Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Dalih


__ADS_3

Usai berkata demikian, Pangeran Suryanata dan pengawalnya segera menggebrak kuda tunggangan nya kearah barat daya menuju Kadipaten Anjuk Ladang. Ada nyala api dendam yang ikut dia bawa dalam hatinya.


Sementara itu di istana Daha yang tengah kacau balau karena ulah kelompok Suryanata, Senopati Warigalit dan Tumenggung Ludaka mengepung Puri Agung tempat tinggal Rara Wulandari.


"Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba saja kalian mengepung tempat kami?", tanya seorang Bekel Prajurit yang bertugas menjaga kediaman pribadi putri kelima Prabu Samarawijaya itu.


"Perintah Gusti Pangeran Jayengrana, Yuwaraja Panjalu.


Pangeran Banjarsari dan Pangeran Suryanata dituduh terlibat dalam upaya pembunuhan terhadap Gusti Pangeran Jayengrana dan Mapatih Jayakerti. Karena itu harus di tangkap hidup atau mati.


Kalau kalian melawan, kalian juga ikut di cap berkhianat terhadap kerajaan Panjalu", ujar Tumenggung Ludaka sambil terus menatap ke arah sang bekel dan para prajurit yang berjaga di kediaman Rara Wulandari. Dia yang pintar membaca gerak-gerik lawan, sudah bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi.


Dan benar saja, sebuah isyarat dari bekel prajurit itu langsung membuat para prajurit pengawal pribadi Puri Agung Putri Rara Wulandari menyerang kearah para prajurit Panjalu yang mengepung tempat itu.


Pertarungan sengit antara mereka segera pecah di malam hari yang bercampur hujan gerimis yang baru saja mengguyur Kotaraja Daha.


Si bekel prajurit penjaga Puri Rara Wulandari langsung melompat ke arah Tumenggung Ludaka seraya membabatkan pedang nya.


Shreeeeettttthhh


Perwira tinggi prajurit Daha yang sudah kenyang makan asam garam peperangan itu segera melompat tinggi ke udara usai menggunakan punggung kudanya sebagai tumpuan. Setelah bersalto di udara dua kali, Tumenggung Ludaka segera mendarat di belakang Si Bekel Prajurit Puri Agung Rara Wulandari.


Tak ingin lawan nya lolos, Si bekel prajurit Puri Agung segera berbalik arah dan kembali melesat ke arah Tumenggung Ludaka.


Lagi lagi sabetan pedang yang mengancam nyawa terarah tepat ke leher Tumenggung Ludaka. Namun Tumenggung andalan Pangeran Jayengrana itu segera merendahkan tubuhnya lalu dengan cepat melayangkan pukulan kearah perut si bekel prajurit.


Bhuuukkkhhh...


Auuuggghhhhh!!


Si bekel prajurit terjengkang ke belakang sambil meraung keras. Namun dia segera bangkit lagi dan dengan membabi-buta kembali menyerang maju ke arah Tumenggung Ludaka.


Selepas 5 jurus, sebuah tamparan keras membuat si bekel prajurit kembali terjatuh ke tanah. Wajah nya membengkak akibat beberapa pukulan yang mendarat di sana, bibirnya pecah serta sebuah luka berdarah di punggungnya semakin membuat penampilan sang bekel prajurit mengenaskan.


Di dalam Puri Agung, Pangeran Banjarsari yang tengah tertidur pulas seketika terbangun saat mendengar pintu kamar tidur nya di ketuk keras.


Tokk thokk thokkkk...


"Siapa berani mengganggu tidur ku?


Cari mati ya?", bentak Pangeran Banjarsari dari atas ranjang tidur nya.


"Mohon ampun beribu ampun Gusti Pangeran. Ada berita gawat Gusti, katiwasan..


Puri Agung kita di kepung oleh prajurit keamanan Kotaraja Daha Gusti Pangeran", ucap seorang prajurit dari balik pintu kamar tidur Pangeran Banjarsari.


Mendengar jawaban itu, Pangeran Banjarsari terkejut bukan main. Segera dia menyingkirkan tangan Rara Wiru yang melingkar di dadanya. Segera dia bangun dari tempat tidur nya dan merapikan pakaiannya. Dengan tergesa dia menyambar keris pusaka yang dia letakkan pada lemari di samping tempat tidurnya dan bergegas menuju pintu kamar tidur.


Krrriiiiieeeeeeeeetttthhhh..


Sang prajurit pengawal pribadi Puri Agung segera menghormat pada Pangeran Banjarsari. Kemudian mereka berdua segera melangkah menuju ke arah gapura Puri Agung. Sambil berjalan, puluhan prajurit Puri Agung mengikuti langkah sang Pangeran.


Saat Tumenggung Ludaka hendak menyelesaikan pertarungan, dari arah pintu gerbang Puri Agung muncul Pangeran Banjarsari dengan di kawal puluhan prajurit penjaga Puri.


"Hai apa yang kalian lakukan? Kenapa tiba-tiba kalian menyerbu Puri Agung ku? Apa kalian ingin mencari masalah dengan ku ha?", teriak Pangeran Banjarsari dengan keras.


"Para prajurit mu yang memulai lebih dulu, Pangeran Banjarsari.


Kami hanya membela diri. Kedatangan kami kemari adalah untuk menjalankan tugas dari Yuwaraja Panjalu sebagai pimpinan sementara Kerajaan Panjalu untuk membawa mu menghadapnya", ujar Senopati Warigalit yang baru saja melompat turun dari kudanya. Mata kakak seperguruan Panji Watugunung itu terus mengawasi gerak-gerik Pangeran Banjarsari yang mencurigakan.


"Menghadap Kangmas Pangeran Jayengrana? Ada perlu apa memanggil ku? Bukankah bisa lewat utusan dan bicara baik-baik?


Tidak perlu memakai kekerasan seperti ini", Pangeran Banjarsari bersikap seolah-olah tidak tahu apa yang terjadi.


"Kau jangan berlagak bodoh, Pangeran Banjarsari.


Malam ini terjadi dua peristiwa besar di kota Daha dan kau di duga sebagai dalang dari dua peristiwa ini. Pangeran Suryanata sudah kabur dari Kotaraja Daha, tinggal kau yang belum kami tindak. Gusti Pangeran Jayengrana meminta kami menjemput mu dengan segala cara, baik hidup atau mati", ujar Senopati Warigalit dengan tegas.


Pangeran Banjarsari kaget setengah mati mendengar ucapan Warigalit. Otaknya yang licik segera memikirkan cara untuk meloloskan diri dari jerat hukum.


"Apa ada bukti aku terlibat dalam masalah itu?


Apa ada yang bisa menunjukkannya?


Jangan asal tuduh sembarangan, Senopati Warigalit", dalih Pangeran Banjarsari yang masih mempertahankan ketidakikutsertaan nya.


"Kau bisa bersilat lidah, Pangeran Banjarsari.


Tapi Tumenggung Gilingwesi yang tewas dan anak buah nya yang sudah mengakui bahwa mereka adalah utusan mu, apa bukan bukti yang cukup untuk melibatkan mu ha?


Jangan banyak berdalih, menyerahlah. Kalau tidak terpaksa aku memakai kekerasan untuk membawa mu pada Gusti Pangeran Jayengrana", ujar Senopati Warigalit yang mulai hilang kesabaran menghadapi silat lidah Pangeran Banjarsari. Raut muka kakak seperguruan Panji Watugunung itu mulai memerah pertanda dia mulai gusar.


Pangeran Banjarsari yang tidak bisa mengelak lagi, perlahan mulai meraba pinggang nya. Perlahan dia mundur selangkah dan itu menjadi isyarat bagi para prajurit bawahannya untuk menyerang anak buah Senopati Warigalit.


Puluhan prajurit Puri Agung segera melompat maju kearah pasukan keamanan Kotaraja Daha.


Pertarungan antara sesama prajurit Panjalu terjadi di malam hari itu.

__ADS_1


Suasana dingin yang turun bersamaan hujan deras yang mengguyur kota Dahanapura tidak mendinginkan suasana yang panas di depan Puri Agung Rara Wulandari. Meski tengah malam telah berlalu dan cuaca begitu dingin menusuk tulang, para prajurit yang tengah bertarung tidak menghiraukannya.


Melihat para prajurit nya mulai terdesak, Pangeran Banjarsari langsung geram. Suami Rara Wulandari itu segera melompat ke arena pertarungan.


Senopati Warigalit yang sedari tadi hanya memperhatikan gerak-gerik Pangeran Banjarsari, ikut maju ke medan pertarungan. Suami Ratri itu dengan cepat menghadang laju pergerakan Pangeran Banjarsari yang baru saja menusuk perut seorang prajurit keamanan Kotaraja Daha dengan keris nya.


"Sudah cukup, Pangeran Banjarsari.


Kau tidak mungkin bisa lolos dari kepungan kami. Ini peringatan terakhir bagi mu", ucap Senopati Warigalit dengan tegas.


"Persetan dengan hidup mati. Kalau aku mati, akan ku bawa kau bersama ku!", teriak Pangeran Banjarsari yang dengan cepat menyerang Warigalit dengan keris pusaka nya yang berlumuran darah.


Warigalit dengan cepat menghadapi Pangeran Banjarsari dengan ilmu silat Padas Putih nya. Gerakan silat sang Senopati Panjalu itu begitu luwes dan mematikan menghadapi serangan Pangeran Banjarsari yang membabi buta.


Whuuussshh..


Satu tendangan dari Pangeran Banjarsari di hindari oleh Senopati Warigalit dengan melompat tinggi ke udara.


Melihat lawan bisa menghindar, Pangeran Banjarsari segera putar gerakan tubuhnya dan kembali merangsek ke arah Senopati Warigalit seraya menyabetkan keris pusaka nya.


Shreeeeettttthhh


Warigalit yang baru saja menjejak tanah langsung merendahkan tubuhnya dan melakukan sapuan kaki pada kuda-kuda Pangeran Banjarsari yang goyah.


Bhuuukkkhhh..


Pangeran Banjarsari terjatuh ke tanah yang becek. Melihat itu, Senopati Warigalit bermaksud untuk menginjak dada si pangeran durjana. Namun Pangeran Banjarsari yang melihat gerakan tubuh Warigalit segera berguling menjauhi Warigalit lalu segera berdiri. Baju dan tubuh Pangeran Banjarsari penuh dengan lumpur dan rumput. Sudah tidak terlihat lagi bahwa dia seorang pangeran Istana Daha.


Dengan gusar, Pangeran Banjarsari mengusap lumpur yang mengotori wajah nya. Sorot mata tajam penuh hawa nafsu membunuh tercermin dari wajah suami Rara Wulandari itu. Ia pun lantas menyarungkan keris pusaka nya di pinggang.


Tangan pangeran muda itu segera menangkup di depan dada. Rupanya dia berniat mengeluarkan ilmu kanuragan andalan nya. Dari kedua telapak tangan muncul asap putih tipis disusul oleh sinar biru yang dingin.


Tubuh Pangeran Banjarsari yang penuh lumpur dan rumput bergetar hebat.


Melihat lawan hendak mengeluarkan ajian andalannya, Senopati Warigalit segera bersiap. Sebelah tangan kanannya segera menangkup di depan dada. Sambil membaca mantra Ajian Tapak Dewa Api ajaran Mpu Sakri, pucuk pimpinan prajurit Kayuwarajan Kadiri itu mengerahkan tenaga dalam tingkat tinggi nya.


Zzzrrrrrrrrttttthhhhh!


Sinar merah kekuningan bergulung dari bahu kanan dan berkumpul di tapak tangan kanan sang senopati hingga telapak tangan kanannya berubah menjadi merah menyala seperti api.


Setelah ajian pamungkas nya sampai di tahap sempurna, Pangeran Banjarsari segera melompat tinggi ke udara sambil menghantamkan tangan kanannya ke arah Senopati Warigalit.


"Mati kau senopati keparat!


Hiyyyyaaaaaaaatttttt......"


Sinar biru menerabas cepat kearah Senopati Warigalit di sertai angin kencang yang dingin.


Dengan Ajian Sepi Angin, Warigalit menghindari sinar biru dari tangan Pangeran Banjarsari. Akibatnya sinar biru menghantam seorang prajurit keamanan Kotaraja Daha yang sedang sial.


Blaaarrrhhh!!


Ledakan dahsyat terjadi dan tubuh si prajurit keamanan Kotaraja Daha itu langsung terlempar. Dia langsung tewas dengan tubuh membeku. Itulah kehebatan Ajian Naga Beku andalan Pangeran Banjarsari.


Menyaksikan lawan bisa menghindar, Pangeran Banjarsari kembali menghantamkan tangan kanan dan kiri nya bertubi-tubi kearah Senopati Warigalit.


Whuuthhh whuuussshh!!


Blammmmm blammmmm!!


Ledakan dahsyat terdengar berulang kali dan beberapa prajurit keamanan Kotaraja Daha dan prajurit Puri Agung menjadi korban keampuhan serangan Pangeran Banjarsari karena Warigalit terus menerus mampu menghindari setiap serangan sang pangeran.


Usai berhasil menghindari sinar biru dari tangan kanan Pangeran Banjarsari, Senopati Warigalit melesat cepat kearah Pangeran Banjarsari seraya menghantamkan tangan kanannya.


Gerakannya yang begitu cepat membuat Pangeran Banjarsari gelagapan dan segera menghantamkan tangan kanannya untuk beradu ilmu.


Dua tangan yang diliputi oleh dua ajian berbeda unsur itu berbenturan.


Dhhhhuuuaaaaaarrrrrrrhh!!


Ledakan dahsyat terjadi dan Warigalit terpental mundur ke belakang namun demi menghentikan laju tubuh nya ia menjejak tanah dengan keras hingga gerakan tubuhnya terhenti. Tangan kanannya kesemutan akibat benturan tadi.


Sementara itu Pangeran Banjarsari terlempar jauh ke belakang dan menabrak tubuh seorang prajurit Puri Agung. Dia roboh dan muntah darah segar. Tingkatan tenaga dalam yang jauh di bawah Senopati Warigalit membuat pangeran muda itu menderita luka dalam serius.


Dengan sisa sisa tenaga yang dimilikinya, Pangeran Banjarsari mencoba untuk bangkit tapi dia limbung hingga kembali jatuh ke tanah.


Tumenggung Ludaka yang tak jauh dari tempat itu langsung melesat cepat kearah Pangeran Banjarsari kemudian menempelkan pedangnya ke leher sang pangeran muda.


"Bergerak sedikit saja maka akan putus leher mu, durjana!", ancam Tumenggung Ludaka dengan bengisnya.


"Hentikan pertempuran!


Kalau tidak nyawa junjungan mu akan berakhir saat ini juga", sambung Tumenggung Ludaka yang membuat semua orang seketika menghentikan pertarungan.


Pangeran Banjarsari yang sudah tidak berdaya hanya bisa pasrah saja menerima perlakuan para prajurit keamanan Kotaraja Daha yang segera mengikat tubuhnya. Begitu juga para pengikutnya yang segera melemparkan senjata sebagai tanda bahwa mereka telah menyerah.


"Bawa mereka semua ke balai paseban agung Keraton Daha", perintah Senopati Warigalit segera.

__ADS_1


'


Hari menjelang pagi saat Pangeran Banjarsari dan pengikutnya di giring ke balai paseban agung Keraton Daha dalam keadaan terikat.


Di balai paseban agung, Panji Watugunung dan para pembesar Istana Daha telah berkumpul. Mapatih Jayakerti yang sudah bisa berjalan meski masih merasakan sakit akibat luka dalam yang di terima saat berhadapan dengan Tumenggung Gilingwesi juga turut hadir di balai paseban. Para Nayakapraja beserta para punggawa istana diam seribu bahasa saat Senopati Warigalit mendorong tubuh Pangeran Banjarsari ke lantai balai paseban agung.


"Wahai para punggawa Istana Daha,


Aku minta maaf jika aku mengganggu waktu istirahat kalian. Malam ini telah terjadi dua peristiwa percobaan pembunuhan terhadap ku dan Mapatih Jayakerti.


Dari para pelaku yang terlibat, mereka semua di gerakkan oleh Pangeran Suryanata dan Pangeran Banjarsari", ucap Panji Watugunung yang segera membuat kehebohan di kalangan para pejabat istana Daha. Mereka segera saling berbisik hingga suasana menjadi riuh.


"Kalian jangan percaya dengan omongan Pangeran Jayengrana. Ini semua adalah fitnah", ucap Pangeran Banjarsari yang membuat suasana kembali memanas.


"Sekarang kalian semua diam", perintah Panji Watugunung yang membuat suasana di balai paseban agung Keraton Daha menjadi lengang.


Setelah suasana tenang, Panji Watugunung segera menoleh ke arah Pangeran Banjarsari yang bersimpuh di lantai balai paseban agung.


"Kau bilang fitnah? Pintar sekali kau bersilat lidah, Pangeran Banjarsari.


Aku menangkap mu bukan tanpa alasan dan bukti.


Penjaga,


Bawa para pelaku kejahatan itu kemari!", perintah Panji Watugunung segera. Tak berapa lama kemudian, salah satu dari kelompok penyerang Kepatihan yang masih hidup di bawa masuk bersama Randupati dan kedua temannya yang masih hidup. Pangeran Banjarsari langsung pucat wajah nya melihat kedatangan mereka.


"Katakan padaku,


Siapa yang menyuruh mu untuk membunuh Mapatih Jayakerti? Jawab pertanyaan ku sejujurnya, kau tidak perlu takut", tanya Panji Watugunung dengan nada suara tegas dan berwibawa.


"Ham-hamba di utus oleh Gusti Pangeran Banjarsari untuk membunuh Gusti Mapatih Jayakerti.


Kata nya, Gusti Mapatih adalah orang jahat yang harus di musnahkan", ujar si lelaki bertubuh gempal yang kemarin memakai topeng kayu hijau.


"Bagus kau sudah jujur kepada ku....


Sekarang kau pengalasan Suryanata.


Siapa yang menyuruh kalian untuk menerobos masuk ke Keputran Daha?", tanya Panji Watugunung segera.


Randupati menoleh sebentar ke arah Pangeran Banjarsari sebelum mulai bicara. Dia yang disiksa habis-habisan oleh para prajurit Panjalu ingin cepat mengakhiri penderitaan nya.


"Hamba diutus oleh Pangeran Suryanata untuk membunuh Gusti Pangeran Jayengrana dengan imbalan akan diangkat menjadi pejabat istana Daha jika beliau berhasil menjadi raja.


Dalam hal ini, Gusti Pangeran Suryanata bergerak atas dukungan Pangeran Banjarsari", ujar Randupati dengan lantang.


Semua punggawa istana Daha saling berpandangan tak bisa berkata apa-apa lagi. Panji Watugunung segera berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan menuju ke tengah balai paseban agung Keraton Daha. Dia menatap ke wajah Pangeran Banjarsari yang tengah tertunduk menatap lantai balai paseban agung.


"Sekarang kau mau berdalih apalagi Pangeran Banjarsari?"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁

__ADS_1


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah agar author semangat untuk melanjutkan kisah Panji Watugunung dalam menegakkan keadilan di Panjalu 😁


Selamat membaca 😁🙏😁😁🙏😁


__ADS_2