
Dewi Pedang Hitam menatap wajah Iblis Seribu Muka dengan tatapan mata penuh tanya.
"Kau tenang saja, Adik Wiru..
Aku sudah mengetahui semua seluk beluk istana Daha. Aku juga sudah menemukan jalan keluar yang aman untuk kita melarikan diri. Sekarang tinggal bagaimana arah pelarian kita begitu berhasil melaksanakan tugas dari Gusti Prabu Alanjung", ujar Iblis Seribu Muka sambil menyeringai lebar. Ada kepongahan tersirat dari wajah lelaki paruh baya itu.
Memang kemampuan Ajian Malih Rupa mampu memberikan perubahan wujud yang sempurna pada Iblis Seribu Muka. Dia bisa merubah wujud sesuai dengan keinginannya sesuka hati. Selain Ajian Malih Rupa, pendekar golongan hitam dari Gunung Mahameru itu memiliki ilmu kedigdayaan yang tinggi. Sebagai murid pertama dari Begawan Mantyasa, dia memang mewariskan beberapa ilmu kanuragan tinggi dari sang guru.
Kemudian Rara Wiru yang berjuluk Dewi Pedang Hitam adalah murid kedua dari Begawan Mantyasa. Perempuan cantik namun menyeramkan itu memiliki ilmu kedigdayaan yang tinggi meski tidak sehebat Dadung Awangga kakak seperguruannya.
Lalu Wulupaksi yang terlebih dahulu turun gunung karena tugas dari ayahnya yang merupakan Tumenggung di Jenggala, adalah murid ketiga sang pertapa.
Diantara ketiga murid Begawan Mantyasa, hanya Dadung Awangga yang menguasai ilmu penyamaran tingkat tinggi, yaitu Ajian Malih Rupa. Karena itu, tugas dari Mapanji Alanjung ini hanya Dadung Awangga saja yang bisa dengan mudah melaksanakannya.
Mendengar ucapan Dadung Awangga, Rara Wiru tersenyum simpul.
"Aku dan Wulupaksi sudah mempelajari tentang tata letak dan arah pelarian yang paling aman untuk kita Kakang Dadung Awangga.
Arah paling aman adalah menuju ke Kayuwarajan Kadiri. Itu adalah satu satunya jalan darat untuk keluar dari kota Daha tanpa harus menyeberang sungai Brantas. Dari sana kita bisa ke Seloageng ataupun Matahun", ujar Dewi Pedang Hitam dengan penuh keyakinan.
"Kita harus bergerak cepat, Wulupaksi.
Aku baru menghabisi nyawa seorang prajurit penjaga gerbang istana Daha. Cepat atau lambat peristiwa ini akan memicu terjadinya keributan di kalangan para penjaga istana", Dadung Awangga menatap ke arah Wulupaksi yang sedari tadi hanya diam saja.
"Kalau begitu, kita bergerak besok sore Kakang..
Kalau ku hitung hari nya, itu saat kalahnya Prabu Samarawijaya karena pas dengan puput puser nya. Begitu Kakang Dadung Awangga selesai, kita bertemu di timur kota Daha. Akan ku siapkan kuda kuda terbaik untuk menunjang pelarian kita", ucap Wulupaksi sambil menganggukkan kepalanya. Sepasang Iblis Hitam dari Mahameru itu bersamaan mengangguk tanda mengerti apa yang di maksud Wulupaksi.
Malam semakin larut. Suara burung malam yang bersahutan semakin menambah suasana sepi di penginapan itu. Lepas tengah malam, hujan deras mengguyur kota Dahanapura hingga pagi menjelang tiba di ibukota Kerajaan Panjalu.
**
Ayam jantan berkokok lantang dari kandang ayam istana Pakuwon Tamwelang menandakan bahwa pagi telah tiba di pusat kota wilayah baru Kayuwarajan Kadiri itu. Perlahan, sinar matahari pagi mulai menerangi seluruh alam meski terhalang mendung tebal yang menutupi wilayah kota Pakuwon Tamwelang.
Panji Watugunung dan keempat istri nya telah selesai berdandan setelah usai membersihkan diri. Hari itu mereka berencana untuk menghadap pada Prabu Samarawijaya untuk melaporkan keberhasilan mereka dalam perang melawan Jenggala.
Seorang dayang istana Pakuwon Tamwelang berdiri di depan pintu kamar peristirahatan dengan patuh. Dengan suara lembut dia berbicara.
"Mohon ampun Gusti Pangeran Jayengrana bila hamba mengganggu.
Gusti Akuwu Marakeh menyuruh hamba untuk mengantar Gusti Pangeran Jayengrana ke sasana boga karena seluruh punggawa Pakuwon Tamwelang dan para perwira tinggi prajurit Daha sudah berkumpul di sana", ujar sang dayang istana dari balik pintu kamar tidur Panji Watugunung.
Tak berapa lama kemudian, terdengar suara langkah kaki menuju kearah pintu kamar.
Krrriiiiieeeeeeeeetttthhhh...
Pintu kamar tidur terbuka dan wajah cantik Dewi Srimpi menyembul disana. Tak berapa lama kemudian Panji Watugunung, Dewi Naganingrum, Sekar Mayang dan Ratna Pitaloka juga mengikuti langkah Dewi Srimpi.
Dengan diiringi oleh keempat istri nya, Panji Watugunung segera melangkah menuju ke sasana boga Istana Pakuwon Tamwelang. Begitu mereka sampai di sana, seluruh perwira tinggi prajurit Daha dan para punggawa Pakuwon Tamwelang segera berjongkok dan menyembah pada Panji Watugunung.
"Sembah bakti kami kepada Gusti Pangeran Jayengrana", ucap semua orang yang ada di ruangan itu dengan hormat.
"Berdirilah wahai semua teman seperjuangan ku.
Terima kasih atas penghormatan yang kalian berikan kepada ku", titah Panji Watugunung dengan berwibawa. Mendengar titah Sang Yuwaraja Panjalu, mereka semua segera berdiri dan kembali duduk di kursi mereka masing-masing.
Lalu dimulailah acara perjamuan pagi hari itu dengan tenang. Para pelayan menghidangkan pelbagai macam masakan istimewa untuk para perwira prajurit Daha.
Gumbreg yang duduk paling ujung satu meja dengan Ludaka, langsung menyambar sate kambing yang terhidang di depan nya.
"Kali ini aku tidak akan bisa kau tipu lagi, Lu..
Aku akan makan sepuasnya", ujar Gumbreg dengan mulut penuh sate kambing.
"Siapa juga yang mau merebut jatah makan mu, Mbreg?
Kalau kau kurang, ambil punya ku juga boleh kog. Ini masih utuh", ujar Tumenggung Ludaka seraya mendorong pinggan berisi puluhan tusuk sate kambing ke depan Demung Gumbreg.
"Tumben kau baik Lu,
Kau sedang tidak demam kan?", tanya Gumbreg seakan tak percaya dengan perilaku temannya.
"Enak saja, aku sehat sehat saja. Apa sate kambing segitu masih kurang Mbreg?", Ludaka menatap ke arah Gumbreg yang terus-terusan menyambar tusukan sate kambing yang ada di depannya.
"Tentu saja masih kurang. Beberapa hari ini aku hanya makan makanan yang tidak terlalu enak.
Andai di suruh menghabiskan semua sate kambing nya, aku masih sanggup", ujar Gumbreg sambil terus mengunyah daging kambing di mulutnya.
"Termasuk punya Gusti Pangeran Jayengrana?", celetuk Tumenggung Landung yang duduk tak jauh dari mereka berdua.
"Kenapa tidak? Aku suka sate kambing", ucap Gumbreg seenaknya.
"Coba saja ambil kalau berani", sahut suara seorang perempuan yang membuat Gumbreg langsung menoleh ke arah sumber suara.
Sekar Mayang melotot tajam ke arah Demung Gumbreg yang membuat perwira prajurit perbekalan itu hampir tersedak makanan. Rupanya Sekar Mayang yang baru mengambil air minum untuk sang suami mendengar obrolan mereka bertiga. Dengan susah payah, Gumbreg menelan sate kambing nya.
Cleeegguukkk...
"Eh anu Gusti Selir,
Hamba hanya bercanda kog", ujar Gumbreg dengan wajah pucat. Dia ketakutan setengah mati karena diantara selir selir Panji Watugunung, Sekar Mayang lah yang paling galak.
Ludaka dan Landung sekuat tenaga menahan diri untuk tidak tertawa melihat raut muka Gumbreg.
__ADS_1
"Bercanda mu tidak lucu. Berani tidak sopan, ku buat kempes perut buncit mu itu. Mengerti kau?", ancam Sekar Mayang sambil menunjuk perut buncit Gumbreg.
"Mengerti Gusti Selir, hamba kapok tidak akan bercanda lagi seperti ini", jawab Gumbreg sambil memegangi perutnya.
Usai berkata demikian, Sekar Mayang segera berlalu menuju ke kursinya di samping Panji Watugunung.
Huffffffffttt...
Gumbreg menarik nafas lega usai Sekar Mayang berlalu. Lalu mengalihkan pandangannya pada kedua temannya yang tertawa cekikikan.
"Ah dasar brengsek kalian.
Suka ya melihat aku ketakutan. Kalian kan tahu kalau Selir Kedua itu galaknya seperti macan beranak", gerutu Gumbreg seraya mengelus dada nya.
Tumenggung Ludaka dan Tumenggung Landung tidak menjawab omongan Gumbreg karena perut mereka sakit menahan tawa akibat kekonyolan ulah Gumbreg.
Usai makan pagi, seluruh perwira tinggi prajurit Daha segera mempersiapkan diri untuk menuju ke arah Kotaraja Daha.
Akuwu Marakeh dan Dharmadyaksa Wikana mengantar Panji Watugunung dan pasukannya hingga ke tapal batas kota Tamwelang.
"Marakeh,
Aku pamit dulu. Jaga amanat yang ku titipkan kepada mu. Hanya kau yang ku bisa ku andalkan untuk memimpin Pakuwon Tamwelang ini menjadi lebih baik", ujar Panji Watugunung sambil tersenyum simpul.
"Hamba adalah abdi Gusti Pangeran. Semua tugas yang diberikan kepada hamba, akan hamba jalankan sebaik-baiknya", jawab Akuwu Marakeh sambil menghormat pada Panji Watugunung.
Usai mendengar ucapan Akuwu Marakeh, Panji Watugunung segera menggebrak kudanya diikuti oleh keempat istri nya dan seluruh prajurit Daha. Perlahan pasukan Panjalu meninggalkan tempat itu menuju ke arah barat daya melewati jalan raya yang menghubungkan wilayah Kota Daha.
Pasukan Panjalu terus bergerak menuju ke arah kota Daha. Sepanjang perjalanan semua orang yang berpapasan dengan mereka mengelu-elukan pasukan Panjalu. Rupanya berita kemenangan mereka atas Jenggala lebih dulu menyebar ke seluruh wilayah Panjalu. Ada kebanggaan tersendiri bagi para prajurit Panjalu yang mengiringi perjalanan Sang Yuwaraja Panjalu.
Lepas tengah hari, mereka sampai di kota Daha. Panji Watugunung memerintahkan kepada Tumenggung Ludaka dan Jarasanda untuk memimpin pasukan Panjalu kearah Ksatrian Kadri sedangkan dia bersama keempat istri nya, Warigalit, Tumenggung Landung, Demung Gumbreg, Senopati Taradipa dari Paguhan dan Demung Warok Gotho dari Wengker di sertai beberapa bekel prajurit menuju ke istana Daha.
Begitu melihat kedatangan Panji Watugunung, para prajurit penjaga gerbang istana Daha langsung menghormat dan membuka pintu gerbang istana.
Usai turun dari kuda mereka masing-masing, Panji Watugunung dan rombongan nya segera menuju ke arah Balai Paseban Agung Keraton Daha. Rupanya kedatangan mereka bertepatan dengan pisowanan agung yang di hadiri oleh para utusan daerah daerah kekuasaan Panjalu.
Ada Adipati Balapati dari Lasem, Adipati Warok Suragati dari Wengker, Adipati Tejo Sumirat dari Seloageng, Patih Gelang-gelang Mpu Sancaka, Adipati Kurawan Wangsaatmaja, Patih Anjuk Ladang Mpu Rakhi, utusan dari Karang Anom yaitu Patih Suwanda dan beberapa utusan dari daerah lain seperti Paguhan, Kembang Kuning, Rajaputra, Bhumi Sambara dan Kalingga.
Prabu Samarawijaya yang memimpin pisowanan agung langsung berdiri dari singgasana ketika ia melihat Panji Watugunung dan keempat istri nya memasuki balai paseban agung.
"Selamat datang kembali di istana Daha, Dhimas Pangeran Jayengrana. Selamat atas keberhasilan mu menahklukan Kahuripan", sambut Maharaja Samarawijaya pada Panji Watugunung.
Yuwaraja Panjalu itu segera berjongkok dan menyembah pada Prabu Samarawijaya dengan penuh hormat.
"Sembah bakti hamba, Gusti Maharaja", ujar Panji Watugunung yang segera diikuti oleh seluruh para pengiringnya.
"Sudah sudah Dhimas Pangeran,
"Hai kalian semua,
Ini lihatlah putra mantu ku. Dia datang dari medan perang dengan kebanggaan besar. Dia telah mengalahkan Garasakan dengan tangan nya sendiri. Dia mengalahkan penyebab ketidaktentraman negeri kita oleh bayang-bayang keserakahan seorang putra Romo Prabu Airlangga.
Ini adalah penerus ku yang kelak akan menjadi tempat bagi yang tertindas. Dia akan menjadi pengayom untuk seluruh wilayah Panjalu.
Berikan hormat kalian semua kepada Sang Yuwaraja Panjalu", titah Maharaja Samarawijaya dengan penuh wibawa.
Semua orang yang hadir di balai paseban agung segera berjongkok dan menyembah pada Panji Watugunung.
"Sembah bakti kami Gusti Pangeran Jayengrana, Yuwaraja Panjalu", ujar semua orang dengan penuh hormat.
Panji Watugunung segera mengangkat tangan kanannya dan semua yang menghormat pada nya kembali duduk di tempat mereka semula.
"Terimakasih atas penghormatan kalian semua. Aku sangat menghargainya namun sepantasnya penghormatan juga layak di sematkan pada para prajurit Panjalu yang telah gugur sebagai pahlawan, juga para prajurit Panjalu yang bisa pulang dari peperangan ini. Tak lupa pada segenap perwira rendah, menengah maupun tinggi yang turut berjuang keras bersama ku. Tanpa mereka, tidak mungkin aku mengalahkan Jenggala", ujar Panji Watugunung yang segera membuat seluruh orang yang hadir tersenyum penuh arti.
"Sebagai tanda syukur kepada Hyang Widhi Wasa, hari ini kita adakan perjamuan besar untuk para pahlawan perang kita.
Selepas senja, kita berkumpul di sasana boga Istana Daha untuk merayakan kemenangan kita", titah Sang Maharaja Panjalu yang membuat seluruh hadirin di balai paseban agung menghormat pada Prabu Samarawijaya.
"Sendiko dawuh Gusti Prabu", ucap semua orang yang ada di tempat itu bersamaan.
Usai pisowanan agung di bubarkan, Panji Watugunung beserta keempat istri nya secara khusus di minta hadir di tempat pribadi raja karena Samarawijaya ingin mendengarkan jalan cerita sewaktu Panji Watugunung mengalahkan Mapanji Garasakan.
Di dapur istana Daha, para dayang dan pelayan sibuk menyiapkan perjamuan besar yang di janjikan kepada para pahlawan perang.
Seorang dayang istana muda tampak bolak balik menampi beras yang akan di masak.
"Surti,
Sudah selesai kau menampi beras itu?", tanya seorang emban istana yang berusia paruh baya. Dia adalah kepala juru masak istana Daha.
"Sudah mbok Marni,
Aku rasa ini sudah cukup bersih untuk dimasak", jawab si dayang istana muda yang bernama Surti itu dengan gaya kemayu. Segera perempuan itu menyerahkan beras yang di tampi nya pada Marni, dayang sepuh istana Daha. Lalu kemudian, Surti mencuri kesempatan untuk meninggalkan dapur istana Daha. Tujuannya ke arah ruang pribadi Raja.
Prabu Samarawijaya yang tengah berdandan di bantu selir nya, tak menyadari bahwa sepasang mata mengawasi pergerakan nya.
Begitu Raja Panjalu itu berdiri dari tempat duduknya hendak menuju ke arah sasana boga Istana Daha, dan selir raja tengah merapikan bekas pakaian Prabu Samarawijaya, sebuah ayunan pisau dari Surti menyambar perut Samarawijaya.
Shreeeeettttthhh...
Auuuggghhhhh!!
Mendengar suara jeritan sang Raja, para pengawal pribadi Raja segera melesat ke arah Prabu Samarawijaya yang tengah terluka parah.
__ADS_1
"Siapa yang melakukannya Gusti Selir?", tanya sang prajurit pada selir raja yang memegangi tubuh Prabu Samarawijaya.
"Pelayan muda itu pelakunya!", teriak Selir Raja sambil menunjuk ke arah Surti yang berlari menjauh.
"Kejar dia!
Tangkap, jangan sampai lolos!", teriak seorang prajurit yang membuat keempat kawan nya berlari mengejar Surti.
Kentongan bertalu-talu tanda rajapati membuat semua orang yang di istana geger, tak terkecuali Panji Watugunung yang tengah menunggu kedatangan Prabu Samarawijaya di Sasana boga.
Dengan merapal Ajian Sepi Angin, Yuwaraja Panjalu itu segera melesat cepat kearah ruang pribadi Raja diikuti oleh keempat istri nya.
Begitu sampai di ruang pribadi Raja, dan melihat keadaan Prabu Samarawijaya yang tengah terluka parah, Panji Watugunung segera menoleh ke arah Dewi Srimpi.
"Dinda Srimpi,
Tolong rawat Gusti Prabu. Aku akan mengejar pelakunya", usai berkata demikian Panji Watugunung segera melesat cepat menuju arah para prajurit Panjalu mengejar Surti.
Surti terus berlari kearah timur. Namun rupanya karena keliru berbelok di lorong akibat hadangan para prajurit Panjalu, dia terjebak di salah satu sudut tembok besar istana.
Tak kurang 8 orang prajurit penjaga istana mengepungnya.
"Menyerahlah Surti,
Kau tidak mungkin bisa lolos dari kepungan kami", ujar seorang prajurit yang membawa tombak.
Hahahaha....
Suara tawa keras Surti terdengar aneh. Para prajurit Panjalu yang tengah mengepung Surti saling berpandangan, tak habis pikir dengan ulah dayang istana ini.
"Kalian pikir sudah berhasil memojokkan ku ha??..
Kalian salah besar!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah 😁😁
Selamat membaca 🙏🙏😁🙏🙏
__ADS_1