Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Pengkhianat


__ADS_3

Kuda yang di tunggangi Galungwangi terus melesat cepat kearah barat. Setelah melewati beberapa wanua di Pakuwon Karangrejo, Galungwangi terus menggebrak kudanya menuju ke Alas Roban.


Melewati jalan setapak yang di tumbuhi lumut dan pohon perdu liar, kuda Galungwangi terus masuk ke dalam rimbun pepohonan yang tumbuh lebat di Alas Roban.


Setelah melewati sungai kecil dua kali, nampak sebuah pemondokan yang ada di sebuah padang rumput kecil di tengah Alas Roban. Di pondok kayu itulah Suryanata bersembunyi dari kejaran para prajurit Panjalu.


Galungwangi terus menjalankan kudanya menuju ke tempat itu.


Empat orang prajurit penjaga pemondokan itu langsung mengangguk saat melihat kedatangan Galungwangi.


Suryanata yang tengah berlatih beladiri langsung menghentikan gerakannya begitu melihat kedatangan Galungwangi. Putra Adipati Rajaputra itu segera menghampiri Galungwangi.


"Ah saudara ku Galungwangi,


Pantas saja dari tadi pagi burung cemblek terus menerus berkicau nyaring di pohon nangka ini, rupanya kau yang datang.


Ayo mari kita duduk", ajak Suryanata sembari melangkah menuju ke serambi depan pondok kayu tempat tinggalnya. Galungwangi mengangguk mengerti dan mengikuti langkah kaki Suryanata.


Usai mereka duduk bersila di lantai serambi pondok, seorang prajurit yang bertugas sebagai juru masak di tempat itu langsung mengantarkan sekendi air minum untuk penghilang haus Galungwangi.


Pria bertubuh gempal itu segera meminumnya dengan cepat.


"Ada berita apa yang perlu kau sampaikan pada ku, Galungwangi? Sepertinya kau benar-benar tergesa-gesa menuju ke tempat ini. Lihat pakaian mu sampai acak acakan begitu", ujar Suryanata sambil menatap Galungwangi dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"Mohon maaf Gusti Pangeran,


Saya membawa berita buruk. Kadipaten Kembang Kuning telah jatuh di tangan Prabu Jayengrana. Bahkan Gusti Adipati Mpu Pamadi pun tewas terbunuh oleh Prabu Jayengrana sendiri", lapor Galungwangi dengan cepat.


"Apa kau bilang??!!


Bagaimana bisa itu terjadi Galungwangi? Bukankah mereka sudah mempersiapkan jauh jauh hari untuk menghadapi pasukan Panjalu?", kaget sudah Suryanata mendengar berita kekalahan Kadipaten Kembang Kuning di tangan Panji Watugunung. Dia sungguh berharap besar jika paman nya itu mampu mengalahkan Panji Watugunung agar dia bisa kembali ke istana Daha.


"Hamba dengar, pasukan Panjalu membantai seluruh prajurit Kembang Kuning di benteng pertahanan Semanding sebelum akhirnya menyerbu kota Kadipaten Kembang Kuning, Gusti Pangeran.


Hamba melihat dengan mata kepala hamba sendiri kalau Prabu Jayengrana menjadi raksasa merah kemudian membelah tubuh Gusti Adipati Mpu Pamadi menjadi dua.


Gusti Pangeran tidak bisa untuk tinggal di tempat ini lagi. Terlalu berbahaya Gusti, sebab Tumenggung Gentiri telah menyerah. Hamba khawatir dia akan membocorkan rahasia keberadaan Gusti Pangeran di tempat ini", ujar Galungwangi sembari menghormat pada Suryanata.


Hemmmmmmm...


"Kau benar, saudara ku Galungwangi..


Kita tidak boleh berlama lama tinggal di sini. Besok pagi kita tinggalkan tempat ini. Aku yakin pasti Tumenggung Gentiri akan buka mulut soal kita disini", ujar Suryanata yang langsung memerintahkan kepada para prajurit penjaga pemondokan itu untuk bersiap siap meninggalkan tempat itu.


Sore segera berganti malam usai sang senja menghilang dari langit barat. Kabut tipis mulai menyelimuti seluruh kawasan Alas Roban yang sepi.


Suryanata duduk di lantai serambi pondok kayu tempat tinggalnya selama hampir 2 purnama. Di temani oleh Galungwangi dan keempat orang prajurit pengawal, Suryanata tampak seperti berpikir keras.


"Apa Gusti Pangeran sudah menetapkan kemana kita akan pergi?", suara Galungwangi memecah keheningan di tempat itu.


"Mau tidak mau kita harus kembali ke Rajapura, Galungwangi. Aku yakin Romo Adipati Warasambu pasti masih mau menerima kehadiran ku di istana.


Namun jika Kanjeng Romo menolak, pilihan terakhir kita akan ke Kadipaten Saungggalah untuk meminta perlindungan kepada Paman Kartawisesa. Aku yakin Somawikarta pun akan mau menerima kehadiran ku", ujar Suryanata sembari mengelus kumis tipis nya.


"Itu adalah jalan terbaik Gusti Pangeran. Jika kita sampai di Saungggalah, maka kita bebas karena Saungggalah adalah wilayah Kerajaan Galuh Pakuan.


Prabu Darmaraja pasti tidak akan senang jika Prabu Jayengrana memasuki wilayah nya untuk mengejar Gusti Pangeran", ada binar mata di wajah Galungwangi. Setitik cahaya harapan indah terbayang di benak pria bertubuh gempal itu segera.


"Jangan bersenang hati dulu, Galungwangi.


Ingat, permaisuri ketiga Prabu Jayengrana adalah Dewi Naganingrum, putri bungsu Prabu Darmaraja.


Itu berarti Prabu Jayengrana juga punya kuasa besar di Galuh Pakuan meski hanya menantu. Putra Mahkota Langlangbumi pun juga berpikir dua kali jika ingin menghalangi niat Jayengrana memburu ku", ucap Suryanata dengan bimbang.


Galungwangi langsung lesu mendengar penuturan Suryanata.


Malam segera berganti pagi. Kokok ayam jantan bersahutan menandakan sebentar lagi matahari akan terbit di langit timur.


Dengan memakai pakaian layaknya rakyat jelata, Suryanata dan Galungwangi segera melompat ke atas punggung kuda mereka masing-masing. Diikuti oleh empat prajurit penjaga, mereka meninggalkan pondok kayu itu. Galungwangi segera melemparkan obor pada atap pondok kayu itu.


Api seketika berkobar cepat membakar atap pondok kayu yang terbuat dari alang-alang kering. Asap hitam membumbung tinggi ke udara.


Rombongan Suryanata terus memacu kudanya melintasi jalan setapak di tengah Alas Roban. Tujuan nya hanya satu yaitu Kadipaten Rajapura.


**


Di istana Kadipaten Kembang Kuning, Panji Watugunung yang baru membuka mata di kejutkan dengan kedatangan Cempluk Rara Sunti.


Semalam Panji Watugunung memang beristirahat di balai peristirahatan Kadipaten Kembang Kuning. Cempluk Rara Sunti yang tengah terluka juga mendapat perawatan dari Dewi Srimpi. Setelah meminum obat dan tertidur, Dewi Srimpi meninggalkan Cempluk Rara Sunti dan berpindah ke kamar Panji Watugunung.


"Kau sudah baikan, Dinda Sunti?", tanya Panji Watugunung sambil mengucek matanya. Raja Panjalu itu menguap lebar beberapa kali. Pertarungan melawan Adipati Mpu Pamadi benar benar menguras tenaga nya.


"Sudah Gusti Prabu..


Kangmbok Srimpi merawat ku dengan baik hingga luka-luka dalam ku cepat sembuh. Kangmbok Srimpi memang hebat", jawab Cempluk Rara Sunti sembari tersenyum manis. Meski masih sedikit pucat, putri Warok Surapati itu sudah terlihat lebih baik dari kemarin.

__ADS_1


"Eh kemana Kangmbok Srimpi, Gusti Prabu?


Kog tidak ada disini?", Cempluk Rara Sunti mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan tempat tidur itu dan tak menemukan Dewi Srimpi disana.


"Aku baru saja bangun Dinda Sunti, mana tahu dia dimana?", Panji Watugunung segera bangkit dari tempat tidur nya dan hendak mencuci muka nya.


Dari depan, Dewi Srimpi membawa segendok air hangat dengan beberapa helai daun sirih di dalamnya.


"Mau kemana Denmas Prabu? Ini air cuci muka nya sudah Srimpi siapkan", ujar Dewi Srimpi sambil mengangkat gendok tanah liat itu ke atas meja di samping tempat tidur.


Panji Watugunung segera mengikuti langkah sang selir ketiga sambil menatap wajah cantik nya dengan senyum manis.


"Dinda Srimpi kenapa masih repot menyiapkan air cuci muka untuk ku?


Bukankah ada para dayang istana?", tanya Panji Watugunung kemudian.


"Maafkan aku Denmas, bukan aku tidak percaya dengan para dayang istana disini tapi kita baru saja menahklukan daerah ini.


Aku hanya menjalankan tugas sebagai seorang istri Denmas, juga tugas yang diberikan oleh Kangmbok Anggarawati untuk menjaga Denmas Prabu selama di perjalanan ini", jawab Dewi Srimpi sembari tersenyum simpul.


Mendengar jawaban itu Panji Watugunung tersenyum lebar. Raja Panjalu itu segera mengelus ubun-ubun kepala Dewi Srimpi. Ternyata Dewi Srimpi adalah istri yang berbakti kepada suaminya. Panji Watugunung merasa beruntung memiliki nya.


Selepas mandi dan berdandan layaknya seorang raja, Panji Watugunung segera melangkah menuju ke serambi balai peristirahatan Kadipaten Kembang Kuning dimana para perwira tinggi prajurit Daha berkumpul di sana.


Masing masing perwira melaporkan keadaan terbaru dari para prajurit di bawah pimpinan nya.


Usai Senopati Dewangkara melaporkan keadaan para prajurit Lasem, giliran Tumenggung Ludaka melapor pada Prabu Jayengrana.


"Mohon ampun beribu ampun Gusti Prabu,


Dari seribu anggota Pasukan Lowo Bengi, tersisa 700 prajurit telik sandi yang ada. Namun sebelumnya hamba mohon ampun Gusti Prabu, karena lancang memerintahkan kepada bawahan hamba untuk mencari berita tentang Suryanata", ujar Tumenggung Ludaka seraya menghormat pada Panji Watugunung.


"Darimana kau tahu kalau Suryanata bersembunyi di sekitar Kadipaten Kembang Kuning, Tumenggung Ludaka?


Coba jelaskan pada ku", tanya Panji Watugunung segera.


"Mohon ampun Gusti Prabu,


Saat kami menggiring para prajurit Kembang Kuning yang tersisa, saya mendengar kasak kusuk tentang keberadaan Suryanata. Lalu hamba bertanya kepada Tumenggung Gentiri mengenai hal ini. Dengan jujur, Tumenggung Gentiri menceritakan tentang Suryanata yang bersembunyi di dalam Alas Roban, Gusti Prabu.


Usai mendapat berita itu, hamba memerintahkan kepada 10 anggota Pasukan Lowo Bengi yang dipimpin oleh Guwarsa untuk mencari keberadaan mereka. Tadi pagi 4 dari mereka telah kembali dan memberi tahu kepada hamba bahwa Guwarsa dan kelima kawannya mengejar jejak Suryanata yang menuju kearah Kalingga", lapor Tumenggung Ludaka dengan cepat.


Hemmmmmmm..


Apa tujuan akhir dari Suryanata adalah Rajapura? Bukankah dia adalah putra Adipati Rajapura?", Panji Watugunung mengelus dagunya perlahan.


"Kemungkinan seperti itu, Dhimas Prabu Jayengrana.


Yang aku khawatirkan adalah Adipati Warasambu akan terpengaruh oleh omongan Suryanata dan ikut-ikutan memberontak terhadap Daha", timpal Senopati Warigalit segera.


"Selamanya, Suryanata akan menjadi duri dalam daging bagi keamanan dan ketertiban masyarakat Kerajaan Panjalu.


Ludaka, .


Terus pantau arah pergerakan Suryanata. Sebarkan pasukan Lowo Bengi mu untuk menyebar di sepanjang jalur menuju Rajapura. Kalau bisa tangkap Suryanata hidup atau mati.


Senopati Dewangkara,


Aku perintahkan kau untuk berangkat ke Kalingga. Sampaikan nawala ku kepada Adipati Aghnibrata. Bawa beberapa prajurit pilihan untuk menemani perjalanan mu ke Kalingga.


Apa kalian mengerti?", titah Sang Maharaja Panjalu dengan tegas.


"Sendiko dawuh Gusti Prabu Jayengrana", ujar semua orang yang hadir di balai peristirahatan Kadipaten Kembang Kuning.


Dan demikianlah, semua orang bergerak sesuai dengan tugas yang mereka miliki masing masing.


Sementara Tumenggung Ludaka dan Senopati Dewangkara menjalankan tugas mereka, para prajurit Panjalu di bawah pimpinan Senopati Warigalit mulai membangun kota Kadipaten Kembang Kuning yang terdampak peperangan yang baru saja terjadi.


Para penduduk Kembang Kuning yang sempat ketakutan saat perang, berangsur berani keluar rumah untuk melanjutkan hidup karena ada jaminan keamanan dari para prajurit Panjalu. Mereka menarik nafas lega karena pasukan Panjalu benar benar menata semuanya mulai dari awal lagi.


Pasar besar mulai ramai lagi oleh para pedagang yang berjualan aneka kebutuhan para penduduk Kota Kadipaten Kembang Kuning.


Nyi Tepasan menjadi satu-satunya pedagang besar yang bebas keluar masuk istana Kadipaten Kembang Kuning. Perempuan cantik itu bersyukur pernah memiliki hubungan baik dengan Prabu Jayengrana.


**


Di salah satu sudut hutan yang sepi, nampak 5 orang berpakaian rakyat biasa tengah beristirahat di bawah pohon rindang.


Raut wajah mereka terlihat kelelahan usai berkuda seharian. Mereka beristirahat untuk memberi makan kuda kuda mereka agar mampu melanjutkan perjalanan.


Hewan pelari mereka tampak menikmati rumput hijau yang subur di bantaran sungai kecil dekat mereka beristirahat.


Dari arah sungai kecil, muncul seorang dengan pakaian sama dengan wajah pucat pasi. Dia adalah Galungwangi, pengikut setia Suryanata.


Dia mendekati Suryanata yang duduk di bawah pohon rindang sembari membawa selembar kain kambing.

__ADS_1


"Kita dalam masalah besar, Gusti Pangeran. Ini gawat", ujar Galungwangi sembari menata nafas nya yang tersengal sengal. Sepertinya dia baru saja berlari.


"Apa maksud mu Galungwangi?


Coba kau terangkan", tanya Suryanata sambil menatap wajah Galungwangi yang terlihat ketakutan.


Galungwangi tak menjawab melainkan mengulurkan gulungan kulit kambing kepada Suryanata. Segera Suryanata membuka lembaran kulit kambing. Raut wajah Suryanata langsung pucat melihat lukisan wajahnya tertera di lembaran kulit kambing itu. Tertulis jelas disitu bahwa ada hadiah besar bagi semua orang yang bisa memberitahukan keberadaan Suryanata hidup atau mati.


"Kurang ajar!


Makin lama makin kurang ajar saja Jayengrana. Kita harus segera sampai di Rajapura, Galungwangi. Jika tidak, bisa bisa kita di tangkap oleh para prajurit dari Kalingga yang menginginkan hadiah besar", ujar Suryanata yang membuat semua orang terkejut. Salah seorang prajurit pengawal Suryanata mulai terlihat memikirkan sesuatu.


Mereka segera bersiap meninggalkan tempat itu. Rombongan itu kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju ke Rajapura.


Seorang prajurit pengawal Suryanata yang bernama Wungkal terus berada di urutan terakhir rombongan itu. Saat melintasi jalan setapak yang ada di dekat tepian hutan, Si Wungkal diam diam menghentikan langkah kaki kuda nya dan membelokkan kuda kearah lain.


Para anggota rombongan Suryanata baru menyadari bahwa Wungkal menghilang saat mereka keluar hutan lebat itu.


"Kemana si Wungkal?", tanya Galungwangi pada seorang prajurit yang ada di dekat nya.


"Hamba tidak tahu Gusti, dari tadi dia berkuda paling belakang terus selepas kita memberi makan kuda", jawab si prajurit pengawal itu segera.


Hemmmmmmm


"Bangsat!!


Rupanya dia tergiur hadiah besar yang di janjikan oleh Jayengrana. Dasar pengkhianat!


Apa kalian juga ingin seperti si Wungkal?", Suryanata menatap tajam ke arah 3 prajurit yang tersisa.


"Kami selalu setia dengan Gusti Pangeran", ujar mereka bersamaan.


"Bagus kalau begitu..


Kita harus cepat kearah Rajapura sebelum para prajurit Panjalu menangkap kita", ujar Suryanata yang langsung mendapat anggukan kepala dari keempat pengikutnya.


Mereka segera menggebrak kuda tunggangan mereka melintasi jalan raya menuju ke arah Pakuwon Gedangan sebelum akhirnya sampai di Kali Agung yang menjadi batas wilayah Kadipaten Kalingga dan Rajapura.


Sementara itu Si Wungkal selepas memisahkan diri dari rombongan Suryanata bergegas menuju ke Kota Pakuwon Sambang yang ada di utara Pakuwon Gedangan.


Pria bertubuh gempal itu segera menuju ke arah istana Pakuwon Sambang. Dia yang tergiur hadiah besar yang dijanjikan oleh Panji Watugunung berharap untuk dapat hidup lebih layak.


"Hadiah besar aku datang"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya 😁


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah 😁


Selamat membaca 😁🙏😁

__ADS_1


__ADS_2