cepat memukulkan palu kayu nya tapi sebelum sempat mendekat sebuah anak panah melesat cepat ke arah dada Ganden.
Crepppp!
Auwghhh..
Ganden menjerit keras saat anak panah itu tepat menembus jantung nya. Laki laki berbadan besar itu tewas dengan mulut muntah darah.
Gumbreg menoleh kearah Arimbi yang tersenyum sambil mengarahkan busur panah nya mengincar satu persatu gerombolan Macan Wulung. Gumbreg ikut tersenyum sambil mengangkat jempol tangan kiri nya.
Sementara itu Ludaka bergerak cepat dengan melempar senjata rahasia ke arah musuh sambil sesekali menebas dengan pedang pendek nya.
Marakeh dan Rakai Sanga bertempur dengan gagah berani dengan segenap kemampuan mereka.
Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang sudah melesat ke arena dan membantai para pengganggu. Mereka berdua sangat kesal lantaran malam itu mereka tidur mengapit Panji Watugunung dan Dewi Anggarawati agak jauh hanya berpegangan tangan saja.
__ADS_1
Macan Wulung geram melihat satu persatu anak buah nya di habisi. Dari 40 anak buah nya kini tinggal separuh.
Tangan kanan Macan Wulung, Si Ganden bahkan sudah tewas. Tinggal Garu dan Dompal yang masih menemani nya. Mereka melesat ke arena pertarungan bersiap mengadu nyawa.
Garu yang sangat marah melihat Ganden tewas, segera melompat ke arena pertarungan. Tubuh kurus lelaki itu terlihat ringan. Dengan cepat dia menyabetkan pedang nya ke arah leher Gumbreg, tapi belum sempat menyentuh, sebuah pedang menangkis sabetan Garu.
Tranggg...
Tangan Garu terasa sakit akibat benturan pedang. Dia mundur 3 langkah ke belakang.
Seorang gadis bercadar hitam menghadang langkahnya.
Garu melesat cepat menuju ke gadis bercadar hitam dengan menyabetkan pedang mengincar leher. Namun lagi lagi Garu terkesiap. Gadis itu hanya menghindar ke kiri dengan tenang, kemudian dengan gerakan lembut melempar jarum kecil dengan cepat pada leher Garu.
Garu merasa ada yang aneh dengan tubuhnya melompat mundur. Tubuhnya terasa sakit seperti di remas. Dari mata, hidung dan telinga keluar darah. Garu melotot menahan sakit. Tubuh Garu ambruk dengan mulut keluar busa.
Dia tewas keracunan.
Panji Watugunung dan Macan Wulung yang sedang bertarung menghentikan gerakan mereka saat melihat Garu tewas mengenaskan.
Dengan senyum tipis, Panji Watugunung berkata,
"Gadis itu mengerikan"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
*Iya memang mengerikan kalau main racun
Author aja takut 😱😱😱
Simak terus kisah selanjutnya ya guys.
Jangan lupa dukung author dengan like vote dan komentar nya
Yang berpuasa tetep semangat ya
__ADS_1
Thanks and happy reading my novel 😁😁😁*