
Manahil dan Warigalit sudah sampai di tempat Ki Saketi dan anggota pasukan Garuda Panjalu lainnya. Mereka segera bergerak cepat menuju ke arah yang di tunjukkan Rajegwesi.
Di ujung selatan Wanua Klakah, ada sebuah pohon krombang besar. Di atas pohon besar itu, dua pasang mata menatap ke arah Wanua Klakah tanpa berkedip.
Sementara di bawah pohon itu, Rajegwesi perlahan menarik busur panah nya. Sebagai ahli memanah, mata Rajegwesi sangat tajam seperti menembus kegelapan malam. Ilmu warisan gurunya si Mata Malaikat yang terkenal dengan kemampuan melihat yang luar biasa.
Ludaka pun sudah memutari pohon krombang itu, dan memastikan tidak ada jebakan atau senjata rahasia yang mengancam.
Rombongan pasukan Garuda Panjalu bergerak cepat melingkari pohon. Ki Saketi yang sudah di dekat Rajegwesi segera memberi tanda untuk memanah. Rajegwesi mengangguk tanda mengerti.
Pelan saja, Rajegwesi mengincar kaki salah satu pengintai itu.
Whutttt
Crepp
Aughhhhh
Sambaran anak panah Rajegwesi tepat menancap di kaki kanan sang pengintai. Melihat kawan nya terkena panah, pengintai satunya segera sadar mereka sudah ketahuan.
Ketika memindahkan kakinya, tak sengaja menyenggol daun krombang lebar. Dan...
Whutttt
Sebuah anak panah melesat cepat menghajar kaki kiri si pengintai itu. Orang itu meraung keras.
Warigalit segera melompat ke udara menuju suara. Ajian Sepi Angin nya benar benar membuat tubuhnya seringan kapas. Tak berapa lama kemudian, Warigalit membawa 2 pengintai yang terluka itu turun.
Dari pakaian nya, terlihat dua orang itu bukan penduduk biasa. Warigalit melempar tubuh mereka ke depan Ki Saketi.
"Rakai Sanga, Marakeh..
Bawa mereka ke tempat ku", Ki Saketi memberi perintah.
Rakai Sanga dan Marakeh memapah 2 orang itu yang pincang karena panah Rajegwesi di ikuti seluruh anggota pasukan Garuda Panjalu dan Warigalit.
Sesampainya di pagar kediaman Ki Saketi, dua orang itu di lemparkan ke halaman rumah.
"Katakan dengan jujur, kalian siapa? Ada tujuan apa mengintai wanua ini?",ujar Ki Saketi sambil menatap tajam ke arah mereka berdua.
Dua orang itu tidak menjawab.
Tiba tiba..
Plak!! Plak!!
Gumbreg menampar pipi dua orang itu dengan keras.
"Kenapa kau menampar nya Mbreg? Jangan bilang kalau ada nyamuk lagi", teriak Ludaka.
Gumbreg acuh tak acuh menjawab.
" Mulut mereka ada perekat nya"
Dari sudut bibir mereka, darah segar mengalir keluar. 1 gigi tanggal dari kerasnya tamparan Gumbreg.
"Masih tak mau menjawab? Gumbreg, tampar mereka lagi", teriak Ki Saketi mulai gusar.
Gumbreg menyeringai lebar.
Dua orang pengintai itu mulai pucat. Mereka khawatir gigi mereka ompong jika di tampar Gumbreg lagi.
"Ampun, jangan tampar lagi. Kami akan bicara", ujar lelaki bertubuh kurus.
"Cepat katakan, jangan bertele-tele", kali ini Jarasanda bicara. Tangan kanan nya sudah siap mencabut keris Kyai Klotok nya.
"Ampuni kami. Kami mata mata Racun Kembang dari Lembah Selaksa Kembang", ujar lelaki bertubuh kurus.
"Bukankah Racun Kembang semua anggotanya wanita? Kalian jangan menipu ku", teriak Ki Saketi geram.
"Kami tidak bohong, kami punya rajah berbentuk kembang di punggung. Silahkan periksa kalau tidak percaya", ujar lelaki bertubuh gempal dengan ketakutan.
Ludaka segera menarik baju pria bertubuh gempal itu dan benar saja, sebuah rajah bergambar kembang ada di situ. Ludaka mengangguk pada Ki Saketi.
"Lantas apa tujuan kalian memata-matai tempat ini?", ujar Ki Saketi kemudian.
"Kami mata-mata luar, tidak boleh ke Lembah Selaksa Kembang. Kami menerima tugas, untuk memata-matai tempat ini karena tempat ini akan menjadi tempat Alas Larangan berkumpul", ujar si badan gempal.
Warigalit dan Ki Saketi saling berpandangan.
"Marakeh, Rakai Sanga..
Ikat mereka dan kurung di rumah kosong. Jaga baik-baik jangan sampai lepas. Nasib mereka biar Gusti Panji sendiri yang memutuskan", ucap Ki Saketi.
Marakeh dan Rakai Sanga segera menyeret tubuh kedua orang itu ke rumah kosong dan mengikat mereka.
__ADS_1
Malam segera berganti pagi.
Cahaya matahari memerah di ufuk timur, ayam jantan bersahutan membangunkan semua orang di wanua Klakah.
Panji Watugunung membuka matanya saat sinar matahari menembus jendela kamar yang di buka oleh Dewi Srimpi yang tersenyum manis. Wanita itu melirik Panji Watugunung. Semalam suami nya membuat dia kelelahan.
Panji Watugunung melihat tempat tidur nya yang acak acakan. Kedua selir nya yang lain masih tertidur pulas. Teringat kejadian tadi malam membuat Panji Watugunung tersenyum tipis.
Entah ramuan apa yang dia minum sampai mampu melayani ketiga selir nya sekaligus.
Perlahan, dia memindahkan tangan selir selir nya yang memegang bagian tubuh nya. Setelah berpakaian di bantu Dewi Srimpi, Panji Watugunung segera keluar dari dalam kamar.
Di serambi depan, semua anggota pasukan Garuda Panjalu sudah menunggu.
"Tumben, pagi pagi buta begini sudah berkumpul. Ada masalah apa?", tanya Panji Watugunung keheranan.
"Maafkan kami Gusti Panji, sebenarnya tadi malam ada 2 mata mata yang tertangkap. Sekarang dia kami amankan di rumah kosong", jawab Ki Saketi.
Hemmmm
"Lantas apa yang berhasil kalian korek dari mulut mereka?", Panji Watugunung penasaran.
"Mereka dari Perguruan Racun Kembang di Lembah Selaksa Kembang Gusti Panji, di Anjuk Ladang bagian selatan. Tujuan mereka untuk memata-matai tempat ini atas perintah pemimpin mereka. Mereka tau tempat ini akan menjadi markas sementara Alas Larangan", laporan Ki Saketi.
"Ada berita, pemimpin Racun Kembang mempunyai dendam pribadi pada Alas Larangan. Mungkin itu akar masalah diantara mereka Gusti".
'Sepertinya masalah ini bertambah panjang', batin Panji Watugunung.
"Baiklah kita perketat pengawasan di jalur bukit dan sungai, serta siapkan seorang penunggang kuda tercepat yang bisa mengabari Pakuwon Watugaluh jika terjadi masalah".
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", ujar seluruh anggota pasukan Garuda Panjalu. Mereka segera membubarkan diri untuk melanjutkan tugas mereka masing-masing.
Tinggal Warigalit dan Panji Watugunung yang di serambi.
"Maafkan aku Kakang Warigalit, aku merepotkan Kakang di situasi seperti ini", ujar Panji Watugunung.
"Adi Panji jangan seperti itu, kita semua saudara. Membantu mu adalah tugasku sebagai kakak seperguruan mu", Warigalit tersenyum tipis.
"Oiya aku sampai lupa menanyakan kabar guru dan paman guru. Bagaimana kabar mereka berdua kakang??, tanya Watugunung bersemangat.
"Guru dan paman guru baik baik saja. Mereka bangga mendengar kamu mengharumkan nama Padepokan Padas Putih. Sebenarnya, selain aku ingin bertemu dengan mu, ada satu hal yang mengganggu pikiran ku adi", Warigalit menghela nafas panjang.
"Apa itu Kakang kalau boleh tau?", kembali Panji Watugunung bertanya.
Panji Watugunung segera tersenyum.
Jika Warigalit bergabung bersama mereka, beban pikiran Panji Watugunung akan semakin berkurang. Kemampuan beladiri dan kanuragan Warigalit sangat hebat, meski masih dua tingkat di bawahnya, tapi satu tingkat diatas Ratna Pitaloka.
"Aku terima Kakang, aku senang kakang ada disini", Watugunung tersenyum tipis. Belum sempat meneruskan kata-katanya, teriakan keras terdengar.
"Gusti Panji, ada 2 orang menuju kemari", teriak seorang prajurit Garuda Panjalu dari Pakuwon Kunjang, Widarba, berlari mendekati Panji Watugunung dan Warigalit.
"Kenapa tidak kau hentikan mereka?", Panji Watugunung berdiri di ikuti Warigalit.
"Ampun Gusti, Ki Saketi dan Jarasanda sedang menghadapi mereka di pintu gapura", ujar Widarba.
Panji Watugunung dan Warigalit diikuti Widarba melesat cepat menuju ke arah gapura wanua Klakah.
Ki Saketi dan Jarasanda sedang bertarung melawan sepasang pendekar berbaju putih. Kelihatannya pertarungan mereka berimbang.
Panji Watugunung mengenali mereka. Sepasang Sriti Perak.
"Berhenti!"
Teriakan keras Panji Watugunung segera menghentikan pertarungan. Jarasanda masih bersiaga dengan keris Kyai Klotok di tangan nya.
Sepasang Sriti Perak melihat Panji Watugunung segera tersenyum. Mereka mengenali pemuda yang membawa pedang bersarung merah itu.
"Pendekar Pedang Naga Api, lama tidak bertemu", ujar Sriti Lanang kepada Panji Watugunung.
"Paman Sriti Lanang, bagaimana bisa sampai ke tempat ini?", tanya Watugunung sopan.
"Cerita nya panjang pendekar..", ujar Sriti Lanang sambil menghela nafas.
"Baiklah kita cerita sambil beristirahat di kediaman ku paman.
Oiya, ini adalah Ki Saketi dan yang itu adalah Jarasanda. Mohon maaf atas kelancangan mereka berdua pada Paman dan bibi", Panji Watugunung sopan.
"Kesalahpahaman kecil Pendekar, kami yang bersalah. Mohon di maafkan", ujar Sriti Wadon.
"Mari paman dan bibi".
Panji Watugunung, di iringi Warigalit serta Sepasang Sriti Perak dan Ki Saketi melangkah menuju kediaman Watugunung. Sementara Jarasanda dan Widarba kembali berjaga di gapura wanua.
Sesampainya di kediaman Panji Watugunung, mereka semua berkumpul di serambi rumah.
__ADS_1
Lalu mereka berbincang hangat.
Ternyata setelah bertamu ke Padepokan Anggrek Bulan, Sepasang Sriti Perak kembali ke Bukit Kapur saat mendengar Padepokan Bukit Kapur di serang oleh Lembah Hantu, Perguruan sesat penyembah setan. Sesampainya di Bukit Kapur, yang tersisa hanya puing bangunan. Mereka memutuskan untuk berkelana kembali dan akhirnya bertemu di Wanua Klakah ini.
'Hemmmm rupanya begitu...', batin Panji Watugunung.
Kemeriahan pertemuan bertambah saat 3 selir dan Ratri berkumpulnya bersama.
"Paman untuk sementara jika berkenan bisa di tinggal di sini. Tapi mohon maaf kami disini dalam penyamaran, untuk menjebak Alas Larangan yang akan kemari", kata Panji Watugunung selanjutnya.
Sepasang Sriti Perak saling berpandangan.
"Maaf Pendekar Pedang Naga Api,
Sebenarnya kalian ini siapa? Mengapa begitu banyak orang seperti pasukan saja?", tanya Sriti Wadon.
"Bibi, kami ini sebenarnya pasukan khusus dari Daha yang di tugaskan membasmi perampok dan penyamun yang mengacau di perbatasan..
Nah kakang Watugunung ini adalah pemimpin nya", ujar Ratna Pitaloka menerangkan.
Sepasang Sriti Perak terkejut bukan main.
Mereka berdua memang mendengar adanya berita tentang pasukan khusus dari Daha yang luar biasa. Mereka bahkan mampu mengalahkan Perguruan Gunung Kematian yang selama ini terkenal sebagai sarang para perampok. Mereka di pimpin oleh seorang pangeran muda dari Daha.
Sepasang Sriti Perak segera bersujud kepada Panji Watugunung.
"Sepasang Sriti Perak memberikan hormat kepada Gusti Pangeran".
"Paman, bibi kenapa seperti ini? Berdirilah paman, jangan membuat aku malu. Ayo berdiri paman, bibi", ucap Panji Watugunung.
Sepasang Sriti Perak tersenyum. Mereka hapal betul watak Panji Watugunung yang rendah hati meski sudah berada di tempat tertinggi tapi tidak merendahkan orang di sebelah nya.
Mereka berbincang hangat sampai tengah hari . Sepasang Sriti Perak bersedia membantu rencana Panji Watugunung. Begawan Sulapaksi berterima kasih karena sepasang Sriti Perak di tempatkan di dekat kediamannya, untuk menjaga keselamatan sang begawan.
Seorang gadis cantik berbaju biru langit berkuda dengan cepat saat memasuki Wanua Klakah.
"Kakang Watugunung ada dimana??", tanya Tunjung Biru kepada Jarasanda.
" Di rumah besar bekas rumah Lurah Wanua Klakah, di pertigaan jalan itu belok ke kiri", ujar Jarasanda sambil menunjuk ke selatan.
Dewi Tunjung Biru segera melesat cepat menuju ke arah yang di tunjukkan Jarasanda.
Watugunung yang sedang berbincang dengan Sepasang Sriti Perak di kejutkan kedatangan Dewi Tunjung Biru.
"Ada apa Tunjung Biru?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hayo berita apa dari Tunjung Biru?
Ikuti terus kisah selanjutnya guys 😁😁
Jangan lupa untuk dukung author terus semangat menulis dengan like vote dan komentar nya 👍👍👍👍
Selamat membaca 🙏🙏
__ADS_1