Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Menyamar


__ADS_3

"Penjaga,


Panggil semua pembesar istana Daha untuk menghadap kesini sekarang!", ucap Sang Prabu Samarawijaya segera.


4 orang prajurit penjaga ruang pribadi raja segera menyembah kepada Prabu Samarawijaya kemudian mereka mundur melaksanakan tugas dari Sang Raja Daha.


Tak berapa lama kemudian, seluruh pembesar istana Daha berkumpul di ruang pribadi raja.


"Dalam kitab Kutara Manawa,


Seorang pemberontak akan diganjar hukuman mati. Seorang pengkhianat akan di hukum pancung dan seorang yang mendukung mereka akan dihukum rajam.


Aku tanya kepada kalian,


Siapa yang mendukung Ranggawangsa?", tanya Sang Prabu Samarawijaya dengan suara bergetar.


Para pembesar istana Daha yang belum mendengar berita tentang pemberontakan Ranggawangsa saling berpandangan satu sama lain.


Demung Tantripala dan Pamegat (Hakim) Mpu Rami yang merupakan pendukung Ranggawangsa tidak berani angkat bicara. Mapatih Jayakerti yang sudah mengawasi gerak-gerik mereka beberapa purnama terakhir hanya melirik sebentar pada mereka berdua.


"Dengarkan aku,


Ranggawangsa bersekutu dengan Adipati Ratnapangkaja dari Muria ingin memberontak terhadap Daha.


Aku adalah orang yang baik, aku tidak suka kekerasan seperti ajaran Waisnawa yang ku yakini sebagai jalan kebenaran.


Tapi ingat,


Dewa Wisnu akan menjadi buthakala dengan triwikrama jika ada yang mengacaukan ketentraman dunia.


Aku bukan Dewa Wisnu yang menitis pada Kanjeng Romo Prabu Airlangga. Tapi aku tidak segan segan untuk menjadi buthakala jika ada yang berani berkhianat kepada ku", ujar Prabu Samarawijaya dengan suara nyaring.


Hening.


Suasana begitu sunyi di dalam ruang pribadi raja. Tak ada yang berani bersuara.


"Maitreya,


Siapkan bala tentara Panjalu untuk menggempur Ranggawangsa dan sekutunya. Kabari Yuwaraja Jayengrana untuk masalah ini", titah Prabu Samarawijaya segera.


"Maitreya siap melaksanakan perintah Gusti Maharaja", Senopati Maitreya segera menghormat.


"Kecuali Narapraja, Jayakerti dan Maitreya,


Kalian semua silahkan membubarkan diri. Jika nanti aku menemukan keterlibatan kalian semua dalam permasalahan Ranggawangsa, jangan harap aku akan melepaskan kalian", ujar Prabu Samarawijaya sambil mengangkat tangan kanannya.


"Sendiko dawuh Gusti Prabu", seluruh pembesar istana Daha, terkecuali Mapatih Jayakerti, Senopati Narapraja dan Maitreya menyembah kepada Prabu Samarawijaya kemudian mundur dari ruang pribadi raja.


"Mohon ampun Gusti Prabu,


Ada hal lain apa yang kita bicarakan selanjutnya?", tanya Mapatih Jayakerti sambil menghormat pada Prabu Samarawijaya.


"Aku ingin kau panggil Mpu Wardhana dari Karang Anom, untuk menjadi penasehat ku Jayakerti.


Aku mulai tau kebusukan Ranggawangsa, rupanya dia merencanakan ini sejak lama. Lewat Wiramukti, dia ingin berkuasa di negeri Panjalu. Upaya pembunuhan Pangeran Jayengrana tempo hari, jelas adalah perbuatannya. Aku menyesal mempercayai nya.


Selidiki semua pejabat yang dekat dengan Ranggawangsa, jika menemukan keterlibatan mereka, segera tangkap mereka", titah sang Maharaja Panjalu.


"Hamba siap sedia melaksanakan semua titah Gusti Prabu", ujar Mapatih Jayakerti segera.


"Narapraja,


Aku utus kau secara pribadi untuk menemui Yuwaraja di Katang-katang. Ceritakan masalah ini. Ajak beberapa pengawal untuk menemani mu.


Maitreya,


Siapkan bala tentara kita. Pilih yang tidak ada keterlibatan dengan Muria ataupun Ranggawangsa. Aku minta dalam waktu 3 hari untuk persiapan mu menata seluruh prajurit", Prabu Samarawijaya menatap dua senopati muda itu segera.


Senopati Narapraja dan Maitreya segera menyembah kepada Prabu Samarawijaya bersama dengan Mapatih Jayakerti. Mereka bertiga segera mundur dari ruang pribadi raja untuk melaksanakan tugas masing-masing.


Prabu Samarawijaya menatap kepergian mereka dengan tatapan penuh harap.


Sementara itu di Istana Katang-katang, Panji Watugunung yang mulai menjalankan tugas nya sebagai yuwaraja mulai menerima utusan dari berbagai wilayah Daha. Masing-masing mengirim pajak dan upeti sebagai bentuk dukungan kepada sang pangeran yang akan menjadi raja Panjalu selanjutnya.


Dari timur wilayah Daha, Kadipaten Seloageng yang pertama mengirim utusan dengan mantu Adipati Tejo Sumirat yang merupakan suami dari kakak Dewi Anggarawati, yaitu Arya Bama.


Yang kedua adalah adalah Wengker yang mengirimkan Warok Suropati sebagai utusan resmi mereka. Guru sekaligus mertua Panji Watugunung dari istri ketujuh Panji Watugunung. Cempluk Rara Sunti sangat bergembira melihat kedatangan ayahnya di istana Katang-katang.


Selanjutnya berturut-turut mulai Anjuk Ladang, Karang Anom, Gelang-gelang, Tanggulangin dan Kurawan.

__ADS_1


Mereka semua benar benar tidak menduga bahwa utusan tempo hari yang datang ke tempat mereka adalah calon yuwaraja Panjalu.


Siang itu, Senopati Narapraja datang ke Istana Katang-katang bersama Tumenggung Wiguna dan 20 prajurit Daha.


Saat memasuki wilayah yang baru di buka itu, mereka kagum melihat ratusan rumah baru di kanan kiri jalan menuju ke istana Katang-katang. Perkembangan daerah itu benar-benar pesat. Saat memasuki alun alun istana Katang-katang, dua orang prajurit yang berkeliling langsung mendekati mereka.


"Maaf Gusti Perwira,


Apakah hendak ke istana Katang-katang??", tanya prajurit itu dengan sopan.


"Iya prajurit,


Bisa kau tunjukkan jalan ke istana?", Tumenggung Wiguna segera menjawab.


"Mari saya antar", sang prajurit langsung melangkah menuju ke arah istana Katang-katang setelah berkata. Senopati Narapraja dan pengiring nya segera mengikuti langkah sang prajurit.


Panji Watugunung sedang duduk berhadapan dengan utusan Kurawan, Tumenggung Ringkasamba saat Senopati Narapraja dan pengiring nya memasuki ruang pribadi sang Yuwaraja.


"Narapraja menghaturkan sembah bakti kepada Gusti Pangeran Panji Jayengrana", ujar Senopati Narapraja sambil menghormat.


"Duduklah Senopati Narapraja, Tumenggung Wiguna.


Selamat datang di istana Katang-katang", ujar Panji Watugunung segera.


Dua orang perwira tinggi prajurit Daha itu segera duduk bersila di hadapan Panji Watugunung.


"Tidak biasanya Senopati Narapraja berkunjung kemari,


Apa ada perlu dengan ku?", tanya Panji Watugunung sambil tersenyum tipis.


"Gusti Pangeran memang cerdas,


Hamba diutus oleh Gusti Maharaja Samarawijaya untuk meminta pendapat Gusti Pangeran soal Ranggawangsa", Senopati Narapraja segera menghormat.


"Ada apa dengan penasehat tua itu?", Panji Watugunung penasaran.


Senopati Narapraja segera menceritakan tentang Ranggawangsa yang memilih memberontak terhadap Daha dengan menghasut Adipati Muria, Ramawijaya. Panji Watugunung terkejut bukan main.


"Gusti Prabu Samarawijaya meminta pendapat Gusti Pangeran mengenai permasalahan ini.


Hemmmm


"Tindakan makar adalah sesuatu yang serius. Tindakan itu sama dengan menentang penguasa sah.


Jika kita ingin menumpasnya, kita tidak bisa langsung menyerbu Kadipaten Muria. Karena sudah pasti Ranggawangsa sudah mengantisipasi semua hal", ujar Panji Watugunung segera.


"Lantas apa saran Gusti Pangeran?", Senopati Narapraja menatap wajah Panji Watugunung yang sedang berfikir.


"Ranggawangsa pasti sudah menyiapkan taktik dan penjagaan di wilayah Kadipaten Muria.


Sebaiknya kita menyusupkan para prajurit ke Muria. Perlahan saja, kita sedikit demi sedikit memasukkan mereka", usul Panji Watugunung.


"Tapi bagaimana kita menentukan letak berkumpul bagi prajurit yang menyebar ini Gusti Pangeran?", tanya Narapraja sambil menggaruk kepalanya.


"Tentukan sebuah kata sandi untuk para prajurit agar mereka tahu bahwa mereka adalah kawan", jawab Watugunung sambil tersenyum.


"Aku akan menyamar untuk melihat keadaan di kadipaten Muria, Senopati Narapraja.


Kalau terang-terangan kesana, jelas aku akan dikenali", imbuh Panji Watugunung.


Siang itu mereka membahas persiapan untuk menyerbu Kadipaten Muria yang terletak di pulau Muria.


Pasukan Daha yang berjumlah 8000 pasukan dibagi menjadi 2 bagian. Satu bagian terdiri dari 5 ribu orang berpakaian prajurit bergerak dari Daha menuju wilayah Kadipaten Lasem. Sedangkan 3 ribu prajurit berpakaian biasa bergerak diam diam.


Panji Watugunung di temani Dewi Srimpi, Dewi Naganingrum dan Ratna Pitaloka meninggalkan istana Katang-katang, usai meminta Sekar Mayang dan Cempluk Rara Sunti menjaga dua saudarinya sekaligus memastikan keamanan istana.


Di temani pasukan Garuda Panjalu, Panji Watugunung dan ketiga istrinya bergerak menuju Pakuwon Yuwana yang memiliki pelabuhan besar.


Pasukan Daha yang berpakaian biasa dipimpin oleh Senopati Narapraja bergerak menuju ke arah Pakuwon Gelagah.


Sedangkan Pasukan Daha yang di pimpin Senopati Maitreya bergerak menuju Pakuwon Jaladri yang menjadi penghubung utama Kadipaten Lasem dan Kadipaten Muria.


Sepekan kemudian mereka telah sampai di tempat yang mereka tuju.


"Hayo hayo siapa yang hendak ikut ke Kadipaten Muria?", teriak seorang lelaki bertubuh gempal dengan suara lantang.


Panji Watugunung yang menyamar sebagai seorang pengawal dengan caping menutup hampir semua wajahnya, Dewi Naganingrum berpakaian layaknya seorang juragan, dan Dewi Srimpi dan Ratna Pitaloka memakai pakaian pelayan.


"Hampura Kang,

__ADS_1


Ini kapal hendak ke Muria nya?", tanya Naganingrum dengan logat bahasa Sunda nya yang kental.


Si pria bertubuh gempal itu menatap wajah Naganingrum yang menurutnya memiliki logat bahasa yang berbeda. Sejenak kemudian dia berkata,


"Benar nisanak,


Apa kau ingin ke Muria?", tanya si pria bertubuh gempal itu segera.


"Iya Kang, pengen berdagang saya mah..


Sabaraha biaya untuk naik kapal ini Kang?", Naganingrum menatap wajah si pria bertubuh gempal itu.


"Masing masing orang 2 kepeng perak nisanak", jawab si pria bertubuh gempal itu.


"Ih mahal pisan euy..


Tapi tak apalah, untuk memulai usaha mah memang harus keluar modal lebih dulu", Naganingrum segera mengulurkan 8 kepeng perak kepada si pria bertubuh gempal itu.


Segera pria itu mengantarkan Naganingrum ke atas kapal besar. Dalam kapal itu ada sekitar 30 orang penumpang. Mereka menempati salah satu pojok kapal besar itu.


Angin kencang melajukan kapal besar itu menuju ke seberang.


Di sebuah dermaga pelabuhan laut, kapal besar itu perlahan merapat. Para penumpang dengan rapi berbaris turun dari kapal termasuk Panji Watugunung dan ketiga istrinya.


Di pelabuhan, tampak prajurit berkeliling sambil memeriksa para penumpang yang baru turun dari kapal kapal yang merapat di pelabuhan.


Melihat seorang perempuan cantik yang di kawal dua perempuan berbaju lusuh dan seorang lelaki bercaping, para prajurit itu segera mendekati mereka.


"Gadis cantik,


Melihat dari pakaian mu, kau pasti orang kaya. Ada urusan apa kau kemari?", ujar seorang prajurit bertompel di pipi kanan nya.


"Hampura Kang,


Saya hanya ingin berdagang. Saya ingin menjual berbagai barang dagangan saya yang ada di pelabuhan Yuwana.


Apa akang kenal seorang pedagang kain yang kaya disini, saya mah ada tawaran kerjasama", jawab Naganingrum sambil tersenyum.


"Apa benar kau pedagang? Kau lebih mirip dengan putri raja", si prajurit berkumis tebal menyelidik.


"Ah kalau saya putri raja, mana mungkin atuh jauh jauh kemari.


Kalau akang tidak percaya, sok atuh liat di dalam bungkusan kain itu. Disitu mah ada contoh kain dagangan saya", ujar Naganingrum sambil menunjuk ke arah buntalan kain yang di punggung Ratna Pitaloka.


2 orang prajurit itu segera membuka kain pembungkus yang baru diturunkan Ratna Pitaloka, dan benar saja puluhan kain bagus ada disitu.


Para prajurit itu kemudian tersenyum dan kemudian meninggalkan mereka berempat.


"Untung mereka percaya", ujar Naganingrum sambil menghela nafas lega.


Mereka segera bergegas meninggalkan pelabuhan itu menuju ke sebuah rumah penginapan, sesuai arahan Akuwu Yuwana.


Di depan penginapan itu mereka segera masuk, setelah membaca tulisan besar di gapura.


"Penginapan Bunga"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁😁

__ADS_1


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍 vote ☝️ favorit ❤️ dan komentar 🗣️ nya ya


Selamat membaca kak 😁😁


__ADS_2