Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Kisruh Istana Lodaya 3


__ADS_3

Dewi Srimpi bergerak cepat menghindari lemparan jarum beracun dari Dewi Racun Selatan. Ajian Langkah Kelabang Sewu nya benar benar berguna menghadapi serangan lawan yang mematikan.


Jarum beracun menancap pada sebatang pohon peneduh di dekat alun-alun kota Lodaya. Seketika asap putih berbau busuk mengepul dari batang pohon yang tertancap jarum.


'Racun penghancur tulang, wanita tua ini ahli racun rupanya', batin Dewi Srimpi yang lantas melempar 3 jarum berwarna merah kehitaman kearah Retnaningsih.


Shinggg!


Sringg!


Shiinnggggg!!!


Jarum Racun Kelabang Neraka melesat cepat kearah Dewi Racun Selatan. Perempuan paruh baya itu segera melempar sebuah tameng prajurit Lodaya yang tergeletak di dekatnya.


Whuuussshh..


Creeppp creeppp!!


Dua jarum menancap pada tameng, sedangkan satu jarum melesat cepat kearah Dewi Racun Selatan. Mata wanita tua itu berkilat penuh amarah melihat jarum Racun Kelabang Neraka mengancam nyawa nya.


Dengan cepat, Retnaningsih melenting tinggi ke udara menghindari tusukan jarum beracun.


Jarum Racun Kelabang Neraka terus melesat cepat kearah seorang anggota pasukan pemberontak yang hendak membabat leher seorang prajurit Lodaya yang sudah terjatuh.


Creeppp!!!


Aughhhh!


Jerit kecil terdengar dari mulut si anggota pasukan pemberontak saat Jarum Racun Kelabang Neraka menancap di dadanya.


Rasa panas matahari seperti terbakar api segera menjalar di seluruh tubuh si anggota pasukan pemberontak. Pria itu meraung kesakitan, tak lama kemudian dia roboh dengan mulut berbusa akibat keracunan.


Retnaningsih segera mencabut pedang pendek di pinggangnya. Wanita paruh baya melesat cepat kearah Dewi Srimpi yang sudah memegang gagang Pedang Kelabang Sewu nya.


Pedang pendek berwarna kebiruan itu dengan cepat diayunkan ke arah tebasan pedang Retnaningsih untuk menangkis.


Tringgggg!!


Bunga api kecil tercipta dari benturan dua senjata mereka. Mata Retnaningsih melotot melihat Pedang Kelabang Sewu di tangan Dewi Srimpi.


Perempuan paruh baya itu segera melompat mundur sejauh dua tombak ke belakang.


"Gadis busuk,


Darimana kau peroleh Pedang Kelabang Sewu itu ha?", teriak Retnaningsih alias Si Dewi Racun Selatan sambil mendelik tajam ke arah Dewi Srimpi.


"Pedang ini warisan ayah ku, tidak ada hubungannya dengan mu", ujar Dewi Srimpi sambil tersenyum sinis pada Retnaningsih.


"Setau ku itu adalah senjata andalan Mondhosio alias Si Kelabang Koro. Apa hubungan mu dengan nya?", tanya Retnaningsih segera.


"Kelabang Koro adalah ayahku. Sudah jangan banyak bicara. Majulah kau nenek tua", jawab Dewi Srimpi segera sambil tersenyum manis.


"Hahaha..


Rupanya ini hari keberuntungan ku. Bisa menghabisi nyawa keturunan Kelabang Koro adalah pesan Dewa Racun dari Gunung Semeru sebelum aku turun gunung.


Gadis busuk,


Bersiaplah ku cabut nyawamu!", usai berkata demikian, Retnaningsih segera mencabut tiga pisau kecil berwarna hitam dari pinggang nya. Perempuan paruh baya itu segera melempar tiga pisau kecil itu kearah Dewi Srimpi.


Sringg!!


Sringg..


Sringghhh!!


Pisau kecil berwarna hitam itu menerabas cepat kearah Dewi Srimpi. Bersama dengan itu, Dewi Racun Selatan melesat cepat sambil mengayunkan pedang pendek nya.


Mendapat dua serangan sekaligus, Dewi Srimpi segera memutar pedangnya. Setelah menjejak tanah dengan keras, Dewi Srimpi melenting tinggi ke udara menghindari pisau kecil kemudian segera melesat turun sambil membabatkan pedang pendek nya.


Sreeeetttt


Tringgggg!!


Retnaningsih segera menangkis sabetan pedang Dewi Srimpi dengan pedangnya. Dia tahu bahwa pedang Kelabang Sewu nya Dewi Srimpi itu benar-benar berbahaya. Sekali tergores, nyawanya pasti melayang.


Melihat serangan nya di tahan, Dewi Srimpi segera menghantamkan tangan kiri nya yang sudah di lambari Ajian Pukulan Petir, ilmu yang jarang dia pergunakan.


Melihat ilmu itu, Dewi Racun Selatan segera memapak serangan dengan tangan kiri nya.


Blarrrr!!


Ledakan keras terdengar dari benturan dua ajian andalan mereka.


Dewi Srimpi terdorong mundur 4 langkah, sedang Retnaningsih terpental sejauh dua tombak ke belakang. Dada perempuan paruh baya itu terasa sesak. Dari sudut bibirnya, ada darah yang menetes keluar.


Dengan kasar, Retnaningsih mengusap darah yang keluar dari bibirnya. Perempuan paruh baya mendengus keras lalu melesat cepat kearah Dewi Srimpi.


Tangan kanannya menebaskan pedangnya sedangkan tangan kirinya melempar 2 pisau beracun kearah Dewi Srimpi.


Whuuuuttt whutttt..


Dewi Srimpi segera menyongsong serangan itu dengan menendang sebuah sebuah tameng prajurit Lodaya yang tergeletak di dekatnya.


Tameng melayang cepat kearah dua pisau berwarna hitam yang melesat cepat kearah nya, lalu Selir ketiga Panji Watugunung itu segera melempar dua jarum Racun Kelabang Neraka sebagai serangan susulan di belakang tameng.


Creeppp!!


Dua pisau kecil segera menancap pada tameng yang langsung terjatuh, namun 2 Jarum Racun Kelabang Neraka melesat cepat kearah Dewi Racun Selatan.


Shinggg!!


Retnaningsih berusaha merubah gerakan tubuhnya dan menggunakan pedangnya untuk menangkis lemparan jarum beracun dari Dewi Srimpi.

__ADS_1


Tringgggg!!


Jarum Racun Kelabang Neraka berhasil di tangkis namun wajah Retnaningsih pucat seketika saat tiba-tiba Dewi Srimpi yang menggunakan Ajian Langkah Kelabang Sewu sudah ada di dekat nya sambil menghantam punggung Dewi Racun Selatan.


Deshhhh


Aaarrghhh


Retnaningsih terpelanting ke depan. Perempuan paruh baya itu menjerit keras. Belum sempat dia menyentuh tanah, lagi lagi Dewi Srimpi muncul di sampingnya dan menebaskan Pedang Kelabang Sewu nya.


Crasshhh!!


Retnaningsih menyusruk tanah dengan pinggang nyaris putus. Dewi Racun Selatan itu tewas dengan luka menganga di perutnya.


Dewi Srimpi menarik nafas lega karena dia baru menyelesaikan pertarungan yang melelahkan itu. Selir ketiga Panji Watugunung itu segera melompat ke arah Naganingrum dan Rara Sunti yang tengah bertarung melawan puluhan anggota pasukan pemberontak yang berusaha untuk membunuh Arya Prabu.


Satu persatu anggota pasukan pemberontak terus tewas berjatuhan di tangan para prajurit Lodaya dan pengawal Panji Watugunung.


Di sisi lain pertempuran, Mpu Wijaya yang baru membantai Patih Mpu Wanaraja segera melesat cepat kearah Arya Prabu yang tengah di lindungi oleh beberapa prajurit juga para istri Panji Watugunung.


Dengan pedang yang penuh dengan darah, pemimpin kelompok Macan Kumbang itu terus berusaha untuk mendekati Arya Prabu.


Seorang prajurit Lodaya yang menghalangi jalan nya, langsung dia tebas.


Crasshhh


Kepala sang prajurit langsung menggelinding ke tanah.


"Arya Prabu!


Dasar pengecut. Hadapi aku, jangan bersembunyi di balik jarit perempuan", teriak Mpu Wijaya dengan lantang.


Panji Watugunung yang baru saja menendang kepala Galihasem, seketika menoleh ke arah sumber suara.


Galihasem yang terjatuh, segera berdiri dan berlari cepat kearah Panji Watugunung yang tengah menoleh ke arah Mpu Wijaya.


Dengan penuh ***** membunuh, Galihasem mengayunkan pedangnya kearah leher Panji Watugunung.


Whuuuuttt


Saat pedang Galihasem nyaris menyentuh kulit Panji Watugunung, tiba tiba pria itu menghilang dari pandangan Galihasem.


Mata Galihasem melotot.


Blammmmm!!


Apalagi saat dia merasakan perutnya tiba tiba terasa perih dan dingin. Galihasem tidak mengira bahwa perutnya bolong tembus pinggang nya akibat hantaman Ajian Guntur Saketi yang di lepaskan Panji Watugunung.


Orang kepercayaan Mpu Wijaya itu roboh dengan bersimbah darah.


Usai menghabisi nyawa Galihasem, Panji Watugunung segera menghadang laju pergerakan Mpu Wijaya yang sedang membacokkan pedangnya kearah leher seorang prajurit Lodaya yang melindungi Arya Prabu dengan Ajian Tameng Waja nya.


Tringgggg!!!


Pedang Mpu Wijaya mental saat menyentuh kulit lengan kiri Panji Watugunung yang sudah berubah warna menjadi kuning keemasan.


"Keparat!


Minggir kau, jangan ikut campur urusan ku", hardik Mpu Wijaya sambil mengacungkan pedangnya kearah Panji Watugunung.


"Kau membuat kerusuhan di istana Lodaya yang menjadi tempat tinggal adik ipar ku.


Apa bisa aku berdiam diri saja?", Panji Watugunung menatap tajam ke arah Mpu Wijaya.


"Huhhhhh..


Arya Prabu sudah membuat rakyat Lodaya menderita. Dia tidak layak menjadi Penguasa Lodaya", ujar Mpu Wijaya sambil mendelik ke arah Arya Prabu yang tengah di lindungi oleh beberapa orang prajurit.


"Kalau Arya Prabu tidak layak menjadi Penguasa Lodaya, lantas siapa yang lebih layak menjadi pemimpin?


Kau?


Setiap pemimpin pasti memiliki cacat dalam pemerintahan nya, itu sudah sifat manusia yang tidak sempurna. Hanya karena sakit hati mu, apa pantas kau menggantikan Arya Prabu menjadi penguasa Tanah Perdikan ini?", Panji Watugunung menatap ke arah Mpu Wijaya.


"Simpan ocehan mu, anak muda..


Tunggu..


Bukankah kau yang membunuh Lumahjati?


Bangsat, akan ku balas kematian adik seperguruan ku hari ini", teriak Mpu Wijaya yang segera melesat cepat kearah Panji Watugunung sambil membabatkan pedang nya ke arah kepala Panji Watugunung.


Whuuuuttt


Tranggg!!!


Pedang Mpu Wijaya mental saat menyentuh kulit Panji Watugunung yang terlindung oleh Ajian Tameng Waja ajaran Mpu Narasima.


Buru-buru Mpu Wijaya melompat mundur beberapa tombak ke belakang.


"Ajian Tameng Waja..


Pemuda tengik!


Katakan, apa hubungan mu dengan Mpu Narasima?", teriak Mpu Wijaya dengan geram.


"Apa urusanmu dengan paman guru ku?", Panji Watugunung balik bertanya kepada Mpu Wijaya.


Phuihhhh


"Jadi kau murid si keparat itu rupanya. Kalau tidak bisa membunuh Narasima, murid nya pun layak menjadi obat dendam ku", ucap Mpu Wijaya yang segera merentangkan tangan kiri nya ke atas. Tangan itu seketika berubah warna menjadi kuning kemerahan akibat sinar yang bergulung-gulung di sana.


Melihat lawan sudah memakai ilmu andalannya, Panji Watugunung mencabut Pedang Naga Api yang ada di punggungnya.

__ADS_1


Hawa panas segera melingkupi seluruh udara disekitar tempat itu saat pedang yang memiliki pamor kemerahan itu tercabut dari sarungnya.


Mpu Wijaya terpana sejenak melihat pedang pusaka di tangan Panji Watugunung. Laki laki paruh baya itu segera melompat tinggi ke udara dan menghantamkan tangan kiri nya.


Siuuttt!


Panji Watugunung dengan Ajian Sepi Angin melesat cepat menghindari sinar kuning kemerahan Ajian Tapak Surya dari Mpu Wijaya.


Blarrrr!!


Dengan cepat ia melesat ke arah Mpu Wijaya sambil membabatkan Pedang Naga Api nya.


Whuuuggghhh


Sinar kemerahan seperti api menerabas cepat kearah Mpu Wijaya yang baru mendarat ke tanah. Pria paruh baya itu segera melompat kesamping kanan menghindari sinar merah yang segera menghantam sebuah arca dwarapala yang ada di depan balai paseban Lodaya.


Blammmmm


Arca dwarapala itu langsung hancur berantakan.


Mpu Wijaya tidak punya pilihan lain selain merapal Ajian Sukma Sejati. Tangan kiri nya segera di angkat keatas kepala kemudian di turunkan ke depan dada.


Sinar hijau keputihan segera melingkupi seluruh tubuh Mpu Wijaya.


Panji Watugunung segera merapal Ajian Brajamusti nya di tangan kiri. Tubuhnya telah terlindung sempurna oleh Ajian Tameng Waja, Pedang Naga Api di tangan kanannya, sedang Ajian Brajamusti yang berhawa panas melingkupi tangan kiri nya.


Mpu Wijaya melenting tinggi ke udara kemudian melesat turun sambil mengayunkan pedangnya kearah Panji Watugunung.


Whuuuuttt


Tringgggg


Tangan kiri Mpu Wijaya menghantam kearah dada Panji Watugunung yang disambut dengan Ajian Brajamusti.


Dhuuuaaaaarrrrrr!!


Pedang Mpu Wijaya patah dan kakek tua itu terpental sejauh 4 tombak ke belakang dan menghantam tanah dengan keras. Pemimpin Kelompok Macan Kumbang itu muntah darah segar akibat luka dalam serius yang di deritanya.


Dia berusaha untuk berdiri dari tempat jatuhnya namun dia tidak mampu. Lelaki paruh baya itu hanya bisa berlutut saat Panji Watugunung dan Arya Prabu mendekati nya.


"Apa sekarang kau sudah puas, Wijaya?", tanya Arya Prabu segera.


"Selama aku hidup, akan ku hancurkan semua anak keturunan mu, Arya Prabu!", ujar Mpu Wijaya sambil tersengal akibat darah yang menyangkut di tenggorokan nya.


"Kau memang tidak layak untuk diampuni", ucap Arya Prabu yang segera menghunus keris di pinggangnya dan menusukkan ke ulu hati Mpu Wijaya.


Jleepppp!!


Arrgghhhh!


Mata Mpu Wijaya melotot saat keris Arya Prabu menusuk di ulu hati nya tembus ke punggung.


Pemimpin Kelompok Macan Kumbang itu ambruk ke tanah dan tewas bersimbah darah.


Para anggota pasukan pemberontak yang melihat sang pemimpin tewas, segera melemparkan senjata mereka. Menjelang pagi, kisruh di istana Lodaya berakhir dengan tewasnya Mpu Wijaya.


Seluruh pemimpin pasukan pemberontak kecuali Tumpakranu yang kabur, terbunuh malam itu. Dari 1500 lebih pasukan pemberontak, 1000 lebih tewas dalam kisruh Istana Lodaya. 500 orang lainnya menyerah.


Sedangkan dari pihak istana Lodaya, 600 prajurit tewas, 100 prajurit luka berat, 100 prajurit luka ringan dan 1000 prajurit selamat. Patih Mpu Wanaraja gugur bersama Bekel Tambir, Senopati Rangga Suta luka dalam sedangkan Tumenggung Galasapta selamat.


Dari pihak Panji Watugunung, 2 orang pengawal nya tewas, sedangkan Demung Rakai Sanga terluka ringan.


Arya Prabu segera memerintahkan kepada para prajurit Lodaya untuk membawa para pasukan pemberontak yang menyerah ke penjara Kota Lodaya, sedangkan sisanya membersihkan mayat mayat yang bergelimpangan di seputar istana Lodaya.


Saat mentari pagi mulai menampakkan dirinya di ufuk timur, para prajurit Lodaya sudah membersihkan sekitar istana Lodaya.


Panji Watugunung yang baru saja membersihkan diri dan berganti baju di kagetkan dengan kedatangan ketiga istrinya yang juga sudah berganti pakaian.


"Kenapa kalian kemari?", tanya Panji Watugunung segera.


"Akang Kasep,


Apa rencana kita selanjutnya?", tanya Naganingrum sambil mendekati suaminya itu.


Panji Watugunung menguap lebar sambil berkata,


"Aku mengantuk, Dinda"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya 😁

__ADS_1


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah agar author terus semangat menulis 😁


Selamat membaca 🙏🙏


__ADS_2