Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Mata Mata Racun Kembang


__ADS_3

"Ada hal penting Kakang Watugunung, sebaiknya kakang ke istana pakuwon sekarang", ujar Dewi Tunjung Biru setelah menata nafasnya.


Cihhhhh


'Rubah betina itu pasti melancarkan rencana busuk'.


"Aku ikut ke istana Pakuwon Kakang, ada yang ingin ku beli di pasar sore di depan gapura istana", ujar Sekar Mayang sambil melirik ke arah Dewi Tunjung Biru.


"Baiklah, kita berangkat sekarang saja. Kakang Warigalit dan Paman Saketi, sementara Wanua Klakah ku titipkan kepada kalian".


Warigalit dan Ki Saketi mengangguk tanda mengerti.


Usai berkata demikian, Panji Watugunung di ikuti oleh Sekar Mayang dan Dewi Tunjung Biru segera melompat ke atas kuda mereka dan memacu kuda mereka meninggalkan wanua Klakah.


**


Seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dengan dandanan tebal dan bibir merah merona sedang duduk di atas kursi kayu berwangi bunga. Di hadapan nya, 5 orang murid nya sedang duduk menunggu perintah.


Dia adalah Dewi Kembang Wengi, guru sekaligus pemimpin tertinggi dari Padepokan Racun Kembang .Perguruan aliran hitam itu terkenal dengan ilmu racun dan kelakuan murid-murid nya yang tak bermoral.


2 murid utama nya, Racun Hati dan Kembang Setan adalah tokoh-tokoh dunia persilatan aliran hitam yang terkenal keji dan sadis. Sedangkan 3 murid tingkat 2 nya, Dewi Kantil, Dewi Kenanga dan Dewi Kamboja tersohor karna kebinalan mereka.


Meski tidak setenar Kalajengking Biru, Racun Kembang cukup di perhitungkan. Anggota perguruan itu sekitar 100 orang.


"Kantil,


Apa belum ada kabar dari dua mata mata kita di Watugaluh?", tanya Dewi Kembang Wengi kepada muridnya, Dewi Kantil.


"Belum guru, berita terakhir nya Setan Muka Bopeng sudah menguasai tempat dimana Dewa Angin akan bermarkas. Tapi belum ada kelanjutannya guru", jawab Dewi Kantil.


Hemmmm


"Aku tidak sabar membantai laki laki busuk itu.


Kantil, bawa Kenanga dan Kamboja ke Watugaluh. Jangan sampai ribut dengan mereka. Cepat kabari aku setiap perkembangan nya. Aku sendiri yang akan mencabut nyawa laki laki busuk Alas Larangan itu dengan tangan ku", perintah Dewi Kembang Wengi.


Tiga murid Racun Kembang itu segera berdiri dan menghormat pada guru mereka kemudian undur diri melaksanakan tugas.


**


Panji Watugunung dan Sekar Mayang serta Dewi Tunjung Biru memasuki istana Pakuwon Watugaluh. Segera mereka bergegas menuju kamar peristirahatan Dewi Anggarawati.


Begitu sampai, terlihat Dewi Anggarawati sedang menyantap bubur halus di temani Ayu Galuh.


"Dinda Anggarawati, kau tidak apa-apa??", tanya Panji Watugunung seraya mendekati Dewi Anggarawati.


Anggarawati tersenyum bahagia melihat suami nya, segera berlari ke arah Panji Watugunung. Perempuan itu langsung memeluk tubuh Panji Watugunung dan menciuminya.


Menghadapi tindakan Anggarawati yang lain dari kebiasaan, Panji Watugunung mengernyitkan keningnya.


Sementara Anggarawati menciumi suaminya, 3 orang perempuan di tempat itu menggerutu dalam hati.


'Kau pikir cuma kau istri satu-satunya'


'Dasar putri manja, main sosor saja'


'Aku iri padamu Anggarawati'.


"Dinda Anggarawati, apa ada yang perlu kau sampaikan? Tidak biasanya kau seperti ini?", Panji Watugunung memandang wajah cantik Anggarawati yang nampak berseri seri.


Tangan Anggarawati segera meraih tangan Panji Watugunung dan meletakkan nya di perutnya.


"Kangmas, disini sudah ada Panji Kecil kita", ucap Dewi Anggarawati sambil tersenyum bahagia.


"Apa maksudmu Dinda Anggarawati?", Panji Watugunung masih belum mengerti.


"Kangmas, aku hamil Kangmas. Kangmas akan menjadi seorang ayah".

__ADS_1


Mendengar ucapan Anggarawati, Panji Watugunung terkejut bukan main. Dengan tatapan nanar, dia melihat wajah istri nya itu dan Dewi Anggarawati tersenyum sambil mengangguk pelan.


Panji Watugunung segera menggendong tubuh Anggarawati dan mencium pipi perempuan cantik itu. Dia sangat bahagia. Akhirnya dia menjadi seorang ayah. Anggarawati juga bahagia. Dia merasa menjadi wanita yang sempurna untuk laki laki pujaan hatinya.


Dua orang itu tersenyum bahagia seolah melupakan tatapan 3 pasang mata yang iri.


Panji Watugunung segera menyadarinya. Segera dia menurunkan tubuh Dewi Anggarawati dari gendongan nya.


"Dinda, mulai sekarang Dinda harus hati hati. Jaga Panji kecil kita. Dinda tidak boleh terlalu capek".


Anggarawati hanya tersenyum sambil mengangguk pelan.


Teringat mereka dalam situasi sulit, Panji Watugunung segera mendekati Ayu Galuh, Sekar Mayang dan Dewi Tunjung Biru yang mematung ditempatnya.


"Dinda Mayang, karna kita dalam keadaan seperti ini, aku tidak bisa membiarkan Anggarawati tanpa pengawalan ketat. Aku minta kepada mu untuk melindungi Dinda Anggarawati.


Apa kau bisa??".


"Tentu saja aku bisa Kakang, aku yakin bisa menjaga putri manja itu", jawab Sekar Mayang bersemangat.


"Aku pasti repot bolak balik ke istana Pakuwon Watugaluh dan Wanua Klakah. Jadi aku minta kalian semua yang disini membantu ku menjaga Anggarawati", ujar Panji Watugunung kemudian.


Sekar Mayang, Ayu Galuh dan Dewi Tunjung Biru mengangguk tanda mengerti.


Malam itu Panji Watugunung bermalam di istana Pakuwon Watugaluh menemani Dewi Anggarawati yang sedang hamil muda. Seperti kebiasaan wanita hamil, tengah malam Dewi Anggarawati meminta Panji Watugunung mencarikan kelapa muda. Demi si Panji kecil, dia mencarikan kelapa muda hingga keluar istana.


Keesokan paginya, Panji Watugunung meninggalkan istana Pakuwon Watugaluh. Dewi Anggarawati meminta Panji Watugunung mencium pipi semua istrinya sebelum berangkat. Ngidam nya Anggarawati memang aneh-aneh. Tapi tentu saja Ayu Galuh dan Sekar Mayang berbahagia dengan keinginan Anggarawati itu.


Matahari sepenggal naik saat Panji Watugunung sampai di wanua Klakah. Ki Saketi, Warigalit, Ratri, Ratna Pitaloka dan Dewi Srimpi serta Sepasang Sriti Perak sudah menunggunya di serambi rumah kediaman nya.


"Bagaimana perkembangan keadaan nya? Apa ada berita penting yang perlu aku dengar?", ujar Watugunung sambil memandang semua orang.


"Ludaka yang bertugas menyamar menjadi pencari ikan, melihat beberapa perahu mencurigakan di seberang sungai Brantas ini Gusti. Sepertinya ada yang terus memata-matai tempat ini. Dan dari mata-mata Racun Kembang, mereka berkata kemungkinan hari ini akan ada yang datang kesini karna mereka tidak memberikan berita ke penghubung Racun Kembang yang ada di Wanua Tajur", Ki Saketi melapor.


"Wanua Tajur? Bukankah itu di seberang sungai?", tanya Watugunung. Dia pernah mendengar tentang wilayah itu.


"Aku akan menyamar dengan kakang Warigalit ke tempat itu, akan ku coba mengamati situasi disana. Perintahkan pada Ludaka dan Landung untuk mendekatkan perahu ke sekitar tempat itu. Yang lain tetap bersiaga", ujar Panji Watugunung yang segera di balas anggukan kepala dari semua orang.


Ludaka dan Landung segera mendorong sampan kecil tengah sungai Brantas. Mereka mengayuh sampan kecil itu dengan cepat. Warigalit dan Panji Watugunung yang berpakaian biasa dan mengenakan caping bambu duduk di bagian depan sampan. Mereka menurunkan Panji Watugunung dan Warigalit agak ke jauh dari dermaga Wanua Tajur yang sedang terlihat ramai. Panji Watugunung dan Warigalit segera bergerak cepat menuju ke Wanua, sedangkan Ludaka dan Landung meneruskan kegiatan mencari ikan.


Di timur Wanua Tajur, sebuah warung makan terlihat ramai. Panji Watugunung dan Warigalit berjalan masuk sambil memesan makanan.


Mereka memilih meja di sudut ruangan.


Dua orang wanita berwajah manis dengan senyum biak memandang mereka tidak berkedip.


"Kangmbok, lihat dua pengembara itu. Mereka tampan ya. Kelihatannya juga perkasa kalau bercinta", bisik seorang wanita yang berambut panjang dengan senyum mesumnya.


"Iya adik, yang berkumis tipis itu sepertinya menarik sekali. Sudah seminggu aku tidak bercinta adik. Orang orang di wanua ini tidak ada yang menarik", balas perempuan berdada besar sambil mengusap air liurnya.


"Ayo kita dekati mereka Kangmbok, tak sabar aku", si perempuan berambut panjang segera bergegas mendekati Panji Watugunung dan Warigalit di ikuti oleh perempuan berdada besar.


"Kisanak, sepertinya bukan orang daerah sini. Kalau boleh tau, ada tujuan apa kesini?", ucap si perempuan rambut panjang dengan gaya kemayu.


"Kami pengelana dari Kambang Putih. Ingin menemui saudara jauh kami di Anjuk Ladang. Kebetulan lewat daerah sini", jawab Watugunung sopan. Warigalit hanya diam.


"Oh begitu. Apa kalian tidak tau, ada peraturan setiap melewati wilayah disini?", tanya si perempuan itu tersenyum genit.


"Apa itu nisanak? Maaf kami hanya pengelana, kalau uang kami hanya punya untuk bekal perjalanan", jawab Watugunung tenang.


Dua perempuan itu tertawa kecil.


"Siapa yang butuh uang kisanak kalau ada hal lain yang lebih menyenangkan?", si perempuan dada besar ikut berbicara.


Panji Watugunung segera paham arah pembicaraan mereka. Warigalit yang sudah mulai gusar, di senggol kaki nya oleh Panji Watugunung untuk tetap tenang.


"Maaf nisanak, siapa kalian ini sebenarnya?", tanya Watugunung sopan.

__ADS_1


Si perempuan berambut panjang itu tersenyum genit.


"Kami Sepasang Putri Kembang dari Racun Kembang. Apa kalian pernah mendengar nama kami?".


Panji Watugunung dan Warigalit segera berpandangan sejenak. Sepasang Putri Kembang adalah sepasang wanita cabul yang di takuti karena keganasannya jika di tolak laki laki yang mereka incar. Satu kedipan mata pelan dari Watugunung di pahami oleh Warigalit.


"Kami pernah mendengar nama kalian. Mohon jangan menyakiti kami", Panji Watugunung segera memasang wajah memelas.


"Baiklah,aku dan Kangmbok tidak akan menyakiti kalian asal kalian menurut perintah kami.


Ayo ikuti kami".


Usai berkata demikian, Sepasang Putri Kembang dari Racun Kembang segera melangkah keluar. Panji Watugunung segera meletakkan 2 kepeng perak di meja. Dan mengikuti langkah kedua perempuan itu bersama Warigalit. Semua orang di warung makan hanya memandang mereka, karna takut bernasib sama dengan 2 orang lelaki muda itu.


Mereka berempat berjalan menuju sebuah bukit kecil di utara wanua Tajur. Tak berapa lama kemudian, sebuah pondok kecil di samping sebuah goa terlihat. Mereka menuju kesana.


Si perempuan berambut panjang menarik Panji Watugunung ke arah goa, sedangkan Warigalit di tarik oleh perempuan berdada besar itu ke pondok.


"Apa maksudmu ini nisanak?


Mengapa membawa kami kemari", tanya Watugunung.


"Bukankah kau ingin aku tidak ingin menyakiti kalian? Akan kulakukan, tapi ada syaratnya".


Perempuan genit itu tersenyum cabul.


"Layani aku bercinta"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Aduh neng, jangan macam-macam deh!!


Ketahuan Ratna Pitaloka bisa dihajar kalian.


Ikuti terus kisah selanjutnya guys 😁😁


Jangan lupa untuk dukung author terus semangat menulis dengan like vote dan komentar nya 👍👍👍


Share juga boleh kok di FB Noveltoon 😂

__ADS_1


Selamat membaca guys 😁🙏🙏😁


__ADS_2